
Syafrie, marah? Akh... rasanya tidak mungkin.....Mimpi aja kali aku bisa melihat Syafrie marah. Soalnya aku tak percaya untuk ukuran pria yang hanya mau bicara di depan keluargaku dan saat membantu mengurus Fika saja dia bisa bersuara. Cuih..... Syafrie tai kucing...
Entah mengapa akhir - akhir ini kesalku kembali lagi pada ayah Fadil dan Fika itu.
Aku ingin sekali rasanya membejak - bejak pria itu. Sikapnya sangat menyebabkan sekali. Sikap irit bicara Syafrie membuat aku menjadi gemas dan kesal sendiri.
Aku cukup paham, mungkin saja dia masih merasa malu atas peristiwa yang memalukan itu. Hah.. pingsan disaat menemani istri yang sedang bertarung nyawa melahirkan buah hati memang lah sangat memalukan sekali. Lebih- lebih bagi yang sering membanggakan diri bakal siap untuk menjadi suami siaga. Bah.... sungguh keterlaluan sekali. Memangnya aku yang meminta dia pingsan? Aneh - aneh saja. Lantas, kenapa pula dia yang harus merasa kesal. Harusnya aku lah yang merasa kesal. Di suruh menjaga malah pingsan.
Namun, aku tak bisa menerima jika alasan itu yang menjadikan dia yang bersikap seolah menjauhiku. Itu bukan alasan. Bersikap seolah - olah aku ini merasa jijik padanya dan dia yang merasa muak atas diriku. Kalau boleh jujur, aku benci akan semua ini.
Dia sungguh membuat aku menyesal. Kenapa tidak sekalian saja aku merekam ekspresi Syafrie ketika pingsan dan terbangun dengan ekspresi sedih karena kesempatan buat mengazankan anaknya diambil alih oleh Kak Mansyah. Yah.. kakakku yang durjana itu serta sekaligus sahabat karib Syafrie kebetulan juga datang saat aku sedang berjuang mengeluarkan Fika. Akhirnya.. karena Syafrie yang sudah keburu pingsan, terpaksa Kak Mansyah yang mengazankan keponakannya itu karena Syafrie yang di tunggu - tunggu gak jua kunjung sadar.
Kenapa juga aku jadi merasa kesal saat mengingatnya?
Andai saja aku tahu...
" Sepertinya dia memang terlihat lebih pendiam akhir - akhir ini. Mungkin saja karena dia lagi ada masalah di tempat kerjaan kali. Atau mungkin juga terlalu lelah karena banyak kerjaan. " kata Kak Lela.
Duh.... sebel. Sebenarnya aku ingin memberitahukan Kak Lela, bahwa menantu mama itu merasa malu kepadaku karena merasa telah gagal menjadi suami siaga bagiku. Mungkin saja dia merasa jadi pecundang di hadapanku saat menghadapi kelahiran anaknya.
" Sudahlah, Kak. Aku harus menemui Mas Haris. Di antara kami ada hal yang harus kami bicarakan dan harus kami selesaikan. Tenang saja, aku juga tahu diri, kok. Mas Haris sudah menikah dengan Isna. Dan Aku juga sudah punya Syafrie dan juga anak - anak kami. Tak mungkin, kan? aku membuang mereka begitu saja. Maka dari itu, izinkan adikmu ini untuk bertemu Haris dan mengakhiri semuanya. Mengakhiri apapun yang pernah ada diantara kami berdua. Biarin si Syafrie menjaga Afika. Hari ini, kebetulan juga dia sedang off. Jadi kupikir, mumpung off, Syafrie bisa bermain sepuasnya sama Afika."
__ADS_1
" Tapi, Asma. Apakah Syafrie tahu akan semua ini? "
" Iya, dia tau, kok! " Aku sengaja berbohong pada Kak Lela. Maafkan aku, Kak. Tapi aku tak ada pilihan lain. Andai saja Syafrie tahu, tentu dia akan marah besar dan bisa - bisa mogok bicara sampai lebaran monyet.
Jika sudah demikian, ujung - ujungnya aku juga yang bakalan repot nantinya. Karena apapun yang ingin ku katakan atau apapun keinginanku, harus aku sampaikan melalui perantara Fadil. Hadeuh.. .. cape deh...
Aku sebenarnya tak tega jika dalam setiap pertengkaran kami selalu saja melibatkan Fadil yang berperan sebagai perantara. Tampaknya bocah itu juga cukup dewasa untuk mengerti dan melayangkan protes kepada kami berdua. Dengan berani dia berkata bahwa kami sudah dikaruniai oleh Tuhan mulut yang dapat digunakan untuk bicara. Kenapa tak menggunakannya sendiri untuk menyampaikan maksud dan tujuan. Bicara... dia bilang bicara... itu penting untuk komunikasi. Astaga.... Fadil bermulut pedas itu belajar dari mana ya?
" terus, Mansyah.. tau tidak..? "
" Astaga, Kak. Kakak mau aku dicincang sama Kak Mansyah? Sudah tahu dia dan Syafrie sahabatan... "
" Jadi yang tahu hanya aku dan Syafrie saja? " tanya Kak Lela memastikan.
