PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 86


__ADS_3

Awalnya dia heran karena setahunya tak ada saudara Saniah yang sakit. Namun saat melihat status Syafrie di Whatsapp pria itu, maka dia jadi mengerti siapa untuk dimaksud Saniah dengan saudara.


Memang aku dan Syafrie sempat bertukar nomor Whatsapp saat peristiwa Asma yang menghajar Meli di pasar. Kemudian pria itu datang dan mengajak berdamai.


" Maafkan aku, Dek. Aku memang suami yang tak berguna... "


...------...


Baru saja Saniah menghempaskan tubuhnya di kasur lantai di kamar kontrakannya, hapenya berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Tangannya bergerak meraih benda tipis yang tergeletak tak jauh darinya dan membaca sekilas notifikasi dari handphonenya tersebut. Sebuah chat di whatsapp dari Syafrie.


Suami sahabatnya itu mengabarkan jika Asma sudah siuman. Syukurlah, Saniah tak hentinya memanjatkan puji syukur kepada Allah karena memberikan kesembuhan untuk sahabatnya itu.


Sebenarnya ingin rasanya Saniah kembali lagi ke Rumah sakit untuk melihat kondisi sahabatnya itu, namun apalah daya, dia harus bekerja. Andai saja dia tidak bekerja, sudah sejak tadi dia melesatkan motornya ke Samarinda. Masalah jarak bukanlah masalah baginya. Baginya, persahabatan lebih dari pada segalanya.


Karena lelah tanpa sadar Saniah akhirnya tertidur hingga terbangun keesokan harinya. Setelah sarapan seadanya, Saniah segera berangkat kerja. Hari ini dia sudah harus kembali bekerja karena masa izinnya sudah habis.


Baru saja dia hendak menjalankan sepeda motor miliknya, seorang ibu yang merupakan tetangga sebelah rumahnya datang menghampirinya.


" Assalamu'alaikum, mbak Niah.! "


" Waalaikum salam, Bu. Tumben pagi - pagi ibu sudah jalan - jalan aja. "


" Enggak kemana-mana, mbak. Saya cuma mau menyerahkan ini..." kata ibu tersebut sambil menyodorkan sebuah amplop putih ke tangannya.


" Oh, terima kasih ya, bu. " kata Saniah sambil menerima amplop putih dari tangan Ibu itu. Kemudian tetangganya itu berlalu dari hadapan Saniah.


Saniah memandangi amplop surat di tangannya sejenak. Dia membaca kop yang tertera pada amplop surat. Pengadilan Agama. Jadi surat itu berasal dari pengadilan agama.


Bergegas dia membuka amplop tersebut. Isinya ternyata panggilan sidang pertama kasus gugatan cerai yang dia layangkan untuk Jubair. Sepertinya itu jatuh pada hari kamis minggu ini. Saniah menghela nafas lega. Akhirnya......


Dengan gembira Saniah melajukan motornya menuju ke kantor.


Hari Kamis, Saniah izin untuk pergi ke pengadilan Agama untuk menghadiri sidang kasus gugatan cerai yang dia ajukan untuk Jubair.


Sampai sidang selesai Jubair tak juga menampakkan batang hidungnya. Saniah bersyukur, karena justru hal ini akan mempercepat proses perceraian dirinya dengan pria banci itu.


Sidang kedua kembali akan digelar bulan depan sambil menunggu keterangan tambahan. Aku bingung, apa lagi yang akan terjadi selanjutnya. Aku tak tahu, harus bagaimana. Aku merasa sendiri dan terbuang.


Seminggu sudah sejak sidang pertama pengadilan agama digelar. Aku menjalani kegiatan seperti hari - hari sebelumnya dengan tenang.


Hari ini aku pergi kerja seperti biasa.


" Niah, ada yang mencarimu di luar. " kata Agus, salah seorang yang bekerja di keamanan masuk dan melaporkan padaku.

__ADS_1


" Siapa? Cewek atau cowok? "


" Cowok.. sepertinya orang itu pernah kemari dan bertemu dengan pak Kades. "


Deg....


Jantung Saniah berdetak kencang. Dia sudah bisa menebak siapa yang sedang mencarinya. Mau apa lagi pria itu..?Minggu lalu saat sidang dia tak hadir. Sekaran mengapa tiba-tiba saja muncul tanpa di undang.


Dengan malas, akhirnya dia keluar juga menemui pria yang paling ingin dia hindari di muka bumi ini.


" Ada perlu apa lagi mencariku? " tanya Saniah ketus.


