PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 69


__ADS_3

Aku merebahkan tubuhku di kasur sambil merentangkan kedua tanganku. Baru terasa capeknya setelah melalui semua hal yang aku alami hari ini.


" Woaaahhhh..... capeknya...! " kataku sambil melirik jam yang berada di meja kamarku. Pukul 01.15, kami baru pulang ke rumah mama.


Tak lama berselang, Syafrie masuk juga ke kamar lalu menggantungkan tas selempang milikku dan tas kerjanya di belakang pintu kamar. Setelah itu dia beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh.


Hanya sebentar saja, pria yang bergelar Ayah Fadil itu sudah selesai membersihkan diri, lalu keluar menghampiriku.


" Sayang, bersihkan dulu dirimu baru tidur." kata Syafrie sambil menarik tanganku ke atas lalu membawaku dalam pelukannya. Aku bergerak malas - malasan mengikuti keinginannya. Sigap tangan Syafrie membimbing dan menuntunku ke kamar mandi. Setelah membuka bajuku, dengan telaten dia membersihkan tubuh dan juga kakiku. Setelah bersih dia kembali menuntunku ke kamar, memakaikan baju daster yang bersih untukku.


Aku kembali merebahkan diri karena rasanya tubuhku sudah tak bisa lagi kompromi. Rasa kantuk mulai menyerangku.


" Sayang, bangun dulu..!" Syafrie sudah berdiri di tepi ranjang. Tangannya terjulur kepadaku.


" Aku capek.... Syafrie." Aku menggeleng acuh lalu mengubah posisiku agak sedikit tengkurap.


" Sayang, jangan gitu posisi tidurnya, tak baik buat bayi kita. Ayo sini, aku bantu bangunnya.. "


" Aih.... Syafrie. Aku capek, nah.. " sungutku kesal.


" Iya, aku tahu, sebentar saja. Aku mau lihat kakimu."


Terpaksa juga aku menerima uluran tangannya dan beranjak bangun dengan pertolongan Syafrie.


" Ulurkan kakimu, sayang."


Aku mengerutkan kening. Tak mengerti akan maksud dan tujuan Syafrie memintaku untuk mengulurkan kaki. Namun, aku ulurkan juga kakiku ke arah Syafrie yang sudah berlutut di depan ranjang.


" Huh,... kayak nggak ada waktu saja. Besok - besok, kan bisa? " sungutku.


Syafrie diam saja, lalu mengamati kakiku


" Hmm, kakimu lebam dan bengkak. Tadi kata Saniah, kakimu cedera karena habis berkelahi, ya? "


Aku mengangguk saja. Syafrie menghela nafas lantas berdiri mengambil kotak P3K yang berada di atas lemari.


" Boleh aku pegang, kakimu? Aku mau oleskan obat anti memar. "

__ADS_1


" Hmm.., sebelah sini, Syafrie. " tunjukku pada kakiku yang cedera. " Tadi aku tak sengaja menendang pagar pembatas stand. Niatnya sih, mau menendang ****** itu. Tapi meleset." kataku sambil mengangkat baju dasterku hingga ke atas lutut.


" Hussst.... ibunya anak - anakku tak bole ph bicara kasar. Nanti di dengar anak kita." katanya mencubit pipiku dan menelungkupkan kedua tangannya di perutku samping kiri dan kanan. " Kenapa sampai bisa berkelahi, sih? "


" Habisnya aku kesal. Dia menjambak aku sampai robek bajuku. Aku ya, melawan untuk melindungi diri. Terus, dia juga nantangin aku. Jadi, ya aku terima tantangannya. Lumayan, .. hitung - hitung buat hilangin kekesalan. Apa aku salah?"


" Ya, tidak, sih. Tapi tak mungkin orang menjambakmu jika tidak ada sebab. " Tangannya sibuk mengoleskan obat merah dan juga obat anti memar di kakiku.


Aku melotot menatap Syafrie tajam. "Jadi kamu mau menuduhku kalau aku yang duluan mencari gara-gara, gitu? "


" Memangnya aku bilang begitu? " Syafrie balas menatapku sambil tersenyum lembut. " Aku percaya pada padamu. Kamu wanita yang baik. Kamu itu berhati mulia dan selalu mau menolong orang lain. Karena itu aku sangat mencintaimu dari dulu hingga sekarang."


Astaga...


Syafrie sepertinya sedang menyindirku secara halus.


" Gombal..! " aku melongos membuang pandangan. Sialan Syafrie, pipiku mendadak memerah mendengar ucapannya.


" Hebat sekali istri aku ini. Sudah bisa bikin istri orang babak belur. Ternyata tenaga dan perutnya sama besar."


" Kamu ngolokin, aku? "


" Iya, hebat sekali. Aku serius. Kalau tidak, mana mungkin dia berani membahayakan dirinya dan bayi yang ada dalam kandungannya."


Wah... wah.. Syafrie. Tadi memuji, sekarang dia kembali membantingku ke tanah dengan sindirannya yang pedas. Maunya apa, sih?


