
"Iya, dan aku juga memutuskan untuk pindah ke kota saja dan mencari bahagia aku sendiri, Asma. Seperti kamu, kamu bisa menjadi diri sendiri dan menemukan bahagiamu tanpa menjadi beban orang tuaku."
" ok, aku mendukungmu. " sahutku senang. Dasar sahabat Asma.
...-----...
Sepanjang jalan antara Suka Rahmat - Samarinda, aku tak hentinya mengulum senyum. Binar bahagia terpampang jelas di wajahku. Bukan apa - apa, hatiku merasa senang sekali karena mengingat cerita Saniah kemarin.
Syafrie yang sedang menyetir mobil di sebelahku tampak heran dengan tingkah lakuku. Mungkin dia pikir, tumben sekali hari ini istrinya tampak sumringah dan bersemangat sekali.
"'Asma, apa lagi yang ada di kepalamu itu. Aku takut kamu kesambet setan di tempat ini... " katanya sambil melirik padaku yang sedang memangku Fika. Sementara Fadil, anak sulungku itu sedang asyik memainkan gadgetnya di sebelahku.
" Ahh.... kamu itu. Tak bisa apa, lihat orang lain senang, dikit? Tak ada apa - apa. Aku hanya sedang merasa senang saja dengan perubahan Saniah."
" Saniah.... ada apa dengan temanmu itu?" kembali Syafrie merasa heran.
" Ada, deh... " jawabku masih dengan senyum dikulum.
" Mamah... mamah, tadi pagi Fadil ketemu sama tante Niah. Sepertinya tante Niah mau pergi jauh. Soalnya dia bawa koper besar." celetuk putra sulungku itu tiba-tiba.
" Oh.., ya? Beneran kamu tadi pagi liat tante Niah?" aku menoleh ke arahnya. Putraku sulungku itu memganggukkan kepalanya dengan pasti." Iya, Mah."
" Oh...Mungkin tante Niah sudah bosan dan lelah tinggal di kampung ini. Makan hati terus." timpalku sambil melirik ke arah ayah Fadil yang sedang fokus mengemudi. Syafrie yang tengah kukirim terlihat mengernyitkan sebelah alisnya tinggi-tinggi lalu menoleh sejenak kepadaku. Melihat aku tersenyum misterius dia lalu berkata.
" Aku ngeri lihat senyummu, Asma. Sepertinya kamu sedang merencanakan sesuatu. Semoga saja itu bukan hal yang buruk lagi." kata Syafrie sambil melirik kepadaku.
" Kenapa kamu ngomong begitu, Syafrie?" aku menoleh ke arahnya dengan tatapan menyala, tak terima atas tuduhan Syafrie.
" Tuh, kan. Kebiasaan benar kalau panggil suami, selalu saja begitu. Dosa Asma, biasakan, ya sayang.. "
" Iya, Sayang,...sayang. Tapi aku juga tak terima kalau kamu ngomong begitu. Kesannya kayak aku ini penjahat kambuhan." protesku.
Syafrie terkekeh mendengar ucapanku. Sebelah tangannya terulur mengusap kepalaku yang tertutup jilbab warna toska. " Maaf, Asma sayang. Aku hanya tak ingin terjadi sesuatu dengan mamanya Fadil yang cantik ini." Tangannya lalu meraih tanganku dan mengecupnya lembut. "sudah, ya. Jangan marah. "
Aku menghela nafas dan mengangguk. "Saniah akan bercerai dengan Jubair. Dia sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Dan sekarang masih dalam proses." kataku pada Syafrie.
Sejenak, pria yang sekarang bergelar ayah Fadil dan Dika itu terdiam. Dia kembali fokus Mengemudi. Suasana menjadi hening sesaat.
" Apakah kepergian Saniah hari ini ada hubungannya dengan ceritamu tadi? " dia bertanya dengan hati - hati setelah melirikku yang kini sedang bermain dengan Fika.
" Hm... "
Hening lagi. Tak beberapa lama, Syafrie menghentikan kendaraan kami di depan sebuah rumah makan yang berada di depan Pir. Dia membuka pintu mobil dan melangkah turun Lalu berjalan ke sebelah. Membukakan pintu mobil untukku.
" Kita istirahat dulu sebentar. Apa kamu mau makan sesuatu? " Dia membantu Fadil turun dari mobil dan mengambil Fika dari gendonganku. Aku melirik ke arah papan nama yang terpampang untuk melihat menu yang ditawarkan.
" Aku mau makan bakso saja.. " jawabku. Aku memang menyukai makanan yang satu itu apalagi jika sedang bepergian seperti ini, karena membuat perutku yang tidak enak menjadi lega dan hangat.