"Ikut aku pulang sekarang ! Bapakmu ingin bertemu. "


Saniah menggeleng menolak ajakan pria itu.


" Aku tak bisa.... " jawabnya.


" Sebentar saja, dek. Mengapa kamu begitu keras hati sekali. Masalah kemarin apakah masih mengganggumu?


Saniah terdiam tak menjawab pertanyaan Jubair. Hatinya kembali sakit saat mengingat peristiwa beberapa waktu yang lalu.


" Pulanglah... rumahmu di sana. Aku minta maaf atas semua sikapku selama ini. Aku dan Meli berjanji tak akan mengusik kamu lagi. "


" Itulah yang masih sulit aku lakukan. Aku masih memikirkan dirimu dan keluargamu ke depannya. "


" Insya Allah, aku bisa. Aku tak ingin berhutang budi lebih banyak lagi. Lagi pula, cukup sudah aku mengais ladang pahala di kehidupanmu dan menjadikan dirimu bergelimang dosa karena lalai akan kewajiban dirimu padaku dan berbuat zina. Maka, lepaskan saja aku, dan kamu akan bebas. "


Jubair terdiam mencerna setiap kata - kata yang aku ucapkan. Sejurus kemudian pria itu terlihat menghela nafas berat.


"Jika aku melepasmu, bagaimana dengan keluargamu dan juga keluargaku? "tanya pria itu lagi. Ada raut wajah bimbang di sana. Pria itu kemudian tertunduk lesu.


" Insya Allah, mereka akan mengerti. Lagi pula aku tak rugi apapun juga. Kamu belum pernah menyentuhku. Jadi siapapun juga pria yang mendapatkan diriku nanti, akan mendapatkan 'bonus' buka segel. Beda dengan Meli, jika kakak melepaskan dia, maka dia akan susah karena kalian sudah memiliki anak. "


Jubair kembali tertegun. Perkataan Saniah seperti tamparan baginya. Baru kali ini dia menyadari bahwa selama sembilan tahun pernikahannya dengan Saniah, dia tak pernah sekalipun menyentuh wanita yang kini sedang berdiri di hadapannya. Dan itu artinya, Saniah masih perawan hingga saat ini. Berbeda dengan Meli. Dia mendapatkan Meli sudah tidak suci seusai malam pertama mereka. Sebenarnya dia kecewa, namun karena cinta, dia tak mempersoalkan masalah tersebut.


Alangkah beruntungnya lelaki itu, pikirnya. Tapi tunggu dulu..... bukankah itu merupakan aib baginya? Laki-laki lain pasti berpikiran bahwa dirinya adalah laki-laki yang lemah. Sehingga tak mampu memberikan nafkah batin untuk Saniah. Menyadari hal itu, egonya kembali muncul. Dia tak bisa membiarkan Saniah dengan laki-laki manapun. Bisa - bisa jatuh harga dirinya sebagai laki-laki.


" Bapakku tidak mau mengakui kedua anakku sebagai cucunya. Kata bapak, mereka cucu hasil berzina. Bapak menginginkan seorang cucu yang lahir dari rahimmu, Niah. "


Pyarrrrr.....


Kepala Saniah seperti habis di hantam palu. " Apa maksud kakak bicara seperti itu? "

__ADS_1


" Artinya, aku tak bisa menceraikan kamu sebelum ada anak di antara kita. "


Saniah mundur beberapa langkah ke belakang. Dia bermaksud untuk kembali masuk ke dalam. Selain untuk menghindar pria itu, dia juga takut jika Jubair menggunakan kekerasan dan kembali menyeret dia seperti yang dia lakukan tempo hari. Namun terlambat...


Seperti dugaannya, tangan laki-laki itu mencengkramnya dengan kuat dan menyeretnya masuk ke mobil. Lagi, untuk yang kedua kalinya, pria itu berhasil mempermalukan dirinya dan memaksanya untuk mematuhi apa yang diinginkannya.


Dengan air mata yang mengalir deras, Saniah membuang pandangan saat Jubair memaksanya masuk kembali ke rumahnya. Wanita itu menyentak kasar ketika tangan Jubair kembali menyentuhnya.


" Lepaskan tanganmu, kak. Jangan menyentuhku. " kata Saniah dengan marah. Entah mengapa, kini dia merasa jijik saat di sentuh pria itu.


Jubair menatapnya heran.


" Mengapa? Toh, aku masih suamimu, jika kamu lupa akan hal itu. Bukankah aku tak pernah mengucapkan talak padamu ?" kata Jubair.


" Tapi aku tak ingin disentuh oleh tangan yang sudah menyentuh tubuh orang lain."


