PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 85


__ADS_3

Aku menatap penuh luka ke arah pria yang sudah sembilan tahun menjadi suamiku.


" Ceraikan aku sekarang juga, kak...! " desisku lirih.


Plakk.. sebuah tamparan melayang di pipiku. Tubuhku terhuyung ke belakang. Tak kurang kembali bapakku menjambak rambutku yang tertutup jilbab dan melayangkan kembali sebuah tamparan di Pelipisku. Jilbabku terlepas dari kepalaku beserta ikatan rambutnya. Membuyarkan rambutku yang panjang terurai lepas hingga ke pinggang menutupi sebagian wajahku yang memerah di kedua pipiku akibat tamparan. Terakhir tendangan kaki bapak mendarat di pinggangku. Aku terjerembab jatuh ke lantai dengan tubuh remuk. Jubair berusaha mendekat untuk menolongku. Pria yang bergelar suamiku itu menyentuh bahuku, namun ku tepis dengan lemah.


" Jangan sentuh, aku." sentakku walaupun dengan nada lemah. Jubair urung menyentuhku.


Aku menoleh dan mendapati bapakku sudah berdiri di depanku. Wajahnya memerah penuh dengan amarah yang meluap - luap. Tangannya masih terkepal menahan amarah.


" Dasar anak kurang ajar. Tak tahu di untung.! " makinya lagi menatapku seakan-akan ingin menelan habis tubuhku.


" Bunuh saja, Saniah, Pak. " ucapku lirih. "Tapi keputusanku sudah bulat. Aku mohon ceraikan aku. Aku tak sudi lagi hidup seperti ini. Cukup sudah selama sembilan tahun aku mengabdi sebagai istri kepada Kak Jubair. Aku ingin mencari kebahagiaanku sendiri. "


Aku meringis memegangi pipiku yang membengkak dan merah akibat tamparan Bapak. Air mataku makin menganak sungai.


Ayah mertuaku langsung berdiri, begitu juga ibu mertua dan kedua orang tuaku. Ibu mertuaku langsung menghampiri dan memeluk diriku. Begitu juga halnya dengan ibuku.


" Saniah.... nak, sabar. Jangan buru - buru mengambil keputusan saat marah." kata ibu mertua dengan bijak.


" Iya, nak. Kamu masih tetap menjadi menantu kesayangan kami, walaupun Jubair sudah beristeri lagi dan memiliki anak. " kata mertua laki-laki dengan sedih.


Aku menggelengkan kepala sambil berurai air mata. " Tidak, Niah sudah tak sanggup lagi hidup seperti ini. Izinkan aku mencari bahagiaku sendiri, bu. " jawabku lemah. Dengan menunduk sambil menahan sakit di sekujur tubuhku aku berlalu pergi dari ruang tamu itu di ikuti pandangan iba dari ibuku dan kedua mertuaku. Aku masuk ke kamar dan langsung menguncinya dari dalam.


Tubuhku melorot di balik pintu dan terduduk di sana. Menangis... aku memukul dadaku yang sesak dan kebas. Mengapa sakit sekali. Apakah seperti ini rasanya sakit yang dialami oleh Asma dulu saat dikhianati oleh Syafrie. Ternyata sakitnya sungguh luar biasa. Pantas saja amatlah sulit bagi sahabatku itu untuk berdamai dengan lukanya hingga perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa sembuh dan berdamai dengan masa lalunya.


" Saniah.... buka pintunya, sayang. " suara ibuku terdengar dari balik pintu.


Aku masih tak bergeming dari balik pintu. Samar - Samar aku mendengar suara pertengkaran antara bapak mertua dan suamiku.

__ADS_1


" Mengapa daeng begitu kejam terhadap Saniah? "


" Anak itu patut di hajar, daeng. Sudah berani mempermalukan suami dan orang tua, malah sekarang minta cerai. "


" Wajar saja dia bersikap demikian daeng. Dasar si Jubair saja yang tidak punya otak dan perasaan. "


" Tapi, Pak..... Aku tak bisa membohongi perasaanku. Selama bertahun-tahun amu mencoba untuk mencintai Niah, tapi tak bisa. " ku dengar suara Jubair membela diri.


" Seharusnya jika demikian, kamu bisa bertindak tegas dari dulu. Selama ini kamu sudah menyiksa hati seorang perempuan, nak. "


" Sekarang mau bagaimana lagi, Pak. Aku dan Meli sudah menikah. Walaupun kami menikah siri, tetap saja dia sudah sah menjadi istriku. Lagi pula kami sudah memiliki anak. " kembali Jubair membela diri.


