
Aku mengemas semua barang - barangku dan mengajak Mas Haris pergi hari itu juga. Aku sudah tak tahan lagi tinggal lebih lama di tempat ini.
" Turunlah, minimal seseorang di dalam sana memberi obat. Wajahmu sudah sepucat kapas. " Aku membuka mata saat Mas Haris menyentuh bahuku.
" Mas, aku hanya butuh istirahat sejenak. Sebaiknya kita cepat - cepat saja sampai ke kota. Selain dari itu, aku sudah tak peduli. "
" Jangan membantah, Asma! "
" Aku tidak membantah, Mas. Begitu kita sampai, aku pasti sehat. percayalah. "Tak ada obat untuk kehampaanku saat ini. Walaupun itu dokter terbaik di dunia tak akan sanggup mengobatiku.
Aku kembali memejamkan mataku rapat. Namun sebuah cengkraman di bahuku membuatku kembali membuka mata.
" Aku mohon, sekali ini saja, turuti aku! "
Aku tertegun menatap wajah itu. " Mas Haris, marah? "
" Menurutmu? "
" Aku janji akan menceritakan semua, tapi bukan sekarang. "
" Tapi aku tidak memintamu untuk menceritakan semuanya, Asma. Aku hanya ingin kamu untuk sedikit belajar bersabar. "
" Aku sudah terlalu banyak mengalah, demi menunggu Mas datang. "
" Sifat tak sabaran membuatku kehilangan restu. " Deretan truk - truk pengiriman sawit yang tadi berada di belakang kami, kini satu persatu berjalan melewati mobil mas Haris. Bisingnya suara mesin berpadu dengan bising suara knalpot yang menenggelamkan jerit geram dari bathinku.
Mata Mas Haris tertuju pada slogan yang tertera di salah satu truk pengangkut sawit itu.
" Kutunggu jandamu, hah slogan macam apa itu. Restu saja nggak dapat." gerutu Mas Haris.
Aku memilih diam karena faham dengan perasaan Mas Haris yang kecewa. Bagaimana tidak? Setibanya dia dari jalan - jalan dengan Fadil, aku sudah menunggunya di teras depan dengan koper dan tas milik kami berdua.
Lalu, begitu saja aku menyeretnya meninggalkan rumah mama dan semua penghuninya tanpa memberinya kesempatan untuk bertanya.
Fadil?
Bahkan hanya dia saja seorang yang menangisi kepergianku. Bocah itu memeluk erat pinggangku bermaksud untuk menahanku. Matanya berderai memohon ibaku. Tapi aku.. Asma yang telah dikuasai oleh gelapnya hati, sama sekali tak tersentuh. Pikiranku justru teringat kembali pemandangan kemarin saat di pantai. Keluarga kecil yang bahagia. Dulu, aku pernah memimpikannya. Jauh sebelum wanita hamil yang Fadil peluk itu hadir dan memporak - porandakan segalanya.
Syafrie versi kecil itu menggeleng kencang saat aku melepaskan kaitan tangannya di pinggangku. Dia tak mengatakan apapun, hanya isak dan ingusnya saja yang berlomba - lomba mengotori gamisku.
Aku ibunya, yang mengandungnya selama sembilan bulan. Bukannya aku tak terluka saat melakukan semua itu, terlebih saat putra Syafrie itu tak hentinya menciumi punggung tanganku, menghiba agar aku mengurungkan niatku. Sungguh, hatiku bagai di sayat ribuan belati. Sakit dan perih.
Akan tetapi, kental darah kami, ternyata tak menyurutkan amarah dan segunung benciku pada, ayah, nenek, om dan tantenya . Dengan sekali sentakan, belitan tangannya terlepas. Setelah mengusap rambut pria kecil itu, aku lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Dari kaca spion, aku bisa melihat putraku berdiri sambil mengusap air matanya. Naluriku sebagai ibu tersentak. Tapi hanya sesaat saja. Dan hal itu tak cukup kuat untuk meruntuhkan sakit hatiku dan juga egoisku.
Bocah yang menyedihkan. Ayahnya seorang pengkhianat. Sedangkan aku ibunya, wanita yang tak punya hati. Mungkin, setelah dewasa nanti, bocah itu akan mengutuk kami mengapa telah melahirkannya ke dunia ini.
