
" Pulanglah, Niah..! Bapakmu sedang sakit."
Deg......
Jantungku seakan berhenti berdetak. Benarkah bapakku sedang sakit? Ataukah ini hanya akal-akalan pria ini saja, agar aku tergerak pulang untuk menemui Bapakku.
Aku mencoba diam dan tak menghiraukan ucapan pria itu. Anggap saja aku sedang tidur dan tak mendengar apa yang dia ucap.
" Akau tahu kau tidak tidur ataupun tuli, Niah. Pulanglah, atau kamu akan menyesal nanti. " ucapannya lirih dan nyaris tak terdengar, namun masih bisa didengar oleh telingaku dan penuh penekanan.
Aku sudah tak tahan lagi dan terpaksa berbalik, tak lagi memunggunginya. Kulayangkan tatapan membunuh dan menghujam ke dalam manik mata pria tersebut.
"Jangan coba - coba mengancam diriku, kak. Aku tak segan - segan untuk mengusir dirimu dari sini sekarang juga, Kak. " bentakku dengan kasar. Habis sudah kesabaranku menghadapi pria tak tahu diri itu.
Alasanku pergi sampai sejauh ini adalah untuk menghindari diri dari pria tak tahu malu dan tak tahu diri seperti Jubair.
Diam - diam aku menyesal pergi ke pesta pernikahan kemarin andai saja aku tahu jika aku bakal bertemu dengan manusia purba itu aku tak bakal mau meskipun aku bakal diazab Allah karena harus mengingkari janji pada Mas Haris.
Cekrek....
Pintu ruangan terbuka. Sosok Mas Haris muncul di depan pintu sambil tersenyum lebar. Di tangannya menenteng kantong obat - obatan dan juga sebuah kentong kresek hitam.
"Sani, aku sudah mengurus administrasi kamu. Oh, ya. Aku ada kabar gembira, besok jika ada perkembangan mengenai kesehatanmu maka besok lusa kamu sudah boleh pulang kata dokter. " Mas Haris berkata kepadaku dengan wajah berbinar.
" Benarkah ? Kamu tidak sedang bercanda kan, Mas? " tanyaku dengan atunsias. Aku merasa senang mendengar kabar ini karena aku merasa tak betah jika harus berlama-lama di rumah sakit. Sumpek dan bosan.
Mas Haris menggeleng sambil menggengam tanganku. " Kamu itu, yah. Sejak kapan sih, mas bohong sama kamu. " tukasnya sambil menoel ujung hidungku.
" Ish..Mas Haris..! protesku sambil merengut manja menatap Mas Haris.
Mas Haris terkekeh lalu meletakkan kantong keresek dan obat - obatan di atas nakas.
Jujur saja, bukannya aku geer, walaupun Mas Haris belum mengutarakan perasaannya secara langsung padaku, namun aku bisa menangkap dengan jelas sinyal - sinyal cinta yang dia kirimkan kepadaku. Dan aku sebenarnya tak menampik jika kehadiran Mas Haris mulai menggoyahkan benteng kesendirian yang kubangun jauh sebelum kami dekat.
" Baguslah kalo begitu. Soalnya Bapak di kampung sedang sakit keras. Dan kedatanganku adalah untuk menjemput Niah pulang untuk bertemu dengan Bapak.. " celetuk sebuah suara memecah kegembiraan antara aku dan Mas Haris.
Astaga....
Jubair bedebah!!!
__ADS_1
Terkutuklah manusia purba yang satu ini. Aku lupa bahwa pria itu masih di sana.
Perkataannya sukses membuat kedua bola mata Mas Haris membesar sempurna.
" Sani, kok nggak bilang sih sama Mas jika Bapak kamu sakit? " Mas Haris langsung protes sambil menatap horor padaku.
Glek.... aku menelan ludah sambil memandang penuh kebencian ke arah Jubair. Lalu kemudian menoleh ke arah Mas Haris.
" Eh, itu ya, Mas. Anu... Maaf, Sani juga baru tahu.. " jawabku terbata- bata.
Ingin rasanya aku menendang wajah pria tak tahu malu itu karena sebelnya. Dia merusak kesenanganku.
" Oke, besok Mas akan ajukan cuti buat kita. Mas akan antar kamu pulang ke kampung. Sekalian, Mas juga pengen liburan."
" Mas. Aku tak bisa.." protesku cepat.
"Loh, kok ndak bisa..?" tanya Mas Haris dengan wajah heran. " Kenapa, Dek? " Kali ini Mas Haris memanggilku " Dek". Aku sempat melambung sesaat. Lalu kembali lagi kesal saat berbenturan mata dengan pria yang berjuluk manusia purba itu.
" Iya, pokoknya endak bisa aja, Mas. Kamu lupa,ya. Aku baru saja mengajukan cuti akhir tahun kemarin saat berlibur ke Pulau Kemala bersama teman - temanku, Mas"
Mas Haris menghela nafas panjang mendengar alasanku. Dia tak bisa lagi mendebatku.
Sementara Jubair melotot mendengar penolakanku. Aku melirik wajahnya yang menegang. Huh, aku tersenyum sinis ke arahnya Rasakan....pikirmu aku akan menyerah.
