PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 78


__ADS_3

Aku hanya ingin kamu bahagia... " ucapnya kemudian.


Aku menoleh ke arahnya.


" Bahagia...? Apa kamu pernah bertanya apa yang membuat aku bahagia? Tidak bukan...? " jawabku dengan satu tarikan sinis di ujung bibirku.


Dasar Syafrie goblok....


Aku terpaksa membiarkan Syafrie menggendongku sampai ke teras rumah sesampainya kami di depan rumah mama. Di depan pintu sudah berdiri Kak Lela dan Suaminya serta Kak Darre dan putraku Fadil.


Fadil berlari menyongsong kedatanganku dengan sebuah pelukan di pinggangku. Tubunya yang kecil menyusup di pinggangku. Kepalanya di letakkan di pinggangku. Aku merasa tubuhnya sedikit berguncang.


Ya Allah..... Putra tampanku itu menangis. Dia merasa sedih ketika melihat kondisi mamanya yang seperti ini. " Mamah, syukurlah mamah sudah kembali. Fadil takut mamah tak kembali lagi. Fadil takut mamah diambil Tuhan seperti adik Fajri dan kakek." isak bocah itu yang membuat aku dan juga semua yang berdiri di sana menjadi terdiam.


Mama dan Kak Mansyah kemudian masuk bersama Kak Lela dan Kak Dare. Tinggallah kami bertiga sekeluarga.


" Sudah.... Fadil jangan nangis lagi. Mamah kan, sudah pulang. Kita akan merawat mamah bersama, yah..!" kata Syafrie sambil mengelus kepala anak lelakinya itu.


Fadil mengangguk sambil menyeka air matanya. " Fadil janji, Mah. Fadil akan merawat dan menjaga mamah. " katanya sambil menggandeng tanganku. Aku melangkah masuk ke dalam rumah tertatih - tatih dengan tongkat di bahu. Syafrie awalnya berniat untuk menggendong diriku, namun aku menolak. " Aku masih punya dua kaki walaupun sudah patah satu. " ketusku sambil melangkah meninggalkan Syafrie yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keras kepalanya diriku.


" Apakah ayah menyakiti hati mamah lagi? "


Pertanyaan bocah itu membuat aku terdiam bungkam. Juga Syafrie yang berjalan di belakang kami. Untuk beberapa saat aku masih mencerna jawaban apa yang akan kuberikan pada putraku yang cerdas ini.


" Hmm... tidak. Ayah maunya mamah selalu 'bahagia'.. " Sengaja kutekankan kata bahagia sambil melirik wajahnya.


Dia menundukkan kepalanya tak berani menatapku. Dengan lesu aku melangkah masuk ke dalam kamar.


Aku mengamati keadaan kamar kami yang sudah lama kutinggalkan. Sejenak, aku melirik ke arah pintu kamar yang kini sudah kembali bagus seperti semula. Tak ada yang berubah, hanya sekarang ada ranjang bayi di sana.


" Mana Fika..? " mataku celingukan mencari - cari Putri cantikku ketika aku tak menemukan dia di dalam ranjangnya.


" Adik Fika di bawa sama mama tua, Mah... " jelas Fadil.


Tak lama kak Lela datang sambil menggendong Fika. Tangisku langsung pecah saat bertemu dengan buah hatiku itu. Tak hentinya aku menciumi wajahnya yang semakin menggemaskan saja sampai - sampai bayiku itu menangis karena kesal. Aku tertawa ketika melihat ekspresinya yang lucu saat marah.


" Asma, ini susunya." Kak Lela menyerahkan botol susu Afika kepadaku " Maaf, aku memberinya susu formula karena saat itu dia menangis terus karena haus dan lapar." kata Kak Lela. Aku mengangguk memahami kondisi Fika yang pastilah saat itu terus - terusan menangis karena lapar dan haus, sementara ibunya sedang tidak berdaya karena kecelakaan yang dialaminya.


...----...


