PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 66


__ADS_3

Asma dilawan. Aku tak peduli lagi dengan perutku yang besar. Sambil tersenyum sinis.. aku menerkam wanita itu dengan sekali terjangan.


Kasihan sekali, wanita itu tak tahu bahwa hari ini adalah hari yang terburuk dalam hidupku. Kekasihku menikah dengan wanita lain. Jadi dengan membayangkan Meli, wanita simpanan Jubair itu sebagai Isna, calon istri Mas Haris, aku mengamuk dan menghajar habis - habisan wanita itu.


Tarik - menarik dan cakar - mencakar, saling menjambak dan saling menendang itu yang terjadi antara aku dan wanita sundal itu. Dia mengandalkan kukunya - kukunya yang panjang mencoba menyerang pada bagian wajah. Tentu saja aku tak membiarkan dirinya merusak wajahku. Namun, yang paling aku lindungi adalah perutku. Sebenarnya kalau boleh dikata, mana boleh dia menyerang wanita hamil terutama di daerah perut. Namun bagi Meli yang sudah terpancing emosi mana hirau dia dengan hal itu.


Sebenarnya aku sendiri juga heran. Yang punya suami saja tidak begitu peduli pada suaminya yang membawa perempuan lain, tapi mengapa aku yang sewot dan geram. Terlebih saat wanita itu sepertinya juga membela wanita itu. Kemarahan seorang Asma semakin besar saja.


Aku tak tahu sudah berapa lama perkelahian antara aku dan istri simpanan Jubair itu berlangsung. Berapa lama kami saling menyakiti satu sama lain. Aku tak peduli bagian mana saja sudah dari tubuhku yang memar dan lebam. Aku hanya fokus untuk melindungi perutku saja. Biarlah yang lain luka atau memar, asalkan jangan perutku. Maka jadilah aku fokus melindungi diri dan membalas pukulan wanita sundal itu hingga... seseorang menarik tubuhku dan yang lain menarik tubuh Meli, wanita sundal itu. Perkelahian itupun terhenti....


Jilbabku terlepas entah kemana. Rambut panjangku yang bergelombang tak karu - karuan lagi modelnya. Kulit kepalaku juga rasanya perih sekali. Mungkin terkena kuku - kuku wanita sundal itu. Belum lagi rasa sakit pada pipiku yang kena cakaran kuku ' kuntilanak' itu dan sudut bibirku yang pecah karena tadi sempat terkena tinjuan dari Meli.


Aku akhirnya diamankan ke rumah Ammak Barre keluargaku. Ammak Barre datang dan mengoleskan yodium ke bagian tubuhku yang mengalami luka. Dia tak hentinya menggeleng terus mengoleskan Yodium ke lengan dan pipiku yang terkena cakaran kuku Meli. Sedangkan Saniah, perempuan sabar berhijab itu tak hentinya mengoceh di handphonenya sambil berdiri membelakangi diriku. Dia enggan menatapku. Mungkin lagi marah kali. Biarin.. siapa suruh mau jadi pecundang sama suaminya.


Aku tak tahu, apa yang sudah aku lakukan benar atau salah. Namun aku rasanya lega sekali. Emosi yang sudah lama terpendam dan belum sempat ku keluarkan akhirnya tertumpahkan sudah walaupun bukan pada orang yang tepat.


Semoga saja, setelah ini aku bisa kembali menjalani hari - hariku dengan normal. Apa lagi yang ku harapkan? Semua sudah kudapatkan. Syafrie sudah meminta maaf dengan setulus hati dan menebus semua kesalahannya dengan sungguh - sungguh. Marina dan bapaknya sudah mendapatkan karma Allah dan juga kena batunya dariku. Dan Jubair sudah mendapatkan pelajaran dariku.


Tinggallah aku yang harus bisa memaafkan dan menerima diri sendiri. Serta meminta maaf pada mama dan juga saudara - saudara ku.


Aku sangat bersalah pada mereka semua. Namun, aku juga merasa bahagia sekarang. Karena menyadari bahwa betapa masih beruntungnya aku karena ternyata cinta Syafrie tak pernah hilang untukku walau ternodai oleh pengkhianatan nya.


Semoga setelah ini, tak ada lagi badai yang menerpa rumah tangga kami.


...-------...


Saniah sangat marah padaku. Saking marahnya dia sampai tak mau bicara padaku.

__ADS_1


" Kamu benar - benar keterlaluan, Asma! " katanya setelah beberapa lama kami saling berdiam diri di ruang tamu rumah Ammak Barre.


Saniah duduk di depanku. Aku bergeming, tak peduli. Bodo amat..... pikirku.


Aku pun lantas mengambil teh buatan Ammak Barre dan menyesapnya. Menikmati harum dan manis teh tersebut lebih nikmat daripada mendengar Saniah mengeluh tentang sikapku pada istri simpanan Jubair.


Merasa tak kutanggapi, Saniah kembali melanjutkan omelannya sambil tangannya bersedekap di dada. Terlihat sekali bahwa sahabatku itu sangat kesal sekali padaku.


" Aku heran sama kamu, apa sih yang ada di otakmu. Mengapa bisa - bisanya kamu melakukan semua itu? "


" Apa lagi? Aku sedang memberi mereka pelajaran. Biar suamimu yang banci itu sadar diri. Biar pelakor itu kena batunya. Mengerti, kamu? " jawabku dengan nada tinggi. Dasar Asma,... sudah tahu salah, masih juga nyolot.... Mana mungkin aku merasa bersalah. Aku rasa aku benar karena sudah memberi pelajaran kepada kedua kunyuk Marangkayu tersebut.