Aku tahu dengan pasti bahwa semua ini jelas hanya akal - akalan pria itu saja. Nyatanya, mendengar aku menolak dengan tegas tentang keinginan Mas Haris untuk memintaku pulang kampung dia langsung pasang wajah kesal.
Memang salahku dimana jika aku menolak untuk kembali pulang. Tak ada siapa - siapa yang ada di sana. Hanya ada keluargaku. Akan tetapi, mereka juga sudah ku anggap bukan lagi keluargaku. Terlebih saat kuingat lagi perlakuan bapak padaku.
Terekam jelas dalam ingatanku, tiga hari setelah kepergianku dari desa Suka Rakmat, bapak menelponku melalui handphone milik sahabatku, Asma.
Bapak marah - marah dan mencaci maki diriku dengan kata-kata yang menyakitkan di telepon. Aku malu sekali pada Asma dan juga Syafrie.
Sebenarnya mereka juga merasa malu dan tak enak hati. Karena mereka sudah berusaha untuk mengelak dan menolak untuk memberikan nomorku pada bapak. Tapi bapak bersikeras memaksa Asma dan Syafrie agar mau memberikan nomorku. Tak habis akal, bapak lalu merampas handphone Asma dan memaksa untuk menghubungiku.
Bapak memaki aku anak tak tahu diri dan menyebut diriku sebagai istri yang tak tahu di untung. Sudah di angkat derajatnya oleh suami tapi malah menggugat cerai. Kata bapak mestinya aku bersyukur karena masih untung Jubair mau menikahi aku yang hanya anak petani miskin dan mandul pula.
Aku ingin tertawa saat itu. Bagaimana mungkin bapak yang seharusnya menjadi tempat aku bersandar dan berlindung malah membela suamiku yang jelas - jelas telah berlaku dholim.
Bagi Bapak, wajar saja Jubair jika Jubair ingin beristri lebih dari satu jika ternyata aku tak bisa memberikan keturunan.
__ADS_1
Aku tersenyum miris saat itu. Bagaimana bisa aku memberikan keturunan jika Jubair saja tak pernah menyentuhku. Apa bapakku lupa, alasan Jubair tak ingin menyentuhku karena dia tidak mencintaiku dan tak ingin mengkhianati kekasihnya.
" Baiklah, terserah kamu, Niah. Tapi jangan menyesal jika tak sempat bertemu dengan Bapak. Aku hanya menyampaikan saja pesan bapak." tukasnya sebelum akhirnya berdiri.
Mungkin dia ingin pergi dari ruangan tempatku dirawat karena tidak tahan menyaksikan kami.
Lagi pula siapa suruh meminta Aku pulang. Aku tak mau pulang ke kampung. Aku takut ini hanya akal - akalan Jubair saja agar aku pulang. Dan selain itu, ada hal lain yang paling kutakutkan selain kepulanganku ke kampung. Dan aku takut jika hal itu akan membuatku harus kembali terluka atau bahkan lebih parah dari hal itu.
" Dek, jangan begitu, bapakmu sedang sakit. Nanti nyesel, loh. Aku tak tahu, seburuk apa hubunganmu dengan Bapak, tapi tak ada yang namanya bekas Bapak, dek. Kalau bekas suami ada.. "
Untuk sesaat wajah Jubair merah padam mendengar ucapan Mas Haris. Mungkin dia tersinggung dengan ucapan Mas Haris yang secara tak sengaja telah menyentil dan menyadarkan dirinya bahwa dia hanyalah bekas suamiku.
Sedangkan aku, aku termenung mendengar ucapan Mas Haris. Benar sekali ucapannya. Tapi mengapa aku merasa sedikit tak rela jika harus kembali lagi ke sana.
" Dek... " Mas Haris menyentuh rambutku dan mengelusnya dengan lembut.
Aku melirik Jubair yang kini wajahnya sudah merah padam sambil mengepalkan tangan saat melihat perlakuan Mas Haris kepadaku.
" Baiklah, Mas. Akan adek pikirkan. Tapi janji, ya. Mas nggak boleh maksa adek, kalau adek nggak mau pulang.. " jawabku.
" Ok, ratuku.. " jawabnya seraya tersenyum menatapku penuh arti.
" Permisi, saya mau pulang, dulu. Nanti saya kembali lagi. " kata Jubair dengan ekspresi wajah dingin.
"Eh, iya Mas. Nanti saya akan berusaha bantu untuk bujuk Sani. Mas tenang saja. Saya yakin Sani pasti bersedia untuk pulang dan menemui Bapak. " kata Mas Haris dengan hormat kepada Jubair.
Astaga... aku yakin pasti Mas Haris beneran menyangka jika Jubair itu benar kakak aku.
Jubair berlalu keluar dari ruanganku, meninggalkan kami hanya berdua saja dengan Mas Haris.
Aku kemudian menarik selimut lalu berbaring membelakangi Mas Haris.
" Dek, Mas mau bicara.. "
Aku berbalik menatap pria itu. Sejenak kulihat ada keraguan di matanya.
" Mas Haris mau ngomong apa? " tanyaku lagi.
" Dek, ayo kita menikah..! "
__ADS_1
Hah.......