Hari - hari berlalu dengan cepat selama aku dalam masa pemulihan. Tanpa terasa sudah tiga bulan lamanya aku menjalani masa - masa yang teramat sulit bagiku hingga membuat aku hampir putus asa. Bayangkan saja, untuk mengurus diri sendiri saja aku kesusahan, apa lagi untuk menggendong putriku saat sedang menangis. Terpaksalah mama atau Syafrie yang melakukannya. Aku sering menangis diam - diam karena merasa tak berguna.


Usia anakku sudah memasuki bulan ke enam. Kini asinya sudah di bantu dengan makanan pendamping asi. Aku masih tetap memberi asi ekslusif. Alhamdulillah, walaupun sempat minum susu formula, tapi Afika masih mau menyusu padaku. Meskipun pada awalnya air susuku sempat tak mengalir karena lama tak dihisap. Tapi sekarang air susuku sudah mengalir kembali.


Sore itu, aku sedang berada di dalam kamar bersama Afika. Sepulang bekerja, Syafrie langsung memandikan Afika. Aku tetap bertugas mendandani Afika. Semakin hari putri kecilku semakin pintar saja. Dia mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat.


Satu hal lagi, gigi Afika sudah mulai tumbuh. Sehingga beberapa hari yang lalu, bayiku itu sempat mengalami demam dan rewel.

__ADS_1


Setelah selesai, Syafrie kembali menggendong buah hatinya itu sambil menunggu aku selesai membuatkan makanan untuk bayi kami. Sebagai pendamping Asi, aku memberinya makanan tambahan berupa bubur susu instan dengan merek C. Aku memilih rasa pisang susu karena sepertinya Afika menyukai rasa itu.


Syafrie langsung memberi makan Afika sementara aku bersiap - siap untuk mandi. Biasanya aku mandi setelah selesai mengurus bayiku. Namun hari ini, karena ada Syafrie yang memberi makan Afika, maka aku berkesempatan untuk mandi. Aku melakukan semua itu dengan tanpa banyak bicara. Hanya tangan saja yang bekerja, mulutku diam terkunci rapat.


Jika dulu sehabis melahirkan Syafrie irit bicara padaku, maka sekarang akulah yang irit bicara padanya. Sejak kembali dari rumah sakit kurang lebih tiga bulan lalu, bisa dihitung dengan jari aku bicara dengan pria itu.


Bukan apa - apa, aku masih menyimpan luka dan sakit hati akibat perlakuannya kepadaku atas nama ' Tak enak sama Haris' .


" Kamu mau mandi...? " Syafrie menegurku ketika melihat aku tertatih - tatih menyeret langkahku dengan sebelah tongkat. Iya, sekarang aku hanya menggunakan sebelah tongkatku saja untuk membantuku berjalan. Aku selalu berusaha keras untuk tidak tergantung pada orang rumah.


" Iya.. " jawabku singkat sambil terus melangkah ke kamar mandi.


" Biar aku bantu... " Syafrie meletakkan Fika di ranjangnya dan bergegas berjalan mendekatiku untuk membantuku.


" Tidak perlu membantuku, aku bisa sendiri. Teruskan saja menyuapi Afika..." kataku dingin.


" Mengapa kamu selalu begini. Di dalam sana licin. Jika terpeleset sedikit saja bisa fatal akibatnya buatmu. Kepalamu bisa terbentur ubin. "


" Aku tahu, aku akan hati - hati. Terima kasih sudah mengingatkan.... " kataku sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi diiringi tarikan nafas panjang oleh Syafrie


Aku masih melihat Syafrie di dalam kamar saat keluar dari kamar mandi. Rupanya pria itu belum juga beranjak dari sana, padahal aku belum berpakaian. Aku tadi lupa membawa pakaian ganti saat masuk ke kamar mandi. Jadi terpaksa aku memakai kembali pakaian yang ku pakai sebelum mandi.


