
Dia benar-benar sudah membuang aku...
Hatiku.... jangan di tanya. Rasanya sakit sekali. Seperti dihantam palu raksasa. Malu dan terhina.... ini sudah ketiga kalinya Syafrie mencampakan diriku.
Astaga.... hatiku sakit sekali.
Aku membuang pandangan keluar jendela. Sengaja... agar Syafrie tidak melihat riak embun yang jatuh di sudut mataku. Aku tak ingin dia melihat ibu anak - anaknya menangis hanya karena... dia.
" Asalkan dengan Haris, aku rela melepaskanmu. Aku ikhlas asalkan kamu bersamanya. Aku berjanji tak akan meneteskan air mata. " Astaga.... ternyata Syafrie belum selesai membuat hatiku terluka untuk yang kesekian kalinya.
Hatiku yang sudah terluka seperti disiram lagi dengan air cuka. Pedih dan perih.
" Tapi kenapa, Syafrie...? " Aku bertanya dengan suara serak. Setengah mati menahan agar tangisku tidak sampai pecah dan terdengar olehnya.
" karena aku yakin kamu pasti akan bahagia bila bersamanya. Haris lelaki yang baik. "
" Terus, kamu...? " Kali ini mau tak mau aku terpaksa berbalik. Menatap ke dalam riak mata pria yang dulu pernah menorehkan luka yang sangat dalam padaku. Aku tak peduli jika akhirnya dia akan melihat riak embun di sana.
" Asma, aku menyadari cinta diriku pastilah terasa amat sangat menyakitkan untukmu. Selama ini aku sudah berlalu sangat egois dengan memaksamu untuk
menerimaku kembali. Padahal, masa lalu kita amatlah buruk pastilah tidak mudah untuk kamu lupakan. Untuk itu, Asma. Aku akan melepaskanmu sekarang karena kamu berhak untuk bahagia."
Aku terpana menatap Syafrie. Sialan... mendapati ekspresi Syafrie yang berkabut duka saat mengatakan semua itu membuat air mataku meluncur tanpa dapat lagi kutahan.
Tangan ayah Fadil itu terulur ingin mengusap butir-butir kristal bening yang jatuh di sudut mataku namun dengan kasar aku menipisnya.
" Cukup... berhenti sampai di situ saja, Syafrie. Cukup dengarkan saja apa yang akan aku katakan." cegahku ketika tangan itu hampir saja menyentuhku. Seandainya itu terjadi.. aku yakin, mantan kekasih Haris ini pasti akan jatuh ke dalam pelukan Syafrie dan menangis terisak dalam pelukan Syafrie untuk menghilangkan kebas di dadanya. Dan itu pastilah akan sangat memalukan sekali.
Tapi syukurlah... Syafrie menurut dan patuh mendengar kata - kataku. Walaupun ada raut wajah kecewa dan senyum kecut tergambar di sana.
.
" Aku pikir aku akan menjadi ibu yang baik dan sempurna dengan menyusui, mengurus, dan merawat anak kita Fika." Aku mengawali perkataanku. Syafrie terlihat mengangguk setuju.
"Kupikir dengan membantu dan membimbing Fadil belajar dengan baik serta melimpahkan semua kasih sayang yang selama ini tidak dia dapatkan akan cukup bagi kami. Hingga kupikir, kami tidak membutuhkanmu lagi. Tapi ternyata aku salah. Meskipun aku yakin bisa mengurus Fadil dan Fika seorang diri dan menjadi orang tua tunggal yang hebat bagi mereka, tetap saja mereka membutuhkan sosok seorang ayah. Tentunya mereka akan merasakan kekurangan kasih sayang bila tak memiliki salah satu di antara kita." Aku berucap demikian lancar namun sedikitpun aku tak berani menatap wajah Syafrie. Pandanganku aku jatuhkan dalam ke corak warna hijau bunga - bunga di dasterku.
Aku tak ingin Syafrie melihat wajahku yang mungkin sebentar lagi akan menghiba memohon padanya agar bisa berdamai denganku.
__ADS_1
" Lagi pula, kupikir dengan membenci seseorang dalam waktu yang sangat lama itu sangat melelahkan. Aku tak ingin kebencianku padamu akan menyulitkan anak - anak kelak. " kataku lagi.
" Iyah.... itu pastinya amat melelahkan.. " timpalnya.
" Dibandingkan mengedepankan harga diri dan sifat egoisku, aku memilih untuk mengalah dan memaafkan semua masa lalu. Aku tak ingin memberi luka pada anak - anak kita yang tak berdosa hingga nanti akhirnya memberi trauma yang tak bisa disembuhkan. Dengan kita kembali berpisah. Aku berpikir mungkin anak - anak akan merasa bahagia jika melihat kedua orang tuanya kembali bersama."
