
Apa?? " tanya pria itu senyum - senyum sambil menatapku. Aku jadi heran sendiri. Sangkaku dia akan memarahiku karena sudah mengajak Fadil membolos dari sekolah dan pulang hingga larut malam.
" Kamu mau apa? Mau marah karena aku telah menyembunyikan handphonemu dan membawa mobilmu? Atau marah karena Fadil kuajak membolos dan pulang larut malam? " kataku dengan sikap menantang. Aku melangkah maju menghadapi pria itu. Perut besarku mendorong tubuh Syafrie selangkah ke belakang.
" Tidak,... aku hanya mengatakan sudah pukul setengah satu."
" Halahh, bohong saja. Bilang saja kamu mau nyindir aku, kan. Wanita hamil dengan perut besar mana ada keluyuran sampai larut malam begini, begitu..? Iya? Ngaku aja...! " sentakku sengit.
Astaga..... dimana - mana, yang salah seharusnya yang dimarahi atau dibentak, nah aku?.... Malah aku yang lebih galak?
Dua iris gelap pria itu menatapku tenang lalu membelai kepalaku yang masih tertutup hijab. Dia berkata. " Kamu pasti lelah seharian berjalan - jalan. Masuklah ke kamar, nanti akan aku pijitkan kakimu. Pasti kakimu letih, kan? " tubuhnya berjongkok dan memegang punggung kakiku.
Astaga...... Syafrie! Ku kira dia akan marah dan mengamuk , tapi siapa sangka dia sedikitpun tak menunjukkan kemarahan. Malahan dia menawarkan pijatan. Aku tertegun mendengar ucapannya. Mataku bergerak turun ke kakiku yang sedang di pegang oleh Syafrie. Ada rasa malu yang merayapi hatiku, hingga tanpa sadar aku menepis tangannya dari kakiku kemudian berlalu dari hadapannya dengan sikap canggung.
...-----...
Aku berbaring sambil menatap langit - langit kamar dengan pandangan kesal. Kemudian bangkit dari tempat tidurku dan berjalan menuju cermin.
Memandangi pantulan diri di kaca lemari semakin membuat aku kesal. Usia kandunganku sudah memasuki trimester akhir. Perubahan yang di alami oleh tubuhku memang sungguh sangat diluar dugaan. Wajah, tangan, kaki dan juga badanku membengkak semuanya.
Wajah tirus kebanggaanku dulu, kini hilang lenyap berganti dengan wajah bengkak dan sembeb. Sama sekali tidak menarik. Juga tubuh yang dulu langsing bagai peragawati, kini seperti gajah yang di sengat tawon. Aku sangat frustasi dengan perubahan wajah dan tubuhku ini. Tak jarang aku memekik sendiri sambil membekap mulut karena kesal dan frustasi saat melihat pantulan diri di cermin.
Bukan itu saja hal yang membuat aku frustasi. Fase ngidamku yang ku kira bakal sebentar, nyatanya tak juga kunjung hilang walaupun kehamilanku sudah memasuki usia tujuh bulan. Aku masih saja mengalami morning sickness yang berlebihan. Aku tak bisa mencium bau apa saja. Bau masakan, bau keringat atau bau parfum saja aku langsung muntah. Bahkan saat mencium bau nasi saja, anak dalam perutku sudah bertingkah. Maka tinggallah aku hanya bisa terbaring saja di tempat tidur, tanpa bisa melakukan apa - apa karena pergerakanku yang terbatas. Belum lagi anemia akut yang membuatku harus didera pusing sepanjang hari.
Kalau sudah begini, selain aku siapa yang menderita?
Jawabannya sudah pasti ayah dari bayiku.
" Kepalamu masih pusing...? " Syafrie bertanya kepadaku saat akan berangkat kerja pagi - pagi.
" Masih bertanya? " Mataku melotot. Heran juga aku, seingatku, tak pernah rasanya aku bicara dengan nada pelan padanya. Entahlah.... tapi memang setan di kepalaku belum lenyap - lenyap juga.
