
Aku berdiri Sambil menatap ke arah jalan raya. Pandanganku jatuh ke lampu - lampu dari kilang minyak PT. Badak yang tampak berkelap - kelip dari kejauhan. Mengapa rasanya hatiku.... nelangsa.
" Kenapa, melamun? " Saniah bertanya padaku. Aku menghembuskan napas kesal. " Syafrie lama, banget..!!
" Oh....Syafrie, barusan dia menelpon, katanya dia agak telat untuk menjemputmu, karena ada troubleshooting di tempat kerjanya." kata Saniah menjelaskan mengapa sampai saat ini Syafrie belum juga menampakkan batang hidungnya.
Aku tersenyum, lalu terkekeh kecil mentertawakan diri sendiri. Membuat Saniah mengerutkan alisnya karena heran.
" Kenapa...? Kesambet, lu? "
Aku menggeleng pelan. " Tidak, aku hanya sedang memikirkan tentang kita berdua."
" Ada apa memangnya dengan kita berdua? " Saniah bertanya dengan raut wajah tak mengerti.
" Yah.... kita berdua ini sama-sama terjebak dengan dua pria brengsek."
Kini Saniah yang menggelengkan kepala.
" Sebenarnya bukan brengsek. Hanya belum mendapatkan hidayah saja." dia menjawab dengan cepat sambil menepuk bahuku. " Syafrie itu lelaki setia. Ingat Asma, selama sepuluh tahun dia tetap menantimu. Walaupun dia sempat mengkhianatimu, tapi dia terpaksa. Itu juga karena mertuanya yang sangat dia hormati yang meminta."
Aku terdiam mendengar ucapan Saniah.
"Entahlah..... tapi saat ini aku masih belum bisa menerima dan melupakan semua masa lalu itu. Pengkhianatan Syafrie seperti sebuah luka, walaupun sudah sembuh, tetapi tetap menimbulkan bekas luka yang tak sedap dipandang mata."
" Asma, setiap orang punya masa lalu. Dan setiap orang memiliki alasan sendiri untuk sesuatu. Kita tidak bisa menilai sesuatu hanya dari kulit luarnya saja. Seperti Syafrie, dia punya alasan tersendiri mengapa dia tak pernah ingin menggantikan posisi dirimu dengan Marina. Apakah kamu pernah bertanya kepada Syafrie, mengapa dia tak bisa menerima Marina sebagai istrinya menggantikan kamu yang kabur bertahun-tahun? "
Aku menggeleng lemah. Malas berdebat dengan sahabatku itu jika menyangkut masalah Syafrie. Seperti halnya juga keluargaku, dia juga pasti akan membela mati - matian si Syafrie itu.
__ADS_1
" Aku tak ingin bertanya tentang hal itu. Saat ini yang ada di dalam pikiranku adalah bagaimana cara menyingkirkan si Kunyuk itu dari hidupku."
" Kamu akan menyesal jika melakukan hal itu. Saat ini, mungkin bagi Syafrie kamu adalah cinta mati baginya. Mencintaimu adalah kebahagiaan bagi dirinya. Dan berpisah kembali dengan dirimu adalah tragedi besar untuk yang kedua kalinya dalam hidupnya. walaupun kamu tak pernah membalas cinta dan segala perhatiannya. Namun, apakah kamu tak berpikir jika suatu saat nanti dia lelah dengan dirimu dan mencari rumah baru yang bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan dirinya. Asma... lihatlah aku. Aku berusaha mati-matian mengharapkan cinta dan perhatian Kak Jubair, sementara kamu ada Syafrie yang mencintai dan melimpahkan segenap kasih sayangnya kepadamu, namun kamu menolaknya mentah-mentah."
Aku terdiam. Tak bisa menyahut atau berkutik lagi akan ucapan Saniah. Di luar, hujan sudah mulai turun. Bunyi ribut di atas rumah Ammak Barre karena atap rumah yang terbuat dari seng membuat suasana rumah terdengar berisik. Hujan turun dengan deras sekali disertai badai. Gorden rumah Ammak bergerak - gerak ditiup angin. Aku merapatkan sweater di tubuhku karena udara yang masuk melalui celah-celah dinding terasa dingin menusuk kulitku.
Aku kembali menatap Saniah. Sahabatku itu kini sedang menselonjorkan betisnya di sofa panjang yang ada di ruang tamu rumah Ammak. " Kalau Syafrie ingin pergi, ya.. pergi saja. Silahkan dia pergi jika dia memang menginginkan hal itu. Aku mencintai orang lain. Memiliki dia kembali membuat aku tak bisa melupakan luka itu, Saniah. Kamu tahu tidak? Beberapa jam sebelum kamu datang, aku sempat berpikir untuk mengakhiri hidupku... " Aku menelan ludah karena tenggorokanku mendadak terasa kering. " pikiranku berperang melawan perasaan dan egoku. Merasa diri kembali dibuang membuat aku merasa sungguh-sungguh tak berguna dan tak bisa menerima semua ini. Mengapa cinta pada akhirnya selalu saja menyakiti. Bagaimana orang bisa mengatakan bahwa cinta itu indah? "
Aku membuang pandangan jauh ke luar jendela kaca rumah Ammak. Menghalau rasa perih di dada yang tiba-tiba saja hadir menyeruak tanpa diundang.