" Puas, kamu? Senang, hah? " sengit Saniah.


Aku tersenyum sinis setengah mengejek menatap ke arah Saniah. " Lumayan..! Free Angry Therapist.... hahaha. " jawabku dibarengi dengan tawa yang meledak. Puas.... aku kembali menyesap teh panas buatan Ammak Barre.


" Kenapa? Sakit..? Bisa juga kamu merasa sakit? Kirain.... "


" Ishh... kamu itu kenapa sih, Niah? Aku sudah menghajar gundik suamimu, tapi kenapa malah kesal padaku? "


" Masih nanya.... Aku heran sama kamu, Asma. Di otakmu itu hanya ada balas dendam saja. Coba pikir, Asma. Bagaimana tadi kalau terjadi sesuatu dengan kamu? Bayimu? Apa kamu kira setelah itu aku masih punya nyali dan muka untuk bertemu Syafrie lagi? ucap Saniah dengan berapi-api. Saking emosinya dia hingga tangannya ikut juga menampar meja di depan kami.


" Kamu juga sudah menghajar wanita itu sampai berdarah-darah, Asma. Bagaimana jika mereka melaporkan kamu ke polisi dengan tuduhan penganiayaan? "


" Ya, tinggal laporkan balik, lah. Dengan tuduhan perzinahan. Selesai...! Kan, ada undang - undangnya!"


" Astaga, Asma..! Pengen rasanya kugilas mulutmu itu dengan cobek. Asal nyeblak aja...! " Makin gencar omelan Saniah padaku. Sudah mirip emak - emak yang dompetnya habis diporotin sama anak. Dia membuka jilbabnya dengan kasar dan memperbaiki gelungan rambutnya lalu kembali memasang jilbabnya dengan cepat.

__ADS_1


" Gerah aku kalau ngomong sama kamu. Bikin panas suasana. Nggak ada mau kalah sama sekali. Sudah salah, masih ngegas... "


" Kayak setan saja... "


" Asma..! Kamu kira aku becanda. Dengar, ya. Aku sedang marah sama kamu Asmawati Basrie..! "


" Kamu itu kenapa, sih Saniah? Takut sama Jubair? Takut sama suamimu yang ' banci' itu?


Wanita itu memandangku sesaat, lalu membuang wajah ke arah lain.


Aku menatap heran ke arah wanita itu. Aku hanya mencoba menjadi sahabatnya. Lalu apakah aku salah dengan menghajar wanita simpanan suaminya itu sampai babak belur? Aku bukan wanita baik dan sholehah seperti Saniah. Tapi aku tak rela jika harga diri sahabatku terus diinjak-injak oleh suami dan juga gundiknya itu. Aku hanya mewakili Saniah untuk memberi peringatan kepada mereka. Lagi pula siapa yang mau tinggal diam melihat sahabatnya disakiti dan direndahkan sedemikian oleh suaminya? Tapi mengapa sekarang malah Saniah yang marah padaku?


" Asma, aku marah itu bukan tanpa alasan. Selain apa yang kamu lakukan tadi berbahaya untuk dirimu, kamu juga sudah membuat malu kak Jubair." Nah.... apa kubilang. Dia masih saja membela si durjana Jubair itu. Terbuat dari apa hati sahabatku itu?


" Astaga..... lelaki seperti itu? Najis..... masih juga kamu belain, Niah..! " bentakku dengan suara tinggi.


" Asma..! " balas Saniah tak kalah sengit.


" Apa? Laki-laki bajingan seperti itu masih juga kamu harapkan. Bahkan setelah melihat dia asyik bermanis manja dengan perempuan lain, kamu masih ingin bersamanya? Di mana otakmu? " Aku berteriak marah padanya.


" Jelas aku ingin bersamanya, dia suamiku. " jawabnya tak kalah kerasnya dengan suaraku.


Jawaban Saniah membuat aku melongo takjub. Wanita di hadapanku ini benar-benar sabar atau tolol? Bagaimana bisa dengan entengnya dia mengatakan bahwa dia masih ingin bersama laki-laki itu padahal sudah di khianati dan disakiti. Aku rasa otaknya harus diperiksa. Mungkin saja karena terlalu lama tak pernah disentuh pria, dia menjadi gila. Masih sudi dia mengklaim bahwa Jubair itu suaminya.


" Astaga, Niah... makan tuh, Jubair. Kalau aku jadi kamu, ogah. Aku jijik melihat laki - laki banci itu."


" Asma, kamu itu menghina lakiku. Teganya kamu ngomong begitu sama orang yang sudah mengucapkan ijab qabul di hadapan bapakku. Dia sudah banyak berkorban buat aku dan keluargaku, Asma. " ada rembesan bening di sudut matanya.

__ADS_1


Aku terkesima. Astaga Saniah..... Aku tak bisa berkata-kata lagi. Kupeluk sahabatku itu dengan perasaan yang tak karuan. " Maafkan aku, aku hanya tak habis pikir, bagaiamana bisa kamu masih mencintai pria yang tidak pernah menghargaimu sebagai istri? " isakku antara sedih dan kesal. Aku sedih dengan nasib kehidupan pernikahan sahabatku dan kesal karena aku tak bisa berbuat apa-apa karena sahabatku itu masih saja melindungi suaminya itu.


__ADS_2