Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
114. Idul Fitri


__ADS_3

Pukul enam lewat lima belas menit, Pak Dandi beserta keluarganya pergi ke masjid untuk sholat ied. Mereka sholat Ied di masjid Cut Meutia. Mereka pergi ke masjid dengan menggunakan mobil karena jarak masjid Cut Meutia agak jauh dari rumah Pak Dandi.


Sesampai di masjid Daniel memarkirkan mobilnya di pinggir jalan karena areal parkir dijadikan tempat sholat Ied. Dari tempat parkir mereka harus berjalan kaki menuju ke masjid. Ketika mereka sampai di  depan masjid, Hari dan Gathan takjub melihat masjid Cut Meutia yang dibangun jaman kolonial Belanda.


“Wah, besar sekali mesjidnya,” kata Gathan.


Gathan menoleh ke Rachel. “Rachel, kita bisa main lari-larian di sini,” kata Gathan.


“Tidak boleh main lari-larian! Kita ke sini untuk sholat bukan untuk main,” ujar Karima.


Setelah masuk ke gerbang masjid mereka pun berpencar. Perempuan mengikuti Ibu Gita, sedangkan laki-laki mengikuti Pak Dandi.


Beruntung mereka datang pagi-pagi sehingga mereka bisa memilih tempat yang nyaman untuk sholat. Mereka tidak perlu menggelar koran atau tikar karena panitia sudah menggelas karpet plastik sebagai alas mereka sholat. Mereka tinggal menggelar sajadah di atas karpet plastik.


Pukul setengah tujuh sholat ied dimulai. Rachel juga ikut sholat ied, ia sholat di tengah-tengah antara nenek dan mamanya. Ia sholat dengan mengikuti gerakan orang lain. Setelah selesai sholat Ied mereka kembali ke rumah Pak Dandi karena sebentar lagi Pak Dandi akan open house.


Mia dan Adrian beserta Safina datang ke rumah Pak Dandi setelah sholat Ied. Setelah semuanya berkumpul mereka sungkeman kepada Pak Dandi dan Ibu Gita. Anak-anak dan cucu-cucu saling salaman satu dengan lain.


Setelah selesai  acara sungkeman mereka sarapan bersama. Bi Suti sudah menyiapkan sarapan untuk mereka. Mereka sarapan dengan makan makanan khas lebaran yaitu makan ketupat dengan menggunakan opor ayam, rending daging, sambel goreng ati, sayur ketupat dan telor pindang. Tidak ketinggalan kerupuk dan emping sebagai pelengkap.


Usai sarapan mereka bersiap-siap karena sebentar lagi para tamu akan datang untuk bersilahturahmi. Para petugas catering sibuk menyiapkan hidangan  untuk para tamu. Berbagai macam makanan di  hidangkan di meja. Bukan hanya menyediakan ketupat dan sayur dannlauk pauknya saja. Tapi mereka menghidangkan makanan yang lainnya agar para tamu bisa memilih makanan yang mereka suka,


Para pembantu menyusun desert di meja yang sudah di siapkan. Tentu saja dengan mengikuti komando dari Ibu Gita. Berbagai macam dessert dihidangkan di atas meja. Mulai dari berbagai macam kue, berbagai macam minuman, puding serta camilan yang lainnya.


Karima menghampiri Ibu Gita yang sedang mengatur penyusunan dessert. “Bun, apa yang bisa Karima bantu?” tanya Karima. Ia merasa tidak enak tidak membantu apa-apa sedangkan Ibu Gita dan para pembantu sedang sibuk.


Ibu Gita menoleh ke arah Karima. “Kamu duduk saja! Ada pembantu yang membantu Bunda. Kalau kamu ikut membantu nanti kamu kecapean. Ingat! Kamu sedang hamil muda,” ujar Ibu Gita.


“Iya, Bun,” jawab Karima.


Karima terpaksa kembali ke tempat duduknya. Jika sedang di rumahnya ia bisa mengerjakan pekerjaan rumah sedikit demi sedikit. Untuk mengusir rasa jenuh. Mia menghampiri Karima, ia menemani Karima. Ia juga tidak diperbolehkan untuk membantu oleh Ibu Gita. Mereka berdua duduk sambil memperhatikan pembantu dan petugas catering yang berlalu lalang.


Pukul setengah sepuluh tamu sudah mulai berdatangan. Pak Dandi dan Ibu Gita menyambut tamu mereka. Daniel dan Adrian menemani Pak Dandi dan Ibu Gita. Karena mereka mengenal tamu-tamu Pak Dandi. Adrian dan Daniel memanggil Karima dan Mia. Mereka memperkenalkan istri-istri mereka kepada para tamu.


Lama kelamaan tamu banyak yang berdatangan. Rumah Pak Dandi penuh oleh para tamu. Pegawai catering kewalahan untuk melayani para tamu. Ini menjadi kesempatan untuk Karima dan Mia untuk membantu para pegawai catering. Tanpa sepengetahuan Ibu Gita Karima dan Mia sibuk berwara wiri mengambil piring dan gelas yang kotor atau memastikan hidangan yang disediakan masih tersedia.


Pukul tiga sore acara open house pun selesai. Tamu tidak ada yang berdatangan lagi ke rumah Pak Dandi. Adrian dan Mia pamit pulang karena mereka sudah cape. Karima dan Daniel beserta anak-anak beristirahat di kamar. Malam ini mereka masih menginap di rumah Pak Dandi.