" Tapi... tapi tadi aku, ....sedikitpun tidak ada dari serangan wanita itu yang mengenai perutku. " kataku membela diri.


" Baiklah.. aku percaya." jawabnya tanpa menoleh kepadaku.


Aku menatap pria itu. Apakah dia marah padaku? Sedari menjemput tadi, pria ini hanya diam seribu kata. Aku sampai jengkel karena kediamannya.


" Syaf... "


" Hmmm... "


" Kamu marah..? " Aku bertanya pada menantu mama itu. Aku penasaran apakah dia marah atau tidak padaku.

__ADS_1


" Tidak... " jawab mantan suami Marina itu. Tangannya masih sibuk mengobati kakiku. Tak ada sedikitpun dia menoleh ke arahku.


" Tapi dari tadi kamu diam saja." cicitku.


" Aku lagi ngobatin lukamu, Asma."


" Tapi, sejak di rumah Ammak tadi kamu juga diam saja."


" Kamu lelah, Asma. Aku tak mau membuat kamu semakin lelah dan kesal karena harus mendengar omonganku."


" Oh.. jadi kamu marah? Kamu marah karena aku telah membahayakan anakmu? Ya, ampun, Syaf. Kan, aku sudah bilang, aku tak apa-apa. Aku tak merasakan ada yang salah dengan perutku."


" Hmm.." dia hanya mendehem kecil.


Baiklah..pria ganteng Suka Rahmat itu sedang marah saat ini. Itu sangat jelas terlihat melalui sorot matanya dan juga tarikan sudut bibirnya.


" Oke, baik. Aku salah... Aku minta maaf. Aku janji, aku tak akan mengulanginya lagi. " kataku sambil menyentuh bahunya.


Dia bergeser sedikit ke samping. Bibirnya masih terjatuh rapat. Owalahhh... ngambek dia. Ya Ampun... aku lupa, menantu mama ini serupa sama aku jika sudah merajuk. Susah buat membujuknya. Aku sudah mau merendahkan harga diriku, nah... bukannya ditanggapi dengan pelukan, malah kebungkaman mulutnya. Capek deh.....


Ahhh.... sudahlah. Aku lama - lama juga kesal jika harus merayu dia lagi. Nggak guna...


Terserah dia saja. Kalau memang mau diem - dieman, okelah.. siapa takut. Akan aku layani. Asma.. ini, bukan kaleng - kaleng. Sekalian.... tadi bukankah niatnya mau ngobatin kakiku? Maka, aku sengaja menyodorkan lagi sebelah kakiku dan pura - pura meringis kesakitan saat dia mengoleskan obat memar di kakiku yang sebelah lagi. Sengaja pula kuangkat tungkaiku tinggi - tinggi hingga celana dalamku tersingkap dengan manis menyapa pandangan Syafrie.


Rasain...... terbakar gosong deh Syafrie...oleh gairah dalam kebungkamannya. Siapa suruh .....?


Tapi dasar iman Syafrie kuat, dia tak tergoda. Pandangan matanya dia tundukkan sambil terus mengobati kakiku.


Akhirnya aku dan Syafrie sama-sama terhanyut dalam kesunyian. Dalam hening... pikiranku kembali pada peristiwa di pasar malam tadi.


Aku tersenyum geli sendiri, saat ingat bagaimana aku menghajar wanita penggoda ulat bulu itu. Bagaimana sudah tampangnya saat ini. Puas rasa hatiku saat menggenggam rambutnya yang tercabut saat kujambak tadi.


Lucu sekali aku saat melihat wajahnya yang biru lebam habis kutonjok. Sambil menangis dia mengadu kepada suaminya....eh maksudku suami orang. Dasar medusa.... Melihat hal itu aku semakin bernafsu untuk membejak - bejak wajah wanita pelakor itu.


Aku juga semakin geram dan benci pada si banci Jubair. Jika dulu Syafrie adalah musuh besarku, maka kedudukannya sekarang tergeser digantikan oleh Jubair.


Bagaimana tidak... dibandingkan menjaga hati sang istri, dia lebih memilih memeluk dan menenangkan si 'ulat bulu' itu di hadapan istrinya. Rasanya aku ingin sekali menendang bokong lelaki itu andai saja tak sedang dipegangi oleh orang lain.

__ADS_1


Aku kembali merasakan geram di hati saat mengingat kejadian itu. Tanpa sadar buku - buku jariku mengepal. Namun, ingatan yang lain terselip juga hadir. Tadi sebelum pergi di papah oleh Jubair, Si 'Ulat bulu' itu masih sempat meneriaki aku, akan melaporkan diriku ke polisi.


Ingat hal itu, aku langsung menutup mulutku tanpa sadar sambil mengusap perutku yang buncit. Rasa panik mulai menyerang diriku. Habis sudah kesombonganku. Rasa beraniku yang tadi menggebu-gebu, kini hilang, menguap entah kemana saat mengingat perihal kehamilanku.


__ADS_2