
Beberapa dari kita, beranggapan bahwa Tuhan Pencipta kita sangatlah murah hati. Apa yang kita inginkan, cukup hanya dengan menengadahkan tangan dan berdoa, sudah pasti akan terlaksana segala apa yang kita inginkan. Namun aku lupa satu hal bahwa Tuhan Yang Maha Mendengar dan Pengabul Doa, hanya mendengar dan mengabulkan doa dari orang yang niatnya baik dan benar. Serta doa yang mengandung unsur kebaikan, bukan doa yang buruk.
Aku tidak mengatakan bahwa doa yang kuluncurkan ke langit ke tujuh minggu Lalu adalah doa yang buruk. Demi Tuhan, iri adalah harapanku demi untuk kebaikan bersama. Aku sungguh sangat ingin Ia ada di sisiku saat itu. Meminta doa restu mama dan kakak - kakakku. Hanya saja, rupanya aku salah menilai akan arti sebuah pengharapan. Doaku agar Mas Haris muncul saat itu adalah niat jahat terselubung untuk menginjak - injak harga diri Syafrie.
Sungguh Allah Maha Pengabul doa. Lihat saja, niat burukku bahkan terkabul. Walaupun agak terlambat. Mas Haris muncul pada hari ini. Padahal aku mengharap kedatangannya minggu lalu. Kejadian yang kuharapkan terjadi pada minggu lalu, justru terjadi pada hari ini. Kekasih hatiku itu melangkah dengan penuh percaya diri menyongsongku.
"Hai, Dewiku." Dia berdiri dua langkah di hadapanku, menunduk untuk menyamakan tinggi badan kami. " Masih tetap cantik." katanya. Oh.. Tuhan... aku melambung. Dia memang kekasih hatiku. Pipiku bersemu merah. Setengah hidup aku menahan bahagia yang membuncah dalam dadaku. Hingga tanpa sadar setetes bening lolos dari sudut mataku.
Aku menyuruh lelaki pujaan hatiku itu untuk masuk ke dalam rumah, atas perintah Kak Mansyah. Kemudian, Kak Mansyah dan Mas Haris duduk berdua di ruang tamu. Aku kemudian beranjak melangkah pergi ke dapur untuk membuatkan minuman teh untuk Kak Mansyah dan Mas Haris.
Rumah mama telah sepi. Maklum saja, sekarang sudah jam sebelas malam. Aku yakin anggota keluarga yang lain sudah terlelap dalam mimpi.
Di ruang keluarga, aku hanya menjumpai Kak Darre yang sedang menonton televisi. Melihatku datang, dia langsung menarik tanganku dan mengajakku duduk di dekatnya.
" Apaan sih, Kak. Aku mau buat minum ini." kataku kesal. Entahlah... sejak aku mengetahui Kak Darre berada di kubu Syafrie membuatku merasa tidak sungkan lagi padanya.
" Siapa? " dagunya terangkat mengarah ke ruang tamu.
" Teman aku, lah! "
" Spesial? " tanyanya lagi sambil tangannya membolak-balikan bantal di depannya.
" Hemm." aku menjawab dengan deheman.
" Lalu Syafrie? " Matanya sarat dengan ketidaksukaan. Halah, Syafrie lagi! Syafrie lagi..! mataku memutar bosan.
" Ku kembalikan saja sama istrinya. Selesai..! " Aku bangkit menjauhi kakaku yang mulutnya kini menganga lebarlebar karena kaget mendengar ucapanku.
" Asma, jangan aneh - aneh, deh! " ucapnya setengah berteriak.
" Tau, ah. Terserah ... "
Masih sempat kudengar panggilan frustasi kakakku itu namun sengaja ku tulikan telingaku. Lihatlah, betapa jahatnya aku. Benciku pada Syafrie merembet pula pada kakak - kakakku. Parahnya aku, saat bertemu dengan Mas Haris aku seakan lupa pada jasa Syafrie yang kini berginjal satu demi menolong mama. Malah di hatiku terpikirkan untuk membalas apa yang sudah dia lakukan dulu.
Aku membawa tiga buahcangkir keramik bermotif bunga - bunga kecil yang berisi teh manis hangat ke ruang tamu. Untukku, untuk Mas Haris, dan satu lagi untuk Kak Mansyah. Aku sangat bersyukur jika kakak laki-lakiku itu sudi untuk meninggalkan aku dan Mas Haris untuk bicara berdua saja. Banyak hal yang harus kami bicarakan. Dan aku tak ingin Kak Mansyah hadir di antara kami berdua.
" Panggil Syafrie menemanimu berbincang dengan temanmu." tajam mata Kak Mansyah memerintah. Aku sampai jengah dibuatnya. Mas Haris yang tadinya berniat ingin menyesap teh di cangkirnya sampai berkerut keningnya saat melihat ekspresiku.
" Tak perlu, Kak. Kami hanya akan ngobrol sebentar. Iya kan, Mas.. " mataku lurus menatap pupil laki-laki yang menduduki ruang di hatiku itu, berharap dia mengangguk mengiyakan. Tetapi ternyata aku keliru. Pria itu terlalu lurus hatinya. Mana mau dia dibilang calon menantu yang tak sopan.
