PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 80


__ADS_3

Dia membimbingku ke tempat tidur. Meletakkan diriku dengan hati-hati. Setelah membaringkan tubuhku di tempat tidur, aku meminta Syafrie keluar.


Aku butuh sendiri saja saat ini. Lagi pula dengan terus bersamanya di sini, akan membuat aku benar-benar seperti kehilangan harga diriku. Karana aku tak tahu bagaimana caranya menutup malu karena penolakan Syafrie.


...-----...


Hujan deras di pagi hari mengawali hari ini sejak selepas subuh tadi. Awalnya tidak deras, hanya berupa titik - titik air yang jatuh di atap rumah mama yang terbuat dari seng, namun semakin lama semakin deras. Suhu udara pun lebih dingin dari biasanya.


Angin yang bertiup kencang menggesek daun - daun kelapa menimbulkan bunyi mendesau yang syahdu. Suaranya berpadu dengan suara titik - titik air hujan hingga menimbulkan bunyi yang unik bagai dentingan musik klasik Symphony buatan Mozart.


Aku menggeliat membalik tubuh dan kembali menarik selimut yang tadi merosot di kakiku dan membawanya menutupi seluruh tubuhku rapat - rapat. Entah mengapa hari ini aku merasa sangat malas sekali. Mungkin karena faktor cuaca dingin.


Tentang Fika, aku tak perlu khawatir. Bayi mungilku itu sudah diurus oleh ayahnya. Sejak selepas subuh tadi, ayahnya sudah mengangkat dan membawa putrinya itu ke ruang tamu. Biasanya, keduanya akan menghabiskan waktu dengan bermain bersama sampai tiba waktunya bagi Syafrie untuk pergi bekerja. Barulah dia akan menyerahkan kembali putri kami itu kepadaku.


Kadang-kadang, jika sempat Syafrie akan membantuku untuk memandikan Fika dan mendandani putri kecilku itu sebelum menyerahkannya kembali kepadaku. Jadi saat Fika kembali sudah dalam keadaan wangi dan bersih.


Memang selama ini Syafrie selalu memanjakan diriku. Aku diperlakukan laksana ratu baginya.


Urusan anak - anak dia yang urus. Untuk pakaian, dia tak memperbolehkan aku untuk mencuci sendiri. Dia membawa semua pakaian kotor untuk diloundry setiap akan berangkat kerja.


Syafrie juga tidak pernah minta dilayani baik jasmani dan rohani. Untuk urusan masak memasak, dia sudah menugaskan seorang asisten rumah tangga. Dia mengupah tetangga kami untuk mengurus semua urusan membersihkan rumah dan memasak di dapur.


Menurut kak Mansyah, kurang apa lagi si Syafrie padaku. Dia Memaharani-kan diriku di rumah ini. Terlepas dari peristiwa memalukan beberapa hari yang lalu. Pria yang bergelar suami itu masih tetap memenuhi semua kebutuhan keluarga. Semua keperluanku, dia penuhi. Tugas dan tanggung jawabku kadang dia yang mengerjakannya. Bahkan hampir semua tugas - tugasku dia yang ambil alih. Meskipun aku merasa, bahwa pria itu terkesan menghindari aku. Namun ternyata, dia tak melupakan tanggung jawabnya.


Karena terbiasa dengan hal itu, akhirnya aku menjadi terbiasa dengan pemujaan Syafrie kepadaku. Sialnya, aku menikmatinya. Bahkan lebih parahnya lagi, perasaan malu yang kemarin sempat singgah akibat penolakan Syafrie menguap entah kemana.


Kini yang tersisa hanyalah kenyamanan menikmati segala fasilitas yang Syafrie berikan. Diam-diam, aku juga berharap bahwa Syafrie akan berubah pikiran dan kembali mendekati diriku sehingga kami akan segera berbaikan kembali.


Seperti hari ini. Hatiku berbunga-bunga bahagia karena mendengar langkah kaki seseorang memasuki kamarku serta bau parfum yang sangat ku kenali siapa pemiliknya itu tercium dekat sekali dengan keberadaanku yang masih bergelung selimut.


