
Setelah selesai makan Daniel dan Karima kembali ke kantor Daniel yang berada di jalan Rasuna Said. Daniel masih harus menanda tangani dokumen.
“Bu Karima duduk dulu. Saya masih harus memeriksa dokumen,” kata Daniel.
“Ibu mau minum apa?” tanya Daniel.
“Air putih saja,” jawab Karima.
Daniel membuka pintu ruang kerjanya dan memanggil Lisa.
“Lis, bawakan air putih untuk Bu Karima dan saya!” kata Daniel.
“Baik, Pak,” jawab Lisa.
Daniel menutup kembali pintu ruang kerjanya lalu Ia menuju ke pantry yang berada di dalam ruangannya. Ia mengambil dua buah toples dari dalam pantry. Ia menaruh ke dua buah toples itu di atas meja sofa.
“Saya lupa kalau saya masih punya snack. Silahkan dimakan, Bu. Lumayan biar nggak kesal menunggu saya,” ujar Daniel. Daniel kembali ke meja kerjanya.
“Terima kasih, Pak Daniel,” ucap Karima.
Karima membuka toples itu lalu mengambil satu buah kue. Ketika ia memakannya rasanya enak sekali. Karima membaca label yang menempel di toples itu. Rupanya itu kue yang terkenal dan harganya mahal. Pantasan saja kue terasa enak karena harganya mahal.
Daniel memperhatikan Karima yang sedang memakan kue.
“Enak nggak kuenya?” tanya Daniel.
“Enak, Pak,” jawab Karima.
“Habiskan saja kalau Ibu suka. Nanti saya beli lagi,” ujar Daniel.
Karima memakan kuenya sambil membaca pesan yang masuk ke ponselnya.
Setelah Daniel selesai menandatangani dokumen mereka kembali lagi ke kantor mereka di Tangerang Selatan. Sepanjang perjalanan tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Akhirnya mereka sampai di kantor. Daniel dan Karima turun dari mobil. Mereka berjalan menuju ruang kerja mereka. Sesampai di ruang kerja, Daniel dihadapkan dengan setumpuk dokumen yang harus ditanda tangani. Daniel memeriksa dokumen satu persatu sebelum ditanda tangani sedangkan Karima meneruskan pekerjaannya yang tertunda.
Setelah selesai menanda tangani dokumen Daniel pamit pulang.
“Saya pulang duluan,” ujar Daniel.
“Ya, Pak,” jawab Karima.
“Jangan pulang terlalu sore! Kasihan anak-anak menunggu di rumah,’ kata Daniel.
“Baik, Pak,” jawab Karima.
“Salam sayang untuk anak-anak,” ujar Daniel.
Karima diam sejenak mendengar perkataan Daniel. Daniel melihat wajah Karima. Ia takut Karima marah.
“Baik akan saya sampaikan.” Akhirnya Karima menjawab perkataan Daniel. Daniel tersenyum mendengarnya. Ia bernafas lega.
“Salam sayang juga untuk Mama anak-anak,” ujar Daniel sambil tersenyum.
__ADS_1
Karima menghela nafas. Banyak sekali ulah Daniel untuk menarik perhatiannya. “Waalaikumsalam,” jawab Karima.
“Aku pulang dulu. Assalamualaikum,” ucap Daniel.
“Waalaikumsalam,” jawab Karima.
Daniel berjalan menuju ke liff namun ia tiba-tiba menoleh ke belakang. “Nggak antar calon suami sampai bawah?” tanya Daniel dengan tersenyum jahil.
Karima menghela nafas. Semenjak Daniel melamarnya, Daniel jadi senang menggodanya.
“Nggak, masih banyak yang harus saya kerjakan,” jawab Karima.
“Selamat bekerja, ya. Semangat!” Daniel mengepalkan telapak tangannya ke udara. Karima membalas dengan mengepalkan tangan ke udara juga. Setelah itu barulah Daniel masuk ke dalam liff. Akhirnya Karima bernafas lega karena ia bisa kembali bekerja tanpa ada yang mengganggu.
***
Karima sedang sibuk dengan dokumen di depannya. Tiba-tiba intercom di atas meja berbunyi. Ia mengangkat intercom.
“Ya, Uri,” ujar Karima. Matanya fokus pada layar computer.
“Ada yang mau bertemu dengan Pak Daniel dan Bu Karima,” jawab Uri.
“Siapa?” tanya Karima.
