PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 42


__ADS_3

Ternyata Allah itu benar tidaklah pernah tidur. Allah Maha mendengar dan pengabul akan semua doa hamba-Nya. Dia mendengar doaku. Setelah tak sadarkan diri berhari - hari, akhirnya kamu membuka kedua matamu. Aku merasa sangat gembira dan bersyukur kepada Tuhan. Namun di samping rasa syukur yang aku panjatkan, aku juga menggengam kemarahan padamu.


Dibanding memberi dukungan dan meminta maaf kepadamu, lidah jahatku malah kembali melukaimu. Mungkin kamu masih ingat kalau kamu mengusirku malam itu dari ruangan tempat kamu dirawat. Sebenarnya malam itu, aku tidak benar-benar pergi. Aku berbelok menuju ruangan tempat Fadil dirawat. Di sanalah aku menghabiskan waktu bersama anak kita itu sampai pagi.


Keesokan harinya, aku tak pulang. Setelah sepanjang malam menemani Fadil, aku berniat untuk kembali menemuimu untuk meminta maaf. Namun kata Adit, keadaanmu sedang tidak baik - baik saja. Katanya, setelah kepergianku, kamu kembali tidak sadarkan diri setelah mendengar berita kematian Bapak dan ketika terbangun di pagi hari dalam keadaan depresi berat, tertawa sendiri, menangis lalu mengamuk .


Aku sedih sekali mengetahui hal itu. Padahal Fadil membutuhkanmu, Asma. Karena meskipun anak kita selamat. Namun kondisinya sangat lemah. Aku tak tahu apa yang sedang di alami oleh anak kita. Namun, aku melihat beberapa potong selang terpasang di tubuhnya yang kecil dan lemah.


Tahukah kamu Asma, diantara kesedihanku karena semua hal yang menimpa kita, Fadil menjadi satu - satunya penyemangatku. Aku betah memandangi buah hati kita itu berlama-lama. Tubuhnya lemah sekali, terbaring dalam kotak kaca dengan selang - selang yang terpasang di tubuhnya. Tangan - tangannya sangat kecil. Rambutnya tipis, dan yang paling aku suka adalah wajahnya yang sangat mirip sekali denganku. Untuk yang satu ini, pastinya kamu akan iri karena tak ada satupun bagian wajahmu yang dia ambil.


Selama satu bulan Fadil kecilku dirawat dalam inkubator. Setelah satu bulan, tibalah hari dimana aku bisa membawa pulang buah hati kita itu ke rumah.


Aku ingat waktu itu, dengan penuh semangat aku membawa Fadil pulang ke rumah mama, berharap kamu sudah membaik dan bisa menyusui Fadil. Tapi harapanku musnah. Yang aku dapati hanya pagar rumahmu yang rapat dan bisa berbicara serta memaki.


Kamu pasti tahu, siapa lagi kalau bukan Kak Darre dan Kak Mansyah. Bagi mereka aku adalah musuh yang harus di singkirkan jauh - jauh darimu. Aku adalah orang yang tidak boleh bertemu dan berbicara denganmu. Saat itu, bisa dibilang aku kenyang oleh caci maki mereka.


Masih kuingat dengan jelas hari dimana mama dan kak Adit mendatangi rumahku untuk mengunjungi Fadil. Rupanya selain ingin mengunjungi Fadil, merek juga ingin membicarakan perihal kamu. Mereka ingin agar aku lebih bersabar lagi dengan kondisimu saat itu. Mereka meminta agar aku dan Fadil untuk sementara waktu jangan dulu menampakkan muka di harapanmu.


Aku ingin marah dan protes, Asma. Bagaimana mungkin aku tidak boleh bertemu dengan istri dan ibu dari putraku. Mengapa aku dan putraku tidak boleh bertemu denganmu. Namun, setelah mereka menjelaskan tentang sakitmu pada kami, aku pun mengalah. Lihatlah, Asma. Apa pun itu, jika menyangkut tentang kamu, aku selalu saja mengalah. Karena aku sangat mencintai dan teramat sangat menyayangimu. Kamu adalah satu-satunya wanita pemilik hatiku.


