PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 49


__ADS_3

Rumah mama semakin dekat. Sisa satu belokan lagi makan kami akan segera sampai di halaman rumah mama. Dari dalam mobil aku bisa melihat cahaya lampu terasnya yang menyala temaran.


Tepat pukul sembilan malam, Syafrie menginjak rem mobil dan memarkirkan kendaraan yang kami tumpangi tepat di depan rumah.


Seorang wanita memakai daster berwarna merah maroon itu berjalan menghampiri istri kak Adit dan mengambil alih balita yang tengah tertidur di dalam pelukannya itu.


Syafrie dan Kak Adit sibuk menurunkan barang - barang bawaan kami. Aku? aku masih bertahan di dalam mobil, enggan untuk beranjak turun. Pikiranku masih melayang memikirkan nasibku nanti. Tinggal di kampung ini sebagai jandanya Syafrie. Apakah aku sanggup?


" Ayo turun! " Syafrie berdiri di sisi jendela. Dengan terpaksa aku menjulurkan kaki ke tanah. " Awas, pelan - pelan. lihat - lihat kalau berpijak. Tadi hujan, licin tanahnya. "Mau aku gendong?" Aku diam namun melirik ke arah Syafrie. Datar dan tanpa ekspresi.


Manis sekali sikapnya padaku. Seolah-olah kami ini pasangan suami istri sungguhan. Apa dia lupa bahwa sudah menalakku?


" Apa kamu tidak malu pegang - pegang wanita yang bukan mahkram-mu? "


Pria tersebut terdiam. Biasanya mulutnya akan langsung menyambar setiap perkataanku, Tapi entah mengapa kali ini dia diam saja.


Dia menatap calon ibu dari anaknya dalam.


" Kamu memang bukan mahkram-ku. Setahuku, mahram itu artinya wanita yang haram untuk dinikahi. Mungkin di kita, definisinya sudah berbeda, makanya kamu mengartikannya lain. "


Aku memicingkan mata tanda tak suka. Sebelah tangannya terangkat dan dari balik pintu mobil dan mengusap keningku yang berkerut. " Jangan biasakanmengkerutkan kening. Nanti cepat tua." Halah. .... aku memutar mata bosan.


" Segera kita menjadi halal kembali. "


Nah,.... ini dia! Ini namanya mancing emosi...


" Kamu pikir aku mau?"

__ADS_1


" Kamu mau. Dan harus mau.." katanya dengan senyum yang ramah sambil membukakan pintu mobil untukku.


Aku melihat mama berjalan menghampiri diriku. Hah, Si bedebah Syafrie selamat kali ini. Andai saja tak ada mama di sana, sudah kuhadiahi tamparan untuk Syafrie karena mulut sembarang ucapnya yang tak pernah bersaring.


Mama canggung, aku..... lebih lagi.


" Kamu sudah makan? " Aku mengangguk. " Fadil ada di kamar mama. Tadi ketiduran sewaktu menunggu kalian. apakah mau mama bangunkan? " Aku menggeleng. " Tak usah, mama. " kataku sambil melangkah memasuki rumah. Aku sangat canggung saat berhadapan dengan mama.


Seingatku, hubungan kami belum lagi pulih. Terakhir kali bertemu mama, hubungan kami masih di warnai dengan perselisihan. Jadi, sekarang ini, aku tak tahu harus mulai dari mana. Alih-alih menyambut tangan mama untuk menciumnya, aku malah terdiam tak bersuara ataupun bertindak.


":Iya, kamu pasti lelah karena perjalanan jauh. Apalagi kamu sedang hamil. Besok saja bertemu dengan Fadil. Sekarang istirahatlah, Nak. Sebelum menjemputmu, suamimu itu sudah membersihkan kamar yang akan kalian tempati." kata mama.


Ada rasa hangat yang menjalar di hati saat mendengar panggilan ' Nak' yang terlontar dari mulut wanita yang telah melahirkan aku itu. Aku terharu. Ingin rasanya aku memeluk wanita itu andai daja rasa gengsiku tak lebih tinggi dari egoku.


Tapi... Apa tadi? Apa aku tak salah dengar tadi? Mama bilang bahwa kamar yang akan kalian tempati? Apa maksudnya aku dan Ayah Fadil? Aku dengan Fadil? Atau aku dengan si 'kecebong' Syafrie.


Rasanya aku ingin terbahak-bahak saat menyadari bahwa aku baru saja mengatai calon anak Syafrie dengan sebutan ' kecebong'. Mungkin jika kakakku yang paling tua itu melihatku tertawa sendiri, dia pasti akan mengatakan aku sudah kurang waras.


Mama berharap semoga aku betah tinggal di kampung ini. Setelah itu, wanita itu melangkah ke kamarnya sambil menggendong anak kak Adit.


Lucu rasanya saat melihat mama memperlakukan aku seperti menantunya.


Denganku mama merasa canggung, sedangkan pada Syafrie, tidak. Aku menarik nafas panjang menyadari betapa ada rasa iri bercampur miris menyadari kenyataan ini.


Menantu mama itu membimbingku memasuki kamar yang dulunya pernah aku tempati. Dia kemudian berbalik lagi untuk mengambil barang - barangku yang masih berada di luar. Kak Adit dan istrinya sudah lebih dahulu masuk ke kamar tamu yang berada di depan kamar mama.


