PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 32


__ADS_3

Aku tercekat. " Itu tidak benar...! " jawabku.


" Apanya yang tidak benar, Asma. Pacarnya sudah menjadi istri dan ibu dari orang lain." katanya datar. Tak ada lagi nada mengejek, tak ada pula kesan merendahkan. Namun mengapa di telinga dan hatiku seperti sebuah tamparan. Wajahku langsung pias. Amarah yang tadinya sedikit padam, kini kembali bergemuruh dalam dadaku.


" Jangan kurang ajar, Syafrie..! Aku mencintai dan akan menikah dengan Mas Haris.. " ku bentak dia sambil menunjuk wajahnya dengan marah. Dasar aku istri durhaka, tak sadar jika dosa besar hukumnya jika menunjuk wajah suami.


" Kurang ajar bagaimana? Mau menikah bagaiamana? Kamu kan, sudah menikah! Kamu itu istriku? Kamu tidak bisa menikah dengannya. Sejak ijab qabul yang aku ucapkan beberapa hari yang lalu, kamu bukan lagi kekasihnya tapi istri aku. Lupakan dia, Asma. Aku tidak ridho kamu memikirkan laki-laki lain. Sudah cukup kamu menduakan aku selama ini! Tidak lagi dan jangan lagi! "Syafrie menggenggam jari telunjukku yang tertuju di hadapannya dan menciumnya. Aku tahu apa yang dia lakukan itu adalah adalah untuk meredam emosi yang sempat kulihat dimatanya.


Ada panas yang menjalari saat pria yang berstatus suamiku itu mengecupnya begitu dalam. Ekspresinya datar saja. Tidak terpancing oleh kata - kataku yang menyulut cemburu. Justru aku yang tersadar dari kenyataan dan merasakan perih saat selesai dia berucap.


Aku sangat mencintai Mas Haris dan sangat membenci Syafrie. Walaupun dia sudah membantu mama.


Hanya saja, ada sedikit kekhawatiran dalam diriku. Takut dengan kenyataan bahwa antara benci dan cinta hanya bersekat sedikit. Demi apapun, aku sangat takut jika kebencian yang tumbuh subur dalam hatiku hanyalah semu saja, bahwa yang sebenarnya adalah rasa cintaku yang begitu besar padanya ternyata belum mati.


" Lepaskan! Sentakku sambil berusaha menarik tanganku.


" Biarkan seperti ini, Asma. Senangkan suamimu sedikit saja. "


" Asal kamu tahu, aku sebenarnya berniat cerai darimu setelah menikah beberapa bulan. "


Aku sudah memikirkan hal ini beberapa hari yang lalu. Niatku untuk menikah dengan Mas Haris tak bisa dihalangi. Aku akan tetap menikah dengan Mas Haris dengan atau tanpa restu mama ataupun saudara - saudaraku yang lain.


Aku masih berusaha untuk melepaskan genggaman Syafrie kala kembali suaranya terdengar. " Kamu itu dewiku." Syafrie kemudian menautkan jari - jarinya di sela-sela telapakku. " Mendiami seluruh tempat di hatiku. Tak pernah tergeserkan oleh orang lain. Jangan berniat untuk menjauh lagi dariku. Itu sangat menyakitiku. " katanya sendu dengan sorot mata terluka. Dia menepuk dadanya ingin menyakinkanku.


Hah...! Andai saja dosaku sudah tak setinggi gunung Himalaya, sudah kuludahi wajahnya. Aku muak sekali mendengar perkataannya.


" Hah, apa kabar Marina? " Rupanya dia mengalami amnesia. Apa dia lupa, siapa yang sudah menggantikan aku di hatinya.


Jadi sekedar untuk mengingatkan dirinya, aku terpaksa bertanya kabar mengenai wanita itu. Omong kosong dengan ungkapan cintanya barusan. Dulu, aku begitu mencintainya, namun dengan begitu tega, dia merobek dan menumpahkan cuka di atas lukaku.