Ranjang tempatku berbaring bergerak.


Ya... Tuhan... jantungku berdetak dua kali lebih cepat.


Apa Syafrie ingin berbaring di sampingku?


Apakah kami akan bermesraan di pagi hari ini? Lalu melakukan.. itu?


Aduh.... bagaimana ini? Aku merasa kurang percaya diri. Aku membayangkan tubuhku yang sedikit melar setelah melahirkan Afika. Apakah Syafrie masih bernafsu jika melihat tubuhku.


Tanpa sadar aku meraba tubuhku dan merasa malu sendiri. Terlebih saat ingat semalam aku memakai underwear yang berbeda warna. Pasti Syafrie akan semakin tak bernafsu jika melihat hal itu... Hal - hal konyol itu terus saja menari - nari di kepalaku.


" Asma.... " Aku merasa elusan di lengan kiriku. Aku pura-pura menggeliat bangun. Namun belum sepenuhnya membuka mataku. Bukan apa - apa , sejujurnya aku hanya sedang sibuk menata isi dadaku yang berloncatan ingin keluar.


" Asma.... " Kembali suara itu memanggil di telingaku. Setan mesum yang kemarin bercokol di kepalaku, sepertinya hadir lagi di kepalaku. Memikirkan bagaimana jika seandainya saja Syafrie yang saat ini sedang berada di atas tubuhku.


Astaga.... aku mengutuk dalam hati. Murahan sekali....


Tidak... itu tidak boleh kulakukan. Aku tak boleh membiarkan Syafrie berbuka puasa semudah itu, setelah beberapa hari yang lalu dia menolakku dan merendahkan harga diriku.


Jadi... jiwa malaikat di dalam diriku sekali lagi menang terhadap setan mesum.Aku punya sedikit rasa malu sehingga berhasil menekan keinginan untuk menarik ayah Fika ke dalam selimut dan menerkamnya.


Aku menggeliat dan pura-pura merasa terganggu atas panggilannya.


Melihat aku yang masih berusaha untuk memisahkan kedua kelopak mataku, Syafrie kembali berucap. " Apa kamu pernah melihat kunci lokerku, tidak? Itu yang ada gantungannya berwarna kuning di atas meja? Sama rompi kerjaku yang berwarna oranye..? "


Ya.. Tuhan. Aku kecewa...


" Mau kerja..? " Aku membuka mata dengan agak malas. Kulirik jam di dinding yang berwarna perak, pukul 08.30.


Astaga...... sudah siang ternyata. Tapi... bukannya dia pergi kerja saat pagi - pagi sekali?


" Hmm, iya... "


Aku menyibak selimut merah tebal yang membungkus tubuhku dengan agak kasar dan beranjak bangun. " Sebentar,... aku mau cuci muka dulu."


Aku bergegas ke kamar mandi meski dengan tertatih - tatih, gosok gigi dan mencuci muka dengan cepat, lalu kembali lagi menemui pria yang masih saja berbaring di atas ranjangku.


" Tadi kau bilang rompi orange dan kunci yang gantungannya berwarna kuning, kan? " aku bertanya balik.

__ADS_1


" Iya... "


Tanganku bergerak mencari kedua benda yang dimaksud oleh Syafrie tersebut. Tak beberapa lama, aku berhasil menemukannya dan bermaksud untuk menyerahkannya pada Syafrie. Namun...


Mataku menangkap sesuatu yang membuat wajahku dan juga hatiku kembali terbakar.


" Ada ini, Syaf...? "


" Asma, kita sudah pernah membicarakan hal ini... "


" Membicarakan, apa? Dengar ya, Syafrie..


kita tidak pernah menyepakati apapun! Jadi jangan pernah mengambil keputusan seenak jidatmu.. ! " Sergahku dengan emosi. Suaraku sampai naik beberapa oktaf.


" Asma... seminggu yang lalu, kita... "


" Kita apa? Apa.., Syaf...Kita tidak memutuskan apapun juga, SYAFRIE!! TIDAK..! " Bentakku. Oh.... Ya Tuhan.. aku rasanya sangat marah sekali pada pria ini hingga ingin mencabik - cabik tubuhnya.


