
Aku terkesima. Astaga Saniah..... Aku tak bisa berkata-kata lagi. Kupeluk sahabatku itu dengan perasaan yang tak karuan. " Maafkan aku, aku hanya tak habis pikir, bagaiamana bisa kamu masih mencintai pria yang tidak pernah menghargaimu sebagai istri? " isakku antara sedih dan kesal. Aku sedih dengan nasib kehidupan pernikahan sahabatku dan kesal karena aku tak bisa berbuat apa-apa karena sahabatku itu masih saja melindungi suaminya itu.
" Aku menceritakan kekurangan suamiku bukan untuk dijadikan bahan olok - olok olehmu, Asma." kata Saniah disela isaknya. Ada geram yang tertangkap dari nada bicaranya padaku. Aku merenggangkan pelukanku.
" Oh, harusnya tadi aku pecahkan sekalian dua telornya Jubair. Biar pecah sekalian. Bagus jadi perempuan sekalian. Biar berkurang satu lagi laki - laki brengsek macam dia." Aku kembali kesal saat mendengar ucapan Saniah.
" Sakit jiwa, kamu Asma! "desisnya sambil berkacak pinggang.
" Kamu yang sakit. Suami tukang selingkuh begitu, masih saja ditangisi. Niah .. Niah...,macam kekurangan stok laki-laki saja. Sekarang masih untung. Coba kalo kamu hamil, lantas ditinggal selingkuh kayak aku sama Syafrie.. bisa nyahok kamu..! Oh.. maaf kelupaan.. Dia kan banci, mana bisa bikin kamu hamil." Aku menutup mulut sambil menahan tawa.
" Kejam sekali mulutmu, Asma. " kata Saniah dengan mata yang berkaca - kaca.
" Iya, aku memang kejam. Kejam sekali, memang. Kamu mau, apa? " kataku sambil menatap Saniah tajam. Air mata sahabatku itu tak membuat aku iba lagi. Yang ada aku yang greget karena sikapnya yang masih saja membela suami bejatnya. " Sudah, Niah... suami model begitu masih saja dipertahankan. Lepaskan saja. Banyak sekarang wanita yang menggugat cerai suaminya. Jubair itu banyak kekurangannya. Lagi pula kalian punya alasan untuk bercerai. Bilang saja dia tak bisa memberikan kamu keturunan. Jubair itu tidak tahu diri. Sudah tahu dia lelaki impoten, masih saja berselingkuh... Kamu tuh, ya. Mau saja di bodohi sama suamimu yang durjana itu... Semut aja ogah disakiti, apa lagi kita manusia, heloww.... manusia, loh... bukan hewan.."
Mampus. .. mampus deh Saniah. Hatinya berdarah - darah saat mendengar ucapanku. Mungkin saat ini dia memang harus segera disadarkan agar mata hatinya terbuka dan mau meninggalkan suaminya yang tukang selingkuh itu.
Manusia diberi Allah akal dan hati nurani
Tak kurang juga, Allah bahkan mengutus para nabi sebagai panutan untuk para umat. Namun kita juga sebagai manusia di tuntut pertanggungjawaban terhadap segala perbuatan kita kelak di akhirat. Nah,.... si Jubair itu adalah contoh lelaki yang tak patut dijadikan imam oleh Sahabatku Saniah, sedangkan Saniah berharap dapat menyadarkan Jubair dengan lantunan khusuk doa - doanya berusaha untuk menyelamatkan pria itu dari jilatan neraka Jahannam dengan atas nama cinta.
__ADS_1
" Biar saja, Asma. Biar saja jadi pertanggung jawaban mereka kelak di akhirat. " cicit Saniah lirih, nyaris tak terdengar di telan bisingnya suara knalpot truk pengangkut kelapa sawit yang lewat. Namun sayangnya telinga Asma yang tajam mendengarnya.
Aku menggelengkan kepala tak habis pikir. Kuangkat daguku ke atas dengan jengkel karena rasanya ingin sekali aku menghajar sahabatku ini atas kebodohannya itu.
