PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 95


__ADS_3

Mobil yang kami tumpangi berhenti tepat di halaman depan rumahku dulu. Rumah tempat aku dulu ketika menyandang gelar nyonya Jubair.


Aku juga heran dan sempat ingin protes pada mamak, mengapa mamak meminta aku untuk singgah ke rumah ini. Rumah yang kalau bisa tak ingin lagi aku menginjakkan kakiku ke tempat ini. Rumah yang dibangunkan oleh Jubair untuk mengurung diriku dalam ikatan sangkar emas pernikahan yang palsu.


" Turunlah, kita sudah sampai.! " perintah mamak ketika aku masih saja bergeming enggan untuk membuka pintu mobil. Aku menoleh ke belakang, berharap mobil Mas Haris sudah sampai. Sedang Jubair, pria itu sudah turun lebih dahulu bersama Ardi untuk membongkar barang - barang di bagasi.


" Mengapa berhenti di sini sih ,Mak? " protesku pada mamak. Sementara pandangan mataku masih ke arah belakang. Mas Haris kemana, sih? pikirku galau. Apa jangan - jangan pria itu tersesat dan tak tahu arah menuju kesini.


Menyadari hal itu seketika aku langsung menjadi panik. Aduh, bagaimana kalau Mas Haris nyasar, pikirku.


Aku menyesal karena membiarkan Mas Haris harus mengemudi sendiri. Tadi memang Mas Haris nekat mau membawa mobil sendiri dengan alasan mobil yang kami tumpangi tak cukup besar untuk memuat kami bertiga di belakang.


Pria itu beralasan kenyamanan aku lah yang jadi prioritasnya. Aku pun akhirnya mengalah dan menemani mamak yang lebih memilih untuk pulang dengan menumpang mobil Jubair ketimbang dengan mobil Mas Haris. Sepertinya mamak belum bisa menerima kehadiran Mas Haris yang tiba-tiba dalam kehidupanku. Juga tentang berita yang baru saja dia dengar tentang perceraian aku dengan Jubair. Sepertinya mamak sangat terpukul dengan hal itu.


Aku merasa kesal dan semakin muak dengan pria tak tahu malu itu. Apa maksud Jubair menyembunyikan gugatan ceraiku dari Bapak dan Mamak?" Aku tak habis mengerti dengan sikap Jubair yang terkesan menutup - nutupi perceraian kami dari semua orang.


" Karena memang di sini, kan... rumahmu? " jawab mamak dengan entengnya.


Aku terkejut mendengar jawaban mamak yang tak pernah kuduga sama sekali. Mengapa mamak bisa berkata seperti itu.


" Mak.... Niah tak sudi menginjakkan kaki ke rumah itu lagi. Niah mau tinggal di rumah mamak dan bapak saja... " rengekku.


Jujur saja, sebetulnya aku merasa tak nyaman jika harus kembali ke rumah ini. Itu sama halnya dengan membuka dan menjilat kembali luka lama yang belum lagi mengering. Rasanya aku tak sanggup untuk itu.


Belum lagi mamak menjawab ucapanku, tiba-tiba dari dalam rumah muncullah Bapakku di depan pintu.


" Bapak..... " lirihku nyaris tak terdengar.


Aku tercekat dan nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat. Kulihat Bapakku yang duduk di kursi roda dengan wajah kuyu dan tak bersemangat sambil di dorong oleh kedua adikku.


Ya Allah...... apa yang telah terjadi pada pria yang merupakan cinta pertamaku itu?


Ada sesak dan juga nyeri yang menghantam dadaku, menyadari betapa rupanya sang waktu telah mengubah kehidupan ini. Pria yang dulunya terlihat begitu garang dan perkasa, kini tak ubahnya bagaikan sosok pesakitan yang tak berdaya. Tubuhnya yang dulu tegap berisi kini hanya tinggal tulang belulang terbungkus kulit.


Dengan tangan gemetar aku membuka pintu mobil dan menginjakkan kakiku ke tanah. Aku berniat turun untuk mendatangi bapak, namun saat kakiku baru menapak di tanah, tiba-tiba saja tubuhku mendadak lemas.


Kepalaku mendadak pusing dan kedua tungkaiku lemah dan terasa tak bertenaga. Aku ambruk ke tanah tanpa bisa di cegah.

__ADS_1


Sayup sayup aku mendengar teriakan Bapak yang memanggil namaku dan jeritan mamak yang meminta tolong. Lalu kemudian semuanya berubah menjadi gelap......


