
" Maaf, aku tak bisa membiarkan Asma seperti ini. "
" Kamu siapa, hah? Hei, sadar diri, bung! Anda hanyalah orang lain disini, tak perlu merasa bertanggung jawab."
Tidurku terusik oleh samar - samar suara perdebatan di sekitarku. Pukul berapa sekarang? Kenapa sepagi ini mereka sudah berdebat dan mengencangkan urat leher. Apa mereka tidak tahu, bahwa pagi - pagi sudah bertengkar akan membuat kita jauh rezeki. Hah, lupakan. Itu kata mamaku dulu.
Dasar egois. Pastilah mereka orang - orang yang hanya akan merasa bangga jika menang dalam perdebatan. Mereka menganggap hina bagi yang tak bisa mengimbangi.
Dan sudah pasti dapat ditebak, pemilik bibir berbisa itu tak lain adalah Kak Mansyah. Aku hapal sekali dengan setiap ritme dan ungkapan itu. Hmm, dia memang ahlinya dalam menyakiti hati orang lain.
Aku baru hendak membuka kelopak mataku untuk memastikan bahwa tebakanku benar saat aku menyadari ternyata kelopak mataku amat begitu sulit untuk terbuka. Sekali dia kali ku coba untuk memisahkan kedua pelupuk mata ini agar mau terbuka, namun tetap saja aku tak bisa. Aku menjadi panik. Mengapa bisa seperti ini?
Sekelebat ingatan menghampiriku. Aku ingat mengapa wanita ini sulit untuk membuka mata. Subuh tadi, wanita ini bersujud di atas sajadah, mencoba bertanya kepada Sang Pemilik Takdir, takdir apa yang tertulis untuk aku si pendosa ini.
" Mas, tolong. Mantri itu tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Asma. Lihatlah dia masih saja terbaring menutup matanya. Sejak kemarin, demamnya tak turun, malah semakin tinggi. Jika mas tak keberatan, saya mohon izin untuk membawa Asma ke rumah sakit terdekat. Karena setahu saya, Rumah sakit Taman Husada berada tidak jauh dari sini. " kalimat Mas Haris terdengar dekat dengan telinga. Ada rasa haru dalam hatiku saat mengetahui dia tak berada jauh darimu. Resah hati karena mataku tak bisa terbuka menjadi hilang karena mengetahui fakta itu.
Berhubung aku masih ingin mengetahui bagaimana perdebatan ini selanjutnya, aku lebih memilih bungkam dan menutup rapat mataku. Aku juga tidak bergerak agar tak menimbulkan kecurigaan. Mestinya aku tak perlu sepenasaran itu, sebab hal - hal yang menarik bagi Kak Mansyah pastikah tak jauh - jauh dari hal yang berhubungan dengan diriku.
" Hei, Bung, sadarlah. Kali sanak keluarganya! Kami sangat faham apa yang terbaik untuk adik kami. Kamu hanya orang asing dan kami semua tak tahu apa tujuan kamu datang kemari. "
" Maaf, Mas. Walaupun aku rasa kurang pantas mengatakan hal ini, di saat kita semua dengan jelas melihat Asma sedang terbaring lemah. Namun karena Mas mempertanyakan sebab keberadaanku di sini, maka perlu Mas tahu, Aku berdiri di sini karena semata-mata lantaran niat Baik yang telah jauh - jauh hari aku dan Asma rencanakan. " Keren sekali cara Mas Haris berbicara tanpa menyebut dirinya dengan ' Saya' melainkan dengan kata ' aku'. Kemana sudah kesopanan prilaku saat berbicara dengan Kak Mansyah. Andai saja kami telah halal, sudah kuhadiahi dia tropi ciuman di seluruh wajahnya.
Tapi tunggu dulu. Apa maksudnya aku terbaring lemah?
Apakah aku sedang sakit? Tapi, apa penyebabnya? Aku ingat, semalam aku baik - baik saja.
__ADS_1
Oh, ya. Aku baru ingat. Jika si Syafrie baru saja mengatakan sebuah rahasia besar yang sekian tahun dia dan keluargaku sembunyikan. Akan tetapi, selain perasaan kosong yang kini membungkus hatiku, aku tidak lagi merasakan apa pun. Jadi tidak mungkin hal itu menjadi penyebab dari kondisiku sekarang ini.
Sejujurnya, aku memang sedikit sedih saat menyadari kejahatan keluargaku. Aku merintih sedih dalam hati. Namun itu tidaklah lama dan sampai membuatku menangis meraung-raung. Bukan karena aku takut ada Mas Haris di rumah ini. Tidak.. atas nama Tuhan Azza Wazalla, bukan pria itu penyebabnya.
Mereka menyembunyikan keberadaan Fadil dari ingatanku. Berarti mereka ingin agar aku tidak mengenal darah daging kuda. Sumpah Demi langit dan bumi, aku sangat dendam dengan Mereka.
Rasa nyeri yang kurasakan di dada, Subhanallah ternyata beribu - ribu kali sakitnya akibat dari rantai kedukaan yang Syafrie kalungkan di hidupku sepuluh tahun yang silam.
Oke, baiklah. Kukabulkan keinginan mereka. Aku akan menganggap tak pernah mendengar kebenaran apa pun dari Syafrie. Aku akan mencoba untuk tutup mata dan hati nuraniku tentang Fadil. Toh, selama ini, anak itu mampu bertahan tumbuh dengan sehat dan besar tanpa kehadiranku. Jadi, ketidakhadiranku nanti bukanlah lagi menjadi masalah besar dalam hidupnya.