" Aku kira aku adalah wanita yang paling egois di dunia ini, tapi nyatanya aku salah. Kamu lebih egois dari aku. Kamu memanfaatkan perselingkuhan Jubair dan membiarkan dia dengan dosa - dosanya, sementara kamu masuk surga sendirian. Jahat kamu , niah! " Aku berdecak kesal dengan pemikiran sahabatku ini. " Apa kamu pikir Allah tak tahu akan bertanya padamu kelak? Mengapa engkau sampai membiarkan kelakuan bejat suamimu tanpa ada niatan untuk menyadarkannya? Cuihhh..... Aku sabar, Ya Allah. Hamba menunggu Engkau menyadarkanya ya, Allah.., Begitu, jawabmu nanti sama Allah, Niah? " cibirku kepada wanita yang sudah menjadi sahabatku itu sejak kecil. " Heh, dengar... Justru kamu yang akan pertama dilempar ke dalam neraka Jahannam yang menyala - nyala karena telah membiarkan sebuah perjinahan terjadi di depan mata. Membiarkan perjinahan sama halnya dengan kamu telah melakukan perjinahan itu sendiri." kataku lagi.
" Jangan samakan aku seperti kamu, Asma. Aku tak bisa membuang Kak Jubair seperti kamu membuang Syafrie, karena aku sangat mencintai Kak Jubair."
Kepalaku rasanya mau pecah mendengar pengakuan Sahabatku itu. Ya.. Allah, ... bagaimana bisa sahabatku ini masih mencintai suaminya yang sudah terang - terangan selingkuh di depan matanya.
" Niah, dengar. Kita wanita, menikah adalah pilihan dalam mencapai surga Allah melalui pengabdian kita kepada suami. Pernikahan yang dilandasi oleh cinta dan kepercayaan, itu adalah pernikahan yang baik, tapi jika pernikahan yang kita lalui hanya akan membuat kita merasa menderita, maka jalan terbaik adalah perpisahan. Meskipun hal itu ditentang dan dibenci oleh Allah. " kataku semakin tajam memperingatkan sahabatku itu.
Bibir Saniah tertarik ke bawah mendengar setiap untaian kata - kata yang keluar dari biraiku. Pedas dan sangat menyedihkan. Ironis memang. Bukannya menghibur sahabatku, aku justru melemparnya pada jurang kesedihan yang semakin dalam.
" Apa yang salah dengan gelar janda? Aku sudah pernah menyandangnya. Tak ada hal yang perlu kamu takutkan. Pandangan masyarakat? Hah, ... ayolah. Saniah, di dunia ini mana ada seorang wanita pun yang ingin menyandang status janda. Tapi jika hal itu sudah menjadi takdir, kita tak perlu takut. Jalani saja. Yang terpenting fokuslah untuk membuat dirimu bahagia. Karena kalau bukan dirimu sendiri yang melakukannya, siapa lagi di muka bumi ini yang sanggup. Tak usahlah kamu memikirkan tanggapan orang lain atas dirimu. " kataku sambil mengelus jemari tangan Saniah.
Sahabatku itu mengangkat wajahnya, menatapku dalam. " Kamu benar sekali akan semua itu. Tapi aku tak sanggup untuk membenci Kak Jubair. Delapan tahun usia pernikahan kami, dia tak pernah sekali pun bersikap kurang ajar kepada orang tuaku. Seperti yang kamu tahu, keluargaku dulunya bukanlah orang yang mampu. Jangankan untuk menyekolahkan kami, untuk makan saja orang tuaku harus bekerja pontang - panting dulu, demi hanya untuk membeli sekilo beras saja. Kami bahkan pernah makan sebungkus mie instan yang harus dibagi delapan, saking nggak punya uang buat beli beras. Kamu tahu, kan berapa jumlah saudara - saudaraku. Untuk menghidupi delapan mulut, ayahku harus bekerja mati - matian. Namun semua itu berubah semenjak kedatangan Kak Jubair. Dia memberi ayahku modal untuk membuka usaha kecil - kecil dengan membuka penggilingan padi di desa ini. Mulai saat itu, ayah tak pusing lagi memikirkan urusan perut kami. Sekolah aku dan adik - adikku dia yang membiayai. Gelarku, gelar adik - adikku, semua karena belas kasihan dari laki-laki yang kamu sebut banci itu, Asma. Itulah sebabnya, walau sesakit dan sepedih apa duka yang telah Kak Jubair torehkan padaku, aku tetap tak bisa membenci lelaki itu. Budi baiknya pada keluargaku tak akan pernah bisa aku balas." kata perempuan yang bergelar sahabat Asmawati Basrie itu lalu rebah dalam pelukanku, terisak sedih sambil memukul dadanya.