"Kamu benar, Asma.... " Lagi - lagi ayah Fadil dan Fika mengangguki ucapanku dengan tatapan murung.
" Syafrie... " Aku memanggil pria yang hari itu memakai baju kaos berwarna krim. Dia menoleh dan memandang aku dengan sendu. " Meskipun aku tak tahu pasti kapan kebencian dan kemarahan di hati ini akan benar-benar hilang. Namun aku... aku mau mencobanya lagi untuk kita. Aku mau memberi kesempatan untuk kita kembali bersama lagi. "
Aku tidak sedang membohongi Syafrie atau semua orang. Aku berkata yang sebenarnya. Aku memang ingin mencoba kesempatan untuk kami bersama lagi
Sejak kelahiran Fika aku banyak berpikir. Di tambah lagi dengan kejadian baru - baru ini yang menimpaku. Aku memikirkan banyak hal. Tentang diriku, tentang masa depanku, tentang kebahagiaan anak - anakku. Berpisah dengan Syafrie bukanlah sebuah keputusan yang tepat hanya demi untuk mengenyangkan sebuah dendam yang entah kapan akan berakhir.
Bagaimana aku bisa tersenyum puas bila mendapati anak - anakku yang terbangun tengah malam dan menangisi perpisahan kami?
Apakah aku sanggup menanggung rasa bersalah itu?
Jawabnya tentu saja tidak. Mana mungkin aku sanggup jika hidup dengan menanggung rasa bersalah itu seumur hidupku.
Di masa lalu, semua terlihat salah. Takdirku, takdir Syafrie, keputusan keluargaku, kehadiran Fadil dan juga keputusan Syafrie.
Semua memang terlihat benar dimataku dan mata orang-orang ketika tujuanku meninggalkan Syafrie benar-benar terwujud. Di kepalaku, mungkin cuma ada kata cerai saat itu. Aku tak sudi untuk hidup dengan orang yang sudah menorehkan sembilu begitu dalam di hatiku.
Sekalipun saat itu Fadil memohon padaku dengan menghiba dan menangis darah. Aku berpikir, untuk apa memikirkan kebahagiaan Fadil jika aku sendiri saja tak bahagia. Aku menolak memikirkan kebahagiaan Fadil dan bahkan juga aku menolak Fadil.
Namun aku salah. Aku salah menafsirkan tentang kebahagiaan itu sendiri. Aku salah karena sudah bersikap egois.
Ternyata menjadi orang tua tidaklah boleh seegois itu. Kita tak boleh memikirkan diri sendiri. Harusnya aku sudah tahu akan hal itu andai saja aku bisa dewasa dan menyadari semua itu.
Mengapa aku gak pernah memikirkan bagaimana perasaan Fadil. Sedangkan aku tahu pasti, sakit hati itu tidak enak rasanya. Susah makan, sudah tidur dan susah segalanya.
Selama ini aku tidak pernah bertanya apa yang dia mau. Aku tidak memikirkan apa yang anakku inginkan. Aku tidak pernah bertanya mengenai pendapatnya. Padahal Fadil tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia ini melalui rahimku. Bukan dia yang memilih untuk menjadi anakku. Tapi kehadirannya ada di dunia ini karena doa - doa yang aku panjatkan.
Tapi mengapa aku telah berlalu kejam pada Fadil.
Itulah sebabnya aku ingin memperbaiki semuanya yang telah aku rusak. Aku ingin kembali bersama lagi dengannya. Walaupun harus kembali bersama lagi dengan manusia yang pernah menorehkan luka yang hingga kini masih berdarah.
__ADS_1
" Jangan merasa kasihan padaku. " Syafrie menunduk dan menatap lantai dengan pandangan luruh. " Sampai kapan kamu akan terus di sisiku, Asma.. Xinta yang aku punya bahkan terlalu menyakitkan untuk kamu genggam. Sangat menyedihkan dan menakutkan. Pergilah... pergilah bersama Haris. Kejarlah kebahagiaanmu bersamanya. Aku yakin sekali kamu akan bahagia bila bersamanya. Laki-laki seperti Haris bisa mengangkat harkat dan martabat kamu sebagai wanita, Asma. "
Aku menatap nelangsa ke arah pria itu. Bertanya dengan suara yang tercekat di kerongkongan. " Tapi mengapa Syafrie.. mengapa kamu mendorongku? "
" Karena..... karena aku sangat mencintaimu, Asma.. "
Cinta...? Cinta yang bagaimana, Syafrie?