Sebelum kendaraan berbelok, kembaran Fajri itu berjongkok sambil menyembunyikan wajahnya di balih kedua tangannya. Bahunya naik turun menandakan ia menyembunyikan tangisan hebat. Dan itu sukses membuat hatiku seperti direndam cuka. Perih.
Andai saja Kak Mansyah melihat hal itu, sudah pasti dia akan mengataiku sebagai ibu terlaknat di dunia, ibu yang kejam, tega dan jahat. Tetapi, aku tak berdaya. Aku tak bisa membawanya ikut serta. Selama ini dia hidup dan tumbuh dalam tangan Syafrie. Diriku tak bisa memberinya ketenangan hidup seperti yang dia dapatkan selama ini dari ayah-nya.
Aku hanya mantan wanita yang depresi. Tak ada hebatnya aku, yang bisa membuat aku sedikit percaya diri untuk bisa membesarkannya. Setidaknya, bersama Syafrie, Fadil akan bisa merasakan apa yang namanya sebuah keluarga. Aku yakin, Marina pasti berperan sebagai ibu yang hebat baginya.
Sedangkan bersamaku, Fadil hanya akan mendapati kesengsaraan.
Jadi biarlah semua kembali seperti asalnya. Seperti sebelum aku hadir di antara mereka.
" Turun, Asma! Jangan melamun! "
" Hah, apa, Mas? " Aku kaget saat Mas Haris sudah membuka pintu mobil untukku. Aku bahkan tak tahu kapan dia keluar.
" Aku sudah mendaftarkan namamu. Kenapa masih di sini? Aku yakin sekali, Mas Haris benar-benar marah padaku.
Tak ada senyum di bibir itu. Padahal, dasarnya dia pria yang ramah dan murah senyum. Namun, kali ini dua hal itu lenyap dari dirinya. Maka aku sudah bisa memastikan bahwa aku sudah membuat kesalahan. ah.. biarlah. Aku memang pantas mendapatkan murkanya.
Aku berjalan mengikuti Mas Haris melewati jembatan kayu yang menghubungkan antara jalan dan bangunan sederhana bercat putih yang bertuliskan 'Puskesmas Santan Ulu'.
__ADS_1
Hari ini hari jumat, maka keadaan puskesmas jadi sedikit sepi. Aku dan Mas Haris duduk di ruang tunggu sambil menunggu giliran.
" Kamu, Asma? " Seseorang menepuk bahuku dari belakang. Aku dan Mas Haris sontak menoleh.
Wanita dengan balutan gamis hitam polos itu terlihat kaget dan menutup bibir menggunakan kedua tangannya.
" Subhanallah, kamu kembali! "
Udara di ruang tunggu puskesmas ini rasanya semakin sedikit. Wanita itu... wanita yang seumur hidupku tak pernah sudi ingin kutemui. Kini berdiri tepat di hadapanku.
Astaga... sedetikpun aku tak pernah bermimpi untuk berjumpa dia setelah dia memberiku kejadian pahit dalam hidupku.
Ibu sambungnya Fadil itu berdiri hanya berjarak satu meter di hadapanku. Memasang senyum canggungnya yang terlihat seperti seringai iblis di mataku. Ada ngilu yang menyerang sendi - sendi hatiku.
Apa tadi katanya, kamu kembali?
Aku mencibir atas kepengecutan Syafrie. Istrinya yang hamil bertanya tentang kehadiranku. Sungguh aku ingin tertawa terbahak - bahak. Jangan berharap Ayah Fadil akan mengatakan perihal pernikahan kami. Bahkan perkara kedatanganku saja, dia menyembunyikannya dari wanita ini.
" Apa kita, kenal? " Aku berperan kembali sebagai wanita yang amnesia.
Dia kembali terkejut. " Oh, Maaf. Aku Marina. Kita punya hubungan di masa lalu. Maafkan aku karena baru memperkenalkan diri sekarang."
Bah.. punya hubungan katanya?
Pasti kepalaku pernah terbentur tembok sebelumnya sehingga aku amnesia melupakan hal itu. Seingatku, dialah alasanku meningalkan Syafrie sepuluh tahun yang silam.
" Oh, ibu sambung Fadil? " Aku mengacungkan jempol atas aktingku sebagai wanita amnesia benar-benar bagus.