Bau aroma minyak kayu putih menyeruak menusuk indra penciumanku membuat aku langsung tersadar dari pingsan.


Aku membuka mata dan mendapati diriku yang sedang terbaring di sofa ruang tamu di rumah yang dulu pernah kutempati bersama Jubair saat masih menyandang gelar Nyonya Jubair.


Tak ada yang berubah dengan tata letak perabotan dan juga dekorasi ruangan. Yang berubah hanya warna catnya saja.


Dahulu ruang tamu ini kucat dengan nuansa warna biru muda kesayanganku. Kini ruangan ini sudah berganti nuansa dengan warna putih yang mendominasi. Mirip rumah sakit, pikirku.


Aku merasa kepalaku berada dalam pangkuan seseorang sehingga reflek membuat aku menoleh ke atas dan mendapati kenyataan yang membuat aku shock setengah mati.


Jubair...... Astaga...... apa yang telah berlaku...?


Dengan sekuat tenaga aku berusaha bangkit untuk mengangkat kepalaku dari pangkuan si bedebah Jubair. Enak saja dia memanfaatkan keadaanku yang sedang pingsan untuk mencoba menyentuhku. Cuih.....cari kesempatan dalam kesempitan dia, bah.....


" Dek... jangan banyak bergerak dulu, kondisimu sedang lemah.... " Nah...itu suara Mas Haris.


Aku menoleh mencari asal sumber suara itu. Rupanya pria yang baru saja resmi berstatus kekasihku itu berdiri tepat di belakangku dengan wajah


yang penuh dengan kecemasan.


Aku menggeleng lemah dan meminta dengan isyarat tangan agar pria tampanku itu membantuku untuk bangun. Tak sudi aku berdekatan apalagi bersentuhan dengan pria tak tahu malu dari desa Suka Rahmat itu.


Dengan ragu, Mas Haris akhirnya mendekatiku dan mengulurkan tangannya membantuku untuk berdiri dan beranjak menjauh dari Jubair di iringi dengan tatapan heran dari bapakku dan kedua adikku serta tatapan tajam dari Jubair.


Pria itu sebenarnya hendak protes dengan sikapku yang seakan menjaga jarak dan tidak ingin berdekatan dengannya.


" Tolong antarkan Niah untuk beristirahat di kamarnya yang terletak di tengah, Nak Haris..! " titah mamak kepada Mas Haris. Pria itu tampak kebingungan ketika membimbing tanganku yang berdiri dan tak tahu harus berjalan kemana.


Walaupun dulu ini adalah rumahku, tapi sekarang ini, ada rasa canggung yang hinggap di hati sehingga aku merasa bagai orang asing di rumahku sendiri.


Akhirnya aku menuju ke kamar yang terletak di tengah dari tiga kamar yang ada di rumah itu dengan dibimbing oleh Mas Haris.


" Gimana perasaan kamu, dek. Mas sangat cemas melihat kamu pingsan tadi.. " tanya Mas Haris dengan berbisik.


" Aku baik - baik aja, Mas. Aku hanya butuh istirahat saja.Terima kasih sudah mengkhawatirkan adek. Oh, ya. Ruang tamunya ada di sebelah. Mas istirahat saja dulu di situ, yah. " kataku sambil berusaha untuk tersenyum kepada pria berwajah teduh itu.

__ADS_1


Aku tak ingin membuat pria itu merasa cemas. Akhirnya Mas Haris melepas tanganku dan membiarkan aku beristirahat di kamarku.


Aku merebahkan diri di atas kasur busa yang empuk seraya kemudian memejamkan mata. Kasur busa yang besar ini dulunya pernah kutempati dan menjadi saksi bisu akan malam - malam panjang dan sepi yang kulalui sendiri.


Penantianku akan kehadiran Jubair tak pernah berujung indah. Setiap malam aku selalu berharap pria itu hadir di sini meskipun hanya sekedar untuk merebahkan diri di sampingku. Tapi semua itu hanya tinggal harapan. Walaupun pulang setiap hari, tetapi pria itu tak pernah tidur di kamar ini. Dia memilih tidur di ruang tamu atau di rumah gundiknya.


Miris sekali. Aku hidup berkecukupan materi namun kekurangan cinta dan kasih sayang. Suamiku hanya memberi status tanpa pernah memberi aku kesempatan untuk memakainya. Semua aku dapatkan kecuali hati dan dirinya yang katanya untuk kekasih simpanannya itu.


