
Suara dentuman musik dari band elekton yang disewa mengalun di iringi suara genit empat biduan yang berlenggang lenggok di atas panggung. Suasana meriah mengiringi pernikahan yang aku tak tahu dan tak mengenal siapa yang punya hajad.
Di barisan depan, tampak barisan pagar Ayu yang terdiri dari para gadis dan pemuda yang sudah berdandan cantik dan gagah, siap menerima para tamu undangan.
Banyak sekali tamu undangan yang hadir pada pesta pernikahan itu. Maklum saja, dari yang kudengar, orang tua si gadis adalah kepala desa. Jadi sudah sewajarnya jika banyak tamu yang datang menghadiri acara pesta tersebut.
Pandanganku menyapu pada biduan yang sedang bergoyang di atas panggung. Gerakannya yang heboh sempat menarik perhatianku. Aku terpesona, namun dengan tegas Saniah menarik tanganku dan berjalan ke arah panggung.
Jarakku dengan panggung tempat mempelai duduk tidaklah terlalu dekat. Namun, dari tempatku berdiri aku dapat melihat dengan jelas mempelai pria yang sedang tersenyum lebar di sebelah mempelai wanita sambil menerima ucapan dari tamu undangan.
Mulutku menganga tak percaya. Masih terlintas dalam ingatanku pesan bawel Syafrie sebelum berangkat pelatihan.
" *Ingat, jaga kandunganmu baik - baik, Asma! "
" Jangan lupa makan dan minum susu hamilnya..! "
" Ingat, nurut dan patuh pada mama dan bapak*.! "
" *jangan tidur larut! "
" Jangan manja sama mama dan bapak! "
" Mau oleh - oleh apa*? "
Semua pesan - pesan Syafrie masih terlintas dalam ingatanku. Aku kira saat ini dia sedang sibuk dengan berbagai soal dan latihan tentang berbagai macam onderdil dari alat berat. Ku kira seminggu ini dia pasti di sibukkan dengan hapalan tentang validator yang pastinya akan menguras isi otaknya. Dan ku kira minggu depan dia akan kembali membawakan aku oleh - oleh yang di dapatnya dari perusahaan.
Namun, pria yang masih saja tersenyum dengan manis disana itu, mampu membuat kebas dada seorang Asma.
Aku tercekat tak mampu bersuara. Leherku panas serasa ditebas pedang yang tak tajam. Nyeri dan terasa mencekik ku.
Tubuhku terasa lunglai. Seakan tiada lagi aliran darah di seluruh nadiku. Bahkan aku sudah tak mampu lagi bernapas dengan baik. Seandainya saja Saniah tidak menahan tubuhku, mungkin aku sudah roboh dan menimpa pagar pembatas panggung.
Kepalaku terasa pening. Seakan ribuan jarum menusuk ke dalam otakku membuatku tak bisa lagi berpikir. Tuhan... apakah ini cuma mimpi? Cepat bangunkan aku! aku sudah tak kuat, bathinku merintih sakit.
" Ayo kita pulang! " lirihku menarik tangan Saniah.
" Apa kamu bodoh! " Saniah menyentak kasar tanganku bersama air mata yang sudah menetes di wajahnya. " Naik! dan tarik pulang, Syafrie! " perintahnya.
Aku menggeleng lemah. Andaikan ini bukan mimpi, tolong cabut saja nyawaku. Aku tak ingin hidup lagi.
Aku mengatup mataku. Ini pasti mimpi.. ini pasti mimpi....
__ADS_1
Seseorang menyentak tanganku. Siapa lagi kalau bukan Saniah.
" Kalau kita pulang, anakmu tak lagi memiliki ayah! " Astaghfirullah... Mulut kejam Saniah bagaikan pedang menusuk hatiku.
Aku mengutuk hari ini. Aku tak akan pernah lupa hari paling sialan dalam hidupku. Hari dimana aku menyaksikan pengkhianatan seorang Syafrie.
" Asma, sadarlah! " Saniah membentakku. Aku terkesima. Apa yang telah terjadi. Aku gemetar dan lututku serasa goyah.