" Sudah, Asma... " katanya sambil menundukkan kepala dengan kedua tangan saling mengait, tanpa berani memandangku.


" Astaga....! Belum Syafrie! Belum..! Kalau aku bilang belum, maka itu berarti belum! Brengsek...! Aku mendatangi Syafrie dan menarik kerah bajunya sekeras mungkin.


Aku tak sadar melakukannya karena sangat marah atas apa yang baru saja pria itu lakukan. Andai saja Kak Mansyah ada di sana, mungkin aku sudah habis dimarahi oleh sahabat Syafrie itu. Namun, memang Syafrie pantas untuk mendapatkan marah dan sumpah serapah dari mulutku.


Barangkali juga andai aku juga tak ingat Tuhan, dan panasnya neraka Jahannam yang kelak akan kudapati, mungkin sudah ku tampar berulang kali wajah pria yang berlabel suamiku itu sekarang juga.


Syafrie meraih tanganku yang masih mencengkram leher bajunya dengan keras dan menariknya turun ke bawah.


" Asma... Luka yang kugoreskan di hatimu lebih dalam dari yang terlihat di luarnya. Aku tak sanggup lagi melihatmu terluka, Asma. Aku tak bisa... Dosaku sudah terlalu banyak. Mungkin dengan cara berpisah dariku, akan bisa menyembuhkan sebentuk daging di dadamu yang tercabik-cabik dan kini sudah menghitam oleh luka. Setiap malam, aku kesulitan untuk tidur hanya karena memikirkan banyaknya kesalahan yang sudah aku perbuat kepadamu. Dadaku terasa sesak, Asma. Makan tak enak, dan juga aku tak bisa konsentrasi saat bekerja. Yang ada dalam pikiranku hanya kamu.. dan kamu. Bagaimanapun juga kamu harus bahagia. Aku harus melihatmu bahagia. Agar aku tak terus di cekik rasa bersalah. Dalam beberapa bulan belakangan ini, jika kamu melihatku lebih banyak diam, bukan berarti aku mendiamkanmu. Aku sedang mencoba, Asma. Aku sangat mencobanya. Betapapun aku tahu, kamu pasti tak akan mau menyambut tanganku. Tapi, aku terus memaksakannya. Aku terus mengulurnya sekuat mungkin. Karena.. aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu kamu, Asma. Aku sangat bingung, bagaimana caranya menyampaikan perasaanku ini. Aku tahu, jika kamu mendengar ini pasti kamu akan merasa jijik padaku. Aku tahu, pasti kamu akan menolakku. Dari itu, aku memutuskan akan pergi saja dari kehidupanmu, Asma. Jadi, tolong izinkan aku pergi, Asma.. "


Setetes air mata Syafrie jatuh di atas punggung tanganku. Air mata yang keluar dari lubuk hatinya. Air mata kepasrahannya atau mungkin juga air mata kelelahannya.


Hatiku berdenyut pedih melihat hal itu. Rasa di dadaku sangatlah sakit. Ta Tuhan.. apakah selama ini aku terlampau batas dalam menyiksa batin Syafrie?


Tapi... apakah aku juga harus mengiyakan permintaannya?


Kerongkonganku tercekat. " Jadi kamu ingin kita berpisah? " Aku bertanya padanya sambil menggigit bibirku yang kurasa sedikit bergetar.


" Mungkin memang benar. Kita di ciptakan untuk tidak bersama. Mungkin sudah ditakdirkan bahwa jalan hidup kita akan berakhir seperti ini. Mau bagaimana lagi... Aku yang terlalu lama berkubanh dalam lumpur kecewa dan nestapaku dan kamu yang mungkin saja lelah menungguku. Berdalih mengikhlaskan diriku pada akhirnya kamu kembali mencampakanku... " ucapku lirih berurai air mata.


Aku tak sanggup menatap Syafrie hingga aku hanya mampu memandangi lantai ubin yang kini terasa semakin dingin. Pandangan mataku semakin kabur oleh air mata.