Kak Lela menghela nafas dalam. Dia menatapku yang kini pura-pura menyibukkan diri dengan memasang kaca mata hitam dan kaos tangan.
" Ya, sudah. Pergilah. Tapi ingat, kamu itu seorang istri dan seorang ibu. Jangan macam - macam. Ingat bahwa di rumah ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus dan selalu menantikan kehadiran dirimu. Ada orang - orang yang membutuhkan dirimu. Syafrie, Fadil dan juga Fika. Di luar sana banyak godaan. Jangan mudah terpengaruh dan terbawa perasaan. Dia dan kamu sudah sama-sama terikat oleh sebuah perkawinan. Jadi kalian harus ingat akan batasan masing-masing." ceramah Kak Lela panjang lebar.
Hah... apa tadi kata Kak Lela. Terbawa perasaan? Ayolah....
Yang benar saja..?
__ADS_1
Aku hanya ingin bertemu dengan Mas Haris untuk menjelaskan perasaanku. Aku ingin mengakhiri ini semua. Itu saja, tak lebih. Namun yang kutangkap dari arah pembicaraan Kak Lela, seolah aku akan lari dengan Mas Haris yang merupakan mantan kekasihku dan meninggalkan mereka semua seperti yang pernah aku lakukan sepuluh tahun yang silam.
Astaga... sadar diri, woi. Aku ini seorang wanita yang baru saja pulih dari masa nifas. Kondisiku saja masih lemah. Jadi mana mungkin aku punya tenaga untuk jambak - jambakan sama istrinya Haris. Bisa mati aku....
...----...
Pertemuan dengan Mas Haris berlangsung tidak seperti yang aku bayangkan. Sejak pertama menginjakkan kaki di tempat ini, tak sepatah katapun terlontar dari mulutku. Semua hal yang tadi telah ku rencanakan, menguap entah kemana. Pun demikian juga halnya dengan Mas Haris.
Aku tak menyangka jika ternyata Mas Haris datang sendirian. Aku yang semula ingin mengatakan semua isi hatiku dan juga berniat ingin mengucapkan selamat tinggal pada Mas Haris, mendadak bungkam ketika sudah berada di hadapan pria bermata teduh yang masih saja memiliki tatapan yang sama seperti beberapa bulan yang lalu.
" Aku tidak jadi menikah dengan Isna. Aku membatalkan pernikahan kami tepat pada saat pembacaan ijab qabul akan dimulai." ujarnya.
Mulutku seketika ternganga lebar. Aku tak menyangka Mas Haris akan menyambut kedatanganku dengan kabar mengejutkan ini. Aku mengira kedatangan Mas Haris tanpa Isna ke tempat ini karena mengira dia merasa tak enak padaku jika melihatnya bersama dengan Isna.
" Maafkan aku, Asma. Ternyata begitu sukar untuk bisa menghilangkan bayanganmu dari hidupku. " Pria itu mengatupkan kedua tangannya sambil menunduk tak berani menatapku.
Lantas aku..... aku tak mampu lagi berucap. Kabar yang baru saja disampaikan oleh Mas Haris nyatanya tidak membuat aku gembira. Ada rasa hampa namun juga ada sedikit perasaan menyesal hadir di relung hatiku.
Aku yang mengira jika Mas Haris telah bahagia bersama dengan wanita lain yang dipilihnya. Namun ternyata aku salah. Mas Haris tak bisa mengenyahkan semua kenangan tentang kami walaupun sekeras apa dia mencoba. Aku menjadi miris, betapa dulu aku yang meratapi nasib karena merasa telah dicampakkan oleh pria itu dengan begitu saja. Ribuan chat dan telepon dariku tak ada satupun pernah dia balas. Hingga yang kudapat hanya balasan yang menyakitkan hati dan juga selembar surat undangan sialan itu.
Kiraku dengan tidak membalas semua chat dan juga teleponku, aku menganggap dia sudah melupakan diriku. Kiraku priaku itu sudah merasa bahagia hidup bersama gadis pilihannya. Nyatanya aku salah. Ternyata Mas Haris memilih untuk sendiri dan..... apa ini? Apakah itu artinya Mas Haris masih berharap kepadaku?...
__ADS_1
" Apa salahku, Asma. Mengapa kamu sekejam itu kepadaku. Kamu bukan saja telah menghancurkan hatiku. Tapi kamu juga telah menghancurkan hati wanita lain. Wanita yang terpaksa harus menelan pil pahit ketika aku terpaksa membatalkan ijab qabul pada saat hari pernikahan kami. Apa salah dia Asma? Mengapa susah sekali menghapus jejak dirimu dari hidupku? "
" Maafkan aku, Mas.. " Hanya itu kata yang mampu aku ucapkan. Aku hanya bisa terisak sambil meratapi nasib yang seolah - olah mempermainkan hidupku. Mengapa....ini harus terjadi padaku?... Andai saja aku bisa mengulang semua. Aku lebih memilih untuk tidak usah mengenal kedua orang yang sudah membuat aku harus berurai air mata dan juga memakan kue nestapa. Seandainya saja...?