PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 73


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu. Dua bulan sudah sejak peristiwa memalukan yang mencoreng nama Syafrie sebagai pria paling tampan di desa Suka Rahmat. Bisa-bisanya dia pingsan disaat aku melahirkan. Alhasil.....siap - siaplah dia dijadikan sebagai bahan bullyan baruku.


Dua bulan juga umur bayiku. Bayiku yang merupakan adik Fadil. Awalnya aku sempat takut karena dulu sebelum janin ini lahir aku selalu berpikiran jika janin yang ada dalam kandunganku itu akan membuatku repot kelak. Tapi nyatanya, kehadiran bayi mungil ini justru membuat duniaku menjadi indah dan penuh dengan kebahagiaan.


Untuk pertama kali aku menatap jelmaan kecebong kecil hasil tabungan Syafrie di rahimku, aku kira mataku seperti dipenuhi oleh warna merah muda dari bentuk hati. Astaga.... aku langsung jatuh cinta pada putriku itu. Aku terharu, terkesima dan juga sangat.... sangat takjub pada makhluk kecil yang cantik yang mengeliat dalam bedongan dengan mulut yang menganga kesana - kemari karena haus dan lapar. Aku sampai menangis karena bahagia yang meletup - letup dalam dadaku karena menyadari sekarang aku benar-benar sempurna sebagai seorang Ibu. Aku sungguh tak peduli lagi pada si pembuat kecebong itu.


Lalu setelah dua bulan terlewat, apakah perasaan kagum itu menguap begitu saja?


Oh.... jawabnya, tidak.


Yang ada, aku malah betah berjam-jam memandangi anakku itu tertidur. Aku suka sekali memandang wajah mungilnya. Mengelus dan membelai setiap inci lekukan wajah dengan jemariku. Aku suka sekali membelai dan meremas jemari tangan dan kakinya yang kecil mungil dan montok. Aku juga suka mempermainkan pipinya yang bulat berisi seperti bakpao itu. Menusuk - nusuk atau mencubitnya dengan pelan dengan jari telunjuk. Atau mempermainkannya saat sedang menyusu dengan cara menarik ulur ****** susuku. Aku akan tertawa lucu karena melihat bibirnya yang bulat itu akan terbuka megap - megap lalu bergerak kesana kemari mencari sumber makanannya. Hahaha.... lucu sekali. Rasanya seperti melihat seekor anak burung yang sedang kelaparan.


Aku tak peduli jika orang bilang aku norak.. Tapi nyatanya aku sangat bahagia. Hal sekecil itu ternyata mampu membuat hatiku berdetak bahagia. Rasanya aku seperti anak yang baru mengenal usia puber. Aku kadang senyum - senyum sendiri jika mengingat polah bayiku.


Maklum saja, ini adalah kali pertama aku merasakan bagaimana menjadi seorang ibu yang sesungguhnya. Aku benar-benar merasakan bagaimana rasanya mengurus bayi mulai dari pertama kali dilahirkan hingga saat ini.


Luka atas pengkhianatan Sang ayah, seakan hilang. Entah pergi kemana. Aku tak pernah lagi mengingatnya. Bagiku sekarang duniaku adalah Fadil dan juga bayi mungilku ini.


Aku senang punya seorang bayi. Aku juga tak merasa keberatan karena harus terbangun tengah malam karena bayiku yang menangis karena lapar. Namun, Syafrie tidak memperbolehkannya aku terlalu lelah mengurus bayi kami. Jadi... tugasku hanyalah menyusui, mendandani, menggantikan pokoknya dan itu tadi... berjaga malam hari karena kadang bayi kami sangat rewel pada malam hari. Tapi tak apa.... karena seperti yang ku katakan tadi, aku ikhlas dan senang melakukan semuanya.


Tapi untuk urusan memandikan bayi, nah itu baru menjadi urusan Syafrie atau mama. Soalnya aku belum berani. Aku sedikit ngeri dengan kepalanya yang masih lemah begitu. Terlihat sangat rapuh. Aku takut, jika sewaktu - waktu salah dalam cara memegang, nanti kepalanya keseleo atau lebih parah lepas... bagaimana?


