
Pagi ini, aku terbangun dengan menatap hamparan kosong ke arah luar jendela kamarku. Mama datang dan memeluk diriku. " Sabar, nak. Allah sedang menguji kita. Allah ingin mengangkat derajatmu, derajat kita. Bersabarlah ya, sayang! " bisiknya seraya mengelus kepalaku. Air mataku menetes di kedua pipiku. Tidak... ini bukan ujian bagiku. Jika ini ujian dari Tuhan, mengapa rasanya sakit sekali. Aku kehilangan bapak pada saat aku juga kehilangan suami. Rasanya sangat sakit.
Namun, bukan hal itu saja yang menyakitiku, sebuah kenyataan lain menjadi sebuah tamparan yang menyadarkan ku bahwa aku telah selesai di dunia ini.
" Rambutnya hitam, hidungnya mancung, dan tubuhnya kecil. Tapi aku tak tahu bagaimana matanya. Karena sejak lahir sudah tertutup. Anakmu sangat mirip sekali dengan Syafrie. Benar - benar duplikatnya Syafrie. " Itu kata Saniah pertama kali saat aku bertanya mengapa ada jahitan yang terasa sakit di bawah pusatku. Saat itu hanya ada aku dan Saniah saja.
Aku tak tahu, Saniah membicarakan masalah apa. " Kamu tahu, dibalik semua kejadian yang kita alami, terselip hikmah yang bisa kita ambil. Siapa tahu Allah sedang menguji kita untuk menaikan derajat kita. Umur dan jodoh manusia rahasia Allah. Ada yang datang, lalu ada juga yang pergi. Aku harap kamu bisa bersabar menghadapi semua ini. " Saniah menatap lekat ke dalam mataku.
Aku mengangguk membenarkan ucapannya. " Memang, sepertinya Allah sedang mengangkat derajatku, Niah."
" Dia akan menunggu dan menyambutmu kelak di pintu surga." lanjutnya.
" Siapa? Bapak? " Aku bertanya padanya karena sepertinya aku sudah mulai faham kemana arah pembicaraannya.
Saniah menggeleng menjawab pertanyaanku. " Yang lain lagi, Asma." jawabnya.
" Kalau bukan Bapak, siapa? Syafrie? Aku berdoa kalau Syafrie, Alhamdulillah." kataku.
" Hus, tak boleh begitu, Asma. Gitu - gitu, dia suamimu." Mata Saniah melotot mendengar ucapanku.
Aku balas melotot. "Semoga doaku terkabulkan." harapanku.
" Asma, kamu baru saja melewati gerbang kematian, jadi tak baik jika mendoakan keburukan untuk orang lain." Sahabatku yang baik itu mengingatkan diriku.
" Lalu siapa, dong? Marina? Alhamdulillah lagi." ketusku kembali. " Kalau dia nggak bakalan nunggu aku di surga, neraka iya, kalee. "
" Asma!! "
" Apa?! Kamu mau membelanya? " Emosiku naik ketika mendengar sahabatku lebih membela wanita yang menjadi musuh bebuyutanku itu.
" Bukan begitu, Asma." Saniah menggenggam jemariku dengan erat.
" Lalu apa? Kenapa aku tidak boleh mengatai keduanya? Sahabatku itu menggeleng. " Kenapa..? Ayo jawab..!" desakku. Lepas sudah kendaliku.
" Kamu baru sadar, istirahat, ya." kata Saniah. Dia mengambil bantal lalu menepuk-nepuk sambil memperbaiki posisi selimut yang kini sudah merosot di kakiku.
Aku membuang muka jauh ke luar sana. Berharap sesak di dadaku bisa terlempar barang sedikit. " Niah, aku sangat membenci Syafrie dan Marina. " kataku pada Saniah.
" Iya, aku tahu. Sekarang tidurlah..! " kata Saniah. Dia merangkul dan memeluk bahuku untuk menenangkan diriku.
Aku tersenyum. Walaupun sedih namun aku bersyukur memiliki sahabat seperti dirinya. Dia selalu ada untuk mendukung dan menjagaku. Melindungi diriku dan membantuku bangun disaat aku jatuh dan terpuruk seperti saat ini. Dia menyayangi diriku tanpa batas.
" Jadi, kalau bukan mereka, siapa, Niah? " aku mengurai pelukan.
" Siapa? " tanyanya dengan kening berkerut.
" Yang menungguku di pintu syurga. " kataku lagi.
" Aku jadi ragu untuk memberitahukan hal ini padamu. Sepertinya ini bukan saat yang tepat. Dan lagi pula, bukanlah hakku untuk memberitahukan hal ini padamu."
" Katakanlah! "
" Tapi, Asma! " ujarnya ragu.
