PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 58


__ADS_3

" Hei Asma, denger ya. Ambo Tahang memang menjabat sebagai kepala desa untuk dua periode. Tapi pada tahun ke tujuh, dia di non aktifkan sementara sebagai kepala desa. Saat itu terdengar isu bahwa dia terlibat kasus jual beli jabatan dan korupsi dana desa. "


'


Mulutku terbuka lebar. Astaga......Reflek aku menutup mulutku setelah sadar. " Ya Allah...... benarkah begitu? "


" Baru tahu kan kamu sekarang." kata Saniah sambil tertawa.


" Sebenarnya sih, bukan beliau yang korupsi. Tapi, ya kamu tahu kan opini masyarakat terhadap tokoh masyarakat. Jadi saat melihat Ambo Tahang di giring polisi, mereka berasumsi bahwa laki-laki itu telah melakukan suatu tindakan yang melawan hukum. Walaupun tak terbukti, karena malu akhirnya Ambo Tahang mengundurkan diri dari jabatannya. Sedangkan asetnya yang sempat disita tidak pernah dikembalikan. Yang tersisa hanyalah rumah dan sepetak sawah yang ada di belakang rumah mereka itu. Ambo Tahang merasa begitu tertekan dan stress dengan semua itu hingga kemudian berakhir dengan dia menderita stroke, seperti yang kemarin kamu lihat keadaannya."


Luar biasa memang jin yang menempel di hatiku. Bahkan setelah mendengar cerita Saniah, rasa benciku pada keluarga Marina tak sedikitpun berkurang. Aku dengan santainya berkata. " Semua itu akibat karma karena sudah menyakiti diriku di masa lalu." Astaga Asma.....


" Sepertinya Marina juga pernah berkata seperti itu kepadaku. Sempat terucap dari mulut Marina, bahwa semua yang terjadi pada dirinya adalah akibat ulah keluarganya terhadap keluargamu."


Aku mencibir dan mengiyakan ucapan Marina yang ditirukan oleh Saniah. Agak takabur memang, tapi aku bersyukur bahwa roda dunia memang sudah berputar.


"Oh, iya. Syafrie pernah bilang sama aku bahwa suaminya Marina yang sekarang itu si Iqbal, kan? " Saniah mengangguk membenarkan. " Kok dia mau sama Iqbal" Bagaimana ceritanya? "


" Dulu badannya bagus. Tidak seperti sekarang." kata Saniah.


" Kenapa? "


" Asma, Asma... mikir dong. Mana ada orang yang nggak kurus kalau dalam keadaan seperti itu. Sudah cacat, jadi beban istri."


" Jadi dia mengalami cacat, sebelum atau sesudah perkawinan mereka "


" Iya sebelum, lah. Kalau tidak, mana pede dia mempersunting Marina yang anak kepala desa, mantan Syafrie pula. Kamu tahu kan, Syafrie itu gantengnya nggak ketulungan... "


" Cuih.... biasa aja, tuh. Nggak ada ganteng - gantengnya bagiku. "


" Astaga Asma, kamu tuh, ya. Asal tau aja, Syafrie itu ganteng, setia, tajir, sayang anak. Kurang apa lagi ? Kalau kamu buang, bakal banyak yang berebut untuk memungut."


Aku mencibir mendengar pujian Saniah terhadap ayah Fadil itu. Sumpah muak banget aku mendengarnya. Sepertinya bukan seperti itu Syafrie dalam pandanganku.

__ADS_1


" Terus... apa Syafrie sering bantu? "


" Yaelah.... pake nanya lagi. Ya sering, lah..! "


" Ohhhh.... "


" Kenapa, Cemburu? "


" Wedeuuuh... najisss. "


" Alah.... muna, lo. Najas... najis. Tapi ujung - ujungnya melendung. Coba aja kamu buang tuh Si Syafrie,.... bakalan banyak yang rebutin."


Aku mencibir seraya melemparkan tissu ke arah Saniah, yang di sambut dengan gelak olehnya.


Obrolan kami terus bergulir sampai kemana-mana. Mulai dari Marina hingga kisah rumah tangga sahabatku itu. Aku sampai terjengkit kaget saat mendengar kisah hidupnya.


Ya Tuhan, aku tak menyangka akan nasib tragis pernikahan Saniah. Aku kira aku yang paling terzholimi setelah pengkhianatan Syafrie. Namun setelah mendengar cerita Saniah, aku merasa seperti tertampar. Ternyata nasibnya lebih miris lagi dari kisahku. Dia menceritakan bagaimana selama tujuh tahun usia pernikahannya, tak pernah sekalipun dia disentuh oleh sang suami. Jadi sampai detik ini, dia masih perawan. Namun sampai detik ini, dia masih saja mempertahankan pernikahannya dengan sang suami dengan alasan balas budi. Walaupun dia tahu, bahwa dia telah di selingkuhi di belakangnya.


Alasannya adalah bahwa selama ini, suaminya yang telah mengangkat derajat hidup keluarganya. Suaminya itu yang telah membiayai sekolah adik - adiknya hingga sampai ke Perguruan Tinggi dan kehidupan ekonomi mereka menjadi lebih baik.


Tragisnya suaminya itu kemudian menikah lagi dengan kekasih selingkuhannya dan sampai sekarang sudah memiliki dua anak dengan selingkuhannya tersebut.


Astaga.... . Aku memaki habis - habisan kebodohan sahabatku itu. Benar - benar tak habis pikir aku dengan jalan pikiran Saniah. Terbuat dari apa hati sahabatku itu. Mengapa dia mau saja di dzolimi oleh Jubair, nama suami Saniah. Meskipun dengan alasan yang klise menurutku, hutang budi.