Aku pernah trauma saat belajar memandikan adik Fadil itu. Karena itu adalah yang pertama bagiku memandikan anak, maka aku menjerit saat melihat lehernya yang miring kanan miring kiri, ke depan ke belakang seperti tak punya tulang saja. Aku ngeri sendiri saat membayangkan kalo - kalo leher itu akan lepas dan jatuh menggelinding.

__ADS_1


Mungkin karena sawan dengan jeritanku, malam harinya, bayiku malah jatuh sakit. Semalam dia demam dan terus - terusan menangis. Alhasil... aku begadang sampai pagi. Bayiku baru berhenti rewel setelah mama memanggil Wak Sendang, dukun bayi dan dukun beranak yang pintar mengobati bayi yang punya masalah seperti bayiku. Itulah pertama dan terakhir aku memandikan bayiku. Setelahnya aku tak mau ikut campur lagi dalam urusan mandi - memandikan. Biarlah itu semua menjadi urusan mama atau Syafrie.


Biasanya setelah memandikan Afika, demikian kami memberi nama anak kami, aku betah berlama-lama menatapnya.


Adik perempuan Fadil itu sangat berpengaruh terhadap perubahan pada diriku. Saat memandangnya, air mata penyesalan tumpah ruah. Aku ingat dulu, tak terhitung caci maki yang aku tujukan pada Fika dulu saat masih berada dalam kandungan. Lebih parahnya lagi, aku sampai berniat untuk menggugurkan kandunganku karena kebencianku yang begitu besar dan dalam pada ayahnya.


Ya.. Allah... begitu besar dosaku.


Andai saja kutahu, memiliki seorang bayi seperti Fika ternyata akan semenyenangkan ini. Sepertinya aku memang harus berterima kasih pada Syafrie karena sudah memberi obat tidur dalam botol minuman malam itu.


Aku telah jatuh cinta sejatuh - jatuhnya pada Fika. Sehingga apapun tingkah laku bayi kami yang bagi orang lain mungkin terasa sangat membagongkan, bagiku justru sebaliknya. Pun demikian juga halnya dengan kesalahan yang menjadi alasan adanya Afika ke dunia ini, aku bisa memaafkannya. Aku ikhlas memaafkan semua kesalahan Syafrie di masa lalu.


Bersama Fika aku melewati hari tanpa terasa membosankan ataupun merasa lelah. Bermain bersama anak - anakku dan menghabiskan waktu bersama Fadil dan Fika menjadi keseharianku saat ini. Kadang aku merasa waktu kami bersama kurang, karena Fadil yang harus ke sekolah dan Fika yang tidur karena lelah bermain. Jika sudah begini, aku merasa sedih dan kesepian. Maka, dengan segala cara aku selalu mengusik Fika agar mau membuka matanya dan bermain lagi bersamaku. Jika sudah begini, biasanya mama akan langsung memarahiku karena telah mengganggu tidur cucunya. Kata mama, bayi memang memiliki waktu tidur yang lama supaya dia cepat besar. Aku hanya bisa menggerutu sendiri karena kesal tak bisa melihat bola mata bulat milik Fika yang menggemaskan.


Berpisah sebentar saja dengan Fika aku sudah tak tahan. Maunya aku selalu berdua saja dengan Fika. Fika itu sudah menjadi canduku. Syafrie saja sampai geleng-geleng kepala melihat aku dan Fika yang bagai prangko dengan surat saja. Iya.... pokoknya aku tak bisa lama-lama berjauhan dengan bayi mungilku itu.


Namun, hari ini aku mendapatkan suatu kejutan. Tanpa di duga, Mas Haris, pria yang namanya sudah kuhapus dari hatiku, menghubungi diriku melalui chat, katanya dia ingin menemuiku.


Oh.... iya aku ingat. Kami masih memiliki sebuah urusan yang belum selesai. Untuk itulah kami memang harus bertemu. Aku harus menyelesaikan semua urusan hati yang belum sempat kami selesaikan dulu.


