Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
36. Perkebunan Teh


__ADS_3

Ibu Titin membawa sepiring kue dan dua cangkir teh lalu ditaruh di atas meja.


“Diminum dulu tehnya.” Ibu Titin duduk di kursi.


“Terima kasih, Mak,” ucap Adrian. Adrian mengambil cangkir yang berada di atas meja lalu meminum tehnya.


“Tehnya enak, Mak,” puji Adrian. Rasa tehnya sama seperti teh yang pernah Mia sajikan ketika pertama kali Adrian datang ke rumah Ibu Titin.


“Itu teh dari perkebunan teh di dekat sini,” ujar Ibu Titin.


“Mia pernah menjadi pemetik daun teh di sana,” lanjut Ibu Titin.


“Iya, Mak. Mia pernah cerita ke Adrian,” ujar Adrian.


“Tapi sayang sekarang kebun teh mau dijual oleh pemiliknya,” kata Ibu Titin.


“Kok dijual, Mak? Kasihan para pegawainya jadi kehilangan mata pencaharian,” tanya Adrian. Setahu Adrian masyarakat Indonesia dan di dunia suka sekali mengkonsumsi teh, jadi tidak mungkin jika pemilik kebun teh bangkrut karena tidak ada yang membeli. Kecuali kebun tehnya diserang hama atau parasit.


“Pemiliknya sudah meninggal. Ahli warisnya mau bagi-bagi warisan,” jawab Ibu Titin. Mendengar perkataan Ibu Titin, tiba-tiba Adrian jadi tertarik untuk membeli kebun teh tersebut.


“Emak tau pemiliknya? Rumahnya dimana?” tanya Adrian penasaran.


“Nama pemiliknya Rudi Wirakusuma. Rumahnya di Bandung. Tapi Emak tidak tau alamat rumahnya. Dulu papah Mia pernah hendak membeli kebun teh tersebut. Tapi pemiliknya tidak mau menjual,” jawab Ibu Titin.


Oh, jadi Om Dandi juga tertarik dengan kebun teh itu, kata Adrian di dalam hati.


“Mas mau beli kebun teh?” tanya Mia sambil mengunyah kue.


“Kalau harganya cocok Mas mau beli,” jawab Adrian lalu ia mengambil kue yang berada di atas meja.


“Untuk apa, Mas?” tanya Mia. Perusahaan Adrian tidak bergerak di bidang makanan dan minuman. Ia takut Adrian kesulitan untuk mengeloh kebun teh karena belum terbiasa. Serta kesulitan mencari pasar untuk menjual hasil kebun teh. Belum lagi harus membayar karyawan untuk mengurus kebun teh.


“Untuk investasi dan memperluas bisnis,” jawab Adrian. Sebagai pengusaha Adrian harus pintar mencari peluang-peluang bisnis yang ada.


“Tapi Perusahaan Mas Adrian tidak bergerak di bidang makanan dan minuman,” kata Mia. Ia mengingatkan Adrian jangan membeli perkebunan teh hanya karena keinginan semata.


“Gampang. Itu biasa diatur. Kamu tidak usah khawatir,” jawab Adrian.


“Kalau mau tau alamat rumah pemiliknya, tanyakan saja ke kantor perkebun teh,” kata Ibu Titin.


“Iya, Mak. Besok Adrian akan ke kantor kebun teh untuk menanyakan alamat pemiliknya,” jawab Adrian.


“Loh, besok Adrian tidak pulang ke Jakarta?” tanya Ibu Titin.


“Tidak, Mak. Adrian akan di Sumedang sampai hari pernikahan,” jawab Adrian.


“Bagaimana dengan urusan kantor? Nanti kalau karyawan kamu butuh tanda tangan kamu, bagaimana?” tanya Ibu Titin.


“Gampang, Mak. Itu bisa diatur. Adrian tinggal menyuruh asisten Adrian menyusul ke sini,” jawab Adrian dengan tenang.


“Ya sudah, kalau kamu mau lama di Sumedang. Tapi tidak boleh bertemu sama Mia. Mia mau dipingit,” kata Ibu Titin.


“Iya, Mak,” jawab Adrian.


Tiba-tiba terdengar suara adzan ashar berkumandang dari masjid di dekat rumah Ibu Titin.


“Mas mau sholat dulu di masjid,” kata Adrian. Ia meminum tehnya sekali lagi.


“Iya, Mas,” jawab Mia. Adrian beranjak dari tempat duduk.


“Mas berangkat dulu.” Adrian pamit.


“Assalamualaikum,” ucap Adrian.

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” jawab Mia. Adrian berjalan keluar menuju ke masjid bersama dengan Pak Ratno.


Tiga puluh menit kemudian Adrian kembali dari masjid. Terdengar suara Adrian yang sedang berbincang-bincang dengan bapak-bapak yang pulang dari masjid. Mereka berhenti sejenak di depan rumah Ibu Titin hanya sekedar berbincang-bincang.


“Mampir dulu Mas ke rumah,” ujar bapak-bapak itu.


“Terima kasih, Pak. Lain kali saja,” jawab Adrian.


“Mari Mas Adrian. Assalamamualaikum,” ucap bapak-bapak tersebut.


“Waalaikumsalam,” jawab Adrian. Bapak-bapak itu berjalan menuju ke rumahnya.


Adrian masuk ke dalam perkarangan rumah Ibu Titin sedangkan Pak Ratno masuk ke dalam mobil.


“Assalamualaikum,” ucap Adrian ketika hendak masuk ke dalam rumah Ibu Titin.


