PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 62


__ADS_3

Kata keluargaku, Syafrie adalah sebaik - baiknya suami abadi ini, tapi bagiku dia adalah pria terbodoh abad ini. Atau mungkin juga aku tak bisa membedakan arti kata bodoh dan sabar. Walaupun aku sudah menginjak - injak harga dirinya dia diam saja dan tetap bersabar menghadapi sikapku. Caci maki dan bentakan puas kulontarkan pada menantu mama itu. Namun sekali lagi, dia tetap diam tak melayaniku. Malahan aku sendiri yang lelah.


Semenjak peristiwa di gubuk dekat sawah itu, ku akui Syafrie memang jauh lebih pendiam dari biasanya. Namun, sikapku pada Syafrie tak juga pernah berubah. Setiap hari dari sejak terbuka mataku, hingga tertutup kembali, aku selalu menjejali Syafrie dengan bekal kesulitan.Aku selalu saja mencari - cari masalah dengannya. Dari hinaan pisik hingga gangguan phisikis semua Syafrie terima, tapi semua itu tak pernah dia hiraukan. Hal itu membuat aku kesal karena aku seperti bicara dengan patung.


Keluargaku..? Jangan ditanya. Sudah pastilah mereka membela menantu kesayangan mereka itu. Mama sudah berulang kali menegur sikapku dengan teguran yang halus, menasehatiku baik - baik agar aku tak menjadi istri yang durhaka, tapi dasar otakku yang gesrek, aku selalu saja beranggapan bahwa mama dan keluargaku selalu membela Syafrie, Sang menantu kesayangan keluarga.


Mendapati hal itu, aku bukannya sadar malahan semakin menjadi - jadi. Itu karena aku merasa keluargaku pilih kasih pada Syafrie. Aku yang anak merasa seperti menantu. Bah..... Syafrie memang selalu berhasil menyulut api kebencianku semakin berkobar.


Jika hubunganku pada Syafrie bagaikan Api dan minyak, maka dengan Fadil semua berbanding terbalik. Aku dan Fadil semakin hangat dan mesra saja. Aku melimpahkan semua kasih sayang dan perhatianku pada kakak dari bayi dalam perutku itu.


Aku sering menghabiskan waktuku bersama putraku itu. Makan di luar bersama, membantunya mengerjakan tugas - tugas sekolahnya. Mengantar dan menjemput Fadil di sekolah. Bahkan, semua keperluan Fadil, aku sekarang yang mengurus dan mengambil alih. Kami juga tidur bersama.


Aku sedang berusaha untuk menjadi ibu yang baik. Semua kulakukan untuk anakku itu. Melihat semua itu, semua orang di rumah itu kini tersenyum melihat kedekatan ibu dan anak ini.


Jika dulu saat awal - awal kembali lagi ke desa ini setelah putus dengan Mas Haris, aku sering menangis memikirkan nasib diriku. Meratapi kemalangan diriku. Pengangguran, hamil, kembali lagi menjadi istri dari suami yang pernah berkhianat, mama dan keluargaku yang bersikap pilih kasih dan tak mendukungku, dan jauh dari anakku sendiri. Siapa pun orangnya, aku yakin tak bisa menerima kenyataan itu dan mungkin bisa jadi depresi.


Namun rupanya aku keliru. Hal yang kukira akan menyakitiku justru kini menjadi hiburan yang menyenangkan dan membuatku bahagia.


Aku suka saat melihat Syafrie tertekan sambil mengurut dada mendapati perlakuan dariku. Aku juga suka melihat Kak Mansyah yang hanya bisa kesal dan menggeleng - gelengkan kepalanya melihat Syafrie yang justru membelaku padahal nyata - nyata aku sudah berlaku jahat kepadanya.


Namun yang paling aku suka adalah kehadiran putraku Fadil. Aku suka sekali saat dia bersamaku. Membicarakan Fadil membuat aku berbunga-bunga. Aku suka saat anak lelakiku itu memelukku, menciumku, sikap manjanya padaku, rengekannya, semuanya aku suka. Dia juga suka sekali merajuk. Persis seperti Bapaknya. Benar - benar duplikat Syafrie.


...-----...


Hari ini aku mengajak Fadil putraku jalan - jalan dengan mobil Syafrie. Sepulang dari menjemput putraku itu dengan mobil Syafrie, kami tidak langsung pulang ke rumah, tapi ke rumah Saniah.


Sebenarnya, saat ku jemput, putraku itu belum lagi selesai belajar. Dengan alasan ada keperluan keluarga, aku meminta izin kepada gurunya Fadil untuk menjemput Fadil lebih awal. Hah.... aku memang ibu yang tidak baik. Bisa - bisanya aku mengajarkan anakku untuk membohongi guru dan membolos sekolah hanya demi bisa jalan - jalan ke Mall.


Iya, setelah dari sekolah Fadil aku ke rumah Saniah. Kemudian dengan mengendarai mobil Syafrie, kami bertiga pergi ke Bontang. Aku mengajak putraku bersenang-senang dengan pergi berbelanja ke Ramayana Plaza yang ada di Bontang.


