
Dek, Mas mau bicara.. "
Aku berbalik menatap pria itu. Sejenak kulihat ada keraguan di matanya.
" Mas Haris mau ngomong apa? " tanyaku lagi.
" Dek, ayo kita menikah..! "
Hah.......
Sontak saja aku langsung bangun dari tidurku. Tak kuhiraukan lagi rasa pusing yang masih menghinggapi kepalaku. Mulutku terbuka lebar saking kagetnya mendengar ajakan Mas Haris yang tak terduga. Dia mau mengajak aku berumah tangga? Astaga.... aku mencubit sepintas lenganku. Sakit.... jadi ini beneran terjadi. Mas Haris beneran melamarku.
" Mak....maksudnya apa, Mas?" aku tergagap. Entah mengapa aku langsung menjadi gugup. Sialan.... ini jantung rasanya menjadi tak karuan rasa. Aku heran.. diagnosa dokter gejala tipus, tapi mengapa jantung aku yang bermasalah.
Mas Haris terkekeh mendengar pertanyaanku. Aku menepuk jidat. Rasanya bodoh sekali. Mengapa aku bertanya seperti ini. Aku terlihat seperti orang bodoh.....
Baiklah... baiklah....aku akhirnya mengambil napas lalu kembali berucap.
" Maksud adek, kenapa Mas bertanya seperti itu? Apa Mas serius ngajak aku nikah? " aku mengulang pertanyaan Mas Haris agar dia tak salah faham.
"Maksud Mas sudah jelas, Dek. Mas serius ingin mengajak kamu menikah dan mengarungi bahtera rumah tangga berdua denganmu. Apa kamu bersedia menerimanya, Dek? " tanya Mas Haris.
Aku menatap wajah bersih pria yang ada di hadapanku dengan ekspresi yang entah bagaimana. Kaget, bingung dan juga tak percaya.
Tak habis pikir bagaimana mungkin pria ini mengajukan lamarannya kepadaku di saat umur perkenalan kami yang baru menginjak usia tiga hari.
Aku ingin tertawa terbahak - bahak namun hal itu urung aku lakukan karena melihat ekspresi wajah Mas Haris yang terlihat bersungguh - sungguh.
Aku menggelengkan kepala karena menganggap ucapan Mas Haris hanya candaan saja. " Becandanya nggak lucu. " ujarku kemudian.
" Mas tidak becanda, dek. Mas kan tadi sudah bilang bahwa Mas itu serius pengen ngajakin adek nikah. "
" Tapi, apa Mas sudah lupa? Kemarin kan Mas bilang, katanya hubungan kita ini hanya pura-pura."
Mas Haris langsung terdiam mendengar ucapanku. Dia kemudian menatapku sesaat lalu berucap.
" Apa kamu akan percaya jika aku katakan bahwa sekarang aku mulai menyukaimu? "
Nah.... kini gantian, aku yang terdiam mendengar Mas Haris menyatakan perasaannya.
" Entah kapan tepatnya perasaan ini hadir. Tapi aku tak suka jika ada pria lain yang menatapmu penuh kekaguman. Aku juga memiliki rasa untuk selalu berada di dekatmu dan melindungi dirimu. Aku tak tahu perasaan apa namanya. Tapi yang aku tahu aku ingin memiliki dirimu dan tak mau kehilangan kamu, Dek."
Aku melongo mendengar tutur kata Mas Haris yang panjang lagi lebar tentang perasaannya. Entah terpesona atau bingung, aku tak tahu yang mana.
" Dek..... " kurasakan tangan Mas Haris menyentuh punggung tanganku.
Aku jadi gelagapan. Terlebih ketika Mas Haris menciumnya. Wajahku menjadi merah semerah buah tomat.
__ADS_1
Ini pertama kalinya aku dicium oleh pria walaupun ciuman itu bukan di bibir melainkan di tangan.
Mendengar perkataan Mas Haris tadi aku menjadi bimbang. Apakah aku harus menerima cintanya atau tidak.
Kehadiran Jubair membuat aku merasa dalam bahaya. Pria yang pernah hadir di masa laluku itu bukan tak mungkin akan kembali lagi menyeretku ke dalam lingkaran masa lalu kami yang kelam. Aku tahu dengan pasti, dia tentu tak ingin kehilangan muka di depan bapak ibunya dan juga masyarakat di desa kami dengan membiarkan saja perceraian kami. Aku ragu apakah dia rela menghadapi hal itu.
Kediaman aku membuat Mas Haris menghela napas. Aku jadi merasa bersalah. Mungkin dia berpikir aku akan menolaknya. Aku juga tak tahu apa yang harus ku ucapkan saat ini.
" Adek takut, Mas.. "
Mas Haris menghela napas. "Apa yang adek takutkan? " tanyanya gusar. Kentara sekali ada ketakutan yang memghias wajahnya jika aku menolak keinginannya.
Aku terdiam tak langsung menjawab pertanyaannya. Aku memikirkan kata - kata apa yang harus kuucapkan agar tak menyinggung hati pria baik yang ada di depanku ini.
" Aku janda, Mas! " akhirnya kata - kata itulah yang terucap dari bibirku.
Wajah Mas Haris terlihat berubah. Ada keterkejutan di sana. Mungkin dia tak menyangka jika aku sama sebelas dua belas-nya dengan Asma. Status yang ku sandang juga berwarna ungu.
Tak ada lagi ucapan yang keluar dari bibir Mas Haris setelah itu. Kami hanya saling berdiam diri untuk waktu yang lama. Aku dan Mas Haris sama-sama tenggelam dalam pikiran kami masing-masing.
Sementara itu, hari sudah beranjak sore. Matahari baru saja masuk ke peraduan dan malam mulai hadir menggantikan posisi siang hari yang terik dan menyala menjadikan suasana gelap dan kelam yang ada.
Aku sudah lama kembali berbaring karena rasa sesak yang entah mengapa kembali hadir menyeruak. Bayangan demi bayangan masa lalu kembali hadir mendatangiku. Membawa kembali kenangan masa lalu yang sudah kukubur rapat. Sekuat apa aku berusaha untuk mengusirnya, tetap saja bayangan itu tak mau beranjak pergi dari pelupuk mata. Aku memejamkan mata berharap semua bisa hilang. Namun bukannya hilang, malahan bayangan itu semakin kuat bermunculan bagaikan slide film yang terputar di otakku
Aku melirik ke arah Mas Haris yang beranjak pergi keluar ruangan. Entah hendak pergi ke mana. Aku tak berdaya walau untuk berucap sekedar bertanya tujuannya. Ego dan juga rasa malu mengalahkan segalanya. Ujung-ujungnya aku hanya terbaring sambil memejamkan mata sebagai senjata terakhir dengan berharap semoga Mas Haris menganggap aku sedang tertidur.
Mungkin karena benaran lelah, aku pun akhirnya tertidur benaran. Sampai akhirnya sebuah sentuhan di tanganku membangunkan aku yang sedang terlelap.
Aku mengerjapkan mata menyesuaikan pandangan mata dengan sinar lampu yang menyilaukan mataku
" Mas...." Hanya itu kata yang mampu terucap ketika netraku berhasil menangkap bayangannya.
" Maaf, Mas bangunin kamu. Soalnya kamu belum makan dari tadi. " ujarnya seraya menyodorkan piring makanan rumah sakit yang berisi bubur yang lengkap dengan lauk ayam dan juga sayur ke arahku.
Aku menggelengkan kepala tanda tak berniat untuk makan. Aku sungguh tak berselera untuk makan. Pikiranku masih dihantui oleh kejadian tadi siang dan juga bayangan kehadiran Jubair yang muncul dari masa lalu.
" Tidak, kamu tidak boleh menolak untuk makan. Bagaimana kamu bisa sembuh dengan cepat jika tak mau makan. Mas suapin, yah... " tawarnya.
" Hah.. " aku melongo mendapati sikap manis Mas Haris. Setelah satu kenyataan kuungkapkan kepadanya, tapi mengapa sikapnya tetap tak berubah? Apa Mas Haris pura-pura saja bersikap manis atau ada maksud lain lagi. Aku tak habis pikir dengan semua ini.
Aku semakin tak berselera untuk makan.
" Buka mulutmu, Dek..! " perintahnya tegas.
Dengan malas aku membuka mulutku. Mas Haris lantas menyuapi aku dengan telaten. Sampai pada suapan yang ketiga, aku mengangkat tangan tanda aku sudah merasa kenyang.
Mas Haris menyodorkan air minum kepadaku yang langsung kureguk dengan lahap. Aku sangat haus sekali.
__ADS_1
Setelah selesai Mas Haris kembali bermaksud untuk menyuapiku namun aku menolak dengan menggelengkan kepala.
" Sudah cukup, Mas. Adek sudah kenyang. "
" Habiskan, Dek. Kamu makannya sedikit sekali.. "
" Mas, aku mau bicara.... " Aku mengalihkan fokus Mas Haris yang masih berusaha untuk terus menyuapiku.
Gerakan tangannya terhenti ketika mendengar permintaanku. Tatapannya lurus menghujam manik mataku.
" Apapun yang kamu katakan, Dek. Itu tak akan merubah keputusanku. "
" Tapi, Mas... Apa Mas tidak menyesal nantinya. Dan.... --⁴⁴
lagi pula aku takut jika keluarga Mas Haris tak bisa menerima kehadiranku di sisi Mas Haris."
" Ketakutanmu terlalu berlebihan, Dek. Keluargaku tak akan mempermasalahkan siapa yang kelak akan mendampingiku. Lagi pula, umurku sudah dewasa untuk menentukan sendiri pilihanku. " ucapnya dengan pasti. Ada ketegasan yang tertangkap melalui ucapannya barusan. Membuat aku terhenyak tak mampu lagi berucap.
" Ini obatnya, Dek. Minumlah...!" kali ini dia menyodorkan obat dan juga air minum kepadaku.
Aku mengambil obat dari tangannya lantas memasukan ke mulutku dan mengambil air minum di tangannya untuk meminunnya bersama obat yang ada di mulutku. Rasanya pahit sekali. Aku bergidik setelah minum obat. Memang.. aku benci sekali jika disuruh menelan obat terlebih obat yang rasanya pahit. Karena terpaksabdan demi gengsi saja aku akhirnya menelan obat yang dii sodorkan Mas Haris kepadaku.
" Tidurlah.... mudah - mudahan besok kamu sudah diperbolehkan pulang. " Mas Haris menyuruhku kembali tidur sambil memperbaiki letak selimutku yang tersibak.
Aku menurut saja dan mulai memejamkan mataku. Hingga akhirnya aku tertidur sampai keesokan paginya.
Aku tersadar dan membuka mataku dan mendapati Mas Haris yang tertidur dalam keadaan duduk di sebelah ranjangku dengan posisi kepala yang berada di kasur ku.
Aku terharu dengan perhatian dan ketulusan pengorbanan pria itu. Walaupun statusnya saja belum resmi menjadi kekasih ku dia sudah rela berkorban sedemikian padaku. Sejenak aku merasa gamang. Apakah aku menerima lamaran pria ini dan melepas kesendirian atau tetap mempertahankan kesendirian itu.
" Kau sudah bangun... " Mas Haris terjaga oleh sentuhan tanganku di kepalanya.
" Sudah pagi, Mas.. " sahutku. Dia kemudian bangun dan beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajah.
" Dek, Mas cari sarapan dulu, ya.. " pamit Mas Haris yang langsung kuangguki. " Aku titip buah kalau ada, Mas. "
" Ok... buah apa? "
" Pir atau apel kalau ada... " Aku memang menyukai kedua jenis buah tersebut.
" Ok..." Mas Haris tersenyum sambil mengedipkan mata kemudian melangkah pergi keluar setelah itu.
Sepeninggal Mas Haris, aku mencoba turun dari pembaringan bermaksud untuk pergi ke kamar mandi yang letaknya tak jauh dari tempat tidurku. Mas Haris menempatkan aku di ruang VIP hingga kamar ini hanya ditempati olehku saja.
Baru saja aku hendak melangkah ke kamar mandi, sakit kembali menerjang kepalaku. Aku sudah terhuyung merasakan tubuhku yang limbung seperti hendak jatuh.
Beruntung sebuah tangan kekar berhasil menangkap tubuhku, hingga Aku tak jadi jatuh ke lantai.
__ADS_1
Aku terperanjat kaget ketika menyadari bahwa itu bukanlah tangan Mas Haris. Sontak aku menoleh.
"Kau.......... "