Karima duduk di atas tempat tidur sambil memijat kakinya. Kakinya terasa sangat pegal karena berdiri terlalu lama. Daniel keluar dari kamar mandi, ia menghampiri Karima.


“Kenapa kakinya?” tanya Daniel.

__ADS_1


“Kaki Rima pegal, Mas. Kelamaan berdiri,” jawab Karima.


Daniel duduk di tempat tidur. Tangannya memegang kaki Karima. “Mas pijitin kaki Rima, ya?” tanya Daniel.


“Iya, Mas,” jawab Karima.


Daniel memijat kaki Karima hingga Karima tertidur. Setelah memijat kaki Karima, Daniel menyelimuti tubuh Karima lalu mengecup kening Karima. Ia tidur di sebelah Karima.


***


Keesokan harinya setelah selesai sarapan pagi Daniel beserta anak dan istrinya pamit pulang. Mereka akan pulang ke rumah mereka di Pamulang.


“Rumah Kakek jadi sepi lagi. Tidak ada Bang Hari, Gathan dan Rachel,” ujar Pak Dandi.


“Kapan-kapan nginap lagi di rumah Kakek!” ujar Pak Dandi.


“Kakek dan nenek yang nginap di rumah Gathan,” kata Gathan.


“Ada kamar kosong untuk Kakek dan Nenek, nggak?” tanya Pak Dandi.


“Nggak ada,” jawab Gathan.


“Kalau begitu nanti saja Kakek menginap, kalau sudah ada kamar,” kata Pak Dandi.


Pak Dandi menoleh ke Daniel. “Mau beli rumsh baru dimana?” tanya Pak Dandi.


“Di Pamulang saja, Pa. Beli rumah yang di samping dan di belakang rumah Karima,” jawab Daniel.


“Kenapa tidak beli di tengah kota?” tanya Ibu Gita.


“Anak-anak tidak mau pindah sekolah, Bun. Mereka betah tinggal di sana,” jawab Daniel.


“Ya sudah, kalau memang keputusanmu seperti itu,” ujar Ibu Gita.


Daniel senang akhirnya Ibu Gita menerima keputusannya.


“Daniel pulang dulu, Bun.”


Daniel mencium tangan Ibu Gita. Kemudian Karima dan anak anak juga mencium tangan Ibu Gita. Setelah itu mereka mencium tangan Pak Dandi.


“Kami pulang dulu. Assalamualaikum,” ucap Daniel.

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” jawab Pak Dandi.


Daniel bersama anak dan istrinya berjalan menuju ke halaman rumah Pak Dandi tempat mobil Daniel diparkir. Mereka masuk ke dalam mobil, tak lama kemudian mobil Daniel meluncur meninggalkan halaman rumah Pak Dandi.


Ketika sudah sampai di daerah Kebayoran Lama, Daniel mengarahkan  mobilnya menuju ke arah Tanah Kusir. Karima menoleh ke Daniel ketika mengetahui Daniel mengarahkan mobilnya ke Tanah Kusir.


“Kenapa ke sini, Mas?” tanya Karima.


“Kita ziarah ke makam Yarfin dulu,” jawab Daniel.


Daniel membelokkan mobilnya ke TPU Tanah Kusir. Ia mencari tempat parkir yang kosong lalu memarkirkan mobilnya.


“Ayo, anak-anak. Kita ke makam papa Yarfin dulu,” ujar Daniel.


Daniel dan Karima turun dari mobil. Anak-anak juga turun dari mobil. Mereka berjalan menuju ke makam Yarfin. Tiba-tiba Daniel berhenti berjalan lalu menoleh ke Karima dan anak-anak.


“Siapa yang hafal jalan ke makam papa?” tanya Daniel.


Hari dan adik-adiknya menggeleng kepala. Mereka tidak hafal jalan makam papa mereka. Sewaktu papa mereka di makamkan mereka hanya mengikuti Daniel dari belakang.


“Yah! Kalau semuanya tidak tau, bagaimana caranya kita ke makam papa?” tanya Daniel.


“Ayah hafal jalan ke makam papa?” tanya Hari.


“Tidak. Ayah juga tidak hafal jalan ke makam papa,” jawab Daniel.


“Bagaimana caranya kita mencari makam papa?’ tanya Hari.


Daniel diam sejenak. Ia mencoba untuk berpikir. Akhirnya ia menemukan ide.


“Bagaimana jika Ayah bisa menemukan makam papa, kalian semua termasuk mama harus memijat kaki dan tangan Ayah. Setuju tidak?” tanya Daniel.


Hari dan adik-adiknya saling berpandangan satu dengan yang lain. Mereka saling bertanya setuju atau tidak dengan usulan Daniel?


“Mas hafal jalan ke makan Bang Yarfin?” tanya Karima.


“Tidak hafal. Mas sudah lupa lagi. Mas baru sekali ke makam Yarfin, sewaktu Yarfin dimakamkan,” jawab Daniel.


Pandangan Daniel kembali lagi kepada anak-anak.


“Bagaimana setuju tidak dengan usulan Ayah?” Daniel bertanya kepada Hari dan adik-adiknya.

__ADS_1


__ADS_2