PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 72


__ADS_3

Aku menggelengkan kepala sambil menyibak bagian belakang dasterku. "Tapi dasterku basah.. "


Reflek tangan Syafrie mengangkat dasterku ke atas. " Da.. daarah...! " ucapnya dengan suara bergetar.


Seketika subuh di rumah mama berubah menjadi heboh oleh suara Syafrie yang berteriak membangunkan semua penghuni rumah.


Ya.... ampun........


Syafrie bukanlah seperti Syafrie yang biasanya. Dia seperti orang linglung. Bahkan perkataannya semalam yang berniat akan memberiku kejutan sudah dia lupakan entah kemana.


Jangankan memberi kejutan, dia saja seperti orang yang tidak waras. Wajahnya pucat pasi bagai tak dialiri darah. Mulutnya komat - kamit mengucapkan zikir. Tatapannya kosong. Dia benar-benar kehilangan kewarasannya. Kak Lela sampai membentaknya karena dia kehilangan fokus. Bagaimana tidak, dia bolak-balik mencari kunci mobil, padahal sejak tadi dia sudah menggenggam benda itu di tangannya.


Pun ketika mama memerintahkan untuk mengambil koper yang berisi perlengkapan diriku dan calon bayi kami yang sudah disiapkan oleh mama dan di letakkan di bawah kasur, bukannya koper yang dia bawa, malahan dia keluar dengan membopong Fadil yang masih pulas tertidur. Astaga... Syafrie...!


Aku sampai menepuk jidatku karena kesal dengan tingkah laku Syafrie.


Maka, habislah dia kena marah oleh kakak - kakakku.


Namun, di sela - sela kesakitanku, mataku memang tak pernah lepas dari Syafrie. Entah apa yang merasukinya semenjak mama mengatakan pada ayah Fadil itu bahwa aku akan melahirkan, dia seketika berubah menjadi paranoid.


Aku tak tahu, apa yang telah Syafrie lalui sebelas tahun silam. Namun setelah melahirkan nanti, aku pasti akan mencari tahu alasan Syafrie berperilaku demikian.


...----...


Aku tak ingat, sesakit apa luka yang Syafrie torehkan padaku di masa lalu hingga aku bisa melupakan rasa sakit yang maha dahsyat saat akan menghadapi persalinan.


Namun setelah merasakan sendiri betapa sakitnya penderitaan yang kamu alami saat melahirkan, maka aku berdoa dalam hati bila selamat melahirkan nanti, aku akan bersujud minta ampun kepada mama atas semua dosa - dosa dan kesalahanku selama ini. Mulai saat ini aku berjanji akan selalu hormat dan berbakti kepada mama, selalu wanita yang telah melahirkanku ke dunia ini.


Mataku sembab karena selalu menangis setiap kali datang gelombang pembukaan. Sakit sekali rasanya perutku hingga terasa pinggangku seakan mau putus. Setiap jabang bayi bergerak, aku berteriak kesakitan.


Sedih rasanya hatiku, mengingat betapa aku telah berlaku kejam terhadap mama. Wanita itu tiga puluh tahun lalu merasakan kesakitan yang sama seperti yang kualami saat ini. Aku yakin sekali, dia juga tak akan lupa bagaimana rasa sakitnya.


Jika Tuhan masih memberiku kesempatan, aku bertekad akan menebus semua dosa - dosaku selama ini. Biar saja aku merasakan bagaimana sakitnya proses alami untuk seorang wanita dewasa ini. Namun aku bersumpah demi Allah, aku akan bersujud minta ampun pada mama dan mencium kaki mama. Minta ampun atas segala kesalahan dan kekhilafan aku selama ini. Tak akan kubiarkan lagi mama sakit hati dan menderita di masa tuanya.


" Suster... saya minta tolong di panggilkan suami saya. Tolong suruh kemari kalau dia ada di depan." kataku pada perawat yang memeriksa keadaan jalan lahir bayiku.


Bukan apa - apa, aku geram saja dengan Syafrie. Aku dari tadi mengerang kesakitan namun sejak tadi Si Syafrie yang bergelar suamiku itu tak jua kunjung menampakkan batang hidungnya. Padahal aku, istrinya sedang berjuang antara hidup dan mati, tapi di saat - saat seperti ini dia justru menghilang tak tahu kemana.


Kedua orang kakakku masuk. " Apakah kamu perlu sesuatu, Asma? " tanya Kak Lela. Sementara kak Darre berdiri di ujung ranjang di bawah kakiku.