Aku tidak menampik bahwa aku bahagia mengetahui bahwa Fadil adalah anakku, buah hatiku, permata yang berharga yang hadir tanpa kusadari. Demi nafas ibuku, aku bersumpah, kalbuku bersorak sorai menahan gejolak kegembiraan di hatiku.
Hanya saja, seperti mimpi, sorak sorai kegembiraan dan perayaan ini hanya sesaat, kemudian berganti kebencian yang menggunung.
Seandainya saja masih ada sisa kemaafan, mungkin aku masih bisa mengampuni mereka yang telah menorehkan luka tak berperi. Tapi, sayangnya aku tak punya. Benci dan dendamku menggunung merajai tempat dihati.
Siapa pun yang kelak membaca tentang kisah tragis hidupku ini, aku sangat berharap bahwa orang tidak lagi mengataiku sebagai wanita keras kepala. Juga tak ada dari mereka yang menghujatku sebagai wanita yang sombong nan congkak, karena tidak ingin mengenal anaknya demi menunaikan sebuah dendam.
Tolong jangan lagi menghakimi aku karena pada hakekatnya kita semua tahu bahwa kita hanya memiliki sebuah hati yang lebarnya hanya sekian milimeter dan itupun sudah di cincang - cincang habis dan berdarah - darah. Jadi jangan lagi menghujatku di kemudian hari.
" Bung.. " Suara Kak Mansyah kembali terdengar. Dia diam sejenak sebelum kemudian terkekeh menyebalkan.
" Sebelum berperang, biasanya orang melakukan pengamatan terlebih dahulu akan musuh dan area pertarungan. Namun, aku gak melihat semua itu kamu lakukan. Bukannya aku simpati padamu, tapi aku takut tak ingin berpura-pura simpati padamu nanti saat melihatmu tertunduk kecewa dan patah hati. Semoga saat itu, Tuhan cepat mengangkat penderitaanmu akibat patah hati. Jangan terlalu percaya diri, Bung! "
Aku gemas mendengar penuturan Kak Mansyah. Apa sih, yang ada di dalam otak kakak lelaki pertamamu itu? "
__ADS_1
Dasar mata celaka. Berulang kali aku mencoba kembali untuk membuka mata, namun, aku tak pernah berhasil. Padahal ingin sekali rasanya kakiku ingin melompat dan menerjang ipar Syafrie itu dan mengajaknya bertarung makian.
Lupakan saja janjiku untuk menurut dan mematuhinya beberapa hari yang lalu. Teganya dia memperlakukan pria yang menjadi pemilik hatiku sedemikian rupa.
Aku bertarung dengan keras untuk berusaha membuka mata. Aku rasa Tuhan mahal penyayang. Kesabaranku sudah terkikis habis demi mendapati tajam lidah kak Mansyah yang menampar hati kekasihku. Sungguh aku malu memiliki seorang kakak yang tidak pandai menjaga lisan.
Jujur saja aku tak sanggup membayangkan wajah Mas Haris saat mendengar Kak Mansyah berkata seperti itu. Aku jadi menyesali keputusanku yang kembali lagi ke desa ini. Namun semuanya sudah terlambat.
" Syah sudah! " Itu suara si Syafrie. Hah, pantas saja Kak Mansyah menjadi garang dan beringas, ternyata orang yang dia bela mati - matian sedang berada di diri tempat ini.
" Tapi, syaf...Pria mesti tahu tentang status Asma yang sebenarnya. " Tubuhku serasa gemetar walaupun aku berada dalam mata terpejam. Sungguh aku menyesal memiliki kakak selaknat dia.
" Syah, sudah ya, satu - satu. Sekarang Asma sedang sakit. Tak usah membicarakan tentang hal lain yang tak ada hubungannya dengan kesembuhan Asma. " Ada nada lelah dalam ucapan pria yang berada di sebelahku itu. "Temannya Asma, benar. Kita memang harus membawanya ke rumah sakit. Aku juga khawatir, demamnya sudah turun, tapi matanya belum terbuka."
" Itulah kenapa saya memaksa untuk membawa Asma ke rumah sakit, Mas." Terdengar priaku angkat bicara. Dari nada suaranya, aku bisa menebak kalau dia sedang menahan kesal.
" Bung, tolong, kami sedang berbicara antar sesama keluarga. Jangan memasuki obrolan orang lain, atau saya tak segan - segan melemparmu kembali ke kota tempat asalmu."
" Mansyah, keluar dari sini! " seseorang membentak Kak Mansyah dan aku tahu itu pasti Kak Lela. Derit pintu dibuka, dan aku tahu, kedua orang yang selalu sukses memancing emosiku itu, pasti sudah beranjak keluar. Namun, sialnya mataku tetap belum bisa terbuka.
" Maafkan saudara saya. Dia memang kurang bisa mengendalikan emosi. Saya harap kamu tidak tersinggung. "
" Tersinggung sih, sedikit. Bagaimana juga perkataannya sangat kasar. Tapi tak masalah, Saya akan tetap membawa Asma ke rumah sakit, bila sampai satu jam lagi belum ada perubahan."
" Kita doakan saja, semoga Asma cepat membuka matanya. " Suara kak Lela adalah hal yang terakhir kudengar sebelum aku terbang ke alam mimpi.
__ADS_1