
Hingar bingar musik tak terdengar lagi. Hari sudah menjelang senja. Suara musik tergantikan dengan murotal alquran yang terdengar dari masjid yang terletak agak jauh dari rumah mamak.
Pelaminan sudah lama kosong di tinggalkan pengantin. Yang tersisa hanya tarup pengantin yang kosong.
Kursi tamu yang berlapis kain putih masih setia di sana, hanya saja kini tak terisi oleh tamu yang datang untuk mengucapkan selamat.
Pesta benar-benar telah usai. Tak ada lagi para tamu undangan. Tak banyak orang yang lalu lalang di sekitar pesta. Walau ada satu dua orang yang membenahi sisa pesta.
Mamak Suha sudah mewanti - wanti agar aku dan Syafrie tak buru - buru pulang. Aku sih tak keberatan dengan hal itu. Namun berbeda dengan Syafrie, dia langsung menggaruk - garuk kepalanya. Walaupun Syafrie nampak keberatan, namun dia tak bisa menolak keinginan mamak yang masih kangen ingin bersamaku. Jadi terpaksa dia menyetujui keinginan mama untuk tinggal di rumah mamak Suha untuk beberapa hari.
Aku bukannya tak tahu siapa yang dia pikirkan. Siapa lagi kalau bukan Fadil. Anak itu tak bisa berpisah lama - lama dengan Syafrie. Syafrie memang terlalu memanjakan putranya dengan wanita itu. Hanya saja, Aku tak ingin peduli. Sebaliknya, aku malah senang saat melihat wajah Syafrie yang terlihat frustasi karena memikirkan putranya.
Aku tak bermaksud ingin memupuk dendam. Terlebih lagi saat mendengar cerita Bapak tua. Namun, Aku juga masih menolak untuk tidak membenci Syafrie. Walaupun tak dapat ku pungkiri, ada bagian di diriku yang merasa terharu, saat mengetahui dari cerita Bapak tua, bahwa Syafrie masih sudi menolong mama, walaupun aku sudah pergi meninggalkan dirinya.
Masalahnya tidaklah sesederhana itu. Ini bukan masalah semudah menjilat ludah. Memaafkan, melupakan, dan memulai kembali yang baru. Seperti halnya jika kita membersihkan pekatnya kotoran yang melekat pada sebuah benda, perlu beberapa kali barulah bisa sebagian atau seluruh noda bisa hilang. Sebab saat ini aku berbicara tentang hati yang terluka sedemikian parah dan belum siap untuk memaafkan.
Sekarang aku tahu mengapa Kak Mansyah yang dulu begitu menyayangi aku, kini berbalik membenciku. Karena aku telah menjadi anak yang durhaka. Karena keegoisanku, aku menghantarkan mama pada kehilangan demi kehilangan dalam hidupnya.
Tak hanya itu saja, aku juga telah meninggalkan kedukaan lagi dengan kepergianku yang tanpa kabar. Aku yang membuang diri jauh dari keluargaku, nyatanya telah menyia - iyakan air mata hanya untuk kesedihan yang sebenarnya juga orang lain, terutama mama juga merasakannya.
Disaat aku hanyut dalam kesedihan akibat dikhianati dan kehilangan, disaat itu juga mama dan juga keluargaku mengahadapi masalah yang pelik tentang penyakit mama yang tak mengenal miskin dan usia.
Benar kata kak Mansyah, aku egois.
Menamai diriku yang paling menderita. Mereguk sendiri pahitnya derita dan nestapa ku. Tak hendak menoleh sebab merasa yang paling tersakiti.
Padahal jauh di pelosok desa sana, ada seseorang yang keadaannya lebih menyedihkan, yaitu mama.
Ku kira, kepedihan yang Syafrie torehkan padaku membuatku hanyut dalam lautan kesedihan membuat aku menderita kesakitan yang tak berperi. Nyatanya tidak. Mendengar cerita Bapak tua yang mengatakan bahwa mama terbaring lemah dan hampir menyusul Bapak membuat aku serasa seperti di rajam ribuan besi panas. Tak kusangka kepergian ku meninggalkan luka dan kesedihan yang mendalam bagi mama. Aku sukses menjadi anak yang tak berbakti sekaligus anak durhaka.