" Iya, tapi aku maunya Syafrie saja, Kak. Biar aku tahu rasanya punya suami yang menunggui istrinya disaat melahirkan. Jadi biar bisa ingat bagaimana momentnya.


Kakak perempuanku itu tersenyum. " Ya, sudah kalau gitu. Tapi Syafrienya nggak ada. Mungkin sedang di mushola. Sekarang kan sudah waktu ashar, dek." kata Kak Lela. Aku melirik jam dinding di ruangan. Benar juga. Sekarang sudah pukul 15.30. Tak lama kemudian, aku mendengar suara azan dari mushala yang terdapat di rumah sakit ini. Waktu azhar telah tiba. Jadi sudah dapat dipastikan jika pria itu pasti sedang bercokol di mushola.


Aku menghela nafas. Jadi sudah hampir sepuluh jam aku menjalani kontraksi. Kabar baiknya, aku masih berada di pembukaan tujuh. Dari pertama tiba, pembukaanku bergerak lambat. Dari level lima dan sekarang sudah hampir sepuluh jam hanya mencapai angka tiga. Dan parahnya berbagai pikiran negatif mulai menghantui pikiranku.


Jujur, aku takut mati. Aku juga takut tidak diberi kesempatan untuk memohon ampun pada mama dan kakak - kakakku atas semua dosa - dosaku. Aku takut Syafrie tidak ikhlas atas semua sikapku yang sangat keterlaluan padanya. Semua itu menghantui benakku hingga membuat aku semakin stress dan takut.


Perasaan bersalah itu semakin besar saja menghantui pikiranku terlebih saat membaca chat masuk di hape Syafrie dari Kak Mansyah.

__ADS_1


" Belum ada kemajuan juga, ya Syaf... suruh dia minum air bekas cucian kakimu. Siapa tahu dia kualat sama kamu. Dia itu sudah banyak berbuat dosa padamu dan pada kami semua.Terlebih lagi pada mama. Mungkin ini teguran Tuhan pada si hati batu itu. Selama ini kami juga tahu, sikap Asma padamu sudah sangat keterlaluan. Siapa tahu, dengan begitu, Asma jadi gampang buat lahiran."


Chat dari Kak Mansyah benar-benar sangat mengganguku. Benarkah aku sejahat itu. Benarkah saat ini aku sedang mendapat azab atas semua sikapku yang sudah sangat keterlaluan pada semua orang. Walaupun demikian, seharusnya juga kak Mansyah tidak usah ngomong begitu. Tak tahukah dia... membaca chat darinya membuat moodku semakin buruk dan semakin menambah beban pikiranku. Dasar kakak nggak ada ahklak...


Seandainya saja aku masih punya kekuatan, maka sudah pasti bakalan keluar sumpah sarapan iblisku pada pria yang bergelar kakak tersayangku itu.


Tapi.... sudahlah.... lupakan saja kakakku yang jahat itu. Sekarang mataku tertuju pada pria yang sedang berjalan masuk ke ruanganku. Siapa lagi kalau bukan yang punya kecebong di perutku.


" Istriku sayang katanya mencariku? Ada apa? "


Aku mendengus kesal. Menatapnya dengan sengit. " Iya, saya sedang mencari suami saya. Jika Anda merasa menikah dengan wanita yang bernama Asmawati Basrie maka sudah pasti anda lah suami saya, jika tidak merasa, pintunya ada di sana." ketusku.


Luar biasa memang Asma. Dalam keadaan begini masih keluar juga lidah berbisanya. ckckck....


Namun, Syafrie tidak memperdulikan ocehanku. Dia mengambil tempat duduk di sisi ranjangku.


" Jangan marah, ya Sayang. Tadi aku sholat ashar dulu. Aku berdoa memohon keselamatan atas dirimu dan bayi kita yang ada di dalam perutmu."


Aku melongos membuang wajah kesal.


" Aku elusin pinggangnya, ya.? " dia mengubah posisiku hingga kini menjadi membelakanginya. Tangannya bergerak mengusap - usap punggung ku lalu turun ke pinggang. Dia mengusap pinggangku dengan lembut. Rasa sakit di pinggangku sedikit berkurang.


" Syafrie.... kamu itu berusaha menghindar, kan. Dengar ya, Syaf... ini anakmu juga, bukan cuma anakku. Kamu yang sudah menanam kecebongmu di dalam sini, jadi kamu harus juga tanggung jawab. Bukan cuma aku saja." omelku panjang lebar sudah kayak petasan renteng pada pemilik wajah tampan berkulit sawo matang itu. Ayah Fadil terkejut mendengar perkataanku.