" Itu karena aku sangat mencintaimu. Teramat sangat, Asma. Jangan berpikir bahwa aku membuangmu. "


" Terima kasih atas penghiburannya. Sejujurnya, aku tak bermaksud untuk bertemu denganmu kembali, jika hanya untuk kembali menangis bersama lagi. Aku tak bermaksud untuk menciptakan kenangan yang penuh dengan rasa sakit. Jika menurutmu berpisah adalah pilihan terbaik bagi kita berdua, maka mari sekali lagi kita menjadi orang asing." Tangisku pecah berlomba-lomba membuncah keluar. Dadaku kebas dan semakin kebas karena sesegukan di dadaku.


" Sudah... jangan menangis lagi. Segera kamu akan terbebas. Aku hanya tinggal mengucap talak dan kita akan pernah kembali lagi bersama selamanya.... "


Syafrie menangis. Air matanya sama derasnya dengan air mataku.


Aku menyesal.... Andai saja aku tahu dari awal, tak akan aku memberi dia kesempatan untuk kembali lagi padaku. Seperti si dungu yang tertipu, aku hanya bisa menyesal. Aku merasa malu sekaligus sedih. Kembali nasibku di buang dan dicampakkan seperti dulu lagi. Dia tak menginginkan aku lagi. Aku kembali lagi terluka. Kembali lagi aku menjadi Asma yang terbuang dan kehilangan cinta. Mengapa Syafrie sangat kejam? Di mana dia membuat aku nyaman terlebih dahulu lalu setelah itu membuangku tanpa belas kasih.


Oh Tuhan...Aku ingin bahagia. Tapi mengapa jadi menangis seperti air hujan begini...?


Aku menunduk tak berani mengangkat wajah untuk mengetahui keadaan Syafrie. Aku tak ingin ayah Fadil dan Fika melihat keadaan diriku yang menyedihkan ini. Mataku sembab karena kebanyakan menangis.


Aku bersikap seolah - oleh memberi kesempatan kepada pria itu padahal sejatinya aku justru sedang menyelamatkan hatiku agar tak kembali lagi terluka seperti dulu. Tapi.. rupanya meskipun aku sudah membuang harga diriku jauh - jauh dan meletakkan gengsiku di bawah lututnya Syafrie, tetap saja pria itu membuangku.


Sekali lagi... aku hatiku terluka... dan berdarah-darah.


Melihatku hanya berdiam diri saja, Syafrie pun berjalan mendekati kopernya. Benar.. Dia serius dengan mengatakan bahwa dia akan pergi meninggalkan diriku. Pria itu mengemasi dan memasukkan apa saja yang perlu di bawa olehnya dengan gerakan yang lambat, seperti sengaja dia menyiksaku dengan pemandangan itu.


Isi kepalaku semakin kosong. Bayangan hidup seorang diri dan harus mengasuh dua orang anak menghantui pikiranku.


Apakah aku sanggup?


Mampukah diriku....?


Selagi aku sibuk dengan semua pikiranku, rupanya Syafrie telah selesai berkemas. Dia berjalan mendekati diriku dan tersenyum manis.

__ADS_1


" Akhirnya kita sampai di tahap ini. Aku berharap kelak hidupmu dipenuhi kebahagiaan. Maafkan aku, aku tak bisa mengucapkan kata talak sekarang ini. Karena aku tak sanggup. Sebenarnya aku takut, Asma. Bukannya menceraikanmu, akan tetapi aku justru berlari jatuh ke dalam pelukanmu. Aku mohon bersabarlah sedikit lagi. Aku tak akan lama. Tunggulah biar aku tenang beberapa saat dulu. Aku akan menelponmu . Aku titip anak - anak, yah! " Dia berucap sambil mengelus pipiku.


" Boleh aku memelukmu? ... Untuk yang terakhir kalinya... " ucapnya lagi


Aku mengangguk sambil berurai air mata.


Syafrie menarikku ke dalam pelukannya.


Tenang....


