PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 90


__ADS_3

Sepeninggal Pak Haris, aku tercenung sendiri. Rasanya masih tak percaya mengapa aku bisa sampai di tempat ini. Berperan sebagai kekasih pura-puranya Pak Haris.


" Saniah...... "


Aku menoleh ketika seseorang memanggil namaku....


What....? Mengapa dia ada di tempat ini?


Aku ingin tak percaya dengan pendengaranku. Tidak... semua ini hanya mimpi saja. Jubair tidak benar-benar ada, pikirku.


" Saniah..... benarkah itu kamu..? "


Mau tak mau aku akhirnya menoleh dan mendapati pria yang bertemu dengannya adalah hal yang harus kuhindari berdiri tegak di depanku.


Jubair...... !!! Mau apa pria itu berada di pesta ini?


Aku tak bisa menutup mulutku karena merasa sangat kaget. Astaga.... mimpi apa aku semalam.


Apa karena semalam aku mengingat kembali masa lalu hingga inilah yang kudapat?


Lututku terasa lemas. Aku rasa tak mampu lagi berdiri hingga tubuhku terasa oleng dan hendak terjatuh. Untung saja sebuah tangan kokoh berhasil menyangga tubuhku hingga aku selamat dari malu karena jatuh di tengah keramaian pesta.


Pak Haris menatap aku dengan tatapan cemas. "Apa kamu baik - baik saja? "


Aku mengangguk lemah karena tak ingin membuatnya semakin khawatir. Aku sempat melirik ke arah belakang Pak Haris. Bayangan Jubair sudah tak terlihat lagi.


Pria itu kemudian membimbingku duduk di salah satu kursi tamu yang tersedia. Dia menyodorkan segelas air minum kemasan ke arahku. Aku menerimanya dan langsung mereguk isinya sampai tandas.


" Lagi....? " Pak Haris kembali menyodorkan segelas air minum yang sama. Aku menggeleng. " Sudah cukup.. "


Pria itu masih menatapku dengan pandangan khawatirnya.


" Beneran kamu nggak papa? "


Aku menganggukkan kepalaku. " Aku nggak papa, hanya sedikit pusing. Apakah ' Mas' masih lama di sini? "


Entah kena angin apa? Aku tiba-tiba memanggil Pak Haris dengan panggilan 'Mas'. Pria itu tersenyum ketika mendengar aku memanggilnya dengan sebutan itu untuk yang pertama kali.


" Mengapa? Apa kamu merasa kurang nyaman dengan mempelai wanita? Cemburu, heh?... heh,? " Pak Haris menaik turunkan sebelah alisnya sambil tersenyum menggoda.


" Tidak... aku hanya merasa kurang enak badan. Tiba-tiba badanku meriang, Mas." kataku.


Tiba-tiba, tangan pria itu sudah terulur ke dahiku. " Astaga, Sani... badan kamu panas. " pekiknya tertahan. Seketika panik menghiasi wajah pria itu.


Bergegas dia menarik tanganku berjalan ke dekat panggung. Menghampiri seorang wanita dan yang terlihat sedang asyik berbicara dengan seseorang.


Deg... kakiku mendadak kaku. Seakan ada ribuan kubik bahan adukan semen yang di timpakan di kakiku sehingga berat rasanya kakiku untuk melangkah maju. Aku hanya terpaku di tempatku berdiri. Wanita itu ternyata sedang berbicara dengan Jubair.

__ADS_1


" Tante, aku pamit pulang dulu. Kekasihku tiba-tiba saja sakit. Aku mau mengantarnya ke dokter. " Rupanya wanita itu adalah tantenya Haris.


" Loh.... kamu kesini sama pacar kamu ya, Ris? Kenapa nggak dikenalin sama tante, sih. Dasar anak nakal... "


" Aku lupa tante. Habisnya kalau sudah sama Sani aku jadi lupa sekelilingku... " canda Pak Haris. Pria itu kemudian menggandeng tanganku dan mengajakku berkenalan dengan tantenya.


" Tante, kenalkan, ini Sani. Sani, kenalkan ini tante Melda. Dia adalah adik ibuku... "


Aku mencoba memberikan senyum paling manis untuk tante Pak Haris. Kemudian dengan sopan aku meraih dan mencium tangan wanita itu.


" Saya Sani, tante.. " ucapku memperkenalkan diri dengan kikuk. Jubair yang menjadi teman bicara tante Melda tak berkedip menatapku.


" Cantik sekali. Ternyata pintar juga kami cari pacar, Ris. Cepat - cepat lamar sama orang tuanya. Ingat umurmu sudah tak muda lagi. Tak usah pake mikir banyak pertimbangan lagi. Entar ujung - ujungnya seperti yang kemarin... " kata tante Melda sambil melirik ke arah Pak Haris. Aku tahu siapa yang dimaksud oleh wanita ini.


Pak Haris terkekeh sambil merangkul tubuhku. Aku menjadi salah tingkah karena perlakuan Pak Haris yang seperti itu. Terlebih tatapan mata Jubair seperti hendak menelanku bulat - bulat.


" Oh, ya. Sampai lupa. Kenalkan ini Jubair. Dia adalah keponakan dari suami tante."


Pak Haris langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Jubair.


" Haris... " Pak Haris memperkenalkan dirinya pada Jubair. Jubair menerima uluran tangan Pak Haris dengan senyum yang setengah dipaksakan. Sementara matanya tak juga mau lepas dariku.


" Dan wanita ini adalah calon istriku.. " kata Pak Haris seraya memperkenalkan aku kepada Jubair. Dia seakan ingin memberitahukan kepada Jubair yang dilihatnya tak berkedip menatapku bahwa aku adalah miliknya.


