
Aku tak tahu pasti, apa namanya rasa di hatiku. Perasaan marah, benci, kecewa, senang, haru dan bahagia, aku tak tahu lagi yang mana yang saat ini aku rasakan.
Aku seharusnya merasa senang saat Syafrie melepaskan diriku. Akhirnya apa yang kuinginkan tercapai juga.
Tapi, apa yang kurasakan saat ini?
Ketimbang perasaan senang karena terbebas dari ikatan pernikahan yang menjeratku kembali dengan Syafrie, ada perasaan ngilu yang menusuk hatiku saat menyadari sebuah kenyataan bahwa aku tidak lagi halal buat Syafrie.
Bukan karena aku masih cinta pada pria itu. Sungguh mati, bukan itu. Karena aku sudah lama mengubur habis rasa itu di dalam hatiku. Namun, perasaan lebih ke marah atas apa yang pria itu lakukan kepadaku. Syafrie kembali mencampakkan diriku setelah mengambil banyak keuntungan dari pernikahan kami selama dua minggu itu.
Aku belum lupa bagaimana dia memeluk dan memciumku. Sialnya aku..... aku merasa seperti perempuan murahan yang mau saja digerayangi oleh pria itu. Dan bahkan yang terburuk, pria itu terlalu pengecut untuk menalakku langsung berhadapan.
Rasa benciku pada pria itu semakin tumbuh subur di hatiku. Betapa aku mengingat semua yang telah dia lakukan terhadapku. Aku merasa harga diriku diinjak-injak, bahkan di dholimi.
Tunggulah Syafrie... aku akan membuat perhitungan denganmu suatu saat nanti. Kamu sudah menyakiti diriku selalu wanita, istri dan seorang ibu. Maka, jika melihatku bahagia itu adalah hal yang menyakitimu, maka kau akan dapatkan itu.
Aku hanya tinggal mengatakan pada prilaku, maka detik ini juga dia akan menjadikan aku wanita yang paling bahagia di muka bumi ini. Dan aku bersumpah, aku akan hidup bahagia, sangat bahagia bersama Mas Haris.
Dan untuk Syafrie dan keluargaku, aku akan memastikan mengundang mereka pada hari pernikahanku sebagai tamu kehormatan. Dan akan ku pastikan kakakku Mansyah yang terhormat menjadi wali dalam pernikahanku.
Anggap saja aku sedang menabuh kembali genderang perang dengan Syafrie dan keluargaku. Alih-alih berniat ingin memperbaiki silaturahmi dengan keluargaku, aku malah menyulut kembali percikan api dendam yang sempat padam di hatiku.
Aku akan memperlihatkan kepada mereka bahwa kisah sedih Asma dan Syafrie sudah berakhir. Yang ada kini hanyalah kisah baru Asma dan Haris yang berakhir dengan happy ending.
Membayangkan skenario jahat yang telah kurancang rapi dalam otakku membuat dadaku mengembang oleh rasa bahagia. Syafrie tunggulah pembalasanku.
" Mengapa aku merasa akhir - akhir ini Dewiku sering sekali melamun? " Mas Haris muncul di hadapanku membawakan seporsi besar sea food ketika aku sedang asyik melamunkan tentang babak pembalasan dendamku pada Syafrie dan keluargaku.
Dari kemarin, aku terus saja merengek mengajak priaku itu untuk membelikan aku makanan *sea food.
" Masa*? " aku mencebik mendengar komentarnya mengenai aku.
" Hm, itu benar Asma. Kamu memang sering sekali melamun dan wajahmu pucat sekali. Aku khawatir jika kamu sedang sakit." kata Mas Haris. Setelah itu dia mulai menyantap makanan yang dia pesan bersamaan denganmu tadi. Cumi-cumi asam manis.
" Aku tak tahu, Mas." jawabku sambil mengaduk - ngaduk makananku. Entahlah... aku menjadi tak berselera setelah mas Haris mengatakan tentang hal itu. Padahal sebelumnya, aku begitu bernafsu sekali ingin mengajaknya makan di restoran sea food yang kemarin sempat direkomendasikan oleh Mas Haris.
" Lihat saja, malahan sekarang kamu seperti tidak berselera untuk makan." aku menunduk memandangi sepiring asam manis kepiting yang tadi sempat aku pesan.
" Ada apa, sayang? Apa aku telah berbuat sesuatu yang salah di matamu. Katakanlah...kalau kamu diam saja, aku malah terus kepikiran jadinya. " dia berhenti memakan makanannya dan kini menyeruput es jeruk yang ada di hadapannya.
__ADS_1
" Tak ada apa - apa, Mas." jawabku lesu.
Mas Haris menggeleng - geleng kepala melihat tingkahku.
