PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 61


__ADS_3

Aku mengangkat bahu tak peduli. Lalu kembali meneruskan perjalanan menuju ke rumah. Tiba-tiba saja, Syafrie sudah berada di sebelahku dan sebelah tangannya menggamit jemariku saat sebelah kakiku sudah menapak di halaman rumah. Apa maksudnya...?


Di depan teras telah berdiri tiga orang kakakku yang semuanya memandang ke arah kami dengan pandangan yang sulit di artikan.


" Masya Allah, kalian dari mana saja. Mengapa tidak pulang semalaman? tanya kak Darre ketika kami sudah menginjakkan kaki di depan teras.


Aku tak menjawab pertanyaan kak Darre, tapi Syafri membimbing tanganku berjalan ke samping teras. Pria itu mengambil air dari dalam drum yang berada di samping dengan gayung dan mulai mencuci kakiku. Ada yang aneh berdesir di hatiku saat memperhatikan dia menggosok kakiku yang penuh lumpur akibat jalanan becek yang kami lalui tadi dengan telaten hingga bersih lalu kemudian membersihkan kakinya.


" Sudah bersih, masuklah. Mandilah, Asma. Setelah itu, istirahat." katanya setelah selesai mengelap kakiku dengan kain kering. Aku masuk ke dalam rumah tanpa menyapa ketiga orang kakakku itu.


" Kalian habis dari mana, Syafrie? " tanya Kak Lela.


" Eh... anu kak, itu.... si Asma, tadi mengajakku jalan - jalan subuh. Katanya sekalian olahraga, iya... olahraga... " kata Syafrie sambil menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal.


" Kalian habis jalan - jalan subuh?" kata Kak Mansyah seperti tak percaya. " Apa banteng liarmu sudah jinak? "


" Belum sih, Syah. " Syafrie tertawa sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Kak Mansyah.


" Halahh....payah kamu, Syaf..!" gelaknya sambil memegangi perut. " Pepet terus, Syaf... " katanya seraya berjalan menuju ke dapur. Di dapur dia berhadapan denganku yang sudah memasang wajah bengis siap menerkam kakak lelaki pertamaku itu.


Senyumnya langsung hilang dari wajahnya berganti dengan wajah yang dipasang pura-pura serius. Lalu duduk di depan meja makan.


" Syaf, ayo sarapan. Habis 'olahraga' pagi pasti lapar. Ada nasi goreng ikan asin buatan Kak Darre.. "

__ADS_1


" Iya, Syah. Duluan saja, nanti aku sama Asma menyusul.... ".


Astaga..... pria itu, baru saja kubiarkan menyentuhku sekali, belagak macam aku sudah mau saja sama dia. Tatapanku tajam menghujam Syafrie. Aku masuk ke kamar mandi dengan membanting pintu. Kak Mansyah tertawa terbahak - bahak sambil bersiul mengejek. Aku benar - benar jengkel kepada kedua orang sahabat seiras itu.


Selesai mandi aku melenggang masuk ke dalam kamar. Namun baru saja aku selesai memasang baju ganti, seseorang menubruk pinggangku dan membenamkan wajahnya di lembah daster panjangku.


" Aku tadi mencari, mamah. Aku kira mamah pergi lagi.. " isak pria kecil itu di pinggangku. Dia mengeratkan pelukannya di pinggangku.


" Fadil akan jadi anak yang baik. Fadil janji nggak akan nakal lagi. Demi Allah, mamah... jangan tinggalkan Fadil. Mamah jangan kemana-mana lagi... Jangan tinggalkan Fadil dan ayah lagi, Mah.. "


Anak itu melompat- lompat dan memeluk pinggangku erat. Air matanya mengajak sungai membasahi wajahnya yang bak pinang di belah dua dengan Syafrie.


" Mah, mamah.... mamah nggak tahu, ya. Baik.. Fadil akan kasih tahu mamah. Fadil tuh.. ada di dunia ini bukan kehendak Fadil, mah. Tapi mamah dan Ayah yang sudah menghadirkan Fadil ke dunia ini. Jadi.. jika pun ada perselisihan mamah dan Ayah, tolong jangan libatkan Fadil.. Fadil baru berusia sepuluh tahun, mah. Dan perpisahan panjang kalian membuat Fadil trauma. Ya, Tuhan... bagaimana cara menyadarkan mamah bahwa aku menderita tanpa mamah.. " bocah itu melepaskan rangkulannya di pinggangku dan memegangi kepalanya sambil menjambak rambutnya. Lalu berjongkok membelakangi aku sambil menangis


" Apakah mamah tidak tahu betapa besar pengorbanan ayah selama ini. Ayah sudah berkorban mengasuh dan membesarkan aku. Apa mamah tidak tahu jika selama ini mamah sudah melimpahkan tanggung jawab mamah pada ayah. Dan sekarang aku ingin mamah saja yang mengurus dan membesarkan aku. Apa mamah tidak tahu..... Ayah itu lelah dan capek. " kata kakak dari bayi yang ada di dalam perutku sambil menatap frustasi kepadaku.


