
Aku perlahan-lahan membuka mataku. Semuanya serba putih dan bau obat. - obatan yang menusuk hidung membuat aku bisa menebak di mana aku sekarang berada.
Aku mencoba menggerakkan tubuhku tapi mengapa rasanya sulit sekali di gerakkan.
" Kau sudah sadar... " Suara seseorang yang sangat kukenal. Si bedebah Syafrie...
" Arghhh...." erangku ketika mencoba menggerakkan tubuhku. " Jangan bergerak, aku akan memanggil dokter sekarang.. "
Syafrie bergegas beranjak keluar untuk memanggil dokter. Tak beberapa lama kemudian, Syafrie kembali bersama seorang pria yang berpakaian serba putih. Di belakangnya turut mengekor mama serta Kak Mansyah.
Aku kembali mencoba untuk bergerak namun keburu di tahan oleh dokter. " Bu Asma, jangan banyak bergerak dulu, ya. Ibu, baru saja selesai menjalani operasi jadi ibu tak boleh banyak bergerak dulu."
" Apa yang terjadi dengan saya, dok? " Aku mencoba meminta penjelasan dari dokter atas apa yang terjadi padaku. Aku melihat sebelah kaki kanan dan tangan kiriku sudah terbalut gips dan nyeri pada bagian perut.
" Tidak ada apa - apa, bu. Ibu hanya tidak sadarkan diri selama kurang lebih seminggu paska kecelakaan itu dan beberapa hari yang lalu ibu harus menjalani operasi karena terdapat luka dalam pada bagian paru-paru dan perut. Dan lagi pula, terdapat tulang yang patah pada pergelangan tangan kiri dan kaki kanan bagian bawah. sehingga harus di pasangkan pen." jawab dokter tersebut menjelaskan kondisi diriku dengan detail. Yah.... saat ini aku sudah siuman setelah tak sadarkan diri selama seminggu di rumah sakit Wahab Syahrani Samarinda, dan harus menjalani dua kali operasi.
Aku melirik ke arah mama yang dari tadi sudah berkaca - kaca. Wanita tua yang sangat menyayangi aku itu tak dapat menahan diri melihat kondisiku yang sangat memprihatinkan ini.
" Maaf.... menggangu. Aku tadi keluar sebentar untuk mencari buah-buahan kesukaannya. Siapa tahu dia... " Ucapan pria itu terhenti ketika melihat dokter sedang memeriksa kondisiku. " Asma, kamu sudah sadar? "
Aku melirik ke arah pria itu. Bertanya dalam hati tentang keberadaan pria ini ada di sini.
Mas Haris tampak hendak berjalan ke arahku yang sedang diperiksa oleh dokter, namun keburu dicegah oleh tangan Kak Mansyah. Pria itu mundur dan menanti dokter selesai melakukan pemeriksaaan kepadaku.
Aku memejamkan mataku kembali setelah dokter melakukan pemeriksaan. Akh sengaja melakukannya karena tak ingin menemui kedua pria tersebut. Sama saja... keduanya adalah pria yang paling menyebalkan dalam hidupku.
Dokter sudah lama berlalu dari ruangan tempat aku dirawat. Aku ternyata benar-benar tertidur sampai beberapa lama, padahal tadi niatku hanya pura-pura memejamkan mata saja.
Pukul dua belas malam aku terjaga karena sentuhan perawat yang memeriksa dan memberikan suntikan obat kepadaku. Setelah perawat itu pergi, suasana kembali terasa hening dan sunyi. Hanya suara air kondisioner yang terdengar dan sesekali suara batuk dari ruangan di sebelahku. Suasana di rumah sakit Wahab Syahrani Samarinda ini memang kuakui sangat tertib dan tenang.
" Apa kamu perlu sesuatu, kamu haus... ?" suara Syafrie mengejutkan diriku. Aku membuang pandangan ke arah dinding. Walaupun terbaring di sini dan dalam kondisi seperti ini, tapi aku tidak lupa sakit hatiku akibat kelakuan Syafrie padaku sebelum kecelakaan ini. Hening lagi.... aku tak berniat untuk membuka mulut dan berbicara dengan ayah dari anak - anakku itu.
" Asma, aku...? " Syafrie hendak mengucapkan sesuatu. Tangannya berusaha meraih pergelangan tanganku yang terpasang jarum infus. Aku menepis pelan. Entahlah... Aku masih merasa enggan untuk menanggapi setiap perkataan dari pria yang merupakan ayah dari anak - anakku ini.
" Kamu masih marah padaku? Maafkan aku.. aku tidak bermaksud untuk.... "
" Sudahlah Syafrie... aku lelah" potongku sambil menutup mata. Aku benar-benar muak dengan pria yang tak punya pendirian macam Syafrie. Dadaku terasa sebak dengan bongkahan batu yang serasa sesak mengganjal di dada. Aku masih sakit hati setiap mengingat perlakuan Syafrie padaku yang menganggap aku hanya seperti barang mainan saja. Tidak ada harganya sama sekali.
__ADS_1
" Tapi Asma..... Aku mohon dengarkan dulu penjelasanku." pintanya memelas.
" Sudah malam, tuan Syafrie yang terhormat. Dan lagi pula saya lelah. Bisakah tuan Syafrie yang terhormat tidak menggangu saya dengan omong kosong ini. Saya ingin istirahat... tolong! " aku berucap lirih dan penuh penekanan pada kalimat terakhir.
Syafrie pun mengalah dan menatap wajahku dengan sendu. " Baiklah...istriku sayang, istirahatlah..Besok - besok kita masih bisa bicara. " Dia kemudian mendekatiku dan menunduk untuk mencium keningku. Aku hanya diam saja. Terlalu lelah untuk merespon ucapannya atau melayangkan protes atas apa yang dia lakukan barusan. Kuputuskan untuk memejamkan mataku dan kembali terbang ke alam mimpi.
" Assalamu'alaikum, Dewiku." sebuah sapaan yang lama sekali tak pernah ku dengar lagi. Mas Haris muncul di pintu sambil menenteng tas kresek hitam di tangannya. Tak ada Syafrie di sebelahku. Juga mama dan Kak Mansyah. Kemana mereka semua.
" Syafrie sedang keluar mencari sarapan. Sedangkan mama dan Kak Mansyah ada di luar." Seolah tahu apa yang ada di dalam benakku. Apakah kamu perlu sesuatu? "dia bertanya sambil berjalan ke arahku yang masih terbaring lemah tanpa bisa bergerak leluasa. Aku hanya menggeleng lemah.
" Mau apa? " dia bertanya kembali ketika menangkap pergerakanku yang mencoba untuk bangkit. Buru - buru dia mendekatiku dan mencoba untuk membantu tapi dengan isyarat tangan, aku menolaknya.
" Asma, mengapa kamu bersikap dingin dan bersikap seolah - olah menolakku... " keluhnya setelah aku akhirnya bisa bangun dan duduk di atas kasur walaupun harus dengan bersusah payah.
" Aku rasa aku sudah mengatakan dengan tegas padamu beberapa waktu yang lalu, Mas. Bahwa aku tak ingin kembali pada masa lalu. Kedatanganku saat itu untuk bertemu dengan dirimu bukan untuk kembali bersamamu, walaupun saat itu kamu mengatakan bahwa kamu sudah membatalkan pernikahanmu dengan Isna. Aku sudah memutuskan bahwa masa depanku bersama anak - anakku walaupun kelak nantinya aku mungkin juga tak lagi bersama Syafrie."
" Tapi, dek. Tak bisakah kamu mengubah semua keputusanmu itu. Aku rela menganggap kedua anakmu sebagai anakku juga. Percayalah.. aku sama sekali tak keberatan dengan hal itu. Karena aku sangat mencintaimu, Dek. Aku tak sanggup jika kehilanganmu. Rasaku terlalu dalam untukmu, Dek." ucap pria itu dengan lirih. Ucapannya sungguh manis. Jika saja dia mengucapkan hal ini dulu di saat aku sedang hamil Fika, mungkin aku akan melambung dan menerima pria itu dengan senang hati. Tapi, sekarang.. setelah dia mencampakkan diriku, perasaan itu lenyap entah kemana. Walaupun kuakui aku masih lagi menyimpan rasa cinta untuknya, tapi untuk kembali.... aku rasa harus memikirkan banyak hal. Salah satunya hati anakku Fadil dan juga mama...