" Tapi aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu. Apakah ini menyangkut diriku? "
Aku menggeleng. " Sungguh, mas. Semua ini tak ada hubungannya dengan mas. Aku hanya sedang tak enak badan saja." Memang, sesungguhnya, kepalaku mendadak pening saat melihat tumpukan makhluk berwarna merah yang kini tergeletak di atas piring di hadapanku. Satu surel Syafrie saja sudah membuat selera makanku selama dua minggu belakangan ini menjadi berantakan. Kini ditambah lagi dengan perkara makan kepiting yang membuat aku semakin bertambah pening.
" Ayo, Asma. Makan makananmu. Capek - capek kita kemari, tapi nyatanya kamu tidak memakan makananmu. Siapa yang dari kemarin merengek - rengek memaksa pengen makan Sea food."
Aku menghela nafas panjang. Kuakui, kadang sifat kekanak-kanakanku lebih mendominasi belakang ini. Aku tahu, Mas Haris saat ini sedang di sibukkan dengan audit di kantor cabang perusahaan yang lain, dan aku kadang suka dengan seenaknya meminta sesuatu yang tak. masuk akal dan tiba-tiba. Dan lucunya lagi, semua itu di barengi dengan sifat memaksaku yang entah muncul dari mana.
" Mas Haris, marah? " aku melirik ke sekeliling restoran ini. Hanya ada beberapa pengunjung yang kesemuanya adalah pasangan.
" Aku tidak marah, Asma. Hanya saja aku rasa akhir - akhir ini sikapmu agak aneh semenjak pulang dari kampung. Ada apa, Asma.? Kamu seperti menyembunyikan sesuatu. Apa kamu tak ingin berbagi cerita denganku? " Tubuh Mas Haris sedikit maju dan meraih jemariku yang tidak memegang sendok.
" Ah, itu hanya perasaan mas Haris saja." aku memutus pandang dengannya. Aku tahu Priaku ini sedang mencoba mencari tahu ada apa dengan perubahan sikapku.
" Syafrie.. ?"
" Hm, ... "
" Mas, bicara apa, sih? " Mataku sedikit terpejam saat mendengar nama. Aku mencoba menahan amarah yang kini mulai muncul merecoki hati. " Kenapa dengan, Syafrie? " aku mencoba menahan panas pada wajahku.
" Benaran karena Syafrie? " Tanya Mas Haris semakin penasaran.
Astaga.... ada apa dengan pria di hadapanku ini?. Aku mundur dan berdiri menjauh karena tidak senang dengan pertanyaan Mas Haris yang seperti mencurigai sesuatu. Apakah karena pria itu sudah meminta alamat emailku padanya.
Aku menjadi sedikit kesal terhadap menantu kesayangan mama itu. Ada hubungan apa dia dan Mas Haris sampai berani minta alamat surelku segala? Aku menduga - duga sejauh apa hubungan komunikasi keduanya. Apakah sudah sangat dekat?
Lagi pula apa tujuannya mengirim surel padaku. Kalau tujuannya untuk penjelasan tentang peristiwa sepuluh tahun lalu yang sudah terjadi, aku rasa juga sudah tak ada gunanya. Toh, akhirnya aku juga akan dia lepas. Dasar bodoh.... aku heran, sudah setua itu dia masih saja bodoh. Sama seperti anaknya.
Mengingat Syafrie, membuat kebencianku kembali lagi membuncah. Aku hampir tertawa terbahak-bahak saat mengingat betapa bodohnya aku yang sempat terharu pada kalimat - kalimat yang terdapat pada awal - awal paragraf surelnya. Kini, dia baru saja menambahkan satu lagi daftar kebencian di hatiku karena sudah membuat Mas Haris mencurigai karena dia meminta alamat surelku.
Tapi, selama ini Mas Haris taunya kalau Syafrie itu adalah kakakku. Atau jangan - jangan mantan suami Marina itu mengatakan sesuatu kepada kekasihku itu seperti ancamannya dulu. Keparat..! Syafrie keparat..! Jika sampai dia berani menceritakan pernikahan sialan kami yang selama dua minggu itu, maka aku pastikan bahwa aku akan menjadi malaikat pencabut nyawanya saat itu juga. Aku bergetar menahan geram, hingga tanpa sadar memukul meja. Mas Haris kaget melihat aku yang tiba-tiba memukul meja. Dia menoleh ke sekeliling dan meminta maaf atas ulahku. Namun aku sudah tak peduli. Aku pergi dengan langkah lebar meninggalkan Mas Haris menuju ke toilet restoran.
Dengan kasar, aku membasuh muka. Berharap dinginnya air dapat meredakan amarah yang sempat memanas di hatiku. Maskara yang ku pakai kini sudah belepotan ke mana-mana. Membuat mataku lebih mirip pemeran hantu wanita dalam film kuntilanak. Dasar Syafrie sialan. Semua menjadi kacau gara-gara Syafrie.