Tadi subuh, Syafrie meletakkan buku tabungan dan juga uang atas ranjangku. Katanya uang jajanku. Jumlahnya lumayan. Sepuluh juta rupiah. Ahhh.... Syafrie memang brengsek. Aku merasa tertampar dengan apa yang dia lakukan. Aku yang telah memperkosanya tetapi kenapa dia yang membayarku. Harusnya aku yang menampar wajahnya dengan uangku. Namun, mana aku punya uang sebanyak itu. Aku saja sekarang pengangguran.


" Mamah... apa ayah tidak marah jika Fadil bolos dari sekolah dan pergi jalan - jalan sama mamah? " Putraku itu memegang lenganku dengan tatapan khawatir dan penuh sesal.


" Tidak, tenang saja. Ayah tidak marah. Mamah sudah bilang, kok." kataku sambil menoleh ke arahnya. Ku elus kepalanya dengan sayang. Hah... mana berani ayahmu marah - marah sama mamah. Bisa habis dia... kataku dalam hati.

__ADS_1


" Tapi kita pulangnya malam sekali, Mah.." kata Fadil yang kini semakin khawatir. Ada kecemasan yang terpancar di matanya saat membayangkan murka sang Ayah yang sebentar lagi bakal dia terima.


" Loh, bukannya kemarin - kemarin Fadil meminta mamah untuk ngurus Fadil. Jadi... ayah bisa istirahat. Nah... hari ini kita bersenang-senang. Jangan rusak kesenangan kita dengan pikiran yang tiak - tidak. Ayo... bawa masuk belanjaanmu. Fadil kuat, nggak..? "


Anak itu mengangguk senang sambil mengambil setumpuk baju baru dan sepatu, buku - buku dan peralatan sekolah juga mainan yang aku belikan saat belanja di Ramayana tadi.


Habisnya aku geram saat melihat baju - baju putraku. Itu - itu saja bajunya dan tak ada modis - modisnya sama sekali. Dasar Syafrie pelit. Padahal, menurut Saniah, gaji Syafrie sangat besar. Di bandingkan dengan slip gajiku, punya Syafrie jauh berlipat-lipat besarnya. Saat itu, aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar informasi keuangan Syafrie dari Saniah.


Menurut Saniah, Syafrie itu bukannya pelit, tapi dia mikir masa depan anaknya. Bukannya apa - apa, pria gantengnya Suka Rahmat itu tidak mikir yang modis - modis, cukup bisa di pakai untuk menutupi tubuh saja sudah cukup. Menurut Saniah, yang salah itu aku. Karena selama ini aku lah yang kurang memberi sentuhan wanita pada kedua orang pria gantengku itu.


Aku cekikikan mendengar makian sahabatku. Aku tak habis pikir, bisa - bisanya dia menyalahkan aku yang nota bene sahabatnya sendiri atas ketidak modisan kedua pria di keluarga kecilku itu.


Dan hari ini, aku menghabiskan duit Syafrie untuk membelikan putra tampanku baju - baju baru dan juga sepatu baru. Biar kapok dia... siapa suruh membiarkan anakku berpakaian seperti gembel. Habislah duitnya ku pakai buat foya - foya shoping di Ramayana.


Sebenarnya, kami bisa saja tidak pulang terlalu malam. Tetapi dasar aku saja istri yang tidak punya akhlak. Tak puas rasanya kalau tidak membuat Syafrie jantungan dengan memikirkan kami. Hahaha..... biar tahu rasa dia. Selama ini aku kesal sekali dengan sikap sok sabarnya itu. Jadi, aku sengaja membuat pria itu sedikit marah padaku. Aku bahkan mengharapkan agar Syafrie marah - marah, membentakku, bahkan jika perlu memukulku di depan keluargaku. Jadi penilaian keluargaku bahwa Syafrie bak Malaikat tak bersayap itu bakalan luntur. Minimal berkurang sedikit. Tapi dasar Syafrie, mana pernah dia melakukan semua hal seperti yang ada dalam pikiranku.


Karena alasan itu juga aku mengajak putraku untuk bolos dari sekolah. Tujuannya hanya satu, supaya Syafrie menjadi kesal lalu memarahiku. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di rumah Saniah dengan menggosip dan menggibah hingga larut malam. Pukul sebelah malam barulah aku pulang ke rumah. Beruntunglah aku, karena bermain di rumah Saniah hingga larut malam aku akhirnya bisa berjumpa dengan suaminya Saniah yang durjana. Jubair dan Syafrie bagaikan dua pasangan yang sangat cocok jika dipasangkan. Sama-sama suka menyakiti perasaan wanita dan sama-sama tak punya malu.


Andai saja bukan karena Saniah, ingin rasanya aku mencaci-maki pria tak tahu diri itu dengan ribuan perbendaharaan kata kasarku. Sudah gatal rasanya mulutku ingin melontarkan bisanya. Namun, bukan Saniah namanya jika dia tidak bisa menenangkan aku.