Terlihat Jubair mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menghela nafas dalam - dalam dan dengan terpaksa aku menerima juga uluran tangan Jubair.


" Jubair.. "


Lucu, seakan kami seperti dua orang asing yang tidak pernah saling bertemu dan mengenal.


" Mas, ayo... " rengekku manja. Aku memang sengaja menunjukkan kepada Jubair bahwa aku ini memang benar-benar calon istri Pak Haris. Biar pria itu tau rasa dan sadar diri.


" Oh, iya. Maaf, tante... Haris pulang dulu, ya, karena sepertinya Sani sudah tak tahan lagi. Badannya sampai demam tadi... "


Tante Melda dan Jubair terlihat menganggukkan Kepala. Bahkan tersirat sikap Jubair yang mengkhawatirkan diriku lewat pandangan matanya. Namun, aku sudah tak peduli lagi. Tak ada lagi yang tersisa di hati ini untuknya.


Pak Haris menggandeng tanganku meninggalkan pesta pernikahan itu di iringi tatapan mata Jubair yang kini terlihat rahangnya mengeras.


Di mobil, kami sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Pak Haris fokus mengemudi, sedangkan aku tenggelam dengan pikiranku sendiri.


" Maaf.... "


" Heh..? Apa..? " aku menoleh ke arah Pak Haris. Aku tak terlalu memperhatikan apa yang dia ucapkan karena pikiranku entah berada di mana.


" Aku minta maaf karena lancang memperkenalkan kamu sebagai calon istri saya, saat di pesta tadi. " ucapnya dengan sungguh - sungguh.

__ADS_1


Aku menarik nafas dalam lalu tersenyum.


"Tak apa - apa, Pak... "


" Tolong, aku lebih suka panggilan kamu tadi saat di pesta.. "


" Tak apa - apa, Mas. Saya bisa mengerti, kok. Saya sudah faham dan terbiasa dengan hal yang seperti ini. Saya tahu bahwa yang kita lakukan hanya sekedar berpura-pura saja. " kataku sambil membuang pandangan ke luar jendela.


Miris sekali.... seperti dulu. Keadaanku tak ubah seperti dulu. Kembali lagi aku bersandiwara di depan orang. Jika dulu aku berperan sebagai istri Jubair yang bahagia, maka kini aku berperan sebagai kekasih Pak Haris yang berbahagia.


Pak Haris tiba-tiba menghentikan mobilnya di sisi jalan. Kemudian dia menatap tajam ke arahku.


"Apa maksud kamu bahwa kamu sudah terbiasa dengan hal seperti itu..? "


Aku tergagap salah tingkah. Aku lupa bahwa pria di hadapanku ini bukanlah pria biasa. Dia atasanku yang sudah pasti punya otak yang lebih encer dariku. Sudah pasti dia mencium kejanggalan di balik kata - kataku barusan. Bodohnya aku....


" Tidak, Pak. Saya tidak punya maksud apa - apa. Saya hanya salah bicara. Maafkan saya, ya Pak.. " Karena gugup aku kembali memanggil Pak Haris dengan panggilan 'Pak'.


" Tidak, kamu harus menjelaskan kepadaku apa maksudnya kamu sudah terbiasa dengan semua itu. Apakah kamu sering berpura-pura berperan sebagai kekasih orang lain? Atau kamu sering kali dikecewakan oleh orang lain? "


Aku menggeleng lemah. " Saya tidak dikecewakan oleh siapapun. " jawabku.


" Jangan simpan kebohongan itu untuk dirimu sendiri, Sani. Siapa dia...? "


" Apa maksud Pak Haris? " aku benar-benar tak habis pikir. Apa maunya pria ini. Mengapa dia begitu ingin tahu apa yang telah terjadi kepadaku.


Pak Haris terlihat menghela nafas panjang. " Sudahlah, ayo turun. Kita sudah sampai di klinik... "


Aku pun akhirnya turun juga mengikuti langkah Pak Haris yang sudah berjalan lebih dahulu masuk ke dalam klinik.


...-----...


Aku terbangun dari tidur ketika mendengar bunyi nada dering panggilan masuk untukku. Setelah pulang dari klinik tadi siang, aku langsung tidur. Rasa lelah dan juga kondisi tubuh yang kurang sehat menjadi alasan buat Pak Haris semakin bersikap over perhatian padaku. Maka, sepulang dari klinik, pria itu langsung menyuruhku untuk beristirahat.


" Masuk dan beristirahatlah, Sani. Nanti malam aku akan menengokmu. Aku ingin memastikan keadaanmu baik - baik saja.


Eit.... jangan membantah. Ingat aku ini atasanmu, loh... " katanya sewaktu mulutku sudah terbuka untuk melayangkan protes.


Aku melirik handphoneku. Sebuah panggilan video masuk dari nomor Pak Haris. Aku segera menekan tombol biru di layar handphoneku dan panggilan itu langsung terhubung.


" Kamu sudah bangun? "


" Iya, Pak.. eh, Mas.. " Aku tersipu malu saat memanggil pria itu. Aku masih merasa canggung dengan panggilan itu.


" Aku akan ke sana sebentar lagi. Tunggu sebentar, ya.. "


Setelah itu panggilan berakhir secara sepihak. Loh......

__ADS_1


Apa maksudnya dengan perkataan ' aku akan ke sana', maksudnya ke rumahku? Malam - malam begini? Mendadak aku ingin menghilang saja dari sini.


__ADS_2