Wanita di hadapanku ini menjadi salah tingkah. Mataku yang lancang melirik perut buncitnya di balik gamis. " Adiknya, Fadil? "
" Siapa? "
" Dia istrinya, Mas Syafrie. " aku terpaksa memperkenalkan wanita di hadapanku ini pada priaku yang sungguh aku benar-benar melupakan keberadaannya di sisiku saat ini.
" Eh, kenalin, Mas. Dia Marina." Aku terpaksa melepas senyum. Kulihat Mas Haris melemparkan segaris senyum untuk Marina.
" Dia suamimu? " Ada nada getir saat dia bertanya.
" Bisakah kita bicara empat mata? "
" Tidak. " aku menjawab dengan cepat.
" Sebentar saja, aku mohon.. "
" Maaf, kami buru- buru."
" Ini tentang Fadil dan Syafrie. Aku mohon.. "
" Asma, pergilah. Aku tunggu di sini! " Aku mendelik tak suka pada Mas Haris. Harusnya dia tak menyuruhku untuk pergi
dengan wanita ini. Karena demi apapun itu, aku sangat ingin menjauh sejauh - jauhnya dari wanita itu.
" Sebentar saja, Asma! " Lagi, Marina menghiba.
Aku bangkit dari kursi panjang di ruang tunggu bersamaan dengan itu, sebuah pesan masuk dari Whatsapp ku, pesan dari Kak Mansyah dan itu sukses membuat moodku semakin buruk.
Marina mengekor di belakang. Aku memilih bale - bale yang berada di sebelah kiri Puskesmas. Meja berbentuk huruf L itu amat pas untuk kami, sehingga kami tak perlu duduk berdekatan.
Tempat ini agak jauh dari pasien lainnya sehingga kami sedikit nyaman karena ada privasi.
" Aku berdoa semoga pria yang di sana bukan suamimu." kata wanita itu mengawali percakapan.
" Doa yang buruk. " decihku sinis.
" Apapun itu, ... demi Fadil. Seorang ibu akan melakukan apapun itu demi anaknya, bukan? "
Aih.. aih.. rupanya wanita ini ingin mengajakku perang makian. Baiklah...
__ADS_1
" Lakukanlah.. bukannya kamu memang begitu? Selalu saja jahat. "
Wanita itu tersenyum. Menarik napas dalam. Ingin sekali rasanya aku menggunting bibir wanita itu.
" Terima kasih sudah mengingatkan aku betapa jahatnya diri ini. " Aku melirik dia meremas gamisnya.
" Aku mungkin tak berhak menceritakan ini padamu. Namun, cerita masa lalu yang kusut tak akan pernah terurai jika menunggu Syafrie melakukannya. Dia pasti akan menutup rapat mulutnya demi menjaga kehormatanku. " Ada embun di sudut matanya saat menatapku.
" Aku dan Syafrie sudah lama saling mengenal. Aku adalah sepupu jauhnya Syafrie. Selama kuliah di kota dulu, Syafrie lah yang dimintai tolong oleh ayahku untuk menjagaku. Karena terlalu sering bertemu, ternyata menumbuhkan perasaan di antara kami." Aku gerah dan ingin beranjak dari dudukku. Apa dia pikir aku sudi mendengar kisah cinta mereka? Maaf saja, waktuku terlalu berharga.
" Asma, tolonglah.. " Seseorang mencengkram lengan kiriku. Dengan kesal aku memutar balik tubuhku.
" Tapi aku tak tertarik mendengar kisah roman kalian. Ceritakan saja pada orang lain. Tidak usah padaku."
Sebenarnya, aku sudah muak melihat kehadiran Marina di hadapanku. Sekuat tenaga aku menahan mualku agar tak tumpah membasahi gamisnya.
" Asma, ini demi kita semua. Demi Fadil dan Syafrie." Marina meringis memegangi perutnya. Mungkin karena tiba-tiba berdiri, membuat perutnya mendadak kram. Biasa ibu hamil memang seperti itu.
" Kalau begitu, katakan dengan cepat. Bukan demi kamu atau mereka. Tapi demi diriku, agar kelak aku tidak dikejar - kejar oleh kamu lagi demi untuk sebuah penjelasan yang sudah sangat terlambat sekali. "
Aku kembali duduk diikuti oleh Marina. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suara. Mungkin saja dia berat menceritakan semua karena ada aibnya dan Syafrie. Dan menyembunyikan aib adalah sebaik - baiknya manusia.
