PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 71


__ADS_3

Aku tak mau memikirkan apa yang Syafrie ucapkan atau yang sedang dia rencanakan. Badanku sudah terlalu lelah dan pegal - pegal karena peristiwa tadi siang. Jadi aku akhirnya tenggelam pulau Kasur dan terlelap dalam pelukannya. Aku juga tak peduli pada Syafrie yang masih belum tidur di sebelahku.


...-----...


Aku tak tahu, apakah aku yang sial atau memang kehidupanku selalu saja penuh dengan kemalangan.


Hari ini, tanpa sengaja mataku tertuju pada kalender di dinding. Tanggal yang paling aku benci. Hari ini, tepat sebelas tahun yang lalu, peristiwa itu terjadi.


Dan di sinilah sekarang aku berada. Di depanku berdiri sebuah panggung pelaminan. Bukan panggung pernikahan berhias ukiran angin mamiri seperti milik Syafrie dulu, tetapi panggung pernikahan yang berhias khas negeri Borneo. Suara biduan yang bernyanyi di iringi oleh musik dari electon. Riuh suara pengunjung yang saling bercengkrama. Bau sedap masakan. Semuanya sama seperti sebelas tahun yang silam. Aku melihat kebahagiaan kedua mempelai di atas panggung. Senyum mereka saling terkembang.


Aku menggigit bibir menahan sakit di dada. Ada rasa pedih yang mengoyak dada. Kembali aku di khianati oleh orang yang kucintai.


Sungguh miris.. takdir yang menimpaku. Mengapa cerita pengkhianatan di saat aku dalam keadaan hamil terjadi lagi untuk yang kedua kalinya.


Jika dulu, Syafrie yang menikah dan duduk di atas pelaminan sana. Maka saat ini, Mas Haris lah yang menjadi mempelainya bersama wanita lain. Dan itu bukan aku.


Ya, pria itu, pria yang kuharapkan menjadi imamku kelak pengganti Syafrie kini sedang berdiri gagah di atas pelaminan sana. Kulit putih dan wajahnya yang bersih dan tampan sungguh serasi di balut dengan busana daerah berwarna merah yang senada dengan warna baju mempelai wanitanya.


Mataku berair menatap kedua pasangan itu. Sepotong daging di dada ini juga perih dan ngilu seperti ditusuk sembilu.


Senyum bahagia terlukis di wajah kedua mempelai saat berfoto bersama. Dengan mesra Mas Haris melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu. Jemari tangannya menggengam mesra jemari wanita itu. Mereka berkali-kali berganti posisi sesuai arahan sang juru foto.


Pose demi pose sudah mereka lakukan. Namun selama itu juga, aku melihat bahwa tatapan Mas Haris yang selalu tertuju kepadaku.


Aku tak tahu, apakah kehadiranku di sini benar atau salah. Aku datang karena memang Mas Haris yang memintaku untuk datang pada acara pernikahannya. Tapi jika yang terjadi seperti ini. Sungguh, aku berpikir lebih baik tak usah hadir.


Kami berdua sama-sama masih tak rela jika takdir demikian kejam memisahkan kami. Aku masih merasa sakit melihat Mas Haris yang bersanding dengan perempuan lain di sana. Sedangkan Mas Haris terpaksa menerima pernikahan ini dengan berat hati karena tak ada cara lain untuk melupakan diriku selain menikah. Dapat kulihat ada tatapan terluka dan kesedihan di mata Mas Haris saat beradu pandang denganku.


Namun kemudian ku sadari jika hal ini tidaklah baik untuk kami berdua. Tujuanku kehadiran diriku di sini bukan untuk hal ini. Sungguh tak ada sama sekali niatan di hatiku untuk kembali merebut Mas Haris dari Isna. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Mas Haris bukan lagi menjadi pusat perhatianku saat ini. Dia sudah bahagia dengan Isna.


Demikian juga juga aku yang sudah ada ikhlas menerima nasibku. Jadi tak perlu menangisi lagi cerita lama kami.


Syafrie datang dan membimbing diriku duduk di kursi yang memang disediakan untuk para tamu undangan. " Jangan menatap mantan kekasihmu seperti itu. Nanti orang lain akan mengira bahwa kamu adalah istri tua Haris yang ditinggal menikah lagi. "


Astaga Syafrie....tak bisakah dia mengerem mulutnya. Aku juga tahu diri dan tak akan mungkin berbuat bodoh untuk mempermalukan diriku di sana. Dari pada bertengkar dengannya aku memilih diam dan membuang pandangan ke arah tamu undangan yang hadir.


