
“Setuju,” jawab Hari.
“Oke kalau setuju, biar Ayah mencoba mencari makam papa. Ayo ikuti Ayah!” Daniel berjalan lebih dahulu Karima dan anak-anak mengikuti dari belakang. Daniel mencoba mengingat kembali arah menuju ke makam Yarfin.
Setelah belok ke kanan dan belok ke kiri akhirnya mereka sampai di makam Yarfin.
“Akhirnya sampai juga, kan? Siapa dulu dong. Ayah!” Daniel menepuk dadanya.
“Iya, nanti malam dipijitin,” kata Hari.
Mereka pun berjongkok di depan makam Yarfin. Masing-masing membaca doa di dalam hati. Mereka mendoakan Yarfin agar Yarfin tenang di alam kubur. Mereka pun selesai membaca doa dan kembali ke mobil.
Dari TPU Tanah Kusir, Daniel mengarahkan mobilnya menuju ke sebuah perumahan yang berada di Tanah Kusir. Karima hafal itu adalah jalan menuju ke rumah Ibu Menar, orang tua Yarfin. Ia menoleh ke Daniel.
“Mas mau kemana?” tanya Karima.
Daniel menoleh sebentar ke Karima.
“Kita antar anak-anak silaturahmi dengan nenek mereka,” ujar Daniel.
Karima hanya diam tidak mengatakan apapun. Daniel menoleh ke Karima.
“Nggak apa-apa, kan mengantar anak-anak ke rumah nenek mereka?” tanya Daniel.
“Tidak apa-apa,” jawab Karima.
Sampaiiah mereka di depan rumah Ibu Menar. Daniel memarkirkan mobilnya di depan rumah Ibu Menar. Hari, Gathan dan Rachel melihat keluar jendela. Mereka melihat tempat yang hendak mereka tuju.
“Ayah, kita mau ke rumah nenek ya?” tanya Hari.
“Iya. Kita silahturahmi dulu sama nenek,” jawab Daniel.
Daniel membuka pintu mobil. Ia pun turun dari mobil. Karima dan anak-anak turun dari mobil. Mereka berjalan masuk ke dalam halaman rumah Ibu Menar. Di halaman rumah Ibu Menar banyak mobil, sepertinya anak-anak Ibu Menar sedang berkumpul di rumah Ibu Menar. Hari mendekati pintu rumah Ibu Menar lalu mengetuk pintu rumah.
“Assalamualaikum.” Hari, Gathan dan Rachel berteriak mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam.” Terdengar suara seseorang membalas salam dari dalam rumah. Pintu rumahpun dibuka. Seorang pria membuka pintu ruang tamu. Ia adalah salah seorang menantu Ibu Menar.
“Eh, ada Bang Hari, Gathan dan Rachel,” kata pria tersebut.
__ADS_1
Hari, Gathan dan Rachel mencium tangan pria tersebut. Karima dan Daniel juga bersalaman dengan pria tersebut.
“Mama ada, Bang?” tanya Karima.
“Ada di dalam. Ayo, masuk!” Pria itu membuka pintu dengan lebar dan mempersilahkan Karima dan keluarganya masuk ke dalam.
“Silahkan duduk! Saya panggilkan mama dulu.” Pria tersebut masuk ke tengah rumah untuk memanggil Ibu Menar.
Tiba-tiba Miirna dan adik-adiknya serta menantu Ibu Menar keluar dari dalam rumah, mereka menghampiri Karima dan keluarganya. Mereka menyalami Karima, Daniel dan anak-anak.
“Wajah kamu kok pucat? Kamu lagi hamil, ya?” tanya Mirna. Ia melihat wajak Karima tidak seperti biasanya. Karima jadi malu ditanya oleh Mirna.
“Iya, Kak. Rima sedang hamil,” jawab Karima.
“Alhamdullilah. Sudah hamil berapa bulan?” tanya Mirna.
“Dua bulan lebih,” jawab Karima.
“Syukurlah. Mudah-mudahan Rachel ada teman,” ujar Mirna.
“Amin,” jawab Karima.
Ibu Menar datang dari dalam rumah. Wajahnya bergembira ketika melihat Hari, Gathan dan Rachel.
Hari, Gathan dan Rachel menyalami Ibu Menar. Ibu Menar mencium pipi cucu-cucunya satu persatu dengan terharu. Karima dan Daniel menyalami Ibu Menar. Ibu Menar memperhatikan wajah Karima yang pucat.