Hangat....dan


Nyaman.... namun penuh


Aku menangis sesegukan di dada pria yang sebenar lagi akan kembali menjadi mantan suamiku. Sementara Syafrie menjatuhkan bibirnya di pucuk kepalaku.


Semenit.....


dua menit....


sepuluh menit.....


tiga puluh menit.....


Sudah lebih tiga puluh menit kami saling berpelukan. Tak ada yang mau melepaskan diri diantara kami. Akhirnya pada menit ke tiga puluh lima Syafrie melonggarkan pelukannya. Menatapku penuh cinta lalu kembali melabuhkan ciuman di keningku dalam dan penuh cinta.


Setelah itu dia melepaskan diri dan meraih kopernya. Berjalan dengan lesu ke arah pintu kamar kami.


" Tolong jangan pergi... " mohonku dengan memelas.


Syafrie berbalik dan menatapku menggelengkan kepalanya ... kembali lagi mengangkat kopernya.


Saat tangannya terulur untuk meraih palang pintu, entah dapat keberanian dari mana, tiba-tiba saja aku bangkit dan setengah tertatih berlari menghampiri Syafrie.


Sebelah tanganku menarik tubuh Syafrie dan kemudian melingkarkan kedua tanganku di lehernya. Menarik lehernya agar menunduk menatapku.


Entah setan dari mana. Maluku seolah lenyap. Hilang sudah harga diriku. Aku tanpa malu - malu menempelkan bibirku ke bibir Syafrie.


Astaga.... sebenarnya aku merasa sangat malu saat melakukannya. Entah bisikan setan dari mana. Namun, yang aku tahu, adalah bahwa aku tak bisa kehilangan Syafrie kembali.


Mendapati serangan tiba-tiba dariku membuat mata Syafrie terbelalak tak percaya. Bola matanya terbuka lebar. Pun demikian halnya dengan mulutnya.


Terus aku..?


Aku.... putus urat malu.


Aku kesurupan....


Tak punya malu.....


Dengan rakusnya aku melahap bibir Syafrie. Biar saja.....!


Habisnya aku sudah kehabisan cara untuk membujuknya.... dan ternyata cara ini..... berhasil.!!!


Jika awalnya menantu mama itu diam saja dan tak merespon godaan mesum dariku, lama - lama matanya meredup dan akhirnya terpejam...


Aku membiarkan Syafrie menjamah tubuhku. Aku kira selama ini aku sudah banyak belajar dan lihai namun ternyata Syafrie jauh lebih lihai lagi.


Akhirnya, bukan hanya bibir kami yang saling berpagut, tapi aku juga benar-benar mengizinkan Syafrie untuk menyentuh seluruh bagian tubuhku lalu kemudian membiarkan dia 'berbuka puasa'. Aku memberikan Syafrie haknya sebagai suami yang selama ini belum pernah kuberikan dengan rela hati hari ini tanpa adanya obat tidur, ataupun karena keterpaksaan. Semua murni atas keinginanku. . .. dan juga tanpa adanya paksaan.


" apakah setelah ini kamu akan tetap pergi juga? " Aku bertanya kepada Syafrie setelah beberapa saat saling diam setelah melakukan aktivitas berpeluh kami.


"..... "


Aku masih berada dalam pelukan Syafrie. Syafrie masih memeluk tubuhku dengan erat di bawah kukungan tubuhnya, seolah - olah takut jika aku akan terlepas kembali.. "


" Tidak.... kamu tidak boleh pergi, Syafrie. Kamu sudah meletakkan ribuan benih kecebong di rahimku. Aku tak bisa menjamin, apakah tidak satupun dari salah satu kecebong - kecebong itu menerobos rahimku. Kamu harus bertahan dan bertanggungjawab. "


Syafrie melonggarkan pelukannya dan menatap wajahku dengan penuh cinta lalu mencium bibirku sekilas dan kembali melabuhkan ciumannya di bibirku.

__ADS_1


" Tidak..... aku tak akan pernah pergi lagi meninggalkan dirimu.. " Ucapnya mantap.


__ADS_2