" Andai kamu memberi Saniah haknya sebagai istri, sudah tentu juga dia bakal memberi kami cucu yang sah, bukan dari hasil berzinah. " lirih ucapan bapak mertuaku, tapi masih bisa terdengar.


" Pak....! " bentak Jubair tak Terima dengan perkataan Bapaknya.


" Apa? Apa aku salah berucap? Benarkan anak kalian adalah anak diluar pernikahan yang sah. Jadi anak apa namanya jika bukan anak hasil perzinahan? " bentak Bapak mertua tak mau kalah.


" Tidak bisa..! Aku tak mau tahu, rumah ini milik Saniah. Jangan bermimpi kamu dan wanita itu bisa tinggal dan menempati rumah ini. Jangan kau pikir dengan aku diam saja, aku menyetujui pernikahanmu dengan wanita itu. Bawa pergi wanita itu dari rumah ini sekarang juga, Jubair."


" Tapi, Pak. Meli juga istriku. Dia berhak juga tinggal bersamaku. "


" Benar... tapi tidak di sini. Bukankah kamu dan dia sudah ada rumah? "


" Tapi itu hanya mengontrak saja, Pak. "


" Terserah kamu mau di taruh di mana istri keduamu itu. Tapi bapak tidak mau dan keberatan jika kamu membawa istri keduamu itu tinggal serumah dengan Saniah. "


" Kenapa bapak tidak bertanya saja pada Niah? Dia pasti tidak keberatan jika aku mengajak Meli dan kedua anaknya tinggal di sini. Dia.. "

__ADS_1


Plakkk...


Sebuah tamparan kali ini melayang di pipi Jubair. Suaranya sampai ke kamar Saniah.


"Pergi kamu sekarang juga dari rumah ini. Dan bawa wanita itu beserta anak - anakmu! "


" Tapi, apa salahku, Pak. Aku hanya mencoba jujur pada Bapak dan juga umi tentang semuanya. "


" Dasar lelaki tak punya otak dan tak punya perasaan, sudah menyakiti perasaan wanita masih saja tak sadar diri. Ingat Jubair, kamu punya adik perempuan dan ibu. Mereka juga wanita. Bagaimana rasanya jika adikmu diperlakukan seperti ini oleh suaminya kelak? " geram mertua laki-laki. Sementara mertua perempuan terisak tak mampu berkata - kata lagi.


Sepi... tak, terdengar apa-apa lagi. Mungkin saja Jubair memang sudah pergi bersama wanita itu.


Aku semakin terisak di dalam kamar sendirian. Kepalaku terasa sakit dan berdenyut - denyut. Mungkin juga efek karena terlalu banyak menangis dan stress. Semakin lama semakin terasa sakit dan menyiksaku hingga akhirnya aku jatuh pingsan tak sadarkan diri di balik pintu kamarku.


Aku terbangun keesokan harinya ketika azan di surau dekat rumahku berbunyi. Perlahan - lahan aku bangkit dengan l tertatih - tatih mencoba meraih pegangan pintu dan membukanya.


Sepi... tak ada seorangpun di sana. Aku ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Lalu kembali lagi ke kamar dan melaksanakan solat subuh. Setelah itu aku mengemasi barang - barangku dan pergi diam - diam ke rumah sewaanku dengan berjalan kaki.


Cukup lama aku berjalan kaki hingga sampailah di rumah kontrakanku. Aku masuk ke dalam rumah dan kembali lagi menguncinya. Lalu setelah itu kembali lagi merebahkan diri dan melanjutkan tidurku.


Aku memutuskan untuk tidak masuk bekerja hari ini. Mana mungkin masuk kerja jika wajahku memar dan membiru seperti ini.


Siang harinya, aku terbangun ketika perutku merasakan lapar. Aku bangun untuk memasak mie instan dan makan hanya dengan mie instan yang dicampur telur.


Setelah makan, aku membuka Google dan mencari tahu cara mengajukan gugatan perceraian. Setelah itu aku menghubungi seseorang yang aku rasa bisa membantuku untuk mengurus proses perceraian aku dan Jubair.


Derrtt..... Handphoneku berbunyi. Sebuah chat dari Syafrie masuk di whatsapp milikku.


" Niah, Asma kecelakaan dan kini sedang di rawat di rumah sakit Wahab Syahrani Samarinda. Kondisinya kristis." begitu pesan dari Syafrie.

__ADS_1


Aku terduduk lemas sesaat setelah membaca pesan dari Syafrie. Astagfirullah...apa yang telah terjadi dengan kamu Asma..... ?


__ADS_2