
Aku akhirnya bisa membuka mataku kembali. Ini jauh lebih mudah dari tadi pagi.
Hal pertama yang ku tangkap adalah wangi bau bawang - bawangan yang keluar dari masakan tumisan yang berasal dari dapur sampai ke kamarku. Hidungku kembang kempis menikmati aroma masakan yang sungguh menggugah selera. Aku jadi merasa lapar. Perutku keroncongan minta diisi. oh... iya, seingatku, kapan terakhir aku. makan?
Aku memaksa bangkit untuk bangun dari tidur. Dengan kepala yang masih terasa berat, aku duduk di tepi ranjang. Mencoba untuk mengumpulkan seluruh tenaga aku menyeret kakiku ke luar kamar.
Sepi... tak ada seorang pun di ruang tamu. Riuh tawa canda justru terdengar dari arah halaman depan. Masa bodoh dengan gengsi yang kujunjung setinggi langit. Aku perlu mengisi perut, karena aku merasa lapar. Akhirnya aku melangkahkan kaki menuju ke dapur.
Entah apa yang membuat tubuhku lemas. Seluruh tulang belulang di tubuhku serasa bagai remuk. Beberapa kali aku harus berpegangan di dinding tembok rumah agar bisa menahan tubuhku supaya bisa sampai ke dapur.
" Hei, kau bangun.. " seseorang menegur. Menggeser kursi plastik di dekatnya. Memperpendek jarak di antara kami, lalu berdiri di dekatku.
" Lapar. "
" Sebenarnya, kamu tak perlu repot meninggalkan kamar. Kamu cukup bilang saja kepada kami. " Aku tak tahu entah dia tulus atau dibuat - buat. Tapi suaranya terdengar lembut dan aku sungguh tak peduli.
Aku menarik sebelah kakiku maju dan, " Aku punya kaki untuk berjalan kemari. "
Pria yang sedang duduk dihadapanku itu tampak tertegun untuk sesaat. Lalu setelah itu dia tersenyum dan sialnya senyumnya sungguh menawan. " Oke, kalau begitu, Ayo sini, aku ambilkan. " Dia menyentuh jemariku, menarik tanganku, dan menuntunku duduk di tikar plastik lesehan.
" Selain Allah telah memberiku sepasang kaki untuk berjalan, Dia juga sudah memberiku sepasang tangan. Jadi kamu sudah tahu pasti jika aku sama sekali tidak membutuhkan bantuanmu." kutepis tangan itu.
Lagi, pria itu terdiam. Kali ini bukan lagi kudapat senyumnya, tetapi tatap nelangsa yang bermukim dari wajahnya.
" Kukira Fadil akan mampu mencairkan kutub yang kau bangun untuk kami, tapi nyatanya aku terlalu berharap.. "
Siapa, Fadil? Oh, putramu itu? " Kataku pada Syafrie. Ada sembilu yang menyayat hati saat aku mengucapkannya. Maafkan mama, Fadil. Aku membathin.
" Asma, mengapa hatimu begitu keras? Fadil itu putra kita, putramu. " ucapnya setengah putus asa.
" Aku tak pernah merasa memiliki anak. Kecuali saat kemarin malam, saat kamu mengatakan sesuatu yang telah kamu dan keluargaku sembunyikan dariku selama ini. Sesuatu yang hilang.." Jangan ragukan lagi jika aku adalah adik dari Kak Mansyah. Mulut kami sama - sama beracun dan sangat berbisa jika menampar hati orang.
" Lalu hanya karena kenyataan yang aku dengar satu malam saja, kamu memintaku untuk mengakui putramu sebagai putraku. Maaf, aku tak bisa. Yang aku tahu sampai kemarin aku menginjakkan kaki ke rumah ini statusku adalah janda tanpa anak. Jadi agak lucu rasanya, kalau baru menikah beberapa hari lalu, aku sudah memiliki anak yang usianya sudah sepuluh tahun." semburku.
__ADS_1
" Asmawati Syafrie, itu namamu! Perbanyak lagi menundukkan diri pada sangat Pencipta, istriku sayang. Aku takut Tuhan tak punya alasan lagi untuk memaafkanmu. " rahang pria itu mengetat.
" Asmawati Basrie, itu adalah namaku." Sengaja aku memberi penekanan pada setiap huruf - hurufnya agar dