PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
BAB. 99


__ADS_3

" Nak Jubair, kemari dan duduklah di sini." titah Bapak. Pria masa laluku itu menuruti ajakan Bapak dan memilih tempat duduk di dekat Bapak. Pandangan matanya menatapku lekat. Aku membuang pandangan,


gugup.


" Bagaimana istrimu, Meli? Apakah dia masih marah padamu? " tanya Bapak pada pria itu.


Pandangan mata pria itu beralih ke Bapak. Dia menggeleng seraya berkata " Tidak, saya sudah mengantarkan Meli pulang ke rumah. Maksud kedatangan saya kemari lagi adalah saya mau minta izin Bapak untuk mengajak Niah ke rumah Ambo dulu.( Ambo adalah panggilan untuk Bapak, bagi orang Bugis). Ambo sekarang sedang sakit, dan dia mau bertemu denganmu, Niah."


Bapak menatap bijak ke arahku. Rupanya kali ini Bapak tidak ingin mencampuri urusanku. Walaupun beliau tahu jika aku dan Jubair sudah bercerai, beliau juga tak ingin melarangku untuk pergi ke rumah mantan mertuaku itu. Tapi beliau juga tak ingin memaksaku untuk menuruti permintaan Jubair karena bagaimana pun juga kami memang bukan lagi suami istri.


Sedang aku yang ditatap hanya bengong. Aku tak tahu harus bagaimana. Apakah aku harus menuruti permintaan Jubair untuk datang ke rumah mantan mertuaku atau menolak.


Sungguh, aku juga tak mau melukai hati Mas Haris. Walaupun pria itu masih belum tahu jika Jubair adalah mantan suamiku, tapi dengan pergi ke sana, sama saja artinya dengan aku masih mengharapkan Jubair. Dan itu secara tak langsung pasti menyakiti hatinya.


Selain itu, aku tak ingin membuka peluang pada pria masa laluku itu untuk kembali memasuki kehidupanku. Aku tak tahu, bagaimana bentuk lukaku pada saat ini. Tapi satu hal yang aku tahu, bahwa aku tak pernah berharap untuk kembali lagi merajut benang kasih bersama pria itu.


Namun sisi kemanusiaanku yang lain mengusik hati nurani. Menampilkan sisi iba di hatiku untuk pria yang dulu begitu gigih membela dan menyayangiku, yaitu mantan mertua laki-lakiku. Aku tak boleh egois. Dadaku terasa sesak oleh himpitan rasa iba dan juga rasa egoisku. Bathinku kacau berperang.


" Niah,.... apa jawabanmu? " tanya Bapak lagi.


..." Dek, Kakak mohon, tolong kali ini temui bapakku. Kakak janji tidak akan minta yang aneh - aneh." mohon Jubair....


Hah..? aku menatapnya heran. Apa maksud Jubair dengan mengatakan tidak minta yang aneh - aneh. Apa dia sedang memikirkan meminta hal yang aneh padaku?


" Aku pergi ke sana dengan Mas Haris nanti sore, kak.. " putusku akhirnya.


Air muka Jubair langsung berubah. Ada keterkejutan di sana ketika mendengar keputusanku yang akan datang menemui mantan mertuaku itu bersama dengan Mas Haris.


" Hem, bagaimana Nak Jubair. Ananda sudah mendengar sendiri perkataan anakku Niah yang ingin pergi menemui Bapakmu bersama Nak Haris."


"Iya, Pak. Tapi mengapa Niah mesti pergi dengan Haris. Aku bisa mengantar Niah ke sana. Lagi pula jika dia tak mau pergi denganku, dia bisa pergi dengan sepeda motornya sendiri." protes pria itu.


Bapak menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Jubair.


" Karena Nak Haris itu sekarang adalah calon suami Niah... "


Kembali, ada keterkejutan di wajah Jubair. Mungkin dia tak menyangka jika bapak sudah mengetahui perihal perceraian kami.


" Bapak su... sudah tahu kalau aku dan Niah sudah bercerai? "


Kali ini bukan Jubair yang berubah wajahnya tapi Mas Haris. Pria tampan berwajah bersih dan teduh itu mungkin shock atas kenyataan yang baru saja dia temui. Jubair, orang yang dia sangka saudaraku itu ternyata adalah mantan suamiku.


"Dek, apa benar Mas Jubair itu mantan suami, adek?" tanya Pria itu bermaksud untuk menyakinkan dirinya bahwa apa yang di dengarnya tidak keliru.


" Iya, Mas. Maafkan adek karena tidak mengatakan yang sesungguhnya kepada Mas, kalau kak Jubair itu mantan suami adek dulunya. " ujarku penuh dengan rasa bersalah.


Terdengar pria itu menghela nafas panjang. Tak ada lagi yang terucap dari bibir tipisnya setelah mendengar ucapan dariku.


" Dek, ayolah. Haris pasti lelah dan sibuk. Biar kakak saja yang menjemput kamu nanti sore atau pakai saja motormu yang ada di garasi. " desak Jubair. Pria itu ngotot sekali agar aku mengurungkan niatku untuk datang menjenguk Ambo bareng dengan Mas Haris.