" Saniah..! Kau temanku, kan? "
__ADS_1
" Bayimu berpulang ke Rahmatullah, Asma. "
Itulah hal yang terakhir aku dengar dari Saniah sebelum aku akhirnya kembali pingsan, seperti sebelumnya. Khabar dari Saniah, bagaikan hantaman palu godam yang meremukkan hatiku yang masih luka dan berdarah, kini akhirnya hancur tak bersisa.
Hilang sudah harapanku untuk memiliki bayi tampan dari Syafrie yang ingin ku banggakan untuk Si Pemuja Syafrie. Janin yang dengan susah payah ku rawat dan ku jaga, kini juga pergi meninggalkan aku seperti Bapak. Nyawaku hilang meninggalkan raga. Aku linglung, tak tahu lagi harus berbuat apa.
Aku ingin tak mempercayai semua ini. Namun perihnya bekas jahitan di bawah perutku, tak bisa lagi membohongiku.
Siapa yang harus disalahkan? Syafrie? atau Marina? atau mungkin juga diriku sendiri.
Aku tahu betapa kotornya diri ini. Sangat hina hingga tak sanggup rasanya berkaca.
Namun, sekali Dia memberi cobaan padaku, rasanya teramat sangat menyakitkan. Hingga untuk hidup saja rasanya aku enggan.
Andai saja kehilangan Syafrie bukan karena Marina, mungkin rasanya tak sesakit ini. Namun, kehilangan yang kudapat ini adalah karena sebuah pengkhianatan.
Andai Syafrie tak terjerat masa lalu dengan Marina hingga berakhir dengan mengkhianati ku. Andai saja Saniah tak datang dan memberitahukan perihal pernikahan Syafrie dengan wanita itu. Andai saja aku tak menuruti nafsu amarahku, mungkin saja anakku masih hidup sampai sekarang.
Ada rasa marah di hatiku pada Tuhan pemilik takdir ini. Mengapa bukan Syafrie saja pemilik kemalangan semua ini. Hingga aku tak perlu merasakan kehilangan beruntun dalam hidupku. Aku kehilangan Bapak, lalu juga harus kehilangan anakku. Mengapa bukan mereka saja yang merasakan kehilangan.
Mereka mengatakan aku stress dan gila karena aku sering melamun, kemudian tiba-tiba tertawa sendiri. Lalu kemudian menangis dan menjerit-jerit. Kadang - kadang aku marah dan mengamuk tak terkendali.
Namun, aku bersyukur. Setidaknya dengan mengalami stress, aku bisa lupa sejenak siapa aku dan apa yang sedang terjadi padaku. Hingga aku tak perlu lagi menelan butir-butir pil kepahitan hidup.
" Aku akan berlaku adil pada kalian! "
" Tabahkan hatimu, dek. Bapak telah berpulang? "
" Pria bisa menikah lagi tanpa izin dari Sang istri "
" Pulang.. maka anakkmu tak memiliki ayah"
Kalimat - kalimat itu saja yang selalu menghantuiku selama ini.
Aku menderita stress selama lima bulan dan harus menjalani perawatan di rumah sakit jiwa akibat depresi yang aku alami.
Sungguh huruf hara yang Syafrie timbulkan akibat pengkhianatannya sampai membuatku harus menjalani physiotherapy dan harus mengkonsumsi obat-obatan anti depresan selama berbulan-bulan.
Ini adalah minggu terakhir aku di rumah sakit jiwa ini. Dokter rumah sakit jiwa yang ditemui Kak Mansyah mengatakan bahwa aku mengalami kemajuan pesat. Hingga mereka memutuskan untuk memulangkan aku dan melanjutkan pengobatanku di rumah. Namun dengan syarat aku harus rutin mengkonsumsi obat - obatan.
" Nak.! " Mama tersenyum dan memegang lenganku. " Ada Syafrie di depan. "
Sekuat tenaga aku berjuang menahan diri untuk tidak kembali mengamuk saat mendengar mama kembali menyebut nama itu.
" Asma ngantuk, ma." jawabku enggan.
Mama yang tidak menangkap keengganan di mataku, menghela nafas. " Tapi Syafrie sudah menunggu lama, Asma."
Sejujurnya aku tak peduli mau berapa lama dia menunggu. Seribu tahun pun aku tak peduli.
" Mau ditemui di mana? Di sini atau di luar? "tanya mama lagi. Sebenarnya aku sangat menghormati mama. Namun kali ini aku terpaksa menolak untuk patuh padanya.
" Apa lagi sih ma, yang harus dibicarakan. Asma merasa semuanya sudah jelas. Asma tidak mau lagi bertemu Syafrie."