“Waalaikumsalam,” jawab Mia dengan suara yang agak kencang. Mia sedang berada di dapur.


Adrian duduk kursi tamu. Tak lama kemudian Mia keluar dari dapur.


“Emak mana?” tanya Adrian.


“Ada di kamar sedang sholat” jawab Mia.


“Mas mau pamit dulu sama emak. Mas mau ke hotel, kasihan Pak Ratno sudah cape belum istirahat,” kata Adrian.


“Sebentar. Mia panggil emak dulu,” kata Mia.


Mia masuk ke kamar Ibu Titin. Ibu Titin baru selesai sholat, ia sedang melipat mukenah.


“Emak, Mas Adrian pamit mau ke hotel dulu,” kata Mia.


Ibu Titin keluar dari kamar menuju ke ruang tamu.


“Nanti malam makan di sini! Emak punya makanan banyak,” kata Ibu Titin.


“Iya, Mak,” jawab Adrian. Adrian mencium tangan Ibu Titin.


“Adrian pergi dulu. Asalamualaikum,” ucap Adrian.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Titin dan Mia.


Adrian berjalan menuju ke mobilnya, Mia mengikuti dari belakang.


“Mas pergi dulu, ya,” kata Adrian sebelum masuk ke dalam mobil.


“iya, Mas,” jawab Mia.


Lalu Adrian masuk ke dalam mobil. Pak Ratno sudah menunggu di dalam mobil. Mobil Adrian pun melunjcur meninggalkan rumah Ibu Titin.


Malam harinya setelah selesai sholat magrib Adrian kembali ke rumah Mia. ia menyupir mobil sendiri, Pak Ratno disuruh istirahat di hotel. Ketika Adrian turun dari mobil ia dihampiri oleh para bapak-bapak yang baru pulang dari masjid.


“Mas Adrian. Nanti ikut meronda, ya!” kata Pak Kardi.


“Saya tidak bisa, Pak. Besok pagi saya mau ke Bandung. Besok malam saja, bagaimana?” tanya Adrian.


“Boleh. Kalau besok malam meronda bareng dengan Mulyana,” jawab Pak Kardi.


“Nah, kebetulan. Rumahnya berdekatan,” kata Adrian.


Mia mendengar suara Adrian yang sedang berbicara di depan langsung membuka pintu rumah.


“Mas Adrian. Tuh, sudah dicariin sama Mia,” kata Pak Totong sambil menunjuk dengan dagunya ke arah Mia.

__ADS_1


“Kami pamit dulu, Mas,” ucap Pak Kardi.


“Mampir dulu Bapak-Bapak,” ajak Adrian.


“Terima kasih, Mas. Ibunya anak-anak sudah menunggu di rumah,” jawab Pak Totong.


“Ayo Mas Adrian. Assalamualaikum,” ucap Pak Totong. Pak Totong, Pak Kardi dan bapak-bapak lainnya pergi meninggalkan rumah Ibu Titin.


“Waalaikumsalam,” jawab Adrian.


Adrian masuk ke dalam rumah Ibu Titin.


“Assalamualaikum,” ucap Adrian ketika masuk ke dalam rumah.


“Waalaikumsalam,” jawab Mia sambil menyiapkan makan malam. Ibu Titin mengeluarkan piring dari dalam lemari.


“Ayo, makan dulu!” ujar Ibu Titin sambil menaruh piring di atas meja.


“Iya, Mak,” jawab Adrian.


Adrian berjalan mendekati meja makan lalu duduk di kursi makan. Mia mengambilkan nasi untuk Adrian.


“Besok pagi Adrian tidak datang ke sini. Adrian mau ke Bandung untuk menemui ahli waris perkebunan teh,” kata Adrian kepada Ibu Titin.


“Kamu sudah tau alamatnya?” tanya Ibu Titin.


“Sudah, Mak. Diberi tau oleh Pak RW,” jawab Adrian.


Mia mendengarkan sambil mengambilkan makanan untuk Adrian.


“Syukurlah kalau sudah tau alamatnya. Mudah-mudahan harganya cocok,” ujar Ibu Titin.


“Aamiin. Doakan ya, Mak,” ucap Adrian.


“Kata Pak RW ada orang Jakarta yang terrarik untuk membeli perkebunan teh. Orangnya sedang tawar menawar dengar ahli warisnya,” kata Adrian.


“Pak RW tau darimana kalau sudah ada yang menawar perkebunan teh?” tanya Mia.


“Dari mandor perkebunan,” jawab Adrian.


“Sudah jangan bicara terus! Kita makan dulu!” ujar Ibu Titin.


Adrian dan Mia mulai makan. Ibu Titin hendak makan tapi seperti ada yang kurang. Ia tidak melihat Lina.


“Lina mana?” tanya Ibu Titin.


“Ada di kamar lagi nelepon orang tuanya,” jawab Mia.


“Lina!” Ibu Titin memanggil Lina. Lina keluar dari kamar Mia.


“Iya, Bu,” jawab Lina.


“Makan dulu!” kata Ibu Titin.


“Sebentar, Bu. Saya lagi bicara dengan orang tua saya,” jawab Lina.


“Nanti ambil sendiri makanannya!” kata Ibu Titin.


“Iya, Bu,” jawab Lina. Lina kembali ke kamar Mia.


“Kalau kalian sudah menikah, apa Lina masih bekerja mengurus Mia?” tanya Ibu Titin.


“Sepertinya tidak, Mak. Adrian yang akan mengurus Mia, kan sudah halal. Lagi pula Mia sudah mulai pulih kembali,” jawab Adrian.

__ADS_1


__ADS_2