" Namun akhirnya, aku menyadari satu hal. Mengapa aku mau mengakhiri hidupku untuk orang yang jelas - jelas tidak menginginkan diriku untuk hadir dihatinya. Bodoh, bukan? " Saniah menatapku dengan pandangan nelangsa.
" Aku memang kehilangan cinta Mas Haris. Namun aku mendapatkan cinta yang lain. Aku mendapatkan cinta Fadil, cinta dari mama, cinta dari kakak - kakakku dan juga cinta seluruh keluargaku. Berpisah dan kehilangan dalam hidupku bukan berarti aku tidak bisa bahagia. Aku juga tak harus bersama kembali dengan Syafrie untuk hidup bahagia. Jadi kupikir... setelah anak ini lahir, kami mungkin akan berpisah." Aku mengelus perutku yang semakin buncit dengan lemah.
" Asma.... mengapa harus memilih berpisah. Apakah tidak ada jalan lain? "
" Terus.... kamu tadi mengamuk karena mengetahui bahwa Haris akan menikah karena undangan itu? "
" Iya, aku marah dan kecewa sekali padanya. Sampai - sampai aku hampir saja melukai Fadil dan berniat untuk mengakhiri hidupku. Payah.... " Aku meringis, menyesali diri betapa lemahnya imanku sebagai hamba-Nya.
" Asma, Asma.... sungguh miris rasanya melihatmu seperti ini. Menyakiti diri sendiri dan juga anakmu bukanlah hal yang bijak. Haris sudah memutuskan untuk menikah dengan wanita lain. Lantas kamu bisa apa. Apa masih pantas kamu mengharapkannya lagi? "
Aku mengangguk - angguk seolah faham akan sesuatu, lalu.. " Sebenarnya aku bisa merebutnya kembali. Itu tak sulit bagiku. Aku rasa, aku bisa melakukannya." kataku sambil menganggukkan kepala.
Mata Saniah membulat sempurna ketika mendengar perkataanku. " Gila kamu, Asma.! "
" Cinta memang gila, Niah." kataku sambil mengambil tempat duduk di sebelah Saniah. Menendang kaki sahabatku dengan pelan hingga terjatuh ke lantai.
__ADS_1
" Sadis kamu, phisikopat... Nggak ada hati. Persis seperti ratu Iblis. "
Aku menunjul kepala Saniah pelan. " Hei, kalau aku pake hati, mungkin sejak sepuluh tahun lalu, aku hanya tinggal nama, Niah. Untung saja, hatiku sudah lama kubuang. Jadi, jangan salahkan Asma yang sekarang.... salahkan saja takdir yang selalu mempermainkan dirinya." sahutku kesal. Tiba-tiba saja aku merasa kram di perut sehingga tanpa sadar aku membungkuk dan memegangi perutku.
Saniah panik dan segera berdiri." Asma,.... kamu kenapa? Apa perutmu sakit. Aduh.... pasti ini tadi gara -gara habis berkelahi tadi. Aduh..... bagaiamana ini...? mana di luar hujan, lagi." Saniah bolak balik dengan panik.
" Pastii si blis betina tadi menendang perutmu. Aku juga bilang apa? Jangan diladeni.. ya jangan diladeni. Nah... kalau begini, apa sudah jadinya? Mana Syafrie belum datang - datang juga... Aduh..... bagaimana ini? " Saniah terlihat semakin panik. Dia lalu membuka handphone dan menelpon seseorang.
" Syafrie.... kamu dimana, sih? Asma sakit perut. Aku bingung harus bagaimana. Cepat...... kamu kemari... " kata Saniah ditelpon. Wajahnya benar-benar khawatir melihat aku yang merintih kesakitan .
Aku tak berkedip menatap Saniah. Ketakutan dan kecemasannya sungguh-sungguh berlebihan. " Niah,.... Niah... "
" Iya, Asma... tunggu dulu. Aku sedang menelpon Syafrie. Kamu yang sabar, ya? " dia mengelus - elus perutku lalu mengecupnya. Aku nyaris saja tertawa melihat tingkahnya itu. " Dedek bayi jangan marah ya, sama mama. Dedek bayi jangan nyakitin mama. Mama nggak salah, yang salah tante ulat bulu tadi. Nanti, ya , tante marahin dia biar tahu rasa. " kata Saniah sambil mengusap - usap perutku.
" Niah..! Oh.. niah...! " habis sudah kesabaranku. Aku lalu membentaknnya. " Saniah.... jangan begitu. Entar dikira orang aku telah jahatin kamu. "
" Terus, kamu kenapa meringis kesakitan, gitu? "
" Iya, aku hanya merasa sedikit kram saja. Tapi kamu sampai sebegitu khawatirnya. Lebay, tahu? " kataku.
" Habisnya.... aku takut kamunya kenapa - napa. Apa yang harus aku katakan pada Syafrie, nanti jika terjadi sesuatu padamu? "
" Saniah...oh, iya aku lupa. Tadi kita, kan beli pentol. Nah.... sekarang, mana pentolnya. Perut aku lapar." kataku tanpa dosa.
Saniah menepuk jidatnya. " Astaga.... Asma, sama makanan, aja, kamu tak pernah lupa. Aku disini sudah hampir mati karena jantungan mikirin perutmu, nah.. kamu malah mikirin makanan. Asma.. Asma..! "
Aku terdiam. Kami lalu saling pandang dan kemudian tertawa terbahak - bahak.
__ADS_1
" Dasar Asma, sintingggg....!! " teriaknya.