Pria di hadapanku itu melepas jari - jemariku dari tangannya. " Dia sehat. Sebentar lagi anak ketiganya akan lahir." Matanya berbinar. " Nanti kamu juga akan menemaniku menungguinya."


What? Apa tadi dia bilang?


Anak ketiga?

__ADS_1


Anak ketiga siapa?


Apakah anak ketiga dari dia dan wanita itu, maksudnya?


Astaghfirullah ...


Sumpah mati, aku terkejut sekali. Aku terbelalak dengan mulut menganga. Hampir saja aku memekik seandainya tidak cepat - cepat ku tutup mulutku. Reflek, aku mendorong Syafrie menjauh dariku.


Selamat, Asma. Kamu baru saja menjadi pelakor dalam rumah tangga Syafrie dan Marina. Kamu sekarang menjadi pelakor bagi pelakor yang merebut suamimu dulu.


Aku ingin menjerit. " Tuhan, takdir apa lagi ini? "


...----...


Ini adalah hari ketiga, aku dan Syafrie berada di rumah Mamak. Dan selama tiga hari itu juga aku mendiamkan Syafrie.


Hari ini, Bapak tua dan Mamak Suha mengajak kami semua untuk berdarmawisata ke Pulau Kemala. Pulau kecil yang terletak di jantung Kota Tenggarong itu adalah sebuah tempat wisata yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun manca negara karena keindahan dan keunikannya.


Dan selama wisata dadakan itu bibirku terkunci. Aku hanya berbicara dengan mamak atau Bapak tua atau saudaraku yang lain. Namun dengan Syafrie? Ih, amit - amit, deh.


Kemudian perjalanan kami lanjutkan kembali. Kali ini adalah Air Terjun Jantur Inai. Aku sangat menyukai Air Terjun ini. Air Terjunnya lumayan tinggi, di sekelilingnya bebatuan cadas dan hutan yang menghijau. Sungguh sebuah pemandangan yang indah dan menyejukkan mata.


Hari ini kami memutuskan untuk pulang setelah seminggu kami menghabiskan waktu di kabupaten yang berjuluk Purai Ngariman.


Sejak tadi aku sudah selesai berkemas, tinggal menunggu Syafrie yang belum selesai membersihkan diri.


" Siap? " Syafrie muncul dari balik pintu kamar mandi. Sambil bersiul - siul kecil dia menghampiri lemari kaca di mana terdapat pakaian kami yang disusun oleh asisten rumah tangga Bapak tua atas perintah mamak.


" Pake bajumu sebelum keluar kamar mandi!" aku mendelik kesal padanya. Ia hanya mengangkat bahu tak peduli tanpa berniat untuk menjawab perkataanku.


" Syafrie, aku ingatkan lain kali sebelum keluar, pakai dulu bajumu! " Aku kembali mengingatkan pria itu. Aku harus menegaskan hal ini mengingat iblis betina mesum dalam diriku masih belum puas menggoda.


Bayangkan, sudah tiga hari aku tidur satu ruangan bersama Syafrie. Dan sudah tiga hari pula aku memimpikan hal yang tidak-tidak dengannya. Dan kesalnya setiap pagi kutemui jejak dari mimpi erotis itu.


" Kenapa, apakah tubuhku mempengaruhi mu ? " pria itu bertanya tanpa repot menoleh padaku. Dia sedang asyik mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

__ADS_1


" Cih, ngarep.? Najis..! " Aku berdecih kesal. Maaf saja, walaupun terkesan jantan, tapi tubuhnya sama sekali bukan tipeku. Aku lebih menyukai tubuh Mas Haris, walaupun tak sejantan Syafrie, namun bersih dan tampak terawat. Dan aku lebih menyukainya.


Bagiku, pria kantoran lebih menarik daripada pria yang kesehariannya bergelut bersama oli dan toolbox dari alat berat.