__ADS_1
" Jangan, biarkan saja ada yang menemani kita ngobrol." dia tersenyum menatap Kak Mansyah.
Aku tak tahu apa yang lantas kemudian mereka berdua obrolkan saat aku membuatkan teh di dapur. Hanya saja, setelahnya aku mendapati ekspresi tak suka dari raut wajah Kak Mansyah.
Jelas saja dia adalah mak comblangnya Syafrie. Mana mungkin dia suka jika kandidatnya memiliki saingan.
Melihat aku yang hanya diam saja, kakak pertama ku itu memutuskan bangkit sambil menggulung sarung di pinggangnya. " Kamu di sini saja, biar aku yang akan memanggil Syafrie." dia berlalu.
Alunan gemericik air dari selokan air di depan rumah terdengar olehku. Juga suara guntur di langit yang saling berlomba untuk menakar air di langit. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan deras yang akan mengguyur desa kami.
Lima menit berlalu dari terakhir kali Mas Haris mengangkat bibir. Hening diantara kami kini menjadi teman yang menyebalkan. Di antara aku dan Mas Haris kebisuan menjadi orang ketiga yang menemani keadaan kami berdua yang kini masih saling mengunci bibir rapat. Aku kikuk berada di bawah pandang lelaki pemilik mata teduh itu.
Cukup saling melempar pandangan adalah cara kami sekarang melepas rindu. Kini aku percaya dengan lagu 'Gurauan Berkasih ' dari Ancha spin yang dalam liriknya " Rindu dendam bisa terobat, andai sudah bertentang mata.... "
Jarak adalah pujangga yang paling merindu dan suara adalah puisi yang paling di nanti. Karena pada kenyataannya, aku sangat merindukan kehadiran lelaki bermata teduh itu.
Cukup lama aku dan lelaki berperawakan tinggi kurus itu saling memuja lewat tatapan. Sampai akhirnya netra Mas Haris memutuskannya. Kini pandangan pria itu beralih ke foto - foto keluarga yang berada di atas lemari pajangan. Keningnya berkerut saat tak mendapati foto diriku di sana.
" Mengapa aku tak melihat fotomu terpanjang di sana? "
" Aku tidak termasuk dalam kartu keluarga. " jawabku asal. Dia tertawa kecil mendengar ucapanku.
Mataku tak berkedip menatap ke arah leher Mas Haris saat lelaki itu menyesap teh dari cangkir yang dia bawa. Jakunnya yang naik turun saat menelan air teh seakan-akan minta di belai oleh ku. Oh, astaga... apa mungkin jin betina mesum yang hadir saat di Tanah Hulu kemarin ikut pulang bersamaku?
" Mas Haris..! " panggilku. Ada letupan bahagia dalam dada, saat aku memanggil nama pria itu.
" Hm, ya apa? " dia menoleh sebentar lalu kembali menatap fokus pada bingkai besar itu yang tidak ada gambar aku di dalamnya. Aku agak kesal padanya karena dia lebih memilih menatap ke arah foto itu dari pada aku yang jelas - jelas sangat merindukan dirinya.
" Mas, kenapa nggak mengabari aku? " aku mencoba menarik perhatiannya dengan cara pura - pura ngambek.
Dia tersenyum. " Biar jadi kejutan. " jawabnya. Lalu kembali fokus pada bingkai foto di depannya.
" Empat orang di gambar itu wajahnya hampir mirip denganmu, tapi pria yang menggendong anak kecil itu tidak." katanya seraya menunjuk Syafrie dan Fadil.
Pipiku serasa di hantam tongkat sun go Kong. Apa yang harus ku katakan pada Mas Haris. Mukaku sudah berubah warna menjadi putih. Masa aku harus bilang pada Mas Haris bahwa itu mantan suamiku?.... Maaf saja. Sampai lebaran monyetpun tak akan keluar kata - kata itu dari biraiku.
" Huh, itu tidak penting. Sekarang jelaskan padaku apa alasan Mas Haris baru muncul sekarang? " sengaja kupasang wajah kesal dan cemberutku agar dia tahu bahwa aku merana di sini menanti dirinya.
Dia tersenyum menggoda. Kini perhatiannya tertuju padaku. " Kangen, ya? " aku membuang muka kesal.
__ADS_1
" Ternyata jalanan ke sini lumayan jauh, ya Asma. Apalagi jalan masuk ke kampung ini. Jalannya...Masya Allah, bikin aku nyebut berulang kali. Untung saja, Dewiku yang punya kampung."
katanya sambil terkekeh di akhir kalimatnya.
"Aku melewatinya setiap hari. Bahkan bisa berkali-kali. Tapi aku selalu memuja kampung ini. Terlepas dari betapa indahnya desa ini, ada wanita yang teramat kucintai lahir dan besar di sini." Ayah Fadil tiba-tiba muncul dan mengambil posisi duduk di sebelahku.
Tuhan, tidak bisakah Syafrie engkau hilangkan saja dari sini. Sumpah.
dia menghancurkan moodku kalau aku sedang bahagia seperti saat ini.
