
Daniel dan Karima berjalan menuju ke ruangan Daniel. Ketika mereka hendak masuk ke ruang kerja Daniel, Pak Dandi keluar dari ruang kerjanya.
“Daniel, kamu baru datang?” tanya Pak Dandi.
“Iya, Pah. Tadi ke kantor Tangerang Selatan dulu,” jawab Daniel.
Daniel membuka pintu ruang kerjanya. Mereka masuk ke dalam ruang kerja Daniel.
“Duduk dulu, Bu Karima!” ujar Daniel. Karima dan Pak Dandi duduk di sofa. Sedangkan Daniel duduk di kursi kerjanya.
“Papa mau minum apa?” tanya Daniel.
“Tidak Usah. Tadi Papa sudah minum kopi,” jawab Pak Dandi.
“Bu Karima mau minum apa?” tanya Daniel.
“Saya air putih saja. Biar saya ambil minum sendiri,” jawab Karima.
Karima berjalan menuju pantry yang berada di ruangan Daniel. Ia mengambil gelas dari dalam pantry lalu diisi air mineral dari dalam dispenser. Kemudian ia menaruh gelas tersebut di atas meja. Karima duduk kembali.
“Saya dengar mantan suami kamu meninggal. Saya dan istri saya turut berduka cita,” ujar Pak Dandi.
“Terima kasih, Pak,” jawab Karima.
“Kasihan anak-anak kamu pasti kehilangan papa mereka,” ujar Pak Dandi.
“Iya, Pak. Sewaktu mendengar papa mereka meninggal, mereka sedih. Tapi sekarang mereka sudah biasa lagi. Mungkin karena mereka jarang bertemu dengan papa mereka,” kata Karima.
“Kata Daniel mantan suami kamu tewas dibunuh. Apa betul begitu?” tanya Pak Dandi.
“Iya, Pak,” jawab Karima.
“Pembunuhnya sudah tertangkap?” tanya Pak Dandi.
“Sudah, Pak. Pembunuh bayaran dan orang yang menyuruh membunuhnya sudah tertangkap,” jawab Karima.
“Siapa yang menyuruh membunuh?” tanya Pak Dandi.
“Mantan pacar Bang Yarfin,” jawab Karima.
“Oh, dia punya pacar?” tanya Pak Dandi.
“Karima cerai dengan Bung Yarfin karena Bung Yarfin punya pacar,” sahut Daniel.
Pak Dandi dan Karima menolek ke arah Daniel tapi Daniel malah fokus paa dokumen di depannya.
“Setelah menanda tangani dokumen kamu mau kemana?” tanya Pak Dandi.
Daniel mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Pak Dandi.
“Daniel mau makan siang di hotel sama Karima,” jawab Daniel.
“Yah. Kalau Papa ikut berarti mengganggu kalian, dong?” tanya Pak Dandi.
“Iya, Pa,” jawab Daniel.
__ADS_1
“Papa makan siang di rumah saja sama Bunda. Atau kalau nggak makan siang di kantor Adrian,” kata Daniel sambil membaca dokumen.
“Nggak, ah. Papa mau makan di rumah Mia aja. Mau main sama Safina,” ujar Pak Dandi.
“Jangan, Pa! Kalau siang Safina lagi tidur siang. Nanti Mia marah kalau Papa ganggu Safina,” kata Daniel.
“Biarkan saja Mia marah. Papa mau main sama cucu,” jawab Pak Dandi.
Pak Dandi beranjak dari sofa.
“Karima, saya pergi dulu. Mau main sama cucu,” ujar Pak Dandi.
“iya, Pak,” jawab Karima.
Pak Dandi menoleh ke Daniel.
“Daniel. Papa pergi dulu, ya,” ujar Pak Dandi.
“Iya, Pa,” jawab Daniel.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Dandi. Pak Dandi membuka pintu lalu keluar dari ruang kerja Daniel.
“Waalaikumsalam,” jawab Karima dan Daniel. Daniel melanjutkan lagi pekerjaannya.
Pukul setengah dua belas Daniel selesai menanda tangani dokumen.
“Ayo kita pergi sekarang,” ujar Daniel.
Daniel membawa setumpuk map yang berisi dokumen yang sudah ia tanda tangani. Karima menghampiri Daniel.
“Tidak usah! Tolong buka pintu saja,” jawab Daniel.