" A.. aku tidak bermaksud untuk menghindarimu, Asma. Aku hanya tak sanggup melihatmu kesakitan. " Pria yang bergelar suamiku itu memelukku dan menggenggam jemariku dengan erat. Lalu mendaratkan bibirnya di tengkukku yang terbuka tanpa hijab. Menggelung rambutku ke atas dan mengikatnya dengan karet gelang. " Bagaimana kalau sesar saja, ya Sayang? "


Sontak aku menoleh cepat dengan mata melotot. " Ndak... aku ndak mau.. "


" Sekali aku bilang tidak, ya tidak, Syaf.. Aku tak mau, ya. Nanti orang bilang aku ibu yang tak sempurna karena melahirkan tidak melalui rahim. " jawabku yang membuat Syafrie menatapku tak percaya.


" Astaga.... siapa yang berani bilang begitu, sayang? Itu jelas - jelas pemikiran yang salahsalah, istriku. Yang menentukan kamu sempurna menjadi wanita itu bukan dari cara kamu melahirkan anakmu, tapi bagaimana cara kamu merawat, mengasuh dan mendidik anak - anak kita. Menyayangi, menjaga dan membesarkan mereka dengan sepenuh hatimu. "


" Tapi, Syaf.. Fadil tidak besar dalam asuhanku. Menurutmu, apakah aku bisa di sebut ibu yang sempurna? "


" Jangan salah menduga, bukan begitu maksudku... "


" Aduhh....sakit, Syaf....! " Aku kembali mengaduh sakit pada Syafrie saat kembali gelombang pembukaan melanda. Rasanya semakin sakit hingga perut dan pinggangku seakan terputus. Rasa sakitnya tak tertahankan hingga putus rasa urat - urat leherku.


Syafrie menjadi panik melihat keadaanku. Wajah Syafrienya pucat pasi. Dia berlari berteriak-teriak memanggil suster dan juga kakak - kakakku.


Pembukaan dua.. semakin dekat saja. Suster memintaku untuk banyak bersabar dan berdoa. Karena menurut mereka hanya tinggal sesaat lagi untuk menanti saat - saat persalinan karena pembukaanku sudah semakin dekat dengan pintu kelahiran anakku.


Waktu berlalu... waktu magrib pun berlalu sudah. Syafrie tadi sempat sholat sejenak sementara aku ditunggui oleh Kak Lela dan Kak Darre. Sekarang ayah dari anakku itu sudah kembali lagi di sini menemani diriku yang tak hentinya menangis karena rasa sakit yang semakin kuat mendera. Wajahku sudah semakin pucat. Syafrie tak hentinya membujukku untuk melakukan sesar saja karena dia semakin cemas melihat keadaanku yang semakin lemah.


Level satu.... kontraksi semakin hebat.


" Tahan, bu. Jangan mengejan dulu." saat suster melihatku mengejan.


" Tapi rasanya sudah di ujung, nih.. Mbak. Seperti ada yang mau keluar." lirih ku jawab. Aku sudah merasa setengah sadar. Rasa sakit yang tak mampu kudeskripsikan membuatku semakin tak sanggup lagi untuk berkata-kata.

__ADS_1


Rasa sakitnya menjalar hingga sampai ke tulang sumsum. Aku bersumpah setelah ini, bahwa aku tak ingin lagi meminta kepada Allah untuk dicabut nyawaku. Karena ternyata sakit sekali saat menghadapi sakaratul maut. Aku tak tahu, saat ini mungkin saja sebelah kakiku sudah berada di surga atau juga di neraka.


Yang pasti setelah ini, aku berjanji bahwa aku akan rajin untuk beribadah dan menjalankan sholat lima waktu tanpa bolong - bolong lagi. Akan berbakti pada mama, dan berjanji akan taat dan patuh pada Syafrie sebagai suamiku.


" Ingat ya, bu. Jangan mengejan. Kalau ibu mengejan nanti leher rahimnya akan bengkak. Itu akan memperlambat proses persalinan ibu. Ibu tidak mau, kan? "


" Asma, ayo kita berdoa, berzikir mengingat Allah dan bersholawat bersama - sama!" ajak Syafrie dengan suara bergetar. Tangannya juga ikut bergetar dan tangannya..... basah.


Aku mengangguk patuh. Aku sangat takut, Syafrie lebih lebih takut lagi...


Aku merasa kesakitan dan tersiksa. Syafrie lebih tersiksa lagi....


Semua nyata terlukis di wajah Syafrie yang kini sudah pucat bagaikan mayat.