Maka...jadilah sepanjang perjalanan pulang dari Bontang ke Suka Rahmat, sahabatku itu mendapat hujan ceramah dariku.


Sahabatku itu benar-benar wanita yang sangat sabar dan sholehah. Aku saja yang mendengar ceritanya tak kuasa menahan geram di dada. Terlebih lagi saat Saniah bercerita lebih lanjut bahwa pernah suatu ketika, suaminya itu membawa wanita selingkuhannya itu beserta anak - anaknya ke rumah Saniah. Rasanya aku ingin sekali menginjak - injak lalu menggilas suami Saniah itu dengan mobilku.


Hawa panas dari kota Bontang dan hormon kehamilanku di tambah lagi oleh cerita Saniah tentang suaminya, membuat aku menjadi gerah dan ingin sekali menghajar suami Saniah yang kunilai banci itu. Aku sudah memaksa dia untuk memberitahukan padaku di mana rumah lelaki itu dan selingkuhannya.


Namun itulah Saniah, wanita sholehah calon penghuni surga. Dia menolak memberitahukan dimana rumah suami dan selingkuhannya itu.


Aku sangat kesal, tapi tak bisa juga memaksanya lebih lanjut. Saniah dan aku bagaikan langit dan bumi. Jika aku tanpa segan bisa melabrak dan mencaci-maki keluarga Ambo Tahang tanpa ragu, maka Saniah lebih memilih diam dan sabar. Sahabatku itu menyerahkan semuanya kepada Allah dalam sujud dan lantunan doa - doanya. Masya Allah, masih ada wanita seperti itu di dunia ini.

__ADS_1


...---...


Sudah beberapa bulan aku tinggal di desa ini. Aku tak pernah lagi mendengar kabar dari Mas Haris. Kadang aku bertanya-tanya dalam hati, bagaimanakah keadaan dia saat ini? Apakah pernah dia memikirkan aku sekali saja?


Sejauh ini keadaan aku baik - baik saja. Hanya kadang-kadang, aku sering menangis diam - diam saat teringat dia. Kala sesak lagi di dada jika mengingat ketidakhadiran dirinya di dalam hidupku.


Bagiku sederhana saja, hubungan dua manusia yang kemudian berakhir dengan rasa sakit. Aku pernah mengalaminya dua kali. Dan definisinya, hanya berbuah kesakitan. selama ini, gambaran orang bahwa cinta indah dengan berbagai wujud dan bentuk penciptaannya, namun bagiku semua hanya cerita suram penuh nestapa.


Aku tak tahu, seperti apa cintanya Syafrie kepadaku. Cinta yang bagaimana bentuknya. Namun, rasanya aku tahu.


Aku juga tak tahu, seperti apa cinta Mas Haris padaku. Namun yang aku tahu, pada akhirnya rasanya pun juga sama. Kedua cinta mereka sama-sama berasa pahit.


Karena cinta yang buta kepada Mas Haris, aku melupakan satu hal. Status warna unguku....


Bodohnya aku, tak menyadari bahwa andai saja Mas Haris mau menerimaku, tapi apakah keluarganya juga sama?


Apakah Mas Haris benar-benar menyukai diriku? Aku rasa aku sudah mengetahui jawabannya.


Memang pada awalnya, aku mengira bahwa dia mencintaiku dengan tulus. Cara dia memperlakukan diriku, rasanya aku adalah wanita yang sangat beruntung. Namun ternyata aku salah.


Cintanya padaku tidaklah sedalam yang kuduga. Betapa bodohnya diriku yang awalnya mengira bahwa dia akan bisa menerima semua ini. Terlalu naif jika aku berpikiran bahwa Mas Haris akan mau menerima kehadiran bayi ini, setelah semua hal yang terjadi. Sangat tidak masuk akal... Dan bodohnya aku baru menyadari semua itu sekarang.


Andai dari dulu aku tahu, maka tak perlu aku merasakan ngilu yang sangat menghantam di dada.


Betapa setiap malam aku merasakan sulitnya untuk memejamkan mata karena menahan kerinduan untuk mendengar suaranya atau melihat wajahnya. Apakah lelaki itu tahu dan dapat merasakan semuanya?


Awalnya penyebab kepergian Mas Haris dari hidupku adalah salahku. Aku yang salah karena sudah dicintai segenap hati oleh Mas Haris tapi malah berkhianat. Jadi jangan salahkan dia kemudian berlalu pergi meninggalkan aku.


Namun, saat aku menyadarinya.... aku jadi tertawa sendiri. Mentertawakan kebodohanku. Aku tidak pernah ingkar terhadap janji - janji kami. Tapi hanya saja, hati Mas Haris terlalu lemah untuk mempertahankan pondasi cinta kami. Semua itu hanya bualannya semata. Nyatanya... diterpa badai sedikit saja, dia langsung pergi meninggalkan semua cinta yang telah kami bangun bersama.


Aku kembali sakit hati dan sekarat.


Hari ini, pria yang kucintai hingga detik ini, sedang memakai pakaian adat dari daerahnya, tersenyum lebar seolah sedang memamerkan kebahagiaannya. Mas Haris baru saja memposting foto pertunangannya dengan wanita itu di media sosial miliknya.

__ADS_1


Ada rasa nyeri yang menusuk dadaku. Aku bergetar menahan sakitnya. Semudah itu dia melupakan diriku. Alih-alih menatap foto Mas Haris, aku lebih suka membenamkan diriku ke dalam bantal dan menumpahkan semuanya di sana. Aku kembali sakit oleh tebasan cinta pada pria itu. Ternyata aku memang tidak berarti bagi Mas Haris. Cintanya padaku ternyata palsu....


__ADS_2