Karima berjalan ke pintu lalu membuka pintu. Daniel membawa keluar map-map tersebut lalu ditaruh di atas meja Lisa.
“Semuanya sudah saya tanda tangani,” ujar Daniel kepada Lisa.
“Iya, Pak,” jawab Lisa.
“Ayo, Bu Karima. Kita pergi sekarang,” ujar Daniel.
Mereka pun berjalan meninggalkan kantor.
***
Pak Min menghentikan mobil di depan lobby hotel mewah yang masih berada di kawasan Kuningan. Seorang bellboy membukakan pintu untuk Karima. Karima dan Daniel turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam lobby hotel. Daniel mengajak Karima ke salah satu restaurant yang berada di hotel tersebut.
Ketika mereka sampai di depan restaurant salah seorang karyawan restaurant menghampiri mereka.
“Apakah Bapak sudah reservasi?” tanya karyawan tersebut.
“Belum,” jawab Daniel.
“Mari, Pak. Saya bantu mencari meja yang kosong,” kata karyawan itu.
Daniel dan Karima mengikuti karyawan tersebut. Karyawan itu membawa mereka ke sebuah meja yang berada di pojok ruangan. Karyawan itu menarik kursi untuk Karima dan Daniel. Mereka duduk di kursi tersebut. Datang karyawan lainnya memberikan buku menu kepada Daniel dan Karima.
__ADS_1
Karima membuka buku menu. Ia bingung mau memesan apa. Daniel merekomendasikan makanan yang enak di restaurant tersebut. Akhirnya Karima memesan makanan yang direkomendasikan oleh Daniel. Daniel juga memesan makanan yang sama.
Setelah karyawan restaurant pergi, Daniel memandang wajah Karima.
“Jadi apa jawabannya?” tanya Daniel langsung.
Ia sudah tidak sabar ingin mengetahui jawaban Karima. Karima menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan agar ia merasa tenang.
“Saya menerima lamaran Pak Daniel.” Karima menjawab sambil menunduk.
“Alhamdullilah,” ucap Daniel.
Daniel senang mendengar jawaban Karima. Kemudian ia merogoh saku suit, ia mengambil sesuatu dari dalam saku suit.
“Ini untuk Bu Karima.” Daniel menaruh sebuah kotak kecil di atas meja.
“Apa ini, Pak?” tanya Karima.
“Bukalah, nanti juga Ibu tau apa isinya,” jawab Daniel.
Karima mengambil kotak itu lalu membukanya. Di dalam kotak ada sebuah cincin berlian yang diikat emas putih.
“Cincin itu adalah sebagai tanda bahwa Ibu Karima sudah menerima lamaran saya,” ujar Daniel.
Karima mengeluarkan cincin itu dari dalam kotak lalu ia memakainya di jari manisnya. Cincin itu pas di jari manis Karima.
“Bagaimana pas tidak?” tanya Daniel.
“Pas.” Karima memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
“Kok bisa pas? Bagaimana cara mengukurnya?” tanya Karima.
“Saya tahu ukuran jari wanita saya,” jawab Daniel.
Karima mengerut kening tanda tidak mengerti.
“Setiap hari saya bertemu dengan Ibu Karima. Jadi saya sudah hafal dengan ukuran jari tangan Ibu Karima,” jawab Daniel.
“Pak Daniel, bisa tidak jangan panggil saya dengan sebutan Bu Karima?” tanya Karima.
“Lalu mau dipanggil apa? Sayang?” Daniel malah balik bertanya.
Karima melotot mendengar pertanyaan Daniel.
“Panggil saya Karima saja. Jangan pakai kata Bu atau Ibu. Saya kan cuma sekretaris Pak Daniel. Masa dipanggil Bu Karima,” kata Karima.
“Saya memanggil Ibu dengan sebutan Bu Karima karena saya menghormati Ibu. Ibu lebih tua dari saya,” ujar Daniel.
“Nanti saya panggil Karima saja,” lanjut Daniel.
“Iya, tidak apa-apa,” kata Karima.
“Karima juga jangan panggil saya Pak Daniel lagi. Panggil saya dengan sebutan lain,” ujar Daniel.
“Panggil apa?” tanya Karima bingung.
__ADS_1
“Panggil saya Daniel saja atau Abang atau Mas atau Aa terserah Karima mau panggil apa,” kata Daniel.