PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 29


__ADS_3

Aku tersentak bangun saat mendengar nada dering dari handphone yang sengaja ku pasang untuk membangunkan ku sholat subuh.


Sigap aku meraih benda pipih berbentuk persegi panjang yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidur.


Layar hapeku menampilkan gambar aku yang sedang tersenyum manis dengan latar Mas Haris yang seperti sedang hendak mencium pipiku. Aku menyukai gambar yang tak sengaja di ambil sewaktu acara family gathering di kantorku. Aku yang kalau itu hendak berfoto selfie tak tahu jika Mas Haris berada di belakang. Saat kamera menjepret gambar sigap Mas Haris nimbrung di sampingku dengan memanyunkan bibirnya. Alhasil.... jepretannya seperti kelihatan Mas Haris hendak menciumku dan aku yang tersenyum bahagia.


Alih - alih menghapusnya, aku malah memasangnya sebagai Wallpaper di hapeku dan tampaknya Mas Haris juga tak keberatan. Malahan foto yang sama dia jadikan juga sebagai di wallpaper di handphone nya dia.


Aku tersenyum memandang foto tersebut. Kerinduan ku pada laki-laki itu sepertinya sudah sangat dalam. Bahkan hanya dengan memandang foto wajahnya saja di wallpaper handphone aku, pipiku jadi menghangat.


Aku jadi teringat akan segala bentuk perhatian - perhatian kecil yang Mas Haris berikan padaku. Hal - hal kecil yang terlihat sepele, namun justru itulah yang mampu mencairkan kebekuan di hatiku. Jujur saja, saat ini aku berharap dia membalas chat yang kukirimkan atau mungkin menelpon ku.


Pandangan mataku menyapu langit-langit di atasku. Aku langsung tersentak menyadari ada yang berbeda. Ini bukan langit-langit kamar di rumah. ....


Pandanganku menyapu ke seluruh ruangan kamar ini. Pandangan mataku tiba-tiba jatuh pada sesosok pria yang paling ingin kusingkirkan di dunia ini, sedang meringkuk tepat di bawah ranjang .


Hampir saja aku menjerit keras, namun urung kulakukan saat tahu siapa laki-laki itu. Aku ingat sekarang, semalam kami berdua terpaksa tidur di penginapan ini karena kemalaman. Dan hanya ini satu - satunya penginapan yang masih buka.


Wajahku serasa disiram air dingin, reflek aku memeriksa seluruh bagian tubuhku. Kembali aku melihat ke arah pria di bawah sana. Alhamdulillah, aku masih berpakaian lengkap.


Kulirik lagi pria di bawah sana yang sedang meringkuk beralaskan tikar spon. Aku berdecih saat melihatnya masih memakai baju yang kemarin. Dasar jorok!" aku mengumpat.


Hmm, baiklah. Aku masih berbaju lengkap, pria itu juga. Aku di atas dan dia ada di bawah. Kami tidur di tempat yang berbeda, meskipun berada dalam satu ruangan yang sama. Jadi, aku simpulkan tidak terjadi apa - apa di antara kami.


Aku menarik nafas lega. Ada perasaan ngeri di hatiku, saat membayangkan mimpiku semalam. Mimpi itu terasa begitu nyata.


" Aauu!" Aku langsung membanting tubuh ke sisi kasur yang lain saat ku dengar teriakan Syafrie yang memenuhi seluruh ruangan kamar.


Aku mengintip di balik selimut saat kulihat Syafrie yang berdiri terhuyung - huyung dengan sorot mata yang tajam.


Aku mengutuk dalam hati. Ini semua akibat rasa nyeri di bawah perut yang kurasakan saat terbangun dari tidurku, membuatku sedikit terhuyung saat bangun dan akibatnya tidak sengaja menginjak kaki Syafrie.


" Jangan sembunyi. Aku tahu, kamu yang telah menginjakku, tadi. "


Aku membuka selimut hingga kedada dan memiringkan kepala menatap sinis ke arahnya.


" Apa? Mau minta cium? "


" Ih, najis...! " kataku sambil bergidik.


" Tapi, dulu kamu, suka! "

__ADS_1


Aku hanya mendengus mendengar ocehannya. Males meladeni Syafrie. Aku tak mau moodku untuk acaranya Mama tuaku menjadi hilang sehingga nantinya aku hanya bisa bertampang masam saja sepanjang hari.


" Kamu mau sholat, Asma? " tanya Syafrie sewaktu melihatku mengambil mukena dari dalam tas.