" Tidak apa - apa, Mas. Biar Prime Rose pergi sama saya saja, nanti sore... " celetuk Mas Haris tiba-tiba. Aku menatap tak percaya pada pria itu. Benarkah Mas Haris bersedia untuk mengantarkan diriku ke rumah orang tua Jubair?

__ADS_1


" Prime rose..? " kening Jubair berkerut.


" Oh, maaf. Itu panggilan khusus saya untuk Saniah." tukas Mas Haris cepat.


Jubair merasa kesal mendengar ucapan Mas Haris. Rahang pria itu mengeras dengan sorot mata yang kini nyata sekali menampakan ketidaksukaannya pada Mas Haris.


Aku menjadi heran melihat sikap Jubair. Apa yang terjadi dengannya? Mengapa pria purba itu bersikap demikian?


" Baiklah, nanti sore kakak tunggu kedatanganmu ke rumah Ambo, dek. Assalamu'alaikum.. " katanya kemudian sambil berlalu pergi dengan wajah yang kusut.


Sepertinya, pria itu kesal karena aku yang tidak bersedia untuk di jemput olehnya, dan malah memilih pergi bersama laki-laki lain.


Sepeninggal Jubair, Bapak dan mamak kembali melanjutkan pembicaraan kami yang tertunda tadi.


" Niah, bagaimana keputusan kamu mengenai lamaran Nak Haris? Apakah kamu bersedia untuk menerimanya..?


Aku diam sejenak dan menghirup napas dalam-dalam. Bismillah..... ucapku dalam hati seraya mengangguk dan tertunduk malu.


Yah..... walaupun ini bukan kali pertama aku dilamar oleh seorang laki-laki, namun ini kali pertama aku merasakan perasaan yang sangat berbeda. Seperti gadi yang baru saja dipinang oleh kekasihnya.


Wajah Mas Haris bersinar cerah. Kedua tangannya sampai tak sengaja mencekal pergelangan tanganku dengan kuat


" Benar, dek? beneran adek menerima lamaran, Mas? " tanya Mas Haris dengan raut wajah seakan tak percaya.


Aku hanya mengangguk mengiyakan. Sementara bapak dan mamak ikut merasa terharu melihat kegembiraan yang terlukis di wajah kami.


" Baiklah, kini tinggal satu masalah lagi." kata Bapak kemudian.


" Masalah apa, Pak? " aku bertanya karena penasaran dengan ucapan bapak.


Bapak tersenyum menatapku kemudian beralih menatap Mas Haris.


" Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan kalian? " tanya Bapak kemudian. Mas Haris langsung tersenyum tanda paham akan maksud Bapak.


" Kalau saya tergantung Niah saja, Pak. Makin cepat makin baik." ungkapnya jujur.


" Kau dengar itu, Niah. Calon suamimu sudah menyerahkan sepenuhnya kepadamu mengenai kapan waktunya kalian akan melangsungkan pernikahan kalian. Bapak berharap, makin cepat malah semakin baik. Untuk menghindari fitnah dan juga hal - hal yang tak diinginkan." kata Bapak.


" Apa maksud Bapak ngomong begitu?"


" Nak, kamu tahu dengan jelas apa maksud Bapak. "


" Kalau begitu, Niah ikut bagaimana baiknya saja, Pak. Asalkan Mas Haris setuju."


" Bagaimana, Nak Haris? "


" Saya ingin menikah dengan Dek Sani secepatnya, Pak. Kalau bisa dalam minggu - minggu ini. Mumpung saya masih berada di tempat ini. Sehingga ketika kembali, saya sudah bisa memboyong istri saya ini ke rumah saya. " jawab Mas Haris penuh percaya diri.


" Baiklah, bagaimana jika Bapak menetapkan pernikahan kalian dilaksanakan pada hari Minggu ini. Jadi bapak minta keluarga Nak Haris untuk datang kemari. Apakah Nak Haris keberatan dengan semua permintaan Bapak? " tanya Bapak.


" Saya tak keberatan sama sekali dengan semua itu, Pak. Saya akan mempersiapkan semua. Sekarang juga saya akan menelpon keluarga saya dan meminta mereka untuk datang kemari secepatnya."

__ADS_1


" Kalau begitu, Bapak tunggu secepatnya kabar dari Nak Haris. "


" Baik, Pak. Segera saya akan menghubungi keluarga saya."


Selesai berkata demikian, Bapak dan mamak memilih untuk masuk ke dalam kamar. Mereka memilih untuk pergi meninggalkan dan membiarkan aku dan Mas Haris berbagi kebahagiaan pagi itu di ruang tengah keluarga.


...----...


Sore harinya, sesuai janjiku kepada Jubair, aku pergi ke rumah mantan mertuaku itu dengan diantar oleh Mas Haris menggunakan mobil pria itu.


Aku baru saja hendak melangkahkan turun dari mobil Mas Haris, ketika terdengar suara mobil lain yang berhenti tepat di belakang kami.


Aku dan Mas Haris serentak menoleh bersamaan. Ternyata yang datang adalah Jubair dan Meli beserta anak - anak mereka. Terlihat raut wajah tak senang dari Meli dan Jubair saat melihat kehadiranku bersama seseorang.