Kami beriringan masuk ke dalam rumah makan itu dan mengambil tempat duduk di meja dekat dengan pintu masuk.
" Fadil mau makan apa? " tanyaku pada putraku yang sudah duduk manis di sebelahku. " Fadil mau bakso juga, mah." jawabnya.
__ADS_1
Seorang pelayan datang mendekati kami.
" Mau pesan apa, Pak? " tanyanya ramah.
" Saya pesan kopi dan nasi goreng. Kemudian untuk istriku ini, dia mau bakso dan.... " Dia menghentikan ucapannya. "Minumnya apa, sayang? "
" Aku mau es jeruk. Kalau Fadil...? " Aku bertanya pada putra Syafrie itu. "Fadil mau es jeruk juga, mah."
" Oke, mbak, bakso dua dan es jeruk juga dia, ya. "
" Baik, jadi pesanannya satu kopi, nasi goreng, dua bakso dan dua es jeruk, ya Pak? " pelayan itu menyebutkan pesanan kami dan kemudian berlalu dengan sopan.
Sambil menunggu pesanan, Syafrie bermain dengan Fika dan Fadil. Sedang aku, aku mengeluarkan handphone dan mengambil foto selfie dengan latar Syafrie yang sedang bermain dengan Fadil dan Fika. Lalu menuliskan caption "Otw menuju Melak bersama keluarga.. " lengkap dengan emoticon love dan senyum. Lalu menjadikannya status di Whatsapp dan Facebook ku.
Tak lama, berbagai komentar sudah masuk ke akunku yang berasal dari kedua Media sosial tersebut.
" Walaupun sakit melihat semua ini, tapi aku senang melihat kamu akhirnya bahagia bersama dia. "
Sebuah komentar masuk di akun Facebook milikku.
Aku tak menanggapi karena aku tahu sudah tahu siapa yang menulis komen seperti itu.
Tak lama, sebuah Chat masuk ke dalam Whatsapp pribadiku.
" Apakah kamu bahagia? Apa kamu sudah melupakan aku? "
Kembali aku mengabaikan chat tersebut dan memilih menghapus kedua chat tersebut di kedua akunku lantas kemudian menonaktifkan dataku. Jujur saja, aku merasa sedikit jengah dengan kedua chat tersebut.
" Iya. Aku tak apa - apa. Hanya kesal saja."
" Kesal....sama? "
" Biasa, orang iseng. " jawabku asal.
Syafrie pun terdiam dan kembali melanjutkan bermain dengan kedua putra dan putri kami. Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Kami menyantap makanan yang sudah kami pesan dengan lahap karena memang kami sudah lapar.
selesai makan aku mengaktifkan kembali dataku untuk menelpon mama. Aku teringat tadi belum memasukkan jemuranku saat akan berangkat karena buru - buru. Maka dari itu aku menelpon mama untuk minta tolong agar mengangkat jemuranku karena kulihat di langit sudah berwarna hitam.
" Aku tak bisa melupakanmu. Apa kamu bisa melupakanku? " kembali chat yang sama masuk ke Whatsapp pribadi ku.
Aku membuang nafas kesal lalu bergerak untuk menghapus chat itu dan menonaktifkan dataku kembali. Namun, dengan sigap Syafrie mengambil handphone di tanganku dan membaca chat tersebut. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
" Apa kamu merasa terganggu dengan chat ini." Aku mengangguk mengiyakan. Ku lihat dia kemudian mengotak - atik handphoneku dan kemudian menyerahkannya kembali kepadaku.
" Aku sudah memblokir nomor tersebut dari Whatsappmu. Juga pertemanan kalian di Facebook. Apakah kamu keberatan dengan itu? " tanyanya sambil menatap wajahku.
Aku menggelengkan kepalaku kemudian berjalan mendahului Syafrie menuju mobil kami. Syafrie membukakan pintu mobil dan membimbingku naik ke mobil. Setelah menyerahkan Fika dia kemudian membantu putraku Fadil untuk naik ke mobil.
" Apa kamu marah....? " tanyanya setelah kami sudah berada di dalam mobil.
" Tidak.... aku juga tidak merasa nyaman menerima SMS darinya."
__ADS_1
" Apa itu artinya kamu sudah melupakannya... "
Aku menggelengkan kepala. " Aku tak tahu, tapi aku tak lagi merasa merindukan Mas Haris. Aku sudah merasa nyaman dan tenang saat bersamamu dan juga anak-anak kita." jawabku.