" Hem..!" Aku tak berniat untuk menjawab pertanyaannya. Tanganku mengambil peralatan mandi dari dalam tas ranselku, menyambar handuk yang disediakan oleh pihak penginapan, lalu melenggang ke kamar mandi.


" Asma, itu.... hmm.. anu.. " katanya bingung dan salah tingkah sambil mengusap belakang lehernya.


" Apa..? " aku menoleh ke arah lelaki yang sangat kubenci itu. " Ngomong tuh yang jelas. Jangan ngomong kayak orang yang habis ketelen koin saja! " sewotku pada Syafrie.


" Tidak, anu.... kamu kalo mau mandi, jangan lupa mandi wajib, ya! " katanya yang sontak membuatku mengernyitkan sebelah alisku karena tak mengerti apa yang sedang Syafrie bicarakan.


Apa maksud ucapan Syafrie? Pandangan mataku tajam menatap Syafrie yang kini bukan lagi mengusap belakang lehernya, tetapi kini menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal.


" Apa maksud ucapanmu, Syafrie? " mataku memicing mencoba menahan emosi yang kini sudah mode on kembali dalam dada.


" Ehmm..... tidak ada... cuma.. " dia makin gelagapan.


" Dasar sinting.. "


" Asma, itu kasar..! "


" Aku serius, Asma. Kamu harus mandi wajib, soalnya . .. semalam aku mendengar kamu menyebut nama seseorang dengan penuh hasrat.. " Ia akhirnya berucap juga dengan canggung.


" Mungkin kamu bermimpi melakukan sesuatu karena aku mendengar kamu mendesah seperti saat kita dulu... " Demi apapun aku tak mau lagi mendengar lanjutan kalimat Syafrie. Sehingga tanpa bicara lagi, langsung aku melangkahkan kaki masuk ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, aku mengunci pintu rapat - rapat. Tubuhku meluruh jatuh ke lantai. Mukaku rasanya panas karena malu yang tak terhingga pada Si Keparat Syafrie.


Aku menarik nafas dalam, mencoba mengingat kembali mimpiku semalam. Anehnya, tak ada satupun juga yang berisi tentang Mas Haris di sana. Sialnya, justru laki-laki yang baru saja melumuri wajahku dengan rasa malu setengah mati itulah yang ada dalam ingatan.


" Mungkinkah namanya dia yang ku sebut? " Aku mengingat - ingat kembali mimpiku. Satu umpatan kasar lolos dari bibirku. Rasanya aku ingin mati saja.


Bagaimana bisa aku bermimpi erotis dengan musuh bebuyutan ku yang bahkan menyebut namanya saja aku merasa jijik.


Astaga..... Astaga.... bagaimana mungkin aku bisa bermimpi demikian dengannya. Ingin rasanya aku menghantamkan kepalaku ke tembok kamar mandi ini agar aku mengalami amnesia. Dengan demikian aku tak perlu lagi mengingat mimpi sialan itu lagi. Rasanya aku sudah tak punya muka lagi untuk bertemu dengan Syafrie si pembawa sial itu.


Dan sekali lagi, rupanya nasib sial rupanya masih senang berada di dekatku. Saat kusibak gamisku, aku mendapati cairan putih lengket di sana dengan aroma khas yang meskipun sudah lama sekali tak kulihat, namun aku masih hapal sekali baunya. Jantung ku berdetak cepat, mungkinkah...?


Aku mengumpat kasar dalam hati. Aku harus mendesak Mas Haris untuk cepat - cepat melamar aku. Karena aku khawatir, lama tak disentuh, setan betina mesum dalam diriku sudah haus akan belain.


...-----...

__ADS_1


Kedatanganku disambut isak tangis haru oleh keluargaku. Mama tuaku bahkan tak henti - hentinya memelukku sambil menangis dan mengusap kepalaku dengan sayang.


Sejak melihat kedatanganku bersama Syafrie, Mamak Suha yang duduk di atas panggung pelaminan langsung berdiri, menghambur lalu memelukku dengan erat.


Dan disinilah aku sekarang. Mamak Suha, mama tuaku itu langsung menyeret ku masuk ke dalam rumahnya yang berada di samping tenda pengantin dan mengurungku di kamar yang berada di sebelah kamar pengantin. Apalagi kalau bukan mengintrogasi ku mengenai kepergian ku yang sepuluh tahun menghilang tanpa pernah memberi kabar.


