
Mobil yang dikendarai Daniel berhenti di depan rumah kontrakan milik perusahaan Pak Dandi. Mereka semua turun dari dalam mobil. Ibu Gita dan Pak Dandi memandangi sekeliling kontrakan milik mereka. Rumah kontrakan itu tidak terletak di daerah kumuh namun terletak di daerah yang cukup ramai yang berada di pinggir jalan raya. Ada nilai plus dari kontrakan itu.
Mereka berjalan mendekati rumah kontrakan tersebut. Pak Dandi memperhatikan rumah kontrakan miliknya. Rumah kontrakan itu berjumlah lima buah. Setiap rumah kontrakan diberi pintu pagar sehingga penyewa rumah kontrakan itu bisa menyimpan kendaraannya.
Pak Dandi memperhatikan warna cat rumah dan pintu pagar sudah mulai memudar.
“Warna catnya sudah pudar. Harus dicat ulang lagi!” ujar Pak Dandi.
“Rim, tolong dicatat! Biar Daniel tidak lupa,” kata Pak Dandi.
“Baik, Pak.” Karima mengambil buku nota dan pulpen dari dalam tas lalu mencatat perkataan Pak Dandi.
Setelah melihat-lihat rumah kontrakan mereka pergi untuk melihat rumah kontrakan yang lainnya. Pak Maulana masih tetap duduk di belakang. Daniel yang menyetir mobil.
Mereka berputar-putar melihat rumah kontrakan, kos-kosan, GOR dan gedung serba guna. Bu Gita dari tadi memperhatikan usaha milik suaminya hanyalah bisnis remahan, sedangkan mereka harus menggaji karyawan yang cukup banyak.
“Pa. Dari tadi Bunda perhatikan bisnis Papa remahan semua, sedangkan Papa perlu uang yang banyak untuk menggaji karyawan. Bisa-bisa tekor, dong,” kata Ibu Gita sambil mengipas wajahnya dengan kipas angina kecil.
“Tenang saja, Bun. Itu baru sebagian, sebenarnya jumlahnya masih banyak. Jadi Bunda tidak usah khawatir. Lebih baik kita serahkan saja ke Daniel sebagai Direktur perusahaan itu,” jawab Pak Dandi.
“Tapi kasihan kalau dananya tidak cukup bagaimana?” tanya Ibu Gita.
“Bunda tenang saja! Daniel sudah tau cara mengatasinya,” jawab Pak Dandi.
Akhirnya mobil Pak Dandi berhenti di depan sebuah supermarket. Mobil Pak Dandi sangat panjang, jadi terpaksa mobil diparkir di pinggir jalan. Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam supermarket. Ibu Gita memperhatikan barang-barang yang dijual di supermarket tersebut. Lalu ia menyuruh Karima untuk mencatat barang-barang yang harus ditambah di supermarket tersebut. Serta perubahan-perubahan di supermarket tersebut.
Setelah dari supermarket mereka menuju ke hotel. Pak Dandi ingin melihat sudah sejauh mana renovasi hotel dilakukan. Pak Dandi dan Daniel berkeliling mengitari hotel. Ibu Gita mengajak Karima menunggu di mobil memakai AC daripada menunggu di luar panas dan berdebu. Namun Karima menolak dengan halus. Ia harus mengikuti Pak Dandi dan Daniel berkeliling hotel. Akhirnya Ibu Gita terpaksa sendiri menunggu di mobil.
Setelah satu jam mengelilingi hotel akhirnya mereka kembali ke kantor Daniel. Kali ini Pak Maulana yang menyetir mobil. Daniel dan Karima duduk di kursi paling belakang.
Mobil Pak Dandi berhenti di depan pintu pagar kantor. Sebelum turun Ibu Gita memeluk Karima terlebih dahulu dan cipika-cipiki dengan Karima. Daniel mencium tangan kedua orang tuanya lalu mereka turun dari mobil.
Daniel dan Karima berjalan masuk ke dalam kantor. Di lobby kantor ada Pak Umar yang sedang duduk di sofa. Ia sepertinya sedang menunggu seseorang.
Pak Umar langsung berdiri ketika melihat Daniel dan Karima masuk ke dalam kantor. Ia menghampiri Daniel.
“Pak Daniel apakah Pak Dandi sudah pulang?” tanya Pak Umar.
“Sudah, Pak. Baru saja pulang,” jawab Daniel. Mendengar jawaban Daniel wajah Pak Umar terlihat kecewa.
“Ada perlu apa dengan Papa saya?” tanya Daniel.
__ADS_1
“Saya hanya ingin bertemu beliau. Sudah hampir dua bulan perusahaan ini menjadi milik Pak Dandi , tapi saya belum pernah bertemu dengan beliau,” jawab Pak Umar.