" Tapi dia suamimu, nak. Berdosa hukumnya mengacuhkan suami. Mama gak mau anak mama menjadi istri yang durhaka. Keluar dan temui lah dia. Ada yang ingin dia katakan dan perlihatkan padamu."
__ADS_1
Istri yang durhaka? Siapa yang lebih durhaka. Aku ingin tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan mama.
Lalu apa yang dilakukan Syafrie? Mengapa dia tidak dibilang suami durhaka?
" Maaf, ma. Asma lelah." tolakku halus.
Kemudian mama berlalu dari hadapanku. Wanita yang melahirkan aku ke dunia itu meninggalkan aku sendiri setelah sebelumnya mengelus kepalaku.
Hening. Hanya suara angin dan napasku saja yang kudengar.
" Pulang, kataku. Apa kau tak paham juga, Asma sudah tak mau menemuimu lagi. Apa belum puas kau menyakiti hati adikku? Suara kak Darre menggema di seluruh rumah.
"..... "
" Urus saja sendiri. Itu hukuman yang pantas untukmu."
"... "
" Mengapa harus adikku. Istrimu kan bukan hanya adikku? Apa kamu lupa, bahwa kamu punya istri selain adikku itu. lagi pula adikku kini lagi sakit. Suruh saja istri barumu yang mengurus. Itu sudah resikonya punya suami yang sudah beristri. Pulang saja sana. Aku tak mau dia histeris saat melihat kamu. "
" Darre, apa pantas kamu ngomong seperti itu pada adik iparmu? " teriak Kak Mansyah.
" Tapi, kak. Dia..! " Kak Darre memotong ucapan Kak Mansyah, dia tak terima Kak Mansyah membela laki-laki itu.
" Sudah sana, ke dapur. Ini urusan laki-laki.!
Tak ada lagi suara setelah itu. Aku yakin, pasti Kak Darre sudah berada di dapur.
" .... "
" Iya, aku tahu Asma memang dibutuhkan di sana. Tapi aku harap kamu bisa bersabar sedikit lagi. Aku mohon berilah kami waktu sekitar seminggu lagi untuk mempersiapkan Asma. Aku berjanji, aku sendiri yang akan mengantarkan adikku itu ke sana." ujar Kak Mansyah.
Aku hampir tak mempercayai pendengaran ku sendiri. Kak Mansyah berkata bahwa dia akan mengantarku ke sana.
Aku memejamkan mataku. Aku tak mau mendengar lebih banyak lagi. Namun satu hal yang aku yakini adalah keluarga ku akan menyerahkan aku kembali kepada Syafrie.
Tidak... Aku tak sudi kembali lagi pada lelaki durjana itu. Aku harus berbuat sesuatu.
Sore harinya, aku pergi mendatangi Saniah. Aku menceritakan semua yang aku dengar dari Kak Mansyah. Dan kembali aku bersyukur memiliki sahabat seperti dia. Berkat ide dan bantuannya, aku berhasil kabur dari Syafrie dan keluarga ku.
...----...
Awal - awal masa pelarian aku lebih fokus untuk bersembunyi dari kejaran Syafrie dan keluargaku.Tak pernah terpikirkan olehku untuk bekerja agar bisa bertahan hidup.Yang ada dalam pikiranku adalah bagaimana aku bisa menjauh dari Syafrie dan juga keluargaku.
Dengan bekal uang yang diberikan oleh Saniah. Aku mengontrak sebuah kamar kecil di pinggiran kota. Tapi itu sudah lebih baik daripada kamarku di desa yang tak lebih dari ruangan yang dibatasi oleh kayu bekas sibitan sebagai dinding pembatas.
Namun takdir berkata lain. Aku bersyukur bahwa bekal ijazah SMA yang kubawa, telah membantuku untuk bisa mendapatkan pekerjaan.
Aku bekerja apa saja untuk mencukupi kebutuhan hidupku. Kerja apa saja asal halal. Yang penting aku tidak menjual kehormatan ku atau melanggar norma agama.
Sampai pada akhirnya, aku memberanikan diri untuk mendaftar kuliah di salah satu universitas swasta di samarinda. Alhamdulillah, aku keterima.
Empat tahun kemudian, aku lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Berbekal ijazah sarjana dan ilmu yang ku peroleh, aku bisa memperoleh pekerjaan yang layak dan bertemu dengan calon suami masa depanku, Mas Haris.
Sayangnya, kepulanganku kembali ke desa ini adalah keputusan yang salah.
__ADS_1
Aku terjebak kembali dalam pernikahan dan drama rumah tangga Syafrie yang sudah aku tinggalkan sepuluh tahun yang lalu.
Aku sungguh sangat menyesal dan mengutuk pertemuan ku kembali dengan Syafrie.