Lantas bagaimana dengan Marina? Dia memang benar sebagai istri keduaku. Wanita itu memahami keadaan diriku yang kini tidak lagi mencintanya. Wanita itu akan sabar menunggu aku kembali mencintainya atau menunggu aku menceraikannya. Apapun itu, dia akan menerimanya.


Lucu sekali hubungan kita ini. Aku memiliki dua istri, tapi tak satupun dia antara kita bertiga yang tinggal bersama. Kamu tinggal bersama mama. Marina tinggal bersama orang tuanya, sedang aku tinggal di rumah orang tuaku bersama Fadil. Pernikahan kita bertiga hanyalah sebuah status saja.


Namun, aku tak menyangka bahwa kamu akan meninggalkan diriku, Asma. Kepergianmu yang begitu saja meninggalkan diriku seperti menginjak-injak harga diriku sebagai laki-laki. Serasa kamu melemparkan kotoran ke wajahku. Aku marah dan aku membencimu. Kau sangat kejam dengan caramu. Kamu terluka dan pergi bersembunyi dariku tanpa berniat lagi untuk kembali padaku, terlampau menampar harga diriku sebagai pria.


Tiga tahun pertama tanpa kehadiranmu,

__ADS_1


aku masih tinggal di rumah orangtuaku. Aku membesarkan Fadil anak kita seorang diri. Hal ini cukup berat bagiku yang harus membesarkan Fadil seorang diri. Walaupun kadang mamamu dan Kak Darre sering datang membantuku untuk merawat Fadil, namun semua itu tidaklah sama tanpa kehadiranmu.


Terlebih saat Fadil sering keluar masuk rumah sakit karena keadaan Fadil, putra kita yang sering sakit - sakitan. Aku sering mengutukmu karena membiarkan aku sendirian mengurus anak yang Tuhan titipkan itu kepada kita.


Anak kita Fadil adalah anak yang istimewa, Asma. Dia baru bisa berbicara saat usianya tiga tahun. Dan saat usianya lima tahun, aku sedikit merasa terhibur karena celotehan riangnya yang kalau itu sudah mulai lancar berbicara.


Selama lima tahun mengasuh Fadil seorang diri, aku sangat berterima kasih kepada Marina. Meskipun dia tidak lagi menjadi istriku, namun dia dengan ikhlas dan rela hati, menggantikan posisimu sebagai ibu bagi Fadil. Dia menganggap Fadil sebagai putranya sendiri dan melimpahi anak itu dengan kasih sayang yang tulus layaknya seorang ibu pada putranya.


Yah, pernikahanku dengan Marina hanya bertahan satu tahun. Aku tak bisa lagi memberikan hatiku padanya dan dia juga terlalu lelah untuk menunggu.


Kami memutuskan untuk berpisah secara baik - baik. Beruntunglah aku, walaupun kami tidak lagi bersama, namun Marina masih mau melimpahkan kasih sayangnya untuk Fadil dan menganggap Fadil selayaknya putranya. Tugasmu sebagai ibunya diambil alih oleh Marina yang berperan sebagai bundanya.


Tapi kamu tenang saja, aku tak pernah menghilangkan kamu dari hati dan pikiran Fadil. Aku selalu memperkenalkan kamu sebagai ibunya dan mengatakan padanya bahwa ibunya itu sedang menuntut ilmu di kota.


Tentu kamu masih ingat dengan temanku Iqbal. Nah... dialah yang menjadi suami Marina sekarang. Aku mengatakan hal ini agar kamu tak salah faham jika bertemu dengan Marina nanti. Aku berharap tak ada lagi kecemasan dihatimu tentang Marina.


Tentang bagaimana aku bisa tinggal di rumah mama, itu berawal dari kondisi Fadil yang sering sakit - sakitan. Dalam setahun dia beberapa kali harus bolah balik ke rumah sakit. Pekerjaanku yang sebagai teknisi alat berat sering kali memaksaku untuk meninggalkan Fadil untuk bekerja.Kadang bisa berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Aku tak bisa selalu harus menjaganya sementara aku juga harus bekerja.


Sehingga mamalah yang repot karena harus bolak-balik mengurus Fadil dan juga ladang. Sehingga berdasarkan hasil rembuk bersama, diputuskan Fadil dan aku tinggal bersama di rumah mama, sehingga dia bisa fokus mengurus cucunya karena di sana ada Kak Darre dan Kak Lela yang bisa ikut membantu merawat Fadil.