" Pulang kerja mau aku beliin apa?" dia bertanya sambil membelakangi aku karena sibuk mengemas pakaian dan perlengkapan kerjanya sendiri.
Aku... ? Lha....aku memang istrinya. Tapi aku kan tidak mencintainya. Jadi mana mungkin aku mau menyiapkan semua itu. Mana pernah aku menyiapkan semua itu. Aku memang dasar istri durhaka. Dan lagi pula, Syafrie juga melarangnya. Katanya ibu dari anakku tak boleh banyak bergerak. Tak boleh capek... Jadi....Enak, kan hidupku?
__ADS_1
" Beliin golok buat cincang kamu. " kataku asal.
" Husss... jangan gitu, sayang. Kalau aku mati, siapa yang bakal sayangi kamu, siapa? " Syafrie tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya.
" Tau akh...! Setan kali.." ketusku.
" Huss, pagi - pagi jangan bilang begitu. Nanti di dengar betulan oleh setannya. Entar di sangkanya manggil lagi." Kedua tangan itu kemudian merengkuhku. Mengusap lembut kepalaku dan mencium pucuk kepalaku dengan lembut dan dalam.
" Sudah, salim dulu. Aku mau berangkat kerja. Do'ain, biar pekerjaanku cepat selesai. Tidak ada masalah dengan pekerjaanku. Biar aku cepat pulang dan bisa ngurus kamu. Mau dibawain apa, sayang? " Bapak dari anak dalam perutku itu berkata sambil membawa tubuhku ke dalam pelukannya.
Aku diam saja karena sedang meresapi hangat pelukan pria itu. Jujur saja kadang aku juga menikmati hangat pelukannya. Itu jika moodku sedang baik. Tapi jika tidak, hehehehe... tau sendiri.
Memang, ciuman dan pelukan adalah sarapan pagi yang harus kuterima dari Syafrie. Katanya, aku tidak usah geer, mencak - mencak atau marah - marah karena pelukan dan ciuman itu dia berikan untuk anaknya yang berada dalam perut aku. Modusnya Syafrie...
" Jadi... mau dibeliin apa. Bakso, atau mau sate? "
" Terserah... asal jangan ikan." jawabku.
Syafrie lalu melepas pelukannya dan berjongkok di bawah kakiku. Memeriksa dan memegang kakiku.
" Sepertinya kakimu makin bengkak saja. Apa sebaiknya kita buat kamar mandi saja lagi satu di dalam kamar. Agar kamu tak usah bolak balik terlalu jauh ke kamar mandi. " Dia menatapku lalu mengambil semua perlengkapannya dan memasang sepatu.
Seperti biasa, aku mencium tangannya ogah - ogahan lalu Si Syafrie kembali mencium kening dan pipiku. Pria itu menatapku.
" Kenapa melihatku? Apa nggak ikhlas aku pipis di sini. " Pagi ini aku memang sempat terkencing di lantai kamar lantaran sudah kebelet pipis. Namun karena jarak kamar mandi dan kamar lumayan jauh, aku tak sempat lagi ke kamar mandi, alhasil aku pipis persis di depan pintu kamar.
Seperti sudah kukatakan, karena badanku membengkak, termasuk juga kaki, aku sedikit kesulitan bergerak. Pergerakanku jadi lambat dan sulit. Itulah sebabnya Syafrie melarangku melakukan berbagai kegiatan. Alasannya karena mengkhawatirkan diriku.
Dan mau tahu siapa yang bersusah payah membersihkan lantai. Ya... siapa lagi kalau bukan Syafrie. Karena aku tak bisa melakukannya lantaran aku kesulitan jika harus membungkuk.
" Aku minta maaf. Aku juga tak sengaja. Habisnya aku sudah tak tahan lagi. Itu karena anakmu juga... Kayaknya dia sudah turun ke bawah.. " Kataku sambil berdiri dan menghentak kaki.
" Kalau kamu tak mau membersihkannya, Ya sudah... aku bisa kok melakukannya sendiri. " Aku membuang muka.