Ada binar harapan di matanya meskipun aku juga melihat lelehan luka yang menganga. " Aku ingin melihatmu bahagia. "
" Tapi kenapa.... " Aku mendesaknya karena merasa tak terima dia menolakku.
" Sebenarnya aku juga sulit untuk mengambil keputusan ini. Bagiku ini adalah keputusan yang tersulit dalam hidupku. Aku sudah lama memikirkan semua ini. Semenjak kejadian di pasar malam itu. Kejadian kamu dan Meli berkelahi itu telah membuka mata hatiku. Sewaktu Saniah mengabarkan tentang kondisimu saat berkelahi dengan meli saat itu menggugah kesadaranku. Seperti aku dihantam sebuah palu raksasa. Menyadarkan diriku betapa egoisnya aku. Keinginanku untuk memilikimu kembali membuat aku menciptakan sosok Asma yang baru. Asma yang penuh dendam dan kebencian pada orang lain. Asma yang dulu kukenal lembut telah berganti wujud menjadi wanita yang beringas. Aku menjadi ketakutan, Asma. Tanganku sampai gemetar. Hingga aku tak sanggup lagi untuk menyetir. Pikiranku sibuk di penuhi oleh ribuan pertanyaan dibenakku. Bagaimana semua ini bisa terjadi. Apa yang akan terjadi dengan dirinya. Apakah dia akan baik-baik saja. Bagaimana kalau terjadi sesuatu terhadapnya?
pertanyaan - pertanyaan itulah yang menghantui pikiranku Asma. Aku sampai tak bisa konsentrasi saat mengendarai mobil hingga akhirnya aku terpaksa menghentikan mobilku dan menelpon temanku. Akhirnya temanku itu mengantarkan aku menemuimu. Itulah sebabnya mengapa malam itu aku terlambat menjemputmu."
Aku menangis berlinang air mata mendengar penuturan Syafrie. Selama ini aku tak menyangka. Ku kira dia adalah pria yang paling tenang di muka bumi ini.
" Itulah sebabnya, Asma.... itulah sebabnya aku mengambil semua keputusan ini. Dari pada semakin lama kamu kehilangan jati diri jika terus bersamaku. Maka. lebih baik kita akhiri saja hubungan yang memang sudah rusak sejak awal ini."
Aku tertutup kehilangan kata - kata mendengar ucapan ayah Fika.
" Jadi semua ini ternyata hanya sandiwara? Kamu pura-pura bersikap Manis padaku di depan semua orang. Semua sikap manis yang kamu tujukan padaku adalah kepura - puraan belaka? Cinta yang kamu perlihatkan kepadaku itu semua hanya bohong belaka, ya? " Aku menggeleng lemah. Rasanya hatiku seperti di cubit. Aku seperti kehabisan darah. Berjalan sempoyongan menjauh dari Syafrie. Seisi kamar seakan berputar. Hampir saja aku terjatuh jika saja ayah Fadil tak segera menangkap limbung tubuhku.
Ya, Tuhan.... laki-laki ini. Entah bagaimana aku menggambarkan luka yang sudah kesekian kalinya dia torehkan dihatiku. Dia benar-benar sudah menghancurkan diriku sampai hancur tak berbentuk lagi. Syafrie memang benar-benar kejam. Sekali lagi.. aku kembali terpuruk.
Dia melambungkan diriku sampai setinggi awan dengan memuja diriku bagaikan ratunya. Namun setelah itu dia menghempaskannya kembali ke tanah bagaikan seonggok kotoran. Rasanya aku ingin kembali mati saja.
Dia membuat diriku bagaikan tak memiliki harga diri sama sekali.
Dapat kurasakan rasa malu yang menerpa diriku karena betapa tadi aku sudah memohon kepadanya untuk kembali lagi bersama. Aku sudah merendahkan harga diriku sendiri. Dan bagian itu betapa kini kusesali. Karena dengan mantap dan yakin dia menolakku.
Dengan tubuh limbung aku berusaha untuk berjalan ke tempat tidur. Beruntunglah Syafrie masih mau membantuku.
Dia membimbingku ke tempat tidur. Meletakkan diriku dengan hati-hati. Setelah membaringkan tubuhku di tempat tidur, aku meminta Syafrie keluar.
Aku butuh sendiri saja saat ini. Lagi pula dengan terus bersamanya di sini, akan membuat aku benar-benar seperti kehilangan harga diriku. Karana aku tak tahu bagaimana caranya menutup malu karena penolakan Syafrie.
__ADS_1