Aku akan mengucapakan kata - kata perpisahan dan melepas Mas Haris dengan senyum. Tak ada lagi dendam dan amarah. Semua hanya masa lalu. Aku ikhlas melepas semua impian dan cita-cita kami. Biarlah... mungkin memang benar, jodohku adalah Syafrie. Pria yang dipilihkan oleh Allah sebagai pria yang mendampingi hidupku. Tak peduli seperih apa luka pengkhianatan yang sempat dia goreskan di hatiku pada masa silam, namun saat ini aku ikhlas memaafkan dirinya.


Aku ingin mengucapkan kata-kata perpisahan dengan Mas Haris dan menjalani kehidupan masing-masing tanpa ada lagi rasa sangkal dalam hati.

__ADS_1


" Kamu mau berangkat sendiri? Tak menunggu Syafrie untuk mengantarmu? " tanya Kak Lela. Dia berdiri di sampingku saat aku mengambil helm dan berjalan menuju ke scoopy baru milikku yang baru beberapa hari lalu dibelikan Syafrie untukku, katanya sebagai hadiah untukku.


Hanya kak Lela, satu-satunya orang di rumah ini yang aku beritahu soal chat Mas Haris semalam. Kakakku itu sebenarnya ingin melarangku untuk pergi menemui suami Isna itu. Namun, aku bersikeras ingin menemuinya karena memang aku harus bertemu Mas Haris untuk menyelesaikan masalah kami. Aku tahu kecemasan Kak Lela. Dia takut aku berubah pikiran dan berniat kembali lagi dengan Mas Haris. Karena saat ini aku sudah selesai melahirkan.


"Fika sama siapa, Asma? " tanya Kak Luna lagi.


" Aku titip Fika sama Syafrie, Kak, " kataku sambil menstarter motor.


" Kenapa tidak titip sama kami saja. Biar kami saja yang menjaga Fika. Lagi pula sebentar lagi, Fadil sudah pulang dari sekolah. Banyak aja orang yang bakal jagain Fika. Berarti Syafrie bisa antar kamu menemui Haris, Asma." Kak Lela masih berusaha untuk mencegahku menemui Mas Haris seorang diri.


" Lagi pula, pasti Haris juga kesini sama istrinya. Pasti istrinya itu juga dibawa saat menemui kamu. Apa kamu tidak canggung jika tidak ada Syafrie di sana menemanimu ? "


Astaga... iya juga ya? Kenapa aku tak kepikiran sampai ke sana. Kemungkinan memang benar jika Mas Haris akan membawa istrinya kesana. Mereka kan sudah menikah. Pastinya kemana - mana, Mas Haris akan bersama Isna. Terlebih lagi, Isna tahu benar siapa diriku. Mantan kekasih Mas Haris yang mengemis cinta dan merengek - rengek agar jangan ditinggalkan.


" Syafrie mencuekin aku, Kak." akhirnya aku keceplosan juga.


Sebenarnya aku tak mau jika ada orang yang tahu bahwa ayah Fadil sedang mendiamkan diriku. Dia sangat irit bicara. Tepatnya jarang sekali bicara padaku kecuali hanya jika berada di depan keluargaku.


Aku..... aku juga tak mau kalah. Dia diam... aku juga diam. Gengsi juga rasanya jika harus menyapa lebih dahulu pria yang sering kau abaikan kehadirannya. Kini pria itu seperti menjaga jarak dan seolah menghindari dariku. Kini... aku terpaksa harus jujur pada Kak Lela perihal ayah Fadil yang mendiamkan diriku.


" Barangkali dia marah karena kamu mau ketemuan sama mantan? Kalau tau begitu, sebaiknya jangan pergi, Asma! "


Syafrie, marah? Akh... rasanya tidak mungkin.....Mimpi aja kali aku bisa melihat Syafrie marah. Soalnya aku tak percaya untuk ukuran pria yang hanya mau bicara di depan keluargaku dan saat membantu mengurus Fika saja dia bisa bersuara. Cuih..... Syafrie tai kucing...

__ADS_1


Entah mengapa akhir - akhir ini kesalku kembali lagi pada ayah Fadil dan Fika itu.


__ADS_2