Aku merangkul tubuh putraku ke dalam pelukanku dengan perasaan yang tak bisa kulukiskan. Tak bisa ku katakan bagaimana rasanya hatiku yang hancur berkeping - keping seperti di tusuk oleh ribuan pedang dari kata - kata putraku. Dadaku kebas dengan jantung yang terasa sakit hingga sampai ke tenggorokan.


" Mamah, ayah itu lelah mengurus Fadil. Tak bisakah nanti.. mamah saja yang mengurus Fadil? " tanya putra Syafrie itu masih dalam pelukanku. Matanya yang bengkak karena habis menangis menatapku.


Aku tersenyum mengiyakan. Bocah itu tersenyum senang lalu kembali menyusupkan wajahnya ke dalam pelukanku.


" Mamah, Fadil janji ayah tidak akan menyakiti mamah lagi. Hidup Fadil sebagai jaminannya. Mamah percaya, kan? " Aku kembali mengganguk.

__ADS_1


" Janji, ya mah. Mamah jangan pergi pergi lagi."


" Iya, mamah janji. " jawabku.


" Janji, mamah. Nanti Fadil akan menuntut mamah di hadapan Allah, jika mamah tidak menepati janji." bocah itu mengancamku.


" Janji.. " hanya itu kata yang sanggup ku ucapkan. Aku menangis sesugukan meratapi penyesalanku. Seandainya bisa di gambarkan, air mata ratapanku mungkin akan membanjiri satu kampung karena penyesalan yang begitu mendalam.


Penyesalan karena terlambat menyadari apa keinginan putraku. Putraku yang baru kutemui kembali setelah sepuluh tahun. Putraku yang tampan namun ku sia - siakan keberadaannya, meskipun setelah aku mengetahui keberadaannya.


Dulu, aku berpikir dengan mengabaikan Fadil akan sangat menyakiti Syafrie. Maka, aku menggunakan cara itu untuk membalaskan dendamku padanya. Bagiku, Fadil adalah senjataku untuk menyakiti dan menghancurkan Syafrie sampai sehancur - hancurnya.


Aku lupa, bahwa Fadil yang masih kecil itu tak tahu apa - apa. Dia tak bersalah sedikitpun atas semuanya ini. Aku telah berlaku salah dengan melibatkan Fadil dalam urusan balas dendamku pada Syafrie.


Aku lupa aturan dalam pernikahan bahwa tak ada satupun aturan di dunia ini yang membenarkan tindakanku untuk menggunakan Fadil sebagai senjata balas dendamku pada Syafrie yang tak berkesudahan.


Air mataku meluruh membasahi gamisku. Aku sungguh sangat menyesali khilaf yang ku sengaja. Khilaf yang membuat seorang putraku sampai sedemikian menderita hingga trauma. Aku semakin erat memeluk putraku. Memeluknya dengan segenap penyesalanku.


Di depan pintu kamarku, mama berdiri mematung sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wanita yang telah melahirkanku ke dunia ini berusaha untuk menahan isaknya agar tak terdengar. Sementara Kak Mansyah, Kak Lela, dan kak Darre menatap kami dengan tatapan sendu.


Aku tak tahu, apakah Syafrie juga menonton drama ibu dan anak ini. Karena posisiku yang membelakangi pintu.


Sudahlah.... aku sungguh tak peduli. Aku juga tak peduli jika nanti dia akan mengejek atau mencibirku. Yang pastinya aku ingin membersihkan hatiku dan memperbaiki diri demi kebahagiaan putraku yang telah aku sia. - siakan selama ini.

__ADS_1


Aku berjanji, mulai saat ini, prioritasku adalah kebahagiaan anak - anakku. Aku rela melakukan apa saja untuk memperbaiki semua kesalahanku. Aku akan menebus semua hari - hari yang hilang bersama putraku. Aku berjanji akan selalu bersama dan mendampingi putraku. Itu janjiku. Janji seorang ibu.


__ADS_2