Lagian, apa katanya tadi? Wanita yang paling dicintai? Hampir saja teh yang ku seruput mengenai wajah tampan Mas Haris. Aku geli, pipiku berkedut menahan tawa. Dia benar-benar pembohong yang hebat. Mana ada pria mencintai wanitanya tapi di pertengahan jalan malah mengkhianati dengan begitu keji. Mungkin cuma dia saja orangnya.
" Hai, Mas. Kenalin saya Haris. Teman dekat, Dewi.. eeh maaf, Asma maksud saya." Mas Haris mengulurkan tangan lengkap dengan senyum manisnya. Ah... priaku. Dia pikir dengan menghadiahkan suami Marina senyum, pria itu akan luluh menerimanya sebagai adik ipar. Mas Haris tak tahu saja, jika pria yang kini rahangnya sedang mengeras itu bukan calon kakak iparnya tapi suami dari kekasihnya. Andai dia tahu, bisa - bisa darah yang mengalir dari seluruh nadinya akan berhenti mengalir.
" Syafrie! " Singkat, padat, jelas dan terlihat kurang ajar. Ukuran tangan Mas Haris tak dijabat. Dia malah bersedekah dan menatap priaku itu dengan tatapan yang tajam. Gatal sekali tanganku ingin mencakar - cakar wajahnya. Biar hancur sekalian wajahnya.
" Maaf, Mas Syafrie. Saya menggangu waktu tidur, Masnya. Ada yang ingin saya jelaskan pada Asma. Dan sepertinya dia tak sabar untuk menunggu hingga esok hari. " Hebat sekali priaku, dia masih sempat untuk meminta maaf kepada Syafrie.
" Syafrie, hilangkan saja panggilan 'Masnya'. Dan silahkan bicara. Saya akan pura-pura tak mendengar. "
Hah, aku ingin tertawa atas idenya. Pura-pura tak mendengar? memangnya dia tuli? " Kenapa tak pergi saja sana, dasar perusak suasana. Penggangu! " sungutku kesal dalam hati.
Sekali lagi, sudut bibir Mas Haris tertarik ke atas membentuk lengkungan di atas belukar tipis dagunya yang terbelah. Hal itu sukses membuat amarah di hatiku yang mulai naik perlahan kembali meredup. " Dewiku, apa kamu siap mendengar ceritaku? " belum lagi aku mengangguk, ku dengar suara Syafrie yang pura-pura batuk. Aku benci suara itu yang seolah- olahraga seperti sedang mentertawakan aku.
Sebagai bentuk protesku, aku melayangkan tatapan mata membunuhku yang di balas dengan tampang yang sengaja dibuat bloon. Bertanya melalui kerut di dahinya ' Salah apa aku? " Allahu akbar.. aku mengurut dada.
Mas Haris tidak terlalu memperdulikan Syafrie yang dia kira adalah kakakku. Lelaki itu kemudian duduk di haapanku dan menggenggam jari jemariku dengan erat. " Asma, nenekku meninggal dunia? Di hari dimana aku harus menemuimu." Wajah Mas Haris berubah mendung saat mulai bercerita kepadaku.
" innalillahi wainnailaihi raji'un. Kenapa Mas Haris nggak kasih kabar ke aku? " Aku menggengam tangannya untuk memberitahunya bahwa aku turut berdukacita.
" Maafkan aku, Asma. Sebenarnya aku ingin. Tetapi hari itu aku langsung menuju ke Desa nenek setelah sampai di Surabaya. Kamu tahu, kan. Desa nenekku sangat terpencil. Untuk ke sana, aku harus menumpang lagi kendaraan air karena lokasinya yang jauh dari kota. Dan sialnya lagi, saat berada di sana, jaringan sangat susah ditemukan. Aku tak bisa mengabarimu, karena aku tak bisa mendapatkan jaringan." Bola mataku membesar setelah mendengar cerita Mas Haris. Dasar memang belum berjodoh. Kendala jaringan saja bisa membuat sebuah impian kami menjadi kandas. Andaikan saja saat itu Mas Haris menghubungiku, maka dengan senang hati aku akan menemaninya.
" Jadi sekarang kamu sudah tahu alasan ketidakhadiranku, kan? " gengaman tangannya semakin erat.
aku menganggukkan kepala. " Aku senang Mas Haris sudah berada di sini. " ujarku. " Mas juga, Dewiku.Tolong, maafkan kesalahan Mas, ya! " Tangannya bergerak hendak membawa jemariku ke bibirnya.
" Hmm, sudah malam. Besok saja kalian lanjutkan dramanya. Tunjukan kamar tamunya untuk temanmu. " Tanpa menunggu jawabanku Syafrie berlalu. Astaga... kami rupanya lupa akan keberadaannya. Dia cemburu.. aku tahu itu, jelas sekali terlihat. Sedari awal, rahang menantu mama itu mengeras. Juga tajam matanya menusuk jalinan tangan antara aku dan Mas Haris.
Salah siapa? Siapa suruh nekat menunggui pasangan yang sedang melepas rindu? Hehehe
__ADS_1