Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
91. Pergi Ke Rumah Orang Tua Yarfin


__ADS_3

“Bukan mati, Rachel. Tapi meninggal,” ralat Karima.


“Tadi Abang bilang mati,” kata Rachel.


Karima menoleh ke Hari.


“Abang! Kenapa bilang begitu?” tanya Karima.


“Habisnya Rachel dan Gathan tidak mengerti juga kalau papa sudah meninggal,” jawab Hari dengan sedih.


“Kasih taunya dengan cara baik-baik! Nanti mereka pasti mengerti,” ujar Karima.


“Jangan dibilang mati. Papa manusia bukan binatang,” lanjut Karima.


Gathan memeluk kaki Karima. “Jadi kita tidak punya papa lagi?” tanya Gathan dengan bersedih.


Karima mensejajarkan tubuhnya dengan Gathan. Ia mengusap kepala Gathan.


“Iya, sayang. Doakan papa, semoga papa tenang di sana. Hanya doa anak yang soleh yang dikabulkan oleh Allah SWT,” kata Karima.


Gathan pun menangis. “Papaaaa.” Gathan menangis dengan kencang. Hari juga ikut menangis. Hanya Rachel yang diam, ia masih belum mengerti. Ia malah melihat abang-abangnya yang sedang menangis. Karima memeluk Gathan lalu mengusap punggungnya.


“Jangan bersedih. Gathan masih punya Mama,” ujar Karima.


Karima melepaskan pelukannya. “Ayo kita berangkat sekarang!” kata Karima.


Daniel membawakan koper Karima. Mereka berjalan menuju ke mobil Daniel. Daniel memasukkan koper ke dalam bagasi. Karima dan anak-anak masuk ke dalam mobil. Mereka duduk di belakang, sedangkan Daniel duduk di depan bersama supir. Mobilpun meluncur meninggalkan rumah Karima.


Rumah orang tua Yarfin terletak di daerah Tanah Kusir. Semenjak Yarfin bercerai dengan Karima, Yarfin tinggal sendiri tidak tinggal dengan orang tuanya. Ia membeli rumah di daerah Pondok Indah. Namun, orang tua Yarfin menginginkan jenasah Yarfin untuk semayamkan di rumah mereka.


Perjalanan dari Pamulang menuju ke Tanah Kusir cukup jauh. Mereka harus melalui jalan tol untuk mempersingkat waktu. Selama perjalanan menuju ke Tanah Kusir tidak terdengar suara celotehan dari anak-anak. Mereka semua diam tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


Daniel menoleh ke belakang. Karima sedang memandangi ke luar jendela. Rachel hanya diam di pelukan mamanya. Gathan matanya sudah lima watt. Sedangkan Hari memandangi jalanan di luar jendela mobil.


Pandangan Daniel kembali ke depan. Ia melihat ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul sebelas tiga puluh. Sudah waktunya mereka untuk makan siang. Kasihan anak-anak pasti kelaparan.


“Pak, kita ke Soto Bangkong dulu!” ujar Daniel.


“Baik, Pak,” jawab Pak Min.

__ADS_1


Setelah keluar dari jalan tol, Pak Min tidak langsung menuju ke arah Tanah Kusir. Tapi Pak Min mengarahkan mobil menuju ke arah Kebayoran Baru. Karima memperhatikan jalan, ia tau kalau itu bukan ke daerah ke Tanah Kusir.


“Pak Daniel, ini bukan ke Tanah Kusir,” kata Karima.


Daniel menoleh ke belakang. “Kita cari makan dulu. Ini sudah siang, sudah waktunya anak-anak untuk makan,” ujar Daniel.


Karima melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Sudah waktunya anak-anak harus makan. Jika mereka sudah sampai di rumah Ibu Yarfin mereka akan kesulitan untuk mencari makan.


Akhirnya mereka sampai di rumah makan Soto Bangkong di jalan Hang Lengkir. Pak Min memarkirkan mobil di depan rumah makan.


Daniel menoleh ke belakang.  “Ayo, Bang. Kita makan dulu,” ujar Daniel kepada Hari. Daniel turun dari mobil.


Hari menoleh ke samping, Gathan sedang tidur nyenyak.


“Tan! Gathan! Bangun sudah sampai.” Hari menepuk tangan Gathan agar bangun.


Daniel membuka pintu belakang.


“Biar Gathan digendong sama Om,” kata Daniel.