“Kok wajah Rima pucat dan agak kurusan?” tanya Ibu Menar.
“Rima sedang hamil, Ma,” jawab Karima.
“Alhamdullilah. Akhirnya Rachel punya adik juga,” ucap Ibu Menar.
Ibu Menar mempersilahkan mereka duduk. Ia membuka tutup toples kue yang berada di atas meja.
“Ayo dimakan kuenya. Ini semua kue buatan Mama,” ujar Ibu Menar.
Hari, Gathan dan Rachel mengambil kue dari dalam toples dan memakan kue tersebut. Karima mengambil toples kue kastengel lalu di dekatkan ke Daniel.
“Cobain deh, Mas. Kue kastengel buatan mama Menar enak sekali,” ujar Karima.
__ADS_1
Daniel mengambil satu kue kastengel dan memakannya. Daniel mengunyah kue sambil mengangguk-angguk sebagai tanda kue yang ia makan sangat enak. Lalu ia mengambil kue kastengel lagi dan memakannya.
“Kalian makan siang di sini, ya!” kata Ibu Menar. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Sebentar lagi waktu makan siang.
“Tidak usah, Ma, Tidak usah repot-repot!” kata Karima.
“Tidak apa-apa. Kebetulan Mama masak banyak hari ini. Makanan lebaran sudah habis. Kemarin banyak anak, menantu dan cucu. Serta tamu-tamu yang datang ke sini. Jadi hari ini Mama masak lagi dengan menu yang berbeda,” ujar Ibu Menar.
Seorang pembantu datang dari dalam rumah membawa minuman segar untuk Karima dan keluarga.
“Nih, minumnya.” Ibu Menar menaruh gelas yang berisi sirup dingin di atas meja. Hari, Gathan dan Rachel langsung meminum minumannya karena haus.
“Bi, tolong siapkan makan siang. Karima dan cucu-cucu mau makan,” ujar Ibu Menar.
“Baik, Bu,” jawab pembantu itu. Pembantu itu masuk kembali ke dalam rumah.
Beberapa menit kemudian salah satu anak ibu Menar menghampiri Ibu Menar.
“Mah, makanannya sudah siap,” kata anak Ibu Menar.
“Tuh, makanannya sudah siap. Ayo kita makan dulu!” Ibu Menar berdiri dari tempat duduk lalu mengajak Karima, Daniel dan cucu-cucu untu makan siang bersama.
Merekapun berjalan menuju ruang makan untuk makan siang. Di atas meja makan tersaji berbagai macam jenis makanan.
“Ayo silahkan pilih sendiri makanannya. Mau makan apa,” ujar Ibu Menar.
Karima mengambilkan makanan untuk anak-anak. Daniel mengambil makan sendiri.
“Mau duduk dimana di depan televisi atau dimana? Pokoknya bebas mau duduk dimana,” ujar Ibu Menar.
Anak-anak dan Daniel memilih duduk di ruang tamu. Setelah mengambil makanan Karima ikut bergabung bersama suami dan anak-anaknya. Ibu Menar melihat makanan yang diambil Karima hanya sedikit.
“Kenapa makannya cuma sedikit, Rim?” tanya Ibu Menar.
“Kalau terlalu banyak takut mual, Ma,” jawab Karima.
“Memang dari dulu kamu selalu mual-mual kalau sedang hamil,” kata Ibu Menar.
Karima memakan makanannya sedikit demi sedikit. Ia makan sambil menyuapi Rachel. Ibu Menar memperhatikan Karima dan Daniel. Pasangan suami istri itu terlihat sangat bahagia. Daniel juga terlihat sangat menyayangi anak-anak Karima.
__ADS_1
Walaupun Karima sudah menikah dengan pria lain, Ibu Menar tetap menganggap Karima seperti menantunya. Di mata Ibu Menar, Karimar adalah wanita soleha. Ia tidak pernah berbuat salah apapun. Ia selalu berbakti kepada suami dan mertuanya. Ia juga mengurus anak-anaknya dengan baik.
Dahulu ia sangat menyayangkan telat mengetahui Yarfin berpacaran dengan Winny. Kalau saja ia tahu sejak dini, ia pasti akan berusaha menjauhkan Yarfin dari Winny. Namun, itu semua kehendak Allah SWT, ia tidak bisa menghindar kehendak Allah SWT. Sekarang ia berusaha menerima apa yang sudah ditakdirkan Allah SWT.