Dua puluh empat jam bertarung dengan rasa sakit membuat aku akhirnya menyerah. Aku kalah. Aku kehabisan tenaga dan tak bisa berjuang lagi. Rasa sakit ini membuat aku tak mampu untuk bergerak lagi meskipun sekedar untuk mengangkat tangan. Hal itu membuat Syafrie semakin ketakutan.


Tak lama kemudian dokter yang akan bertugas membantu persalinanku masuk ke ruangan ini. Aku sempat mendengar pembicaraan dokter tersebut yang menegur keteledoran perawat hingga sampai membuat kondisiku seperti ini.


Setelahnya, aku melihat perawat yang bergegas memasangkan infusan di lenganku.


Ajaib..! Aku seperti memperoleh tambahan tenaga. Dokter itu kemudian melakukan pemeriksaan terhadap posisi pembukaanku dan mengatakan bahwa pembukaanku sudah hampir sempurna.


Mendengar hal itu, ada sedikit semangat di hatiku untuk berjuang sedikit lagi agar jabang bayi di perutku ini segera bisa melihat dunia ini.


" Dok, bisa permisi sebentar. Saya pengen pipis.. " kataku pada dokter yang kini sudah berada di sebelahku. Aku sedikit malu untuk mengatakannya. Namun apa boleh buat, dorongan di bawah perutku itu terasa sudah memenuhi kantong kemihku.


" Ibu pengen pipis? pipis aja di sini, bu. Nggak papa, pipis aja. Jangan ditahan."


Owalah... . yang benar saja, dokter! Bagaimana bisa aku pipis di tengah - tengah beberapa pasang mata yang sedari tadi pandangan mereka selalu tertuju kepadaku.... Aku tentu saja merasa malu...


" Tapi, sudah kebelet pipis, dok. Dan saya nggak bisa pipis di sini." serak suaraku hampir menangis.


Dokter itu mengintip jalan keluar bayiku lalu berkata. " Memang begitu keadaannya, bu. Sabar ya, bu. Sedikit lagi." katanya sambil tersenyum kepadaku. " Pak, ayo pak. Istrinya diberi semangat. Biar kuat menghadapi persalinannya. Ayo siap - siap..! Dedek bayinya mau keluar.


Tak ada yang bisa kulakukan saat ini selain berjuang mengeluarkan jabang bayi yang kini sudah berada di depan pintu. Sedangkan Syafrie, pria itu hanya terdiam bagaikan patung batu bernyawa. Padahal, mama dan semua saudaraku sudah menugaskan Syafrie untuk mendampingi diriku saat menghadapi persalinan. Namun, yang terjadi adalah pria itu harus mengecewakan semuanya karena dia sama sekali tak berguna.


Dokter itu sudah berdiri tepat di bawah kakiku. " Pembukaannya sudah sempurna, ya bu. Ayo... sekali ngejan sesuai aba - aba saya. Ayo... satu dua... tiga... ngejan , bu...! Dorong..!"


Aku memegang tangan Syafrie dan mulai mengejan sekuat tenaga. Subhanallah.... sakitnya luar biasa. Jika ada yang mengatakan bahwa rasa sakit saat melahirkan seperti orang yang dipatahkan tulang - tulangnya, maka itu adalah benar. Maka dari itulah kita dilarang durhaka kepada seorang ibu.


Tanganku gemetaran menahan rasa sakit yang sangat mengerikan. Namun bukan hanya aku yang merasakan, kurasakan juga tubuh Syafrie yang tegang dan gemetaran.


Akhirnya perjuanganku berbuah hasil. Setelah dua kali mengejan, maka meluncurlah keluar dari rahimku, sesosok mungil makhluk bernyawa. Aku terpaku menatap tak percaya akan keajaiban Tuhan yang telah terjadi atas diriku sebelum akhirnya tangis bayi itu pecah begitu nyaring menyambut dunia.


Aku menarik nafas lega. Alhamdulillah... akhirnya aku berhasil melahirkan, dan aku tetap hidup...Dan Allah masih memberiku kesempatan agar bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Aku bersumpah bahwa aku akan merawat dan mengasuh bayiku dengan sepenuh hati sebagaimana layaknya seorang ibu seperti yang Syafrie inginkan selama ini.


" Bayinya perempuan ya, Pak. Nanti setelah di mandikan dan dipakaikan baju, Bapaknya boleh azankan, yah ... Pak!.. Pak.... loh... Pak! Bu.... bagaimana ini? Bapaknya pingsan.......


Astaga.... SYAFRIE......

__ADS_1


Bikin malu saja......!!!


__ADS_2