" Kau... " desis Jubair jengkel. Tangannya terkepal menahan geram. Namun akhirnya dia kembali melunak.


" Aku mohon, masuklah. Ada ibu dan bapakku di dalam, juga ada kedua orang tuamu. "


" Aku tak mau masuk ke sana. Itu bukan rumahku. "


" Aih.... berapa kali harus kukatakan. Itu adalah rumahmu. Bahkan, aku sudah membuat sertifikat rumah itu atas namamu, agar Meli tak bisa menuntut kamu kelak dikemudian hari. "


Mata Saniah sukses membulat. Sungguh, dia merasa heran sekaligus tak percaya, jika pria itu bisa melakukan hal itu. Sejenak hatinya berada di awan.


" Aku sudah meminta tolong kepada Bahtiar untuk mengurus semua itu beberapa hari yang lalu saat kamu ke Samarinda. Sesuai permintaan bapakku yang tidak menginginkan Meli menginjakkan kakinya ke rumah ini. Jangan geer dulu. Aku melakukannya untuk kamu dan meli. Aku ingin mencoba belajar untuk berlaku adil pada kalian berdua. Untuk Meli, aku akan membuatkan dia rumah yang lain. "


Ada rasa nyeri di hatinya saat mendengar ucapan Jubair. Hatinya serasa mencelos. Seperti dicubit. Ada yang menampar wajahnya, menyadarkannya bahwa dia tetap nomor dua, bukan nomor satu dihati pria ini.


" Aku tak ingin masuk ke sana dan kembali mengingat kejadian kemarin. Rasanya sulit sekali untuk melupakan semua itu. " isaknya.


Jubair terdiam. Keinginannya untuk memaksa wanita itu mendadak surut. Ada rasa iba ketika melihat air mata wanita itu membanjiri wajah cantiknya. Lagi pula, dia memiliki suatu rencana. Mungkin dia akan mencari cara agar bapaknya bisa menerima pernikahan dia dan Meli jika dia dan Niah sudah memiliki anak. Bukankah hanya itu yang diinginkan Bapaknya. Anak dari Niah. Jadi dia harus bisa membujuk wanita itu secara perlahan-lahan agar mencabut tuntutan cerainya dan kembali lagi bersama. Akhirnya Jubair kembali masuk ke dalam mobil dan mengantar Saniah kembali ke kantor.


Sidang kedua akan di gelar dalam beberapa hari lagi. Aku mendengar Saniah sudah kembali ke desa tempat tinggalnya dan menjalani pengobatan jalan. Karena kesibukan bekerja dan juga masalah yang sedang kuhadapi, aku belum sempat menengok sahabatku itu.


Waktu berjalan cepat. Hari ini, sidang kedua kembali digelar. Sidang kali ini, Jubair datang bersama dengan kedua orang tuanya serta Bapak dan ibuku.


Kali ini persidangan agak sedikit alot, karena Jubair ngotot tak ingin bercerai dan menandatangani gugatan cerai yang aku ajukan. Dia membela diri dengan mengatakan bahwa kami hanya bertengkar dan salah faham. Dia menyangkal semua tuduhan bahwa dia telah menikah lagi. Aku geram sekali mendengar semua pembelaannya yang seolah-olah dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab terhadap istri. Aku muak melihat sikapnya yang terlihat seperti sangat menyayangi aku. Padahal nyatanya dia selalu saja menyakiti diriku.


Hakim akhirnya menunda sidang hingga bulan depan. Dan menyarankan kami untuk kembali melakukan mediasi. Mereka beranggapan bahwa kami hanya bertengkar biasa dan kemungkinan untuk rujuk kembali. Terlebih ketika Jubair menyangkal semua tuduhan perselingkuhan yang ditujukan kepadanya dengan mengatakan tak ada bukti dia melakukan hal itu.


Saniah merasa geram karena menyadari kebodohannya. Bodohnya karena tak merekam semua kebersamaan Jubair dan juga Meli serta anak mereka. Tentu saja itu semua dapat dia jadikan barang bukti yang akan memberatkan Jubair.

__ADS_1


Dengan kesal Saniah keluar dari ruang sidang dan berjalan pulang tanpa berpamitan kepada bapak dan ibunya juga pada mertuanya. Biar saja.... sudah kepalang. Baginya terlanjur jelek, yah sudah biarkan saja. Dia tak peduli lagi jika di cap sebagai menantu yang tak punya adab di mata mertua. Biar sekalian dia dibemci. Dengan begitu dia akan lebih mudah untuk lepas dari Jubair. Karena hatinya sudah terlanjur sakit.


__ADS_2