" Tunggulah sebentar.. aku akan mengambilkan makanan buatmu."


Dia berdiri dari tempat duduk dan beranjak ke gerai makanan khusus untuk tamu. Mengambilkan makanan lalu kembali lagi ke tempat kami semula.


Syafrie menyodorkan piring kecil yang berisi beberapa iris potongan buah dan kue kepadaku. Sedangkan dia sendiri lebih memilih memakan semangkok soto ayam yang dia ambil kemudian.


" Sudah... ikhlaskan saja. Kan masih ada aku dan anak-anak kita yang akan membuatmu bahagia. Kamu tidak perlu merasa sedih. Istriku pasti bisa melewati semua ini."

__ADS_1


" Bicara memang mudah. Bagaimana perasaanmu saat melihat Marina menikah lagi dengan Iqbal..? " Mataku kini beralih kembali ke atas pelaminan, menatap ke arah wanita yang berdiri di sebelah Mas Haris.


Syafrie berhenti mengunyah makanannya. Dia menatapku lalu menjawab dengan ringan. " Bahagia."


" Dasar pembohong..! " rutukku pelan.


" Sungguh.. buat apa aku harus berbohong. Aku memang bahagia ketika melihat Marina menikah dan menemukan pengganti diriku. Itu artinya dia sudah bisa melupakan kisah kami semua."


" Aku tak percaya dengan apa yang kamu katakan, Syafrie. Pastinya juga kamu merasakan kesakitan dan nelangsa seperti yang aku rasakan saat ini." tudingku ke arah Syafrie.


Pria itu meletakkan kembali mangkoknya yang sudah kosong dan mengambil air mineral yang berada di sebelah kursi. Meneguk isinya sampai habis tak bersisa.


" Aku memang tidak pernah mencintai dia semenjak istriku hadir dalam hidupku. Jadi ketika Iqbal memutuskan untuk menikahi Marina, aku merasa lega. Merasa terbebas dari rasa bersalah. Aku mau jujur padamu, dulu saat kamu pergi meninggalkan aku, pernah terlintas dalam pikiranku untuk belajar mencintainya kembali karena rasa marah kecewa, dan sakit hati atas kepergian istriku yang meninggalkan aku tanpa kabar berita. Namun, aku tak bisa. Sebab, meskipun istriku bukan cinta pertamaku, tapi dia cinta terakhirku. Kedudukannya di hatiku tak pernah bisa tergeserkan meski setengah mati aku berusaha untuk mengenyahkan dia dari hati, sebab telah melukai hati dan egosku sebagai suami. Aku berkata jujur pada Marina tentang perasaanku. Alhamdulillah, ternyata dia bisa menerimanya. Akhirnya kamipun resmi bercerai. Begitu saja. Semuanya berakhir sudah. Lalu Iqbal datang dalam hidup Marina. Mereka kemudian memutuskan untuk menikah. Aku turut bahagia. Bahkan merasa sangat bahagia. Selesai. "


Aku tidak menimpali ucapan panjang dari Syafrie. Tapi kemudian terucap dari mulutku." Diantara ketiga anak Marina, apa kamu yakin tidak ada satupun dari mereka merupakan sumbangan dari kemaluanmu? " tanyaku tanpa tedeng aling.


" Astagafirullah, Asma. Nyebut istriku, nyebut. Berdosa menuduh suami sendiri seperti itu." Syafrie mendelik tak suka.


" Ya, siapa tau saja, Syafrie. .. "


Ucapanku terjeda saat ku dengar suara gaduh dari arah pelaminan.


Suara orang yang sedang berteriak-teriak sambil menunjuk - nunjuk ke arahku.


" Perempuan ini yang sudah menyebabkan Mas Haris bunuh diri. Dia yang sudah membuat Mas Haris nekat mengakhiri hidupnya dengan minum racun itu. Dia tak rela jika aku bersama Haris. Dia menyangka aku telah merebut Mas Haris darinya. Padahal aku bersumpah, bahwa Mas Haris sendiri yang datang melamarku agar bisa terbebas dari perempuan pengkhianat macam dia." tuding Isna sambil berkacak pinggang menunjuk kepadaku.


Aku hanya berdiri terpaku tak tahu apa yang terjadi dan tak tahu apa yang harus aku lakukan.


Tidak.. aku tak tahu apa - apa. Aku juga tak tahu jika Mas Haris sudah meminum racun. Aku sungguh tak tahu. Bukan aku yang menyebabkan Mas Haris bunuh diri. Aku tak menyebabkan Mas Haris bunuh diri. Bukan aku....