Mengenai perihal sakitnya mama dan bagaimana aku bisa menjadi pendonornya, sepertinya Bapak tuamu sudah bercerita banyak kepadamu. Jadi ceritanya, diantara semua anaknya mama, hanya kak Adit saja yang golongan darahnya sama dengan mama. Namun karena tubuh kak Adit lemah dan sakit - sakitan, maka aku mengajukan diri sebagai pendonor. Aku sehat dan tubuhku kuat. Lagi pula, golongan darah kami sama.


Sebenarnya aku tak ingin membahas yang hal yang telah lalu . Tapi demi meluruskan kesalah fahaman yang terjadi di masa lalu, maka aku terpaksa menceritakan semua ini kepadamu.


Melalui surat ini aku memohon maaf yang sebesar-besarnya kepadamu Asma atas dosa - dosaku di masa lalu. Atas semua kepedihan, kesakitan, kecewa, dan semua duka yang pernah aku torehkan padamu.


Dan untuk dosa masa lalu yang aku pun tak tahu akan mencintai seseorang setelah Marina. Apakah masih juga kamu membenciku?

__ADS_1


Dan tentang hubungan kita, aku sadar Asma, walau aku tahu masih ada aku dihatimu, tapi aku tahu, posisiku sudah tergantikan oleh Haris. Dan aku sangat sedih sekali mengetahui hal itu. Lalu kesadaranku tertampar, Asma. Aku telah berlaku kejam padamu di masa lampau.


Oleh karena itu, Asma. Aku membebaskanmu dari segala ikatan denganku. Kamu bebas sekarang, Asma. Menikahlah dengan Haris dan hiduplah bahagia bersamanya. Aku rasa dia pria yang baik dan penyayang. Dia akan bisa membahagiakanmu.


Mengenai berkas perceraian biar aku yang mengurusnya. Kamu hanya tinggal menandatangani saja.


Jenguklah Fadil sekali - kali jika kamu punya waktu. Kami akan dengan senang hati menerima kehadiranmu.


Akhir kata, maafkanlah kekhilafan aku yang dulu - dulu dan juga sekarang. Sampai bertemu di persidangan.


Syafrie)


...-----...


Aku menatap layar laptop dengan nanar bersama dengan perasaan ngilu yang menghantam dada. Selama tiga hari ini sejak kedatangannya, sudah berpuluh-puluh kali aku membaca email yang Syafrie kirimkan, yang katanya sebagai penjelasan atas peristiwa yang terjadi sepuluh tahun silam.


Namun mengapa perasaan benci di hatiku tak juga hilang. Bahkan setelah aku membaca email yang Syafrie kirimkan, perasaan benci yang menggunung itu tak mau juga terhapus.


Aku masih saja menjadi Asma yang keras kepala dan membatu. Terlebih lagi saat membaca paragraf terakhir dari email Syafrie. Amarah di dalam dadaku kembali membuncah.


Pria itu......menceraikan aku.


Dia menceraikan aku melalui surat elektronik yang dia kirimkan melalui emailku. Sebegitu tak berhargakah aku hingga dia menceraikan aku lewat email.


Hilang sudah rasa penyesalan dan haru di hatiku setelah membaca surelnya.


Aku tertawa miris, terhina oleh sikap Syafrie. Aku merasa kembali di campakkan bahkan setelah sepuluh tahun luka yang sama terulang lagi.

__ADS_1


Seandainya pria itu ada dihadapanku, akan ku katakan bahwa aku tak pernah menyesali perbuatanku karena meninggalkannya, aku malahan berterima kasih karena dia sudah melepaskan aku karena bila dilanjutkan maka aku lebih memilih untuk mati saja daripada kembali hidup bersama dengan nya.


Namun, untuk Fadil, ada pengecualian terhadap bocah itu. Ada berjuta-juta sesal dalam hatiku mengingat betapa sikap kejamku pada bocah itu selama ini. Aku berjanji, aku akan datang kembali jika aku memiliki waktu luang untuk mengajaknya pergi bersamaku.


__ADS_2