" Singkatnya, kami menjalin hubungan yang dalam dan melewati batas. Kami tersesat jauh. Dan saat sadar, kami sudah tenggelam. Ingin menikah, tapi usia masih terlalu muda dan pendidikan kami belum selesai. Akhirnya kata pisah menjadi pilihan.
Kami mulai menjaga jarak. Awalnya memang terasa sulit. Tapi seiring waktu, aku dan Syafrie mulai terbiasa. Ketika Syafrie tamat di bangku kuliah, aku masih harus harus berjuang di bangku kuliah. Kami sudah benar-benar hilang komunikasi saat pria itu memutuskan untuk kembali ke kampung. Setahun kemudian.. kudengar dia menikah. Sejujurnya.. aku patah hati, namun aku mencoba berpikir positif. Mungkin kami memang tak berjodoh. Sudah... begitu saja. Dan dia hilang dari ingatanku.
" Terus, intinya..? " aku sudah semakin gak sabar untuk meninggalkannya. Perutku sudah semakin mual.
" Aku meraih gelar sarjanaku dan kembali ke kampung. Dan di sanalah awal mulai kejadian yang tak pernah kubayangkan sedikitpun akan terjadi. Mamak menemukan diary milikku. Ada nama Syafrie dan dosa besar kami di dalamnya. Ayahku dan mamak murka. Sehari kemudian, dia menemui Syafrie dan Bapakmu, Asma. "
Dadaku sesak. Dia mengatakan bapaknya menemui bapak. Kenapa mereka membawa - bawa serta kedua orang tuaku untuk menutupi aib mereka. Aku semakin muak. Rasa mualku semakin tak tertahankan. Akhirnya aku memuntahkan semua isi perutku di parit dekat rumah sakit. Tak ada yang bisa kumuntahkan selain air bening saja.
" Kamu tak apa- apa, Asma? " Marina merasa cemas sambil menepuk pelan pundakku.
Aku menepis tangannya. " Aku tak apa- apa. Lanjutkan saja ceritamu."
Aku menyeka bibirku, lalu kembali duduk di tempat kami semula.
" Kalau kamu sakit, kita bisa melanjutkannya lagi nanti. "
" Apa kamu pikir aku sudi bertemu kamu lagi? "ketusku.
" Maaf."
" Sudah, cerita! "perintahku.
" Aku sudah menolak, tapi ayah tak mau tahu. Katanya, malu jika nanti aku memiliki suami dan mendapatiku sudah tak perawan lagi. Aku tak bisa menyalahkan ayahku. Kamu kan, tahu pasti bagaimana masyarakat kita yang begitu menjunjung tinggi selaput dara? "
" Karena itu kalian tega membunuh bapakku? "
" Demi bumi dan seisinya, aku bersumpah kalau aku tak menginginkan hal itu."
" Cuih, omong kosong..! "
Suasana hening untuk sesaat. Wanita di hadapanku itu tertunduk sambil memainkan jarinya.
" Lantas, apa maumu? "
" Hah, apa? "
" Tujuanmu menceritakan hal ini padaku?"
Oh, itu. Aku ingin kamu memaafkan Syafrie. Kejadian di masa lalu itu bukanlah salahnya."
" Dia meninggalkan aku. Menikah denganmu tanpa sepengetahuanku." aku menekankan setiap kata yang terucap agar dia tahu aku marah sekarang.
" Mungkin kamu bisa bertanya pada Syafrie, mengapa dia menyembunyikan pernikahan kami dahulu darimu. Tapi demi Tuhan, Asma. Aku bersaksi bahwa Syafrie menerimaku kembali di bawah tekanan bapakku. Dan tak ada lagi cinta dimatanya untukku. Percayalah." Aku ingin tertawa terbahak - bahak saat melihat kegigihan maduku, merayu agar aku memaafkan suaminya.
__ADS_1
" Jadi, kamu melakukan hal ini demi Syafrie? " Ia mengangguk. Aku memuji pilihan Syafrie dalam hati. Tak salah dia memilih wanita ini. Dilihat dari manapun dia memang terlampau memukau. Wajah keibuan. Senyum lembut, mata sendu persis dengan mata Mas Haris. Demi apapun aku tak sebanding dengannya.
" Aku rela dia melupakan aku demi untuk bahagianya."