" Bukankah itu baju yang tadi kamu pakai? Apa persediaan bajumu sudah habis? "


Aku diam saja dan terus melangkah tertatih - tatih menuju lemari pakaian yang terdapat di samping ranjang.


Aku diam saja dan mengambil pakaianku lalu kembali lagi berjalan ke kamar mandi. Tapi sebuah tangan kekar mencekal sebelah lenganku, menahan langkahku agar tidak langsung ke kamar mandi. " Aku bantu memasangnya di sini, saja.. " Namun aku diam saja. Tak menyahut dan tak bergerak.


" Mengapa diam? Apa kamu merasa malu? Tak perlu malu, kita ini suami istri..Lagi pula aku sudah pernah melihat semuanya.. " jawab Syafrie sambil tersenyum. Lalu tangannya bergerak hendak membuka baju di badanku. Namun sontak aku menepis tangannya dengan kasar.


" Hentikan berlaku seolah - olah kamu peduli padaku. Aku tak ingin kamu kasihani. Jika memang kamu sudah tak menginginkan aku, maka aku minta sekarang juga kamu ceraikan aku... "


Ayah Fadil dan Fika menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Perlahan dia membimbing tanganku " Duduklah dulu. Aku mohon tenangkan dirimu. Bagaimana mau bicara jika kamu masih marah - marah seperti ini..? " Dia mendudukkan diriku di tepi ranjang. Dekat dengan ranjang Afika yang rupanya sudah selesai diberi makan. Bayi imut itu tampak tenang bermain dengan kedua kalinya diangkat ke atas.


Aku memalingkan wajah saat pria itu beralih menatapku. " Tak usah basa - basi lagi. Sekarang juga, jatuhkan saja talakmu padaku. Aku sudah siap... "


" Asma,....Mengapa kamu bicara seperti itu? "


" Lantas apa maksud kamu dulu meminta Mas Haris kembali padaku.? "


" Astaghfirullah... Asma, ternyata itu masalahnya? Aku pikir kamu sudah melupakan hal itu. "


" Mudah kamu kata untuk melupakan semua itu. Aku yang merasakan, Syafrie. Bukan kamu. Kamu mempermainkan perasaanku. Apa kamu pikir aku ini barang rongsokan yang bisa dipindahtangankan? Kamu pikir aku apa, Hah? "


" Asma... "


" Asma...Asma...! Tak usah lagi kamu sebut namaku, brengsek.. ! " tanganku terkepal karena sudah menahan emosi. Aku ingin memuntahkan semua uneg - uneg yang lama terpendam di hatiku. Semakin lama, rasanya semakin menyiksa, jika harus berlama - lama memendamnya di hati.

__ADS_1


Hening.... sesaat di antara kami. Juga Afika yang tiada lagi kudengar suaranya. Aku menengok ke dalam ranjang Afika untuk mencari tahu. Rupanya dia sudah tertidur.


Aku berjalan menjauhi tempat itu. Tak ingin membuat gaduh suasana. Tempat yang paling aman, ya di kamar mandi. Aku menangis sepuasnya di sana. Sakit sekali rasa hatiku.


" Asma.... aku.... " Pria itu, ternyata sudah berada di belakangku.


" Untuk apa lagi kamu datang kesini, Syafrie..? Tak cukupkah kamu sudah membuat aku menangis?" Aku menyeka air mata dan membasuh wajahku dengan air. " Kamu berlaku manis di hadapanku tapi ternyata semua itu hanya palsu. Istriku sayang. Istriku mana?.. taik kucinglah... Syafrie. Nyatanya.. ujung - ujungnya kamu kembali membuangku lagi. Setelah kamu mendapatkan apa yang kamu mau. Seperti itu kan, Tuan Syafrie yang terhormat? " kalimatku mengalir tanpa jeda. Seperti kereta api super kilat. Napasku tersengal - sengal.


" Hmm... siapa membuang siapa? Aku malah berpikir kalau sebentar lagi aku akan dibuang? " kalimat itu menerjang pendengaranku walau lirih diucapkan bahkan nyaris tak terdengar.


