PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 59


__ADS_3

Ada rasa nyeri yang menusuk dadaku. Aku bergetar menahan sakitnya. Semudah itu dia melupakan diriku. Alih-alih menatap foto Mas Haris, aku lebih suka membenamkan diriku ke dalam bantal dan menumpahkan semuanya di sana. Aku kembali sakit oleh tebasan cinta pada pria itu. Ternyata aku memang tidak berarti bagi Mas Haris. Cintanya padaku ternyata palsu....


Akh.... dadaku terasa kebas. Perempuan yang sedang hamil ini kini sekarat. Tidak.... aku tidak mau binasa dan mati konyol. Aku harus melakukan sesuatu.


Aku melangkah membuka pintu dan melangkah ke luar di teras rumah. Menatap hampa pada kegelapan diluar sana. Hatiku saat ini sedang tidak baik - baik saja. Rasa yang ku rasakan sulit untuk ku definisikan. Serasa langkahku gamang saat berpijak. Begitu rapuhnya diriku saat mendapati kenyataan bahwa harapanku untuk menjadi kekasih Mas Haris kembali menjadi pupus.


Udara dingin menusuk tubuhku. Aku merapatkan kardigan rajut merah maroon agar semakin rapat dan membungkus tubuhku. Kulirik Syafrie yang berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Dari tadi dia sudah bolak-balik keluar masuk kamar sambil sesekali melirik ke arahku. Mulutnya terlihat komat-kamit berucap tak jelas. Entah apa yang dia ucapkan. Sesekali juga matanya melirik ke arah benda pipih yang berada di tangannya.


" Mau kemana? " tanya Syafrie padaku saat melihatku melangkah keluar dari teras rumah. Langkahku kakiku terhenti.


" Tak bisakah kamu membiarkan aku sendiri saja saat ini, Syafrie ? Aku ingin sendiri... " ucapku lirih. Kepalaku terasa semakin pening. Ada serpihan yang sangat tipis di sudut mataku yang jika disentuh sekali saja, mungkin akan pecah berderai.


Dia berjalan cepat mendekatiku. " Sudah malam, Asma. Tak baik wanita hamil keluar malam - malam begini. " dia mencekal pergelangan tanganku. Mencoba untuk menahanku agar tak melangkah lebih jauh.


" Aku hanya ingin sendiri saja saat ini. Tolonglah.... biarkan aku sendiri." ucapku lirih dengan suara bergetar. Syafrie melepaskan tanganya dari tanganku. Ada keterkejutan di wajahnya saat mendengar suaraku dan juga dengan sikapku yang tak lagi marah - marah kepadanya.


" Baiklah, kutemani.. " Astaga, aku baru sadar. Dia Syafrie, pria yang terkenal dengan sifat keras kepalanya.


" Tapi aku inginnya sendiri, Syafrie. Tolong, mengertilah.. " protesku. Mendengar itu, Syafrie hanya diam dan tak berkata - kata lagi.


Aku mulai menyusuri jalan setapak yang biasa di lewati orang - orang di desa ini jika ingin ke sawah. Jalanan yang kulalui saat ini tampak terang karena bulan purnama yang tersenyum bahagia di atas sana seolah sedang mentertawakan diriku di bawah sini yang sedang terpuruk.

__ADS_1


Kususuri pematang sawah tanpa ada perasaan takut atau ngeri. Semua rasa takutku hilang lenyap di telan foto pertunangan Mas Haris dan wanita itu Facebook dan Instagram miliknya. Pelan namun pasti, aku melangkahkan kakiku menyusuri jalan. Kadang-kadang, langkahku hampir terpeleset karena licinnya jalan yang kulalui. Maklum saja, tadi siang hujan dan jalan ini dipakai untuk lalu lalang ojek petani yang bolak balik mengangkut gabah yang sudah di panen.


Memang saat ini sedang musim panen. Sawah - sawah yang aku lewati tadi sebagian besar sudah dipanen. Meninggalkan hamparan kosong yang digenangi air.


Aku menatap ke depan. Ada jembatan kecil yang hanya terbuat dari pokok pohon yang di letakkan di atas sungai kecil. Air sungai itu mengalir tidak terlalu deras. Melalui sinar bulan yang menyinari, aku bisa melihat pantulan tanah di bawahnya.


Aku melewati jembatan itu tanpa merasa takut. Mungkin karena embun malam maka saat melewati jembatan itu aku terpeleset dan hilang keseimbangan. Tubuhku oleng dan hampir saja terjatuh ke sungai. Aku memejamkan mata, pasrah jika sekiranya aku terjatuh ke dalam sungai. Mungkin lebih baik begitu, agar tak perlu lagi merasakan sakit yang teramat sangat di dada. Mati...! Setan tertawa karena telah berhasil membuat satu orang lagi hamba-Nya tersesat.