“Nanti juga Papa akan sering datang ke sini untuk mengecek perubahan yang beliau perintahkan,” ujar Daniel.
“Perubahan apa, Pak?” tanya Pak Umar.
“Ada yang harus diperbaiki dengan bangunan-bangunan. Serta stok-stok barang di minimarket dan supermarket ada yang harus ditambah. Catatannya ada di Karima. Besok kita bicarakan sewaktu rapat dengan para staf,” jawab Daniel.
“Baik, Pak Daniel,” kata Pak Umar.
“Sekarang saya mau kembali ke ruangan saya,” ujar Daniel.
“Oh, silahkan Pak Daniel.”
Daniel dan Karima berjalan menuju ke liff. Mereka menggunakan liff untuk menuju ke ruangan mereka.
***
Karima sedang sibuk mengetik dokumen hasil rapat dengan para staf tadi pagi. Tiba-tiba intercomnya berbunyi.
“Ya?” tanya Karima.
“Ada tamu hendak bertemu dengan Pak Daniel. Namanya Winny. Katanya kenalan Pak Daniel sewaktu di AEON Mall,” jawab Tia.
“Tya, saya tanya Pak Daniel dulu. Nanti saya sambung lagi,” ujar Karima.
“Baik, Bu Karima.” Tya menutup intercom.
Karima beranjak menuju ke depan ruang kerja Daniel. Karima mengetuk pintu ruang kerja Daniel.
“Masuk!” kata Daniel
Karima membuka pintu ruang kerja Daniel. Daniel sedang membaca dokumen yang menumpuk di meja kerjanya. Dokumen itu adalah dokumen kantor Daniel yang di Jakarta. Dokumen itu diantarkan ke kantor di sini oleh supir kantor. Karena Daniel sedang malas ke kantornya yang berada di Jakarta.
Daniel mengangkat kepalanya. “Ada apa, Bu Karima?” tanya Daniel.
“Ada tamu mau ketemu Pak Daniel. Namanya Winny, dia kenalan Bapak di AEON Mall,” jawab Karima.
Daniel mengerutkan keningnya ketika mendengar perkataan Karima.
“Saya baru pertama kali ke AEON Mall, itu pun bersama Bu Karima dan anak-anak,” jawab Daniel.
__ADS_1
“Bagaimana saya bisa berkenalan dengan perempuan lain? Saya perginya dengan keluarga,” lanjut Daniel.
“Berarti Bu Winny teman Bang Yarfin,” kata Karima.
“Oh, kekasih mantan suami Bu Karima?” tanya Daniel.
“Iya, Pak,” jawab Karima.
“Mau ngapain dia ke sini?” tanya Daniel.
“Mau ketemu Pak Daniel,” jawab Karima.
“Suruh dia pergi! saya tidak punya urusan dengan perempuan itu,” kata Daniel.
“Baik, Pak.” Karima keluar dari ruang kerja Daniel kembali ke meja kerjanya.
Ia menghubungi Tya dengan intercom.
“Tya. Pak Daniel menyuruhnya pergi. Pak Daniel tidak punya urusan dengan Winny,” kata Karima.
“Baik, Bu Karima. Saya akan sampaikan pesan Ibu,” jawab Tya.
Karima menutup intercom. Lalu meneruskan pekerjaannya.
Pukul dua belas siang, seperti biasa Daniel mengajak Karima makan siang. Ketika mereka turun ke lantai dasar mereka melihat Winny sedang duduk di kursi sofa. Winny tersenyum ketika melihat Daniel datang. Ia langsung berdiri dan menghampiri Daniel. Ia memegang tangan Daniel dan bergelayut manja di tangan Daniel.
“Daniel, masih ingat aku?” tanya Winny dengan suara yang menggoda.
Karima memperhatikan Daniel dan Winny. Daniel berusaha menepis tangan Winny.
“Oh, yang itu? Mau ngapain ke sini? kemana pacarnya?” tanya Daniel.
“Sudah putus. Sekarang saya free,” jawab Winny yang masih bergelayut manja di lengan Daniel.
Terpaksa Daniel melepaskan pegangan tangan Winny dengan cara kasar hingga tangan Winny bisa terlepas dari tangannya. Winny merengut kesal karena tangannya dihempas dengan kasar oleh Daniel. Belum pernah ada pria yang menolak dipegang tangannya oleh Winny.
“Ayo, Bu Karima kita pergi sekarang,” ujar Daniel.
Sebelum pergi Daniel menghampiri meja operator.
“Sekali lagi saya melihat perempuan itu ada di sini, kalian berdua saya pecat!” seru Daniel.
__ADS_1
“Baik, Pak,” jawab Tya dan Uri.
I