Kembali bayang - bayang masa lalu itu hadir menyapaku saat aku mencoba mengenyahkannya dari pikiranku.


" Dek...... hari ini kakak mau menikah dengan Meli. " kata Jubair pada suatu hari. Tanganku yang sedang menyiapkan sarapan untuk kami berdua berhenti seketika di udara.


Aku terkejut dan rasa tak percaya. Gemetar rasanya seluruh tubuh. Dadaku mendadak kebas. Ada sakit yang diam - diam menusuk di hatiku.


Aku memejamkan mata sejenak, menata hatiku agar tetap berdenyut dan tak terlalu terkoyak parah. Usia pernikahan kami sudah berjalan hampir dua tahun.Tanpa cinta dan tanpa adanya hubungan intim.


Akan tetapi sekarang ini tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja suamiku itu mengatakan bahwa dia ingin menikah dengan kekasihnya.


Runtuh sudah harapanku. Inilah saat - saat yang paling menakutkan bagiku. Saat - saat dimana pria itu akan mencampakkan diriku.


Aku menyadari pria yang sedang duduk di hadapanku ini tak pernah mencintaiku. Dia sudah menegaskan hal itu padaku sejak pertama kami menikah dulu.


Aku ingat pada malam pertama kami dahulu. Malam yang seharusnya indah bagi pasangan yang baru saja menikah, namun bagiku merupakan malam yang sangat menyakitkan. Terlalu menyakitkan rasanya untuk di ingat lagi. Harga diriku serasa diinjak-injak oleh pria itu. Namun aku sadar, pria ini sudah banyak berjasa untuk keluargaku.


Pria yang baru saja menjabat tangan bapakku dan mengucapkan ijab qabul di depan penghulu itu mengatakan bahwa dia tak bisa menyentuhku dan memberikan hakku sebagai istri karena dia tidak mencintaiku.


Alasan pria itu melakukannya karena dia sudah memiliki seseorang sebagai tambatan hati dan menikah denganku hanyalah keterpaksaan saja karena desakan dari kedua orang tuanya. Dan dia juga merasa iba dengan kondisi keluargaku yang serba kekurangan.


"Kakak menikahi adek karena bapak dan mamak sangat menginginkan adek menjadi menantu mereka. Mereka tak menyukai Meli sebagai menantu. Dan lagi pula aku merasa kasihan melihat kondisi keluarga adek. Jadi jangan berharap lebih pada pernikahan ini. Aku tak bisa memberikan hakmu karena aku tak bisa membagi hati dan mengkhianati Meli. Ku harap kamu bisa mengerti." kata pria itu. Kemudian dia berjalan keluar dari kamar pengantin kami, pergi meninggalkan aku seorang diri begitu saja di malam pengantin kami dan baru pulang ketika subuh menjelang.


" Baik, Kak." jawabku singkat dengan bibir bergetar menahan tangis. Aku berusaha tegar dan tidak terlihat rapuh di hadapan pria itu. Aku tak ingin dia melihat kelemahanku. Walaupun sakit, tapi aku harus bisa menerima dan pura-pura tak sakit hati. Aku kembali mensugesti diri, bahwa tak apa di madu asalkan pria itu tak menceraikan aku. Aku masih menghargainya atas apa yang dia lakukan pada seluruh keluargaku.


Titel yang kusandang dan juga biaya hidup seluruh keluarga dan juga biaya sekolah adik - adikku semua adalah karena kebaikan pria ini. Anggap saja aku sedang membalas hutang budi seluruh keluargaku kepadanya.


Namun tetap saja, hatiku ternyata tidaklah semulia itu. Sakit..... itu yang kurasakan saat ini.


Setelah kepergian pria itu, aku menangis sejadi-jadinya di dalam kamar menumpahkan seluruh rasa sakitku. Berdalih takut terjerumus dosa dia adalah alasan dia menikahi wanita itu. Padahal selama ini aku tahu bahwa mereka sudah melakukan dosa di belakangku. Aku hanya menutup mata atas perbuatan pria yang katanya bergelar suami itu. Bukankah menjaga dan menutupi aib suami itu adalah ibadah hukumnya.

__ADS_1


" Niah, bangun, nak.!" Suara mamak yang memanggilku dari luar kamar, membuyarkan seluruh lamanunku.


__ADS_2