Namun rupanya Tuhan tak terima dengan caraku mengakhiri diri. Sebuah tangan kokoh berhasil menangkap tubuhku dan menahannya hingga aku selamat tak jadi jatuh ke sungai.


" Hati-hati..!" sebuah suara memperingatkan diriku. Tapi... itu bukan suara setan meskipun pemiliknya juga termasuk setan yang selalu menggodaku untuk selalu marah - marah dan berbuat dosa.


Ada kecemasan dalam nada suara pemilik rahim di perutku saat mengucapkannya. Kedua tangannya menahan pinggangku. Setelah membenarkan posisiku, pria yang kata Saniah paling guanteng di desaku itu menuntunku hingga sampai ke seberang.


Aku hanya diam tak ingin menanggapi ucapannya. Sebenarnya aku ingin marah padanya. Mengapa dia menolongku. Aku sudah bilang, jangan mencampuri urusanku, Syafrie... aku ingin sendiri saja. Tapi mengapa pria itu tak pernah mau mendengar.


Bisa - bisanya dia berkata seperti itu. Cuih.... jangankan memperdulikan orok yang ada di dalam kandunganku, aku saja sudah tak peduli lagi nasib diriku. Aku benar-benar sekarat dan ingin mati saja saat ini. Kurasa aku adalah ibu yang terlaknat karena sudah berniat untuk mencelakakan diri sendiri dan juga calon anakku.


Syafrie memakaikan jaketnya di tubuhku. " Pakailah ini ..! Udara di sini sangat dingin, tak baik untukmu dan juga bayi kita."


Pria itu kemudian berjalan mendahului diriku. Aku menatap nanar punggung pria yang padanya aku meletakkan kebencian dan juga sumpah serapahku. Namun, saat ini, entah mengapa aku tak berminat lagi untuk meneruskan semua itu. Bahkan aku juga tak berminat lagi untuk membetulkan letak jaket yang terpasang begitu saja di tubuhku.

__ADS_1


Syafrie berhenti melangkah dan kembali lagi menghampiri saat melihat diriku tak juga melakukan apa - apa. Dia membenarkan letak jaket di tubuhku dan merapikan penampilanku yang terlihat acak - acakan.


" Astaga, Asma. Kamu terlihat sangat berantakan sekali.. "


" Pulanglah, Syafrie.. " usirku lirih seraya memandangnya sejenak lalu melangkahkan kaki melewati dirinya. Kembali aku meneruskan perjalanan tanpa menghiraukan lagi dirinya.


Aku menengadah dan memandang langit yang penuh bintang. Malam semakin larut. Sesekali suara burung malam terdengar ribut berteriak menghadirkan suara yang memekakkan telinga. Ada rembesan bening dari mataku yang jatuh meleleh tanpa sadar di pipiku.


Lelah..... aku berjongkok menjatuhkan diri . Rasanya semakin sakit hingga aku tak tahan juga untuk tidak terisak. Tangisku terdengar pilu dan menyayat hati.


Berkali-kali aku melakukan hal yang sama. Aku kira menantu mama akan berhenti mengikutiku. Nyatanya tidak. Dia berjalan mengikuti langkahku di belakangku seperti bayangan. Jika aku hanya berjalan saja tanpa meraung sedih maka dia berjalan agak menjauh di belakang. Akan tetapi, jika dilihatnya aku sedang menangis pilu kesakitan sambil memukul dadaku yang kebas, maka dia akan berdiri tepat di dekatku. Begitu seterusnya hingga sampailah kami ke sebuah pondok di tepi sawah.


Aku duduk di pondok itu sambil masih terus menangis pilu. Syafrie masih setia mengikuti diriku hingga sampai ke pondok tersebut. Dia juga ikutan duduk tak jauh dari tempat aku duduk sekarang.


Tak ada yang bersuara atau berbicara. Kami saling berdiam diri untuk waktu yang lama. Syafrie hanya diam saja sambil menundukkan kepala menghitung jari - jemarinya. Sempat kulirik wajahnya yang sendu dan penuh dengan kesedihan.Tapi aku mana peduli, karena laraku juga tak terkira.


Kusapu air mataku dengan kedua belah tanganku hingga mengering. Aku kembali merogoh saku dasterku dan mengeluarkan handphoneku. Kembali aku mengecek media sosial milikku dan membaca status seseorang yang membuatku kembali meradang.


Masih dengan foto yang sama, Mas Haris menuliskan status yang membuat aku seperti kehilangan nyawa.


Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Walaupun berat untuk melupakan cinta yang lama, aku harap cinta yang baru akan tumbuh dan bersemi dengan tak kalah indahnya.

__ADS_1


Mas Haris ternyata benar-benar sudah melupakan diriku.


__ADS_2