Dia menoleh padaku. Cukup lama, lalu tersenyum sinis mengejek. Dia tak menanggapi ucapanku. Sumpah mati, aku benci sekali melihat senyum itu. Aku semakin dongkol dan jijik setelah tahu status baruku. Aku ternyata istri keduanya. Seumur hidup, aku tak pernah membayangkan akan menjadi madu bagi wanita yang dulu merusak rumah tanggaku.


" Kurang ajar, setan, ... mati saja kamu, Syafrie! " Tak tanggung - tanggung, aku melempar botol hand and body lotion ke arahnya dan tepat mengenai kepalanya. Napasku tersengal karena emosiki yang mendadak naik. Bagaimana tidak, dengan kurang ajarnya, dia melepas handuk yang melilit di pinggangnya tepat di depanku, hingga onderdilnya yang mirip pisang ambon terlihat menggantung dengan manisnya.


" Aduhhh...sakit tau, Asma." dia mengusap kepalanya yang baru saja kutimpuk.


" Makanya, jangan kurang ajar. Pake sopan santun.! " sewotku mendelik kesal padanya seraya berlalu meninggalkannya. Dia tertawa nyaring sendirian. Aku memilih menyingkir dari pria mesum itu. Bagiku, dekat dengan Syafrie bukanlah pilihan yang tepat.


Setelah selesai sarapan dan berbincang sejenak, kami lalu berpamitan. Air mataku dan mamak menemani drama perpisahan aku dan mamak pagi ini. Aku memang bersedih, sebab tak tahu, kapan lagi bisa bertemu dengannya. Mengingat selepas ini, aku akan minta cerai dari Syafrie. Dan untuk itu, jelas aku tak punya nyali untuk menghadapi Bapak tuaku.


Setelah berpamitan, Syafrie melarikan mobil dengan kecepatan sedang. Sengaja aku meminum antimo, supaya tidak mabuk saat diperjalanan. Yang kumau adalah aku tidur sepanjang perjalanan, karena aku kesal pada Syafrie.


Aku kesal padanya karena memikirkan tentang statusku yang sebagai istri kedua Syafrie. Betapa bodohnya aku..! Karena godaan balas dendam, membuat otakku tak bisa berpikir jernih. Bisa- bisanya aku tak berpikir sejauh itu. Aku tak berpikir bahwa Syafrie dan marina tak mungkin berpisah, mengingat bagaimana dulu dia begitu mempertahankan wanita itu dan memilih mengorbankan aku dan rumah tangga kami.


Dan semua pemikiran itu masih saja mengganjal hatiku, mengantarkan aku dalam tidur pulas sepanjang perjalanan ini.


Tubuhku terguncang saat mobil yang membawa kami berguncang keras karena melewati jalanan yang rusak. Aku tersadar dari efek obat mabuk. Kulirik jam tanganku sekilas, pukul sebelas malam. Masih satu belokan lagi dan kami akan sampai di rumah mama.


Lalu saat mobil yang dikendarai Syafrie memasuki halaman rumah mama. Napasku terasa sesak. Pun jantungku seakan berhenti berdetak. Aku mau waktu berhenti saja berputar. Tidak..... aku tak siap... aku belum siap menghadapi ini. Pias.... mukaku pucat pasi saat ini.


Tanganku gemetar saat membuka handel pintu. Seperti aku kehilangan tenaga. Kenapa pintunya... tak mau terbuka.


" Kenapa? ... Sini kubantu? " Syafrie mencondongkan tubuhnya membantuku.


Aku tak bisa lagi berucap untuk sekedar menolak. Jadi kubiarkan saja Syafrie membantuku.


Dengan langkah berat aku berusaha menyeret kakiku mendekati teras rumah mama. Sementara Syafrie berjalan di belakang.


Lalu.....


Suara itu..... suara yang teramat sangat kurindukan.

__ADS_1


" Assalamu'alaikum, Dewi-ku. Aku rindu." Ia melangkah menyambutku.


" M..Mas Haris? "


__ADS_2