Aku menggelengkan kepala. " Tidak, Mas. Cerita kita sudah usai. Pulanglah.... karena aku tetap pada pendirianku. . Walaupun setelah ini, mungkin juga aku akan berpisah dengan suamiku. Tapi.
keputusanku sudah bulat. Aku tak akan kembali lagi padamu. "
Pintu terkuak dan tampaklah Syafrie masuk di iringi oleh mama dan juga Kak Mansyah. Mereka masuk sambil menenteng beberapa kantong kresek hitam yang aku yakin isinya pasti sarapan buat mereka.
Mas Haris pamit pada kami semua yang ada di sini untuk kembali pulang. Aku yakin, pria itu pasti sedang hancur saat ini setelah penolakanku tadi. Maafkan aku, Mas Haris. Aku harus tegas dengan diriku sendiri. Aku sudah bosan dan lelah dengan semua ini. Tak ada yang benar - benar bisa memberikan kebahagiaan yang hakiki kecuali anak - anak dan keluargaku. Karena sejatinya, merekalah darah dagingku yang sesungguhnya.
Aku melihat Syafrie mengantar pria itu keluar dan menghilang dari balik pintu. Tak beberapa kemudian, dia kembali lagi dan bergabung dengan keluargaku untuk sarapan bersama. Syafrie menawarkan makanan padaku dengan menyodorkan suapan ke mulutku. Namun aku menggeleng dan menolak suapannya dan memilih untuk menyantap sarapan yang diantarkan oleh perawat. Juga ketika pria itu menawarkan untuk menyuapiku lantaran aku kesulitan untuk meraih sendok karena tanganku yang terpasang jarum infus dan juga perban, aku menolaknya dan lebih memilih meminta mama yang menyuapiku.
Aku bisa melihat raut kecewa di wajah Syafrie atas penolakan diriku. Biar saja.... siapa suruh kamu mempermainkan perasaanku. Sekarang, rasakan saja akibat perbuatanmu.
Dua hari setelah Mas Haris pamit pulang. Pria itu tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Aku bisa bernafas lega karena berkurang satu pria yang menyebalkan dalam hidupku. Jujur saja... aku merasa kedua pria itu telah bersekongkol untuk mempermainkan perasaanku. Maka dari itu, tunggu saja pembalasan Asma. Jangan sebut namaku Asmawati Basrie jika aku tidak bisa membalas semua perlakuan ini, nanti...
Hari ini, genap sudah tiga minggu aku menjalani perawatan. Atas permintaan dariku dan keluarga, dokter akhirnya mengizinkan aku pulang dengan catatan harus rawat jalan dan rajin kontrol di rumah sakit terdekat.
Saat ini, aku harus dibantu tongkat untuk melakukan semua pergerakan dan perpindahan. Akan tetapi aku merasa senang, karena akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan kedua anakku.
Perjalanan pulang dari Samarinda ke Suka Rahmat memakan waktu lebih lama dari biasanya. Maklum saja, Syafrie menjalankan mobil lebih lambat dari jalannya kura - kura dengan alasan kondisiku yang masih sakit. Alah,.... banyak alasan. Bilang saja dia ingin lebih lama bersamaku karena aku dan dia harus satu mobil sedangkan mama dan Kak Mansyah memilih untuk naik bus. Karena memang mobil Syafrie yang berbentuk pick up hanya bisa ditumpangi oleh dua orang saja.
__ADS_1
" Sayang, mau kubelikan sesuatu?" Dia bertanya saat berhenti di depan sebuah rumah makan di pinggir jalan untuk buang air dan membeli minuman.
" Air mineral saja.. " jawabku datar.
" Baiklah.... tunggu sebentar, ya. Aku kedalam dulu lalu membeli air mineral untuk kita. "
bayangan Syafrie menghilang masuk ke dalam rumah makanan yang menyediakan menu masakan ayam dan juga bebek goreng itu. Tak beberapa lama kemudian, bayangannya muncul kembali dengan menenteng sebuah bungkusan.