" Dek, akhirnya kamu datang juga. Ayo masuk ke rumah." ajak Jubair padaku. Pria itu berbicara bahkan tanpa perlu repot menoleh pada Mas Haris.


Wajah masam Meli semakin terlihat memerah saat Jubair mencoba meraih tanganku. Aku buru - buru segera menepisnya. Ogah banget, enak saja dia mencoba cari - cari kesempatan dalam kesempitan.


Aku meenoleh kepada Mas Haris. Dengan isyarat mata, pria tampanku itu mengatakan bahwa dia baik - baik saja mendapati perlakuan Jubair terhadap dirinya yang kurang bersahabat.


Mamak Sanah, ibunya Jubair keluar dari dalam rumah dan berlari menyongsong kedatangan Saniah. Perempuan tua dengan kulit putih itu memeluk Saniah erat manakala tangannya sudah berhasil membawa tubuh mungilku ke dalam rengkuhannya. Kami berdua berpelukan dan menangis bersama.


Setelah beberapa saat saling berbagi tangis, barulah suasana agak tenang. Perempuan itu mengajakku dan Mas Haris untuk masuk ke dalam rumah.


Sedangkan kepada Meli dan Jubair, perempuan itu tak menggubris. Hal ini cukup membuatku merasa sedikit heran.


Mamak Sanah mengajak aku masuk ke kamar untuk menemui Ambo yang sedang terbaring lemah tak berdaya. Tubuh pria tua itu hanya tinggal tulang berbalutkan kulit. Sungguh mengenaskan sekali.


Aku jadi merasa tak tega melihat keadaan pria tua itu membuatku menangis terisak - Isak. Pria itu juga menangis. Dia menumpahkan segenap rindu dan juga rasa bersalah yang meresapi hatinya.


Andai dulu, dia tak memaksa gadis itu untuk menikah dengan anaknya, mungkin tak akan begini akhirnya. Anaknya ternyata telah berkhianat dan menyakiti hati wanita sebaiknya Saniah hingga membuat wanita itu terpaksa pergi tanpa meninggalkan jejak. Menyisakan kesedihan bagi seluruh keluarga dan juga penyesalan di hatinya.


" Niah..... ini memang benar-benar kamu, Nak. Ya Allah, kemana saja kamu, Nak? Bapak tahu kamu kecewa dan terluka pada Jubair dan juga pada kami semua.Tapi mengapa kamu harus memutuskan pergi menjauh dari kami semua?" isaknya. Sementara Meli dan Jubair, keduanya hanya diam terpaku dengan pikiran masing-masing.


Mendengar ucapan Ambo, Saniah hanya bisa menangis tanpa mampu menjawab semua pertanyaan pria itu.


" Maaf, .....maaafkan Niah, Pak.." akhirnya hanya itu kata yang mampu terucap dari bibirku. Aku tak sanggup untuk menyibak kembali luka itu. Ternyata sakitnya masih sama seperti dulu. Ya Tuhan....andai tidak demi Bapak mertuaku, mana sudi aku menginjakkan kakiku lagi kemari.


" Niah,....menantu Bapak yang sabar dan sholelhah, jangan pergi lagi, Nak. Jangan tinggalkan Bapak dan Mamak Sanahmu ini. Tinggallah di sini bersama kami. Kami sangat menyayangimu. " pinta pria tua itu dengan sorot mata memohon.


Sontak Meli menjadi kesal mendengar perkataan mertua laki-lakinya. Mertuanya itu memohon kepada mantan istri suaminya untuk tinggal bersama mereka. Sedangkan dia yang jelas - jelas berstatus istri Jubair, mana pernah sekalipun mertuanya itu memintanya untuk tinggal di rumah mereka. Bahkan, setelah dua tahun, status Meli terkuak sebagai istri kedua Jubair, keduanya tak pernah sekalipun menginjakkan kaki ke rumah Meli.


Miris sekali. Walaupun menurut Jubair, suaminya itu tak pernah mencintai wanita yang bernama Saniah itu, namun nyatanya, kedudukan Saniah di hati mertua dan juga si hati suaminya tidak tergantikan.


Apalagi bagi mertua laki-lakinya, menantunya hanyalah Niah seorang. Meskipun wanita itu ternyata pergi dan menghilang dari kehidupan Jubair, namun tetap saja mereka tak pernah membenci Saniah.


Malahan mereka justru menyalahkan Jubair atas kepergian Niah. Mereka menyalahkan Jubair yang telah berlaku tidak adil dan zholim kepada Saniah. Dan menyesalkan sikap Jubair yang telah mendua dan mempermainkan hakikat sebuah pernikahan.


" Niah, siapa pria yang sejak tadi berdiri di sebelahmu itu, Nak? " tanya Ambo tiba - tiba.


Astaga, karena terbawa rasa aku jadi melupakan keberadaan Mas Haris.

__ADS_1


" Dia, eh..... dia itu, Aku dan Pak..... " aku tergagap tak mampu berkata - kata lagi. Ada kabut kecewa di matanya...


__ADS_2