Setelah ini aku berjanji pada diriku, bahwa aku tak lagi akan berdebat dengan kak Mansyah jika dia mencoba memprovokasi aku.
Dari semua fakta yang baru saja kutemui, aku mulai menyadari alasan mengapa semua saudara dan keluargaku bersikap baik pada Syafrie dan anaknya.
Baiklah.... aku tak akan lagi membantah ucapan kak Mansyah. Lagi pula tak ada salahnya mengalah. Aku juga tak lagi muda. Aku sekarang menyadari, tak baik bagiku untuk mempertahankan egoku.
Selepas sholat Isya, aku langsung kembali ke kamar. Mamak menyuruh kami menempati kamar yang tadi kupakai untuk beristirahat sebagai kamar kami selama menginap di sini. Aku sebenarnya sangat keberatan. Namun, sekali lagi aku harus bisa menahan egoku demi mama dan juga kak Mansyah.
Entah berapa lama aku sendiri di dalam kamar. Sampai tak kusadari, kembali aku menangis diam - diam. Entah mengapa, nyeri dan sesak dalam hatiku tak juga hilang. Rasa belum rela melepas dendam membuat aku belum sepenuhnya bisa menerima semua ini.
" Hei, kamu kenapa? " sebuah tepukan di pipiku membuat aku terbangun. Rupanya setelah lelah menangis aku tertidur.
Aku mengerjapkan pandangan karena masih nanar dengan sekelilingku.
Pria yang telah memberikan sebelah ginjalnya pada mama itu tampak tersenyum menyaksikan tingkahku.
" Matamu bengkak, pasti kamu habis nangis lagi. "
__ADS_1
" Mengapa kamu tak cerita padaku tentang semuanya? " tanyaku.
Dia mengernyitkan alis. " Apa Bapak tua menceritakan sesuatu padamu? "
" Menurutmu? Mengapa kamu menyembunyikannya dariku."
" Yang mana ?"
" Tentang Fadil? "
Aku menggeleng.
" Tentang Marina? "
kembali aku menggeleng.
" Tentang mama? "
Aku mengangguk.
" Untuk apa? Tak usah dipikirkan lagi. Kejadian itu sudah lama sekali." katanya sambil menghela napas. Dia memberanikan diri untuk membelai pipiku.
" Mengapa kamu menyembunyikannya dariku? " Aku membiarkan saja Syafrie membelai kedua pipiku dan kepalaku.
" Untuk apa aku bercerita padamu. Apakah sikapmu akan berubah setelah aku menceritakan hal itu. Apakah kamu akan memaafkan aku, tidak kan? " Ia tersenyum.
" Hmm, " hanya itu yang keluar dari mulutnya. Aku tak suka dengan reaksinya.
" mangapa hanya hmm? "
" Aku tak butuh rasa terima kasihmu, Asma. Aku hanya butuh maafmu. Pria ini cukup tahu diri. Luka yang kugoreskan padamu teramat dalam dan berkarat. Khilafku sangat membekas dalam jiwamu. Apakah bisa kamu memaafkan aku? "
Aku tersenyum mendengar ucapannya. " Kalau begitu, terima saja ucapan terima kasihku dan aku akan membayar semua biaya yang sudah kamu keluarkan untuk mama. "
Lelaki itu menatap wajahku. Jemarinya kini menjauh dari wajahku. " Tidak, aku tidak bisa. " Dia tersenyum dengan dipaksa.
" Jika begitu, maka izinkan aku untuk mengganti sebelah ginjalmu dengan ginjalku." Aku rasa aku perlu mengatakan hal itu. Syafrie memberikan sebelah ginjalnya untuk mama. Dan pria itu tak menginginkan aku mengganti uangnya. Maka aku rasa mungkin Syafrie menginginkan ginjalku.
Kini pria bermata lentik itu menatapku dengan tajam. " Kau masih saja angkuh dan keras kepala. "
" Aku hanya tak ingin berhutang, padamu."
Syafrie mendengus tak suka mendengar jawabanku. " Dulu kamu tidak sombong dan angkuh seperti ini. Kemana Asmaku yang dulu? "
" Mati..! " jawabku . " Asma yang dulu sudah mati dibunuh oleh deritanya. Maka sekarang, izinkan aku untuk membayar semua biaya yang sudah kau keluarkan selama ini. Karena hanya dengan cara itulah aku tak terikat hutang budi denganmu."