" Ini air mineral yang kamu pesan. Aku juga membeli beberapa camilan kesukaanmu. Apa kamu tak berniat untuk singgah dan makan di sana? Aku bisa menggendong mu. " tawarnya yang kutolak dengan celengan lemah. " Tidak, terima kasih. Tapi aku tidak lapar. " jawabku. Dia mendesah sambil menatapku, tapi tidak berkata apa - apa. Kemudian masuk ke dalam mobil dan kembali melanjutkan perjalanan. Kami kembali berdiam diri sepanjang perjalanan.
Aku sebenarnya merasa bosan dan jemu. Namun sayangnya, handphone milikku hilang sewaktu kecelakaan yang menimpaku beberapa waktu lalu. Mungkin terlempar saat kecelakaan itu. Sebab aku meletakkannya di jok depan dekat stang kemudi. Sedangkan dompet yang aku simpan di dalam tas selempangku, aman karena tersampir di bahuku. Hanya tali tasku saja yang putus dan sobek, namun dompet dan isinya tidak hilang.
" Tidurlah jika kamu lelah. Perjalanan kita masih jauh... "
" Cepatlah sedikit mengemudi. Aku sudah rindu sekali ingin melihat Afika.. " gerutuku kesal. Syafrie terkekeh pelan menanggapi kekesalanku melihat cara dia mengemudi.
" Kamu lagi sakit, Asma. Jalanan juga sedang rusak. Nanti jika aku mengemudi dengan cepat, takutnya kamu akan merasa sakit atau tak nyaman ketika ada guncangan. Sabar, ya sayang.. " bujuknya sambil mengelus sebelah pipiku. Aku melongos membuang pandangan ke arah luar jendela. " Tak usah bersikap manis padaku, jika ujung - ujungnya nanti bakalan nyakitin aku juga." gumanku lirih namun masih bisa di dengar oleh Syafrie.
" Maksud kamu apa, sayang? "
" Kenapa aku yang harus menjelaskan. Mestinya kamu sendiri faham, mengapa aku berkata demikian. Aku sudah muak dengan semua sandiwaramu, Syafrie. Mengapa tak kamu katakan saja di depan keluargaku bahwa kamu ingin menceraikan diriku dan memintaku untuk kembali bersama dengan Mas Haris? "
Meledak sudah kekesalanku. Andai saja kondisiku tidak seperti ini. Sudah dari tadi aku menerjang dan memukul pria menyebalkan ini.
" Aku mohon maaf untuk semua itu. Aku tak bermaksud untuk membuatmu marah atau pun kecewa dengan semua sikapku selama ini. Tapi aku punya alasan untuk melakukan semua itu. "
" Apapun alasanmu, aku merasa sudah tak memiliki harga diri lagi sebagai wanita. Aku merasa bagaikan sampah yang dibuang karena sudah tidak dibutuhkan lagi dan dipungut oleh Mas Haris untuk didaur ulang. "
" Asma.... "
" Cukup Syafrie.... aku sudah tahu semuanya. Bagimu aku tak lebih berharga dari mesin pencetak anak. Masih lebih berharga wanita itu. Walaupun katamu kamu tidak mencintai dia, tapi kamu masih memiliki hati untuk memikirkan bagaimana perasaannya. Sedangkan untukku, apa..? Dari dulu, apa kamu pernah sekali saja memikirkan bagaimana perasaanku. Tidak.... kamu tidak pernah, Syafrie... Kamu hanya melakukan apa yang menurutmu baik untuk kamu lakukan tapi tak pernah berpikir apakah orang lain akan terima dengan segala keputusanmu. " ucapku dengan nada terluka. Yah.... Syafrie harus sadar, bahwa sikapnya selama ini kepadaku sudah sangat keterlaluan sekali.
Syafrie terdiam dan kembali fokus pada kemudi. Namun sekali - kali aku bisa menangkap dari sudut mataku bahwa dia berkali-kali melirik ke arahku.
" Aku hanya ingin kamu bahagia... " ucapnya kemudian.
Aku menoleh ke arahnya.
__ADS_1
" Bahagia...? Apa kamu pernah bertanya apa yang membuat aku bahagia? Tidak bukan...? " jawabku dengan satu tarikan sinis di ujung bibirku.
Dasar Syafrie goblok....