Aku pun bercerita pada mamak Suha bagaimana perjalanan hidupku. Mulai dari kepergian ku meninggalkan desa Suka Rahmat hingga sekarang dalam kurun waktu selama sepuluh tahun.


Selama bercerita, mamak tak hentinya membelai dan mengelus kepalaku yang kini tengah berbaring di pangkuannya.


" Asma, kamu kemana saja, selama ini. Kami mencari mu bahkan sampai ke Balikpapan hingga Sangatta. Kamu begitu pandai bersembunyi, hingga kami tak bisa menemukan jejak mu." Aku meringkuk berbaring di atas pangkuannya dengan tangannya yang tak berhenti mengelus kepalaku.


Mamak Suha memang sangat menyayangi aku. Dia memperlakukan kami anak - anak mama seperti anaknya sendiri. Aku tahu dia sangat mengkhawatirkan keadaanku. Andai saja perhatian dan kasih sayang mama dan kakakku bisa seperti kasih sayang yang Mamak Suha berikan, mungkin saat ini aku tak terlalu meradang melihat kedua makhluk itu di rumahku. Ayah dan anak itu, dengan kejamnya membakar habis seluruh kasih sayang mama dan keluargaku. Aku meringis menyadari betapa anak Syafrie itu telah merebut habis seluruh kasih sayang mama padaku. Dia sungguh serakah seperti ibunya.


" Maafkan Asma yang tak pernah memberi kabar, mak.. "


" Seharusnya dulu saat kau terluka, kamu bisa datang kesini. Kan ada kami disini. Kami juga keluargamu, nak. Kamu pergi, lalu menghilang. Betapa merasa bersalah Bapak tuamu sebagai kakak dari ibumu dan om Basri sebagai adik bapakmu. Kami semua merasa tak berguna melindungimu. Kami semua yang dititip amanah untuk menjagamu setelah kepergian bapakmu.. "


" maaf.. " hanya itu kata yang keluar dari mulutmu.


" Sudahlah... toh, kamu juga sudah kembali. Jangan pergi - pergi lagi.. "


Aku mengangguk dalam diam. Terlalu banyak menangis membuat kepalaku pusing. Belum lagi rasa nyeri di bawah perutku yang mungkin akibat masa haidku sebentar lagi akan tiba.


Belaian lembut mamak tuaku di kepala menyadarkan diriku. Belain mamak tuaku begitu menentramkan. Aku jadi teringat belaian ibuku, hingga aku hampir saja menutup mata, kala pintu di buka dan Bapak tuaku berdiri di depan pintu.


Seketika Mamak Suha menghentikan gerakannya membelai diriku. Aku pun juga langsung bangun. Tajam mata Bapak tuaku menghujam langsung ke hatiku.


" Tinggalkan kami berdua, aku ingin bicara padanya.. " Bapak tua adalah orang yang paling kami segani dan takuti setelah ayahku. Beliau adalah orang yang perkataannya haram untuk kami bantah. Lebih dari Kak Mansyah, lelaki ini bahkan menatapnya saja aku tak berani.


Dengan berdirinya dia di sana, berarti palu penghakiman atas diriku yang di vonis bersalah sudah pasti akan kudengar. Jadi siap - siaplah menerima semua keputusannya.


" Naik apa, tadi kesini? " tanyanya mengawali percakapan.


" Naik mobil, Pak. " Lelaki itu menarik nafas panjang. Lidahku keluarga. Bapak Tajuddin, Bapak tuaku itu masih menatap tajam diriku yang kini hanya bisa tertunduk tanpa bisa mampu berucap lagi.


" Dengan suamimu? " Aku memejamkan mata. Aku benci saat mendengar kata 'suami' untuk panggilan laki-laki itu.


" Dengan suamimu..? Bapak tuaku bertanya sekali lagi. Aku terpaksa mengangguki. Dari ekor mataku, dapat kulihat senyum terukir di sudut bibirnya. Huh.... ternyata tidak di sana, tidak di sini, sama saja. Semua orang menyukai Syafrie. Aku heran, pake pelet apa dia.


" Baik - baik kamu pada suamimu itu. Kalau bukan karena dia, kita tak akan bisa melihat mamamu lagi. " pelan suaranya saat berucap, tapi mampu membuatku terasa bagai tersengat aliran listrik berjuta - juta watt. Apa yang telah aku lewatkan selama sepuluh tahun???

__ADS_1


__ADS_2