" Jadi harus bagaimana, dong? Masa kamu harus begini terus."
__ADS_1
Saniah menggeleng.
" Aku berdoa semoga kebahagiaan akhirnya datang padamu... " kataku sambil membelai kepala Saniah.
"Semoga burungnya Jubair tak bisa tegak lagi kalau perlu membusuk sekalian. Semoga Jubair mati dalam penyesalan seumur hidupnya... " doaku dalam hati karena terlalu geram dengan suami Sahabat ku itu.
Aku membiarkan Saniah menangis sepuasnya di pelukanku. Aku sendiri bingung bagaimana harus bersikap. Memang pelik jika menyangkut perkara hutang budi. Tak usah jauh - jauh. Aku sendiri saja juga mengalaminya. Sebelah ginjal Syafrie sampai saat ini saja tak bisa aku bayar. Belum lagi perkara sawah, kebun dan rumah yang ditebus Syafrie. Memang rumit jika kita harus membayar yang namanya hutang budi.
Namun, sebenarnya kasus aku dan Saniah berbeda. Saniah menganggap jika dia melakukan semua karena menganggap segala kebaikan Jubair sebagai hutang budi. Sedangkan diriku, aku menganggap semua kebaikan Syafrie sebagai penebus atas segala dosa - dosanya di masa lalu.
Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing.
" Asma, ajaklah Saniah makan malam di dapur. Ada sayur asam keladi kegemaranmu." kata Ammak Barre membuyarkan lamunan kami berdua.
Akhirnya kami pun menikmati makan malam bersama keluarga Ammak Barre. Ambo Naim, suami Ammak Barre menyambut kami dengan hangat. Dia sibuk bercerita tentang keberhasilan anaknya yang bisa masuk Pendidikan Akademi Polisi di Balikpapan. Iya.... memang Rizal, salah satu anak Ammak ada yang berhasil lolos di Akademi Kepolisian. Dialah sekarang yang menjadi buah bibir kebanggaan keluarga Ammak Barre. Aku tersenyum - senyum saat mendengar cerita Ambo Naim. Akhirnya ada juga yang bisa dia banggakan dari kelima orang putranya. Karena empat putranya yang lain semuanya gagal dalam mencapai cita-cita.
Aku senang pembicaraan kami kali ini tidak menyinggung soal perkelahian wanita hamil dan perempuan ulat bulu yang terjadi di pasar malam tadi. Jadi, aku asyik - asyik saja dan bersyukur bahwa pasangan ini bersikap bijak pada Kami.
Aku berdiri di depan teras sejak selesai makan malam tadi. Sekarang sudah pukul 22.00. Setelah makan malam tadi, Syafrie menelpon dan mengatakan akan menjemputku sepulang dari bekerja. Namun sampai saat ini, belum juga nampak batang hidungnya. Apakah ada unit yang bermasalah atau dia tak mendapat izin dari atasannya untuk pulang lebih cepat.
__ADS_1
Aku berdiri Sambil menatap ke arah jalan raya. Pandanganku jatuh ke lampu - lampu dari kilang minyak PT. Badak yang tampak berkelap - kelip dari kejauhan. Mengapa rasanya hatiku.... nelangsa.
" Kenapa, melamun? " Saniah bertanya padaku. Aku menghembuskan napas kesal. " Syafrie lama, banget..!!