" Mah.. Mah... sepertinya ayah sudah pulang. Itu motornya. Gimana , Mah. Fadil takut." tunjuknya ke arah pohon kelapa di depan rumah mama. Aku mengikuti arah telunjuk bocah itu. Sebuah honda CBR merah terparkir di sana. Selama aku kembali ke desa ini, rasanya aku tak pernah melihat motor itu.


" Benar, itu motor ayah? " tanyaku. Fadil mengangguk. Aku melongo....


Tadi pagi, saat Syafrie mandi aku mengendap - endap menggeledah celananya dan mengambil kunci mobil dan handphone pria itu, lalu menyimpannya. Aku melakukannya karena jengkel dan sakit hati dengan Syafrie yang telah diam - diam meletakkan uang dan buku tabungan di atas tempat tidurku. Aku merasa terhina dengan semua itu. Alih-alih aku yang telah melecehkannya dengan menidurinya terlebih dahulu tapi nyatanya dia membayarku. Seharusnya akulah yang melakukan itu.


" Jadi ayahmu punya motor gede..? " mataku melotot setengah tak percaya.


" Iya, Mah. Itu punya ayah. Cuma sering dipakai sama om Dhani."


Huh, Dasar Buaya! Untuk apa dia beli motor gede seperti itu jika tidak untuk menggaet cewek-cewek. Pantas saja kata Saniah banyak wanita yang tergila-gila pada Syafrie.


Dasar Buaya Darat!!


" Bisa beli motor gede berarti uang ayah banyak, dong. " kataku penasaran.

__ADS_1


Fadil menatap heran padaku. " Kenapa mamah bertanya seperti itu? Bukannya buku tabungan ayah sudah ayah berikan pada mamah. Jadi mamah bisa lihat sendiri di buku tabungan berapa jumlah tabungan ayah." katanya lagi.


Aku terdiam. Iya juga, sih. Aku memang menerima buku tabungan dari Syafrie dan juga uang. Setelah beberapa waktu yang lalu aku sempat mengembalikan ATM miliknya yang dia berikan padaku. Tapi, gengsi, cing. Mau di kemanakan mukaku. Sama orangnya... ogah. Nah giliran duitnya... mau.. Ups... maaf saja. Aku gak sudi di bilang seperti itu.


Lagi pula mana sudi aku memakai duit Syafrie. Sebenarnya saat belanja tadi, aku memakai duit aku sendiri yang kudapat dari sisa - sisa tabunganku selama bekerja dulu. Jadi... aku sengaja tidak memakai uang yang Syafrie berikan karena aku berniat untuk mengembalikan uang itu beserta buku tabungannya.


" Hmm, baiklah.. Ya udah, kita masuk ke dalam, yuk! " ajakku pada Fadil.


Malam sudah semakin larut. Aku mengajak Fadil turun dari mobil. Sempat kudongakkan wajah menatap langit. Tampak awan hitam yang berarak - arak di langit. Juga titik - titik air yang jatuh di lenganku. Sepertinya tak lama lagi akan turun hujan.


Setelah menutup dan mengunci pintu mobil, aku mengambil tas belanjaan dari tangan Fadil.


" Sini, mamah bantu bawain. Fadil bisa, kah? " tanyaku.


" Bisa, mah." jawabnya.


" Senang, nggak? " tanyaku lagi.


" Iya, mah. Fadil senang banget." jawab bocah itu sambil memeluk pinggangku.


" Makasih, Mah. Tapi.. ayah nggak marah, kan? " tanyanya dengan ekspresi cemas.


" Nggak kok, sayang. Aman... " jawabku.


" Tapi, mah. Fadil merasa bersalah, karena bolos dari sekolah." kata anakku lagi. Astaga...... anak laki-lakiku. Dia masih saja merasa bersalah karena sudah membolos sekolah.


" Nanti mamah yang akan bicara sama dan minta maaf sama ayah." aku menenangkan bocah itu.


" Sudah setengah satu." seseorang berbicara saat kami baru saja menginjakkan kaki di teras rumah membuat kami sangat terkejut. Sorot mata tajam dari pemilik mata kelam itu menatapku dalam, membuat ciut nyaliku.


Tapi mana mungkin aku mau memperlihatkan sisi lemahku. Aku Asma... tidak.... aku tidak boleh lemah. Aku harus terlihat lebih garang dari Syafrie.


" Fadil, sudah malam, sayang. Masuk dan tidurlah di kamar. Ayah mau bicara sebentar sama mamah."


Fadil mengangguk lalu masuk ke kamar dengan patuh. Aku berjalan mengiringi Syafrie. " Apa? " tanyaku sambil memasang wajah garang. " Kamu mau marah? Mau mukul? Nih.... silahkan. Tapi apa kamu nggak salah. Kalau mau marah dan mau KDRT jangan di depan Fadil." Nah... kan. Aku mulai menyerang Syafrie lebih dahulu. Biar saja, aku tak boleh kalah.... Tapi apa?

__ADS_1


" Apa?? " tanya pria itu senyum - senyum sambil menatapku. Aku jadi heran sendiri. Sangkaku dia akan memarahiku karena sudah mengajak Fadil membolos dari sekolah dan pulang hingga larut malam.


__ADS_2