“Pak Dandi dan Ibu Gita,” jawab Uri.
Karima kaget mendengarnya.
“Kamu antar mereka ke atas! Mereka adalah orang tua Pak Daniel,” ujar Karima.
Karima beranjak dari tempat duduknya. Ia menuju ke ruang kerja Daniel. Karima mengetuk pintu ruang kerja Daniel. “Masuk,” jawab Daniel.
Karima membuka pintu ruang kerja Daniel. “Ada apa, Bu Karima?” tanya Daniel.
“Pak Dandi dan Ibu Gita datang ke sini,” jawab Karima.
Daniel kaget mendengarnya. “Dimana sekarang mereka?” tanya Daniel.
“Masih di lobby. Saya suruh Uri untuk mengantar ke atas,” jawab Karima.
“Kalau mereka datang, langsung suruh masuk,” kata Daniel.
“Baik, Pak,” jawab Karima.
Karima menutup kembali pintu ruang kerja Daniel. Ia kembali ke meja kerjanya kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.
Beberapa menit kemudian Pak Dandi dan Ibu Gita sampai di lantai atas di antar oleh Uri. Karima beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Pak Dandi dan Ibu Gita.
“Apa kabar, Karima?” Ibu Gita langsung memeluk dan cipika cipiki Karima.
“Alhamdullilah, baik Bu Gita,” jawab Karima.
“Daniel ada?” tanya Pak Dandi.
__ADS_1
“Ada, Pak. Mari silahkan.” Karima mengantar Pak Dandi dan Ibu Gita ke ruang kerja Daniel Daniel.
Karima membuka pintu ruang kerja Daniel.
“Silahkan masuk, Pak Bu.” Karima mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruangan Daniel.
Daniel beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri kedua orang tuanya. Ia mencium tangan orang tuanya.
“Kenapa tidak bilang dulu kalau mau datang ke sini?” tanya Daniel.
“Bunda mau melihat kantor kalian. Sekalian Papa juga mau melihat usaha Papa yang baru,” jawab Pak Dandi.
Pak Dandi dan Ibu Gita duduk di sofa. Daniel juga duduk di sofa menemani orang tuanya.
“Bapak dan Ibu mau minum apa?” tanya Karima.
“Jus ada, nggak?” tanya Ibu Gita.
“Tidak ada, Bu. Tapi kalau Ibu mau saya bisa suruh orang untuk membelikan jus untuk Ibu,” jawab Ibu Gita.
“Saya mau jus sirsak,” kata Ibu Gita.
“Papa mau apa?” tanya Ibu Gita.
“Jus sirsak juga,” jawab Pak Dandi.
“Saya juga jus sirsak,” kata Daniel.
“Kamu pesan jus juga!” ujar Daniel kepada Karima.
“Baik, Pak. Saya pesankan.”
Karima keluar dari ruangan Daniel menuju ke lantai dasar. Ia mencari office boy untuk disuruh membeli jus. Setelah ia menyuruh office boy, Karima kembali ke meja kerjanya. Ia melanjutkan pekerjaannya.
Tiba-tiba pintu ruang kerja Daniel terbuka, Ibu Gita keluar dari ruangan Daniel.
“Karima, kenapa kamu tidak ikut bergabung ke dalam?” tanya Ibu Gita.
“Masih ada pekarjaan yang harus saya selesaikan,” jawab Karima.
“Nanti kalau sudah selesai bergabung sama kami, ya!” ujar Ibu Gita.
“Baik, Bu,” jawab Karima.
Ibu Gita masuk kembali ke ruangan Daniel sehingga Karima bisa melanjutkan pekerjaannya.
Tiga puluh menit kemudian office boy Imroni datang membawa pesanan Karima. Imroni menaruh kantong plastik yang berisi jus di atas meja.
“Terima kasih,” ucap Karima.
Karima menyusun jus di atas nampan lalu membawanya ke ruangan Daniel.
“Akhirnya jus datang juga. Papa sudah haus,” ujar Pak Dandi ketika Karima masuk ke dalam ruangan membawa jus. Karima menaruh jus di atas meja sofa.
__ADS_1
“Rim, saya minta putih,” kata Ibu Gita.
Karima mengambil gelas yang ada di pantry ruangan Daniel. Ia mengisi dengan air mineral lalu diletakkan di depan meja. Setelah itu Karima keluar dari ruangan Daniel dan kembali ke meja kerjanya.