Syafrie menatapku cukup lama. Lalu meraih aku dalam pelukannya. Cukup lama kami berpelukan. Aku melepaskan diri dari pelukan Syafrie setelah menyadari ada beberapa pasang mata yang melihat ke arah kami.
" Kenapa...? " tanya Syafrie dengan senyum menggoda.
" Aku malu..... banyak orang yang liat"
Syafrie terkekeh kemudian mulai menjalankan mobil. Sepanjang perjalanan kami, sesekali dia menggenggam tanganku jika tidak sibuk memegang Fika.
Kurang lebih pukul sepuluh malam, kami tiba di Tenggarong. Karena sudah malam, kami memutuskan untuk mencari penginapan. Kami kemudian memutuskan untuk mendatangi penginapan yang pernah aku dan Syafrie datangi dulu. Beruntung karena di penginapan itu tersedia tempat tidur double.Jadi kami memesan kamar dengan tempat tidur double.
Kamar kami terletak di lantai pertama, hingga kami tidak perlu susah mengangkat barang - barang ke atas. Setelah membersihkan diri, Fadil kemudian langsung merebahkan diri di kasur. Tak lama kemudian bocah itu sudah tertidur lelap karena kelelahan. Demikian juga dengan putriku Fika. Bayi cantikku itu langsung tertidur saat aku merebahkannya di samping abangnya.
Aku meletakkan bokongku di atas tempat tidur. Setelah membalas beberapa chat aku meletakkan handphone di samping tempat tidur. Rasa lelah membuat aku langsung saja merebahkan tubuhku ke tempat tidur.
" Asma.... " Syafrie duduk di tepi tempat tidur. Dia kemudian memeluk tubuhku dari belakang.
" Hmm.... "
" Hadap ke sini dulu. Aku mau ngomong sesuatu. " katanya sambil membalikkan tubuhku ke arahnya.
" Apa...? " tanyaku sambil berbalik menatapnya.
" Aku mau kamu menjawab dengan jujur. Apakah kamu tidak marah karena aku sudah memblokir nomor Haris dan menghapus pertemanan kalian di media sosial? "
" Tidak... " jawabku cepat.
" Kamu bisa menghapus nomor Marina dari kontakku jika kamu merasa tak nyaman dengan hal itu. Aku juga akan bertanya dan minta izin dulu denganmu jika aku mau bertemu dengannya." kata Syafrie dengan sungguh-sungguh sambil menatap wajahku.
" Aku rasa tidak perlu. Aku percaya kamu tentunya tidak ingin membuat aku mengamuk dan merusakkan rumah mantan istrimu untuk yang kedua kalinya, kan? " godaku sambil tersenyum.
Dia mencubit hidungku dengan gemas. "Asma.... aku cinta kamu.. " katanya.
" Aku juga cinta kamu, Syafrie. " jawabku. Ini adalah yang pertama kalinya aku membalas ungkapan cinta Syafrie dengan sungguh - sungguh.
Mata Syafrie berlinang mendengar ucapan balasan dariku." Terima kasih karena sudah mau memberi kesempatan padaku. Terima kasih karena sudah mencintai aku kembali... " ucapnya sambil menciumi pucuk kepalaku dan terakhir bibirnya berlabuh di bibirku. Lama dan dalam.
Aku tenggelam dalam ciuman mesra kami. Hingga entah siapa yang memulai, namun malam itu di tempat yang sama, kembali kami melalui malam yang panas dengan saling berbagi keringat dan nafas yang memburu. Namun kali ini aku melakukannya dalam keadaan sadar tanpa pengaruh obat bius dan menyerahkan diriku sepenuh hati untuk suamiku. Suami yang sudah kumiliki kembali. Yang masih mencintaiku dengan cinta yang sama seperti dulu.
Aku tersenyum bahagia. Kini aku mengerti, mengapa dulu mama dan seluruh keluargaku nekat memintaku untuk menikah kembali bersama Syafrie. Ternyata mereka tahu, apa dan bagaimana cinta Syafrie kepadaku.
Aku pun kini menyadari bahwa perkataan Syafrie benar adanya. Bahwa di balik rasa benciku yang setinggi gunung, ada Syafrie yang masih bertahta di sana, menduduki hatiku di tempat yang tersembunyi di sudut terdalam.
Dalam pelukan Syafrielah, aku berada. Aku tahu, tak ada siapa - siapa lagi di antara kami. Yang ada hanyalah, aku, dia dan keluarga kecil kami.
" Syafrie... "
" Hmmm.... apa? "
__ADS_1
" Aku telat dua minggu.... "