Aku merasa tak berdaya. Semua mata tertuju padaku. Tatapan mereka seakan menghakimi diriku. Padahal aku tak merasa melakukan sesuatu. Sejak tadi aku hanya bersama Syafrie dan hanya berbicara padanya saja. Tapi.... tunggu dulu. Mana Syafrie..... Syafrie... aku mencari - cari di mana suamiku itu. Dari jauh, aku melihat bayangan Syafrie yang perlahan menjauh pergi. Aku berteriak - teriak memanggilnya, namun pria itu malahan semakin bertambah jauh.


Bedebah.. Syafrie.


Kembali dia meninggalkan diriku disaat aku membutuhkan dirinya. Kini, semua mata tertuju kepadaku. Mereka mencibir, menghina diriku dan mencaci maki diriku. Aku menangis menghiba memohon belas kasih pada mereka. Namun, mereka sepertinya tidak memiliki belas kasih untuk wanita hamil ini. Kini mereka mendekat dan menatap padaku penuh kebencian.


" Siksa saja wanita ini. Tendang saja perutnya.. "


" Anak diperutnya adalah anak haram. Anak hasil perzinahan. Bunuh saja dia sekalian sama anaknya..."


Mereka ramai-ramai menyeret tubuhku dan menendang perutku. " Bunuh anak haram itu. Anak itu tak punya bapak... "


Aku menangis.. "Tidak,.. jangan sakiti anak ini. Dia tak berdosa. Dia anak Syafrie. ... Jangan.. jangan bunuh anakku!!" Aku berteriak sekuat tenaga.

__ADS_1


Namun mereka semakin beringas. "Bunuh bayi haram itu dan ibunya. "


Sesuatu menghantam perutku dengan keras. Sakitnya bukan kepalang. Membuat seakan tubuhku terpisah dengan raga.


" Ampun... kasihani bayiku. Jangan bunuh dia. Dia tak bersalah." Aku memohon ditengah kesadaranku yang hampir hilang sepenuhnya.


" Syafrie.... tolong. Tolong selamatkan bayi kita.. " Aku memohon pertolongan kepada ayah bayiku agar menyelamatkan kami.


" Keluarkan bayinya dari dalam perut. Bukankah selama ini dia tidak menginginkan bayinya. Belah saja..! Belah..!


Mereka tanpa ampun menendang dan memukuli perutku. Rasa sakit yang kualami akibat semua perbuatan mereka tak terucapkan oleh kata - kata. Yang terakhir kuingat adalah ketika seseorang membawa sebuah balok berukuran besar dan menghantamkan ke perutku. Aku tak sanggup lagi bernafas. Malaikat maut sudah menjemputku.


" Syafrie....! " Entah kekuatan dari mana aku bangkit dan berteriak memanggil nama pria yang sudah menanam benih di rahimku itu.


" Hey, Asma...! Sayang, hey..! Bangun...!"


Aku membuka mata dan mendapati wajah cemas dan khawatir dari menantu mama itu kepadaku. Bergegas dia bergerak mendekati meja rias dan mengambil botol air mineral dan menyodorkannya kepadaku.


" Minumlah.... Istriku sepertinya habis mimpi buruk. Maafkan aku karena aku tadi sedang sholat subuh ketika istriku tadi memanggilku."


Napasku naik - turun tak beraturan. Baju daster yang kukenakan basah oleh keringat. Aku sangat ketakutan. Mimpi tadi serasa benar-benar terjadi. Nanar mataku memandang ke sekeliling kamar. Menyakinkan diri bahwa aku memang hanya bermimpi. Tanpa sadar tanganku meraba perutku.


Benar.. Rupanya aku memang sedang bermimpi. Buktinya, sekarang aku sedang berada di kamar bukan di tengah pesta pernikahan Mas Haris dan Isna.


Tiba-tiba, aku merasakan perutku mules.


" Syaf... " Aku memanggil ayah Fadil.


" Iya, sayang.. "


" Perutku sakit sekali.. "


Pandangan mata Syafrie tertuju pada perutku.


" Kamu kencing, sayang? "


Aku menggelengkan kepala sambil menyibak bagian belakang dasterku. "Tapi dasterku basah.. "


Reflek tangan Syafrie mengangkat dasterku ke atas. " Da.. daarah...! " ucapnya dengan suara bergetar.


Seketika subuh di rumah mama berubah menjadi heboh oleh suara Syafrie yang berteriak membangunkan semua penghuni rumah.


Ya.... ampun........

__ADS_1


__ADS_2