Cukup lama aku berada di kamar mandi. Selain untuk menenangkan hati, aku juga memperbaiki make upku yang berantakan. Hasilnya, lumayanlah, dari pada tadi.
__ADS_1
Setelah keluar dari kamar mandi, aku sengaja melewati meja prasmanan dan mengambil nasi putih dan seporsi kecil udang goreng. Mataku menjelajah ke sana kemari.
" Ambil secukupnya, dan yang kamu mau saja, biar tak mubazir. " Aku
sampai Terlonjak kaget. Priaku itu sudah berdiri di belakangku. " Ayo kita kembali ke meja. " Aku tak menjawab perkataannya.
" Maafkan Mas, ya. Tak perlu menghindar seperti ini jika kamu tak menyukainya." kata Mas Haris dengan ekspresi wajah bersalah. Lalu setelah itu tersenyum manis. Manis sekali seandainya saja aku tidak sedang mendongkol.
Itulah yang kusuka dari Mas Haris, dia tak pernah memaksa aku untuk mengatakan apa yang tidak ingin aku katakan kepadanya. Dia selalu memberikan waktu untuk diriku. Dan aku merasa aku menjadi wanita yang paling beruntung saat di cintai oleh pria itu. Pria yang aku juga sangat mencintainya. Tak bisa kubayangkan jika suatu saat Mas Haris berhenti mencintaiku.
Dan hebatnya, hanya dengan kata maaf tadi, emosi yang sempat membuncah di dada, lenyap tak bersisa. Bahkan, nafsu makanku kembali hadir.
Dengan penuh semangat, aku memakan dua ekor kepiting yang terhidang di hadapanku. Sangat enak... sehingga aku melanjutkan memakannya hingga kini hanya tersisa separuh dari porsi semula.
" Makannya pelan - pelan, Asma. Lihatlah, kulitnya tajam - tajam. Nanti tanganmu bisa terluka." Duh, segitu banget perhatian Mas Haris padaku.
...----...
Suasana mendung menyelimuti kota Samarinda. Di langit, terdengar berulang kali suara guntur yang menggelegar seakan ingin mengukur berapa banyak tumpahan air yang akan diguyurkan ke kota yang berjuluk kota Tepian ini.
Aku menatap langit yang kini sudah berwarna hitam. Rasa kram di perutku dan juga rasa mual terasa sangat menyiksaku sejak beberapa jam lalu sedikit banyak membuatku tidak terlalu menghiraukan keadaan ini.
Aku meringis menahan sakit sambil memegangi perutku yang semakin terasa keram. Entah sudah berapa kali aku bolak-balik ke kamar mandi.
Sepiring asam manis kepiting dan udang yang aku makan sudah tak bersisa lagi di perutku. Perut dan pantatku sama - sama bocor. Aku mengeluarkan semua yang aku makan beberapa jam yang lalu melalui dua jalan ini.
Mulutku yang biasanya selalu tajam memaki Syafrie, kini dengan kejamnya memuntahkan semua isi perutku dengan tanpa belas kasih sedikitpun.
Belum lagi pantat yang tak mau kalah dengan mulut. Seakan-akan berlomba dengan mulutku bekerja keras menguras habis isi perutku. Membuat aku benar-benar merasa tersiksa oleh keadaan ini.
Setelah semua penderitaan itu, masih di tambah juga dengan rasa pening di kepalaku. Rasa sakit di perutku saja membuat aku jingkrak - jingkrak seperti orang kesurupan. Sekarang masih ditambah lagi dengan rasa sakit di kepala. Dan perlengkapnya adalah rasa gatal yang kurasakan di sekujur tubuhku. Serasa seluruh tubuhku dipenuhi oleh miang bambu yang membuatku tak hentinya menggaruk.
Aku melirik jam digital yang terletak di atas meja. Pukul. 00.30. Jam segini apa Mas Haris sudah tidur, ya?
Aku berniat untuk meminta pertolongan kepada pria itu untuk mengantarku ke rumah sakit. Karena jujur saja, aku tak bisa lagi bergerak. Rasanya seluruh tubuhku lemas. Tulang - tulangku terasa ngilu dan sakit.
Aku ingat selepas makan sore tadi, Mas Haris bergegas mengantarku pulang ke kos - kosan. Katanya ada masalah yang harus dia selesaikan secepatnya tentang pembukaan kantor cabang yang baru di Loa Janan.
Rasa sakitku semakin tak tertahankan lagi. Dengan gemetar aku meraih handphone aku dan mendial nomor Mas Haris. Belum juga selesai aku menjawab salam dari pria itu, pandangan mataku sudah berganti warna menjadi hitam pekat. Aku sudah tak ingat apa - apa lagi dengan handphone yang masih tersambung dengan Mas Haris.
__ADS_1