Hari keluar dari mobil, Daniel masuk ke dalam mobil lalu menggendong Gathan. Karima keluar dari mobil sambil menggendong Rachel. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah makan. Mereka memilih tempat yang nyaman untuk duduk.


Rachel menjawab dengan mengangguk.


“Rachel duduk di sebelah Abang,” kata Hari.


Karima mendudukkan Rachel di kursi sebelah Hari lalu ia mengambil Gathan dari pangkuan Daniel.


“Sudah, biarkan Gathan dipangku sama saya,” ujar Daniel.


“Nanti Bapak tidak bisa makan kalau sambil memangku Gathan,” kata Karima.


Ketika Karima mengangkat Gathan, Gathan pun terbangun. Matanya memperhatikan ke sekelilingnya.


“Tuh, Gathan jadi bangun,” ujar Daniel melihat Gathan terbangun.


Karima duduk sambil memangku Gathan. Gathan nampak masih ngantuk. Ia menoleh ke Hari dan Rachel. Hari sedang membaca daftar menu sedangkan Rachel mendengarkan Hari yang menyebutkan menu satu persatu.


“Mau duduk sendiri,” kata Gathan.

__ADS_1


“Sini. Duduk di sebelah Om,” ujar Daniel.


Gathan turun dari pangkuan Karima. Ia duduk di sebelah Daniel. Ia mendengarkan Hari membaca menu satu persatu. Mereka pun memesan makanan. Tanpa harus menunggu lama pesanan mereka pun datang. Anak-anak memakan makanannya dengan lahap. Mungkin karena perut mereka sudah lapar sekali.


Setelah selesai makan mereka menuju ke rumah orang tua Yarfin. Di depan rumah orang tua Yarfin nampak sudah ramai oleh para pelayat. Pak Min menghentikan mobil di depan rumah Ibu Menar. Mereka semua turun dari mobil.


“Kopernya jangan diturunkan dulu! Nanti saja diturunkan,” kata Daniel kepada Pak Min.


“Baik, Pak,” jawab Pak Min.


Karima dan anak-anak masuk ke dalam halaman rumah Ibu Menar. Daniel mengikuti mereka dari belakang. Karima dan anak-anak masuk ke dalam rumah untuk menemui saudara-saudara Yarfin. Sedangkan Daniel duduk di halaman rumah bersama dengan pelayat yang lain.


Karima berbicara dengan saudara-saudara Yarfin. Walaupun ia dan Yarfin sudah bercerai namun Karima masih menjalin hubungan baik dengan keluarga Yarfin.


Gathan masuk ke dalam rumah, ia mendekati Karima.


“Mama. Ada Angku Aziz dan Mak Tuo Reni,” kata Gathan. (Maaf kalau Deche salah menyebutkan panggilan.)


Aziz adalah kakak tertua Karima. Dan Reni adalah istri Aziz. Dari kecil Karima diurus oleh Aziz dan istrinya.


Karima keluar dari rumah untuk menemui kakaknya. Ternyata Bang Aziz sedang berbicara dengan Daniel. Di dekat Bang Aziz dan Daniel ada Hari, Gathan dan Rachel. Sepertinya Bang Aziz dan Daniel dikenalkan oleh anak-anak Karima.


Karima menghampiri Bang Aziz.


“Abang.” Karima mencium tangan Bang Aziz lalu menghampiri Unie Reni.


“Unie.” Karima mencium tangan Unie Reni.


“Jenazah Yarfin belum datang?” tanya Bang Aziz.


“Belum. Mungkin belum selesai diotopsi,” jawab Karima.


“Otopsi? Sebetulnya Yarfin meninggal kenapa sambil harus diotopsi?” tanya Daniel.


Dari tadi Daniel mendengar kata-kata polisi dan otopsi dari mulut pelayat yang lain. Ia tidak tau apa-apa karena Karima tidak bercerita apa-apa kepadanya. Yang ia tahu hanya Yarfin sudah meninggal. Meninggalnya karena apa, ia tidak tahu.


“Bang Yarfin ditemukan tewas di dalam mobilnya oleh penduduk sekitar. Ada luka tusukan di perutnya. Makanya jenazahnya harus diotopsi,” jawab Karima.


“Astagfirullahaladzim,” ucap Daniel.

__ADS_1


“Saya tidak tau kalau dia tewas dibunuh,” kata Daniel.


__ADS_2