Menantu mama itu menatapku lalu meraih jemariku. Tangannya yang kasar meremas pelan jemariku. " Bukan begitu. Aku tak masalah jika istriku ini mau buang air tiap menit juga tak apa - apa. Demi Allah, aku ikhlas untuk membersihkannya, sayang. Niat aku untuk memanggil tukang untuk membuat kamar mandi tambahan di kamar kita, biar memudahkan kamu agar tak jauh lagi bolak-balik ke kamar mandi dengan kaki yang bengkak. Aku tak bermaksud mengolok-olok kamu. Semua itu aku lakukan karena aku sayang kamu, aku cinta kamu, Asma." kata menantu mama itu.
__ADS_1
" Halah.... ngeles, kamu Syafrie. Mau cari alasan lagi! " kataku seraya menepis jemarinya di tanganku.
" Sudah pagi, sayang. Aku mau pergi kerja. Jangan marah - marah lagi, nanti aku tidak tenang kerjanya. Sudah, ya. Maafkan aku, aku salah. " katanya seraya mencubit pipiku dengan gemas.
Aku diam berdiri mematung. Sial.... perutku seperti ada yang mengganjal. Aku kembali merasa kebelet pipis.
" Baik - baik di rumah, sayang. Kalau ada apa-apa, bilang saja sama Kak Mansyah. Aku sudah pesan sama kak Mansyah agar jangan membuatmu kesal. Kamu tak perlu takut padanya. " kata pria itu sambil mengambil tas ransel kerjanya yang tadi dia letakkan di atas meja.
Saat langkah kaki pria itu sudah mencapai pintu, sesuatu dari balik celana dalamku merembes keluar tanpa bisa kutahan.
" Syaf.... Syafrie... " panggilku.
" Apa, sayang.."
" Aku..... pipis lagi.. " kataku memelas dan hampir menangis.
Syafrie tertegun memandangi ibu dari anaknya. Pandangan matanya bergerak turun ke bawah. Tampak genangan air membasahi lantai persis di bawah kakiku. Senyum ditahan nampak di wajahnya. Demi Tuhan.. aku merasa sangat malu hingga ingin menangis.
Pria itu meletakkan kembali tas kerjanya dan berjalan mendekatiku. " Sudahlah.. jangan menangis. Masih ada waktu. Mari aku bantu kamu membersihkan diri." Tangan pria itu sudah bergerak membuka resleting bajuku dan selanjutnya baju itu sudah tergeletak di bawah kakiku. Sigap dia meraih handuk yang tergantung di dinding belakang pintu dan membungkus tubuhku dengan handuk dan membimbingku ke kamar mandi.
Di kamar mandi, aku menurut saja ketika menantu mama itu memandikan dan menggosok seluruh tubuhku menggunakan spon mandi. Rasa maluku hilang bersama kotoran dan daki yang larut setelah di gosok oleh Syafrie.
Selesai memandikan dan memakaikan aku baju yang bersih, Syafrie masih harus berkutat lagi membersihkan lantai yang kotor dan berbau pesing karena urineku. Mataku menangkap setiap pergerakan Syafrie yang dengan telatennya membersihkan ceceran urine yang ada di lantai tanpa rasa jijik.
" Nanti bajumu kotor dan bau, Syaf.. " kataku saat melihat Syafrie menumpahkan cairan karbol ke lantai.
Syafrie menoleh sekilas padaku. " Biar saja. Nanti aku ganti."
" Tapi nanti kamu bisa terlambat." kataku lagi. Sungguh tak pernah ku bayangkan bahwa hari ini aku bisa tersentuh dengan apa yang dilakukan Syafrie untukku.
" Berdoa saja, biar aku tak dipecat, ya. " candanya untuk menghilangkan rasa sungkanku.
" Jika atasanmu berani melakukan itu, akan aku sumpahi dia. " sewotku.
Syafrie tertawa mendengar ucapanku. Aku juga ikut tertawa.
__ADS_1
Kami pun tertawa bersama...
Pagi itu, untuk yang pertama kalinya dalam pernikahan kami yang kedua ini, kami berbagi tawa bersama....