Dadaku bergemuruh penuh emosi. Amarahku mendidih sampai ke ubun - ubun. Aku berbalik menatapnya. Pria ini dulu yang mengatur pertemuan aku dengan Mas Haris. Dia juga yang meminta Mas Haris dan aku agar kembali bersama. Tapi mengapa sekarang dia memainkan peran seolah - olah aku yang telah mendepaknya dari kehidupan rumah tangga kami. Pria ini sungguh pandai bermain peran.


Aku tak lagi bisa berkata-kata. Dengan tertatih - tatih aku melangkah pergi meninggalkan Syafrie. Rasanya percuma berbicara dengan pria itu. Aku sebaiknya pergi saja. Mumpung masih waras. Jika lama - lama berada di sini, aku bisa gila.


Namun baru saja aku ingin mengemasi semua barang - barangku, Syafrie menarik tanganku dari belakang. Hampir saja aku jatuh terjerembak jika saja dia tak buru-buru menangkap tubuhku. " Kamu selalu saja seperti ini. Sudah ku bilang... ayo kita bicara..! "


" Mau membicarakan apa? membicarakan tentang sucinya hatimu yang berniat mengembalikan aku kepada Haris, iya? Kau mau aku berterima kasih padamu? Memuja segala kebaikanmu? Syafrie... Terima kasih karena kamu sudah berbaik hati mengembalikan aku pada orang yang telah kau rebuti. Begitu?


Kamu mau aku begitu, brengsek? " Aku sangat marah hingga tanpa sadar aku mendorong tubuh Syafrie dengan keras.


Mendapat serangan yang tiba-tiba, membuat ayah Fadil dan Fika itu tak dapat menjaga keseimbangan hingga akhirnya jatuh terduduk ke lantai.


Namun, demi Tuhan aku melihat dengan jelas sebuah tarikan sinis terlukis di sudut bibirnya. Seperti dia sedang mengejekku. Mengejek diriku yang tidak mampu untuk mengontrol emosi.


" Aku membencimu, Syafrie.. " desisku penuh amarah.


" Bukannya kamu selalu membenciku? "


" Tapi hari ini aku lebih membencimu lagi." Desisku semakin marah.


Dia mengangguk - angguk seperti faham akan sesuatu. Sialan.... apa yang dia pahami..?


Aku akan baik - baik saja tanpa dia. Aku akan baik - baik saja... kata - kata itulah yang selalu aku tanamkan di kepalaku meskipun sumpah mati sebenarnya aku tak rela. Kepalaku pening... seperti mau pecah. Syafrie benar-benar membuat aku seperti orang gila.


Kepala Syafrie jatuh terkulai dalam. Kedua jemarinya saling ditautkan. Matanya sendu menatapku.


" Asma... kalau Haris bisa membahagiakanmu di masa depan, maka aku ridha kamu bersama dia." Syafrie mengatakannya sambil menatapku. Tak ada bulir bening yang keluar dari sudut matanya. Juga tak ada nada suara yang bergetar. Syafrie mengucapkan semuanya dengan yakin dan mantap.


Seketika aku merasakan hampa di hatiku. Seperti ada sesuatu yang tertarik dari sana.


" Begitu..? " suaraku bergetar. Ada riak embun di mataku. Amarah yang tadi bergelung - gelung di hatiku kini hilang entah kemana. Berganti dengan rasa sedih yang mendera di hati.


Ucapan menantu mama itu seolah mengisyaratkan padaku betapa dia sudah tak menginginkan aku lagi.


Dia benar-benar sudah membuang aku...


Hatiku.... jangan di tanya. Rasanya sakit sekali. Seperti dihantam palu raksasa. Malu dan terhina.... ini sudah ketiga kalinya Syafrie mencampakan diriku.

__ADS_1


Astaga.... hatiku sakit sekali.


__ADS_2