Mataku nanar memandang ke sekeliling kamar. Ada yang berbeda dari isi kamar ini sebelumnya. Sekarang di kamar ini ada dua tempat tidur. Ada tambahan satu tempat tidur yang berukuran besar. Kamar ini sekarang menjadi terkesan sempit.

__ADS_1


" Malam ini aku tidur di luar. Kamu tak apa - apa, kan? Jika butuh sesuatu, tinggal bangunkan aku saja." Kata Syafrie sambil menyusun pakaianku di lemari pakaian yang ada di sudut kamar.


Lucu sekali, apa dia kira aku anak kecil yang takut tidur di kamar sendirian.


" Kalau tidak ada halangan, besok kita 'berempat' sudah bisa tidur bersama. " kata ayah Fadil yang langsung membuat kepalaku diserang pening mendadak.


" Sudah, sudah, Syafrie. Jangan mancing - mancing. Aku lagi cape, loh. Besok, kalo aku sudah pulih, staminaku sudah sehat, akan kulayani kamu. Mau sampai dimana? Kamu tuh, ya. Apa kamu ndak bosen mancing - mancing emosiku terus. Aku cape tau, Syaf. Andainya bisa dibelah dadaku ini, bisa kamu liat, menghitam isinya, karena kebanyakan makan hati." ucapku panjang lebar mengomel pada Syafrie. " Kemarin aku sudah bahagia sama Haris. Sebentar lagi Ku akan menjadi Nyonya Haris. Terus kamu datang dan menghancurkan semua mimpi - mimipi dan harapanku serta karir yang kubangun dengan susah payah. Kamu itu pembawa sial, tau. Aku benci sama kamu, Syafrie. Setiap apapun yang berhubungan denganmu, selalu saja membawa kesialan bagiku." Aku menunjuk ke arah perutku yang kini mulai terlihat sedikit membuncit. " Ini adalah salah salah satu kesialan kamu buat untuk aku. Membayangkan benih yang kau sebar di rahimku ini membuat aku rasanya ingin menusuk perutku sendiri." Hah.... gerahnya aku oleh amarahku yang belum juga terpuaskan. Ya Tuhan....


" Sudah, Asma.! Sepertinya kamu memang lelah." kata Syafrie sambil berlalu tanpa menoleh lagi kepadaku.


Tampaknya dia marah. Aku? Memangnya aku peduli. Kan, ... sudah aku katakan, aku akan mempersembahkan neraka untuknya. Jadi... rasakan olehmu Syafrie, bagaimana panasnya neraka buatan mantan istrimu.


...----...


Sudah seminggu aku berada di kampung halamanku. Hari pertama yang kulakukan hanya mengamuk dan mengamuk saja. Fadil sampai harus diungsikan ke rumah kak Adit karena dikhawatirkan kondisi phisiknya yang terganggu.


Bagaimana tidak? Belum dua puluh empat jam aku berada di kampung ini, Kalau Mansyah sudah mengumpulkan para tetua kampung di rumah mama. Di hadapan seluruh keluargaku, Syafrie di minta untuk mengucap kata rujuk.


Sama seperti halnya empat bulan yang lalu saat melafalkan ijab qabul, ipar kak Mansyah itu membuat lahir batinku terguncang habis. Bahkan, kali ini jauh lebih dahsyat dari yang lalu. Di penghujung kata saat Syafrie selesai mengucapkan ijab qabul, aku pingsan sangking terguncangnya.


Begitu aku sadar diri dari pingsan, aku langsung bangkit, mengamuk dan menerjang pria itu. Kuku - kukuku yang tajam mendarat habis di wajahnya. Tak tanggung - tanggung, tinjuku juga berhasil mendarat di hidungnya.


Kata kak Mansyah, aku lepas kendali. Tapi.. masa bodoh. Yang penting puas hatiku bisa menyakiti si bedebah Syafrie.


Darah mengucur dari hidungnya. Kata kak Mansyah, aku sudah tak waras lagi. Sepertinya kakakku itu memang benar. Karena dibandingkan memiliki rasa bersalah, aku lebih cenderung merasa berbunga-bunga. Sifat jahatku telah menguasai hatiku saat ini.


Atas rembukan para tetua adat dan keluargaku, maka diputuskan bahwa untuk sementara ini, Syafrie dilarang untuk muncul menampakan batang hidungnya di dekatku. Mereka menyarankan agar Syafrie menjauh dulu dari hadapanku.

__ADS_1


Aku tersenyum senang mendengar keputusan tersebut. Senyumku terbit kala menyadari bahwa untuk beberapa hari ini aku terbebaskan dari gangguan ' jin ifirid' yang selalu saja menggangu ketentramanku lahir dan batin.


Betapa aku ingat tatapan tajam Syafrie saat melihat senyumku yang penuh kemenangan karena mendengar usulan itu. Tajam tatapan itu seolah - olah mengisyaratkan bahwa " Silahkan bersenang-senang sekarang, karena besok aku akan membalasmu. " Aku bergidik membayangkan hal itu, hihihi seram....


__ADS_2