Pria itu menatapku. "Terserah kamulah! " Lalu dia bangkit dan berlalu dari hadapanku.
__ADS_1
" Mau kemana? " Aku menangkap lengan pria itu hingga membuatnya sedikit terhuyung. " Aku belum selesai bicara. "
" Apa lagi, Asma. Kamu nggak lelah bertengkar terus? " dia berkata sambil menatapku sinis.
" Siapa yang mau bertengkar? " kutarik baju kaosnya untuk menahannya bergerak. " Sini, duduklah. Aku rasa kita perlu bicara." ajakku, seraya menepuk sisi kosong disebelahku.
" Kalau kamu hanya ingin mengajak kita bertengkar, maka maaf. Aku mengecewakanmu. " jawabnya. Cekalan tanganku di bajunya terlepas karena pria itu kini kembali melangkah.
" Keluar, maka aku tak akan kembali ke Suka Rahmat bersamamu." ancamku yang sukses membuat langkahnya terhenti. Dia bergeming sesaat, sebelum akhirnya berbalik menatapku.
" Apa maumu? "
" Bicara padaku..! " Cerita Bapak tuaku tentang mama, membuatku malas untuk melanjutkan niat balas dendam ku yang sudah ku susun beberapa hari yang lalu. Niatku sekarang hanyalah aku ingin segera terbebas dari ikatan pernikahanku dengan Syafrie. Itu saja.
Selagi tak ada Kak Mansyah yang pastinya akan bertanya banyak hal mengenai keputusanku yang ingin segera mengakhiri pernikahan kami ini yang penuh dengan unsur keterpaksaan dan alat untuk balas dendam.
Dengan perasaan enggan, pria itu akhirnya mendekatiku. Dia duduk di hadapanku dengan posisi yang sama denganku, bersila. Tatapannya tajam menghujam ke dalam manik mataku, namun bibirnya diam terkunci.
Aku membenahi letak kerudungku yang sedikit melorot. Walaupun aku membencinya, namun ditatap seperti itu, tetap saja membuat aku salah tingkah dan gugup.
" Di kota, aku memiliki keka... "
" Aku tahu, kamu sudah mengatakannya kemarin. " dia memotong ucapanku dengan cepat.
" Maaf, aku lupa." Sial..sejak mengetahui fakta bahwa laki-laki inilah yang menolong mama membuat aku jadi gugup bila berbicara dengannya. Di satu sisi, kebencian ku padanya tak berubah. Tak berkurang sedikitpun juga. Namun.... aku tak bisa melupakan fakta, bahwa dia juga berjasa bagi mama dan keluargaku. Dialah penolong yang dikirim Tuhan untuk mama hingga sampai saat ini, wanita yang telah melahirkan aku itu masih bisa bernafas.
" Sebenarnya, kedatangan ku kembali ke desa adalah untuk minta restu kepada mama dan juga semua saudaraku. Hanya saja, karena kesalah fahaman kak Mansyah telah mengikat kita berdua. Di antara kita rasa itu sudah tak ada lagi. Kamu bukan lagi kebahagianku, demikian juga sebaliknya. "
" Minta restu? Restu untuk apa? " keningnya berkerut. Astaga... dari sekian banyaknya kata yang sudah ku ucapkan, hanya kata itu saja yang menarik perhatiannya.
" Menikah. " jawabku.
" Menikah dengan PILmu yang tak menghiraukan mu itu? Alisnya tajam menukik. Wajahnya seperti sedang mengolokku.
Sekarang aku yakin bahwa dia pasti sudah mengintip isi pesanku untuk Mas Haris saat di penginapan kemarin.
"PIL? "
" Pria Idaman Lain, apalagi? " Ia melirik ke arahku sebelum melempar pandang ke arah lain.
" Namanya Mas Haris. Dia bukan pria idaman lain. Aku tak suka kamu menyebutnya demikian."
" Oh, .... jadi namanya Haris. Bagus. " Tangannya meraih handphone dari saku dan kemudian pura-pura sibuk mengutak-atik . " Tapi aku kasihan padanya. "
" Kenapa? " tanyaku tak mengerti.
" Karena wanita yang di impikannya untuk menjadi teman hidup sudah menjadi milikku."
__ADS_1