Saniah menggenggam erat jemariku. " Jangan takut! Cukup naik ke sana, dan seret suamimu pulang! " Saniah membujukku sambil menggenggam jari jemariku yang gemetar.
Aku seperti ditampar. Kesadaranku kembali pulih dari linglung yang sempat menyergap. Nanar aku menatap ke arah pelaminan. Air mataku kembali luruh.
" Menangis tak akan membawa suamimu kembali padamu..! " sentaknya. Ya Allah, ... mengapa rasanya sakit sekali.
" Percuma kamu menangis di sini! Ayo naik ke sana, dan seret suamimu pulang, atau kamu tidak usah lagi menjadi teman aku! "
Aku mendongak menahan air mataku yang kembali luruh.
" Pergi ke sana kataku, Asma.! Tak ada yang melihatmu di sini! " Jengkel Saniah seraya menendang dinding gedek bambu di sampingnya. Tak ada yang memperhatikan kehadiran kami. Wanita dengan busana daster dan jilbab lusuh. Tak ada orang yang peduli. Mereka sibuk bercanda ria dan berjoget dengan biduan yang sedang asyik bergoyang di atas panggung.
" Sini, kutemani! " seret Saniah berjalan menarik tanganku. Aku mengikutinya berjalan naik ke atas panggung pelaminan dengan tubuh yang sudah selemas jeli.
Tatapan mata menghujani kami berdua. Mungkin mereka pikir kami berdua sudah tak waras. Seorang wanita dengan rok dan jilbab lusuh. Sedang seorang lagi wanita hamil dengan daster dan jilbab lusuh. Tatapan meremehkan jelas terlihat di mata mereka.
Tapi bukan tatapan meremehkan mereka yang membuatku mati membeku. Di sana, di atas pelaminan, Syafrie dan kedua orang tuanya berhasil meludahi wajahku. Kedua orang tua Syafrie sedang tersenyum ramah menyambut para tamu yang menyalami mereka untuk memberikan ucapan selamat.
Jantungku seperti diremas.
Bukan lagi sakit yang kurasa, tapi perih dan pilu. Tak terukur sakitnyasakitnya, bercampur dengan rasa marah, yang berlomba - lomba dalam dada.
Sayangnya kejutan itu rupanya belum berakhir. Di sana, di deretan bangku berikutnya, duduk seseorang yang wajahnya sangat tidak asing bagiku. Bapak dan mama sedang duduk menatap sendu ke arah Syafrie.
Bapak! Mama.! Astagfirullah... apa yang terjadi? Aku menarik nafas... sesak. Ya Allah.. aku berdoa dalam hati. Jangan kau biarkan aku lemah. Berilah aku ketabahan dan kekuatan untuk menghadapi semua ini, doaku dalam hati. Namun, sayangnya..! Doaku tak di dengar. Hatiku tidak bisa sabar. Insan kemanusiaan di hatiku kalah oleh bisikan setan yang berdiri pongah membangkitkan nafsu angkara murka di hatiku. Setan di bahuku bersorak senang.
Detik berikutnya, aku sudah melesat cepat menyambar pisau dari tangan seorang ibu yang sedang memotong ketupat untuk soto.
Aku merampas pisau dari tangan ibu itu. Karena saat ini yang kubutuhkan hanya pisau... hanya pisau ini.
Jeritan kaget ibu itu mengundang perhatian kedua mempelai. Wajah keduanya langsung menegang. Sedangkan aku tersenyum sinis ke arah keduanya.
" Bahagia, Syafrie? "
__ADS_1
Tunggu saja. Akan kubuat dirimu sama merananya dengan aku. Aku bersumpah akan kuwarnai pernikahan Syafrie dan wanita itu dengan warna darah...
...----...
Siapa yang menyangka, aku terbangun di sebuah ruangan rumah sakit dengan jarum infus yang menancap di punggung tanganku.
Hal pertama yang kuingat setelah sadar dari pingsan adalah bahwa aku mengancam Syafrie dan mempelai wanitanya di depan umum dengan sebilah pisau. Aku tidak main-main, karena dapat kulihat ada banyak noda darah di bajuku. Aku cukup puas menghadiahkan Syafrie sebuah hadiah yang mungkin sangat berkesan bagi Syafrie dan mempelai wanitanya itu. Dalam hati aku berdoa semoga Syafrie dan mempelai wanitanya itu di dera rasa bersalah yang menyeret keduanya sampai membusuk di neraka.Mungkin hal ini belum sebanding dengan rasa sakit yang kualami, tapi lumayanlah buat hari ini, sampai keadaanku pulih kembali.
" Aku akan adil pada kalian berdua..! "
Bah, kata - kata apa pula itu. Omong kosong apa yang dia coba lakukan. Bagaimana bisa dia berbuat adil, sementara saat ini, kebutuhanku saja dia tak paham. Tanpa disadari olehnya. Syafrie telah berbuat tidak adil padaku. DIa sudah berbuat dholim dengan salah satu di antara kami.
Aku ingin mengutuk Syafrie, namun aku tak memiliki dayaku. Tubuhku hanya bisa pasrah, tanpa mampu aku gerakkan. Kesakitanku, membawaku pada luka batinku yang lebih parah dari pada luka tikaman pisau.
Beberapa menit yang lalu, aku baru saja berdebat dengan si Pengkhianat itu. Memintanya untuk melenyapkan diri dari hadapanku. Namun, ternyata hal itu sama sulitnya dengan memintanya untuk tidak menikahi wanita itu.
Aku tak habis pikir dengan semua ulah Syafrie. Setelah prahara yang dia ciptakan pada diriku, dia masih tak tahu malu masih berani menampakkan dirinya di hadapanku. Maka rasakanlah kejamnya mulutku yang sudah terlanjur membenci.
Aku lupa, Syafrie sama keras kepalanya denganku. Betapapun runcingnya lidah Kak Darre, lelaki itu tak bergeming.
Syafrie memang seperti itu. Selama kurang lebih setahun aku hidup bersamanya. Aku mengenal dengan baik siapa Syafrie. Jika dia merasa benar, maka dia akan tetap bertahan. Sayangnya, keras kepalanya saat ini berada di waktu yang salah.
Bentakan dan usiranku disertai dengan ekspresi jijikku, membuat Syafrie akhirnya mengalah dan membiarkanku tenang terlebih dahulu. Sebelum berlalu meninggalkan diriku, dia memberiku tatapan mata yang sulit untuk diartikan.
Aku melirik bayangannya yang menghilang di balik pintu ruangan tempat aku di rawat. Ekspresi yang terpancar dari wajahnya sungguh membuat aku heran. Tak ada ekspresi malu atau menyesal. Yang kutangkap jelas dari tatapan matanya hanyalah amarah.
Dan lucunya, kedatangannya adalah untuk menghakimi tindakan yang kulakukan. Bedebah, Syafrie.
" Sekarang, tolong jelaskan padaku, Bapak dimana sekarang? " Aku bertanya pada kakak - kakakku. Sepintas lalu, saat aku masih belum membuka mata, aku sempat mendengar kata 'Bapak' dan juga 'kehilangan', dari mulut Kak Lela.
" Istirahatlah, dek. Kamu belum benar-benar pulih! " Kak Mansyah berkata sambil mengelus sayang kepalaku.
Namun keras kepalaku rupanya masih terus berlanjut. " Bapak dimana? katakan baru aku istirahat. "
Semua yang ada di ruangan itu saling pandang. Kak Mansyah memandang ke arah mama yang kemudian mengangguk seakan memberi isyarat persetujuan.
Kakak perempuanku itu tampaknya belum siap untuk mengatakan apapun padaku. Belum lagi dia berucap, butiran air mata sudah berjatuhan di pipinya.
" Kuatkan hatimu, dek. Bapak telah meninggal. " Kak Darre menggenggam tanganku dengan air mata yang terlihat jatuh di sudut matanya.
Aku seperti kejatuhan bom atom. Begitu telak menghantam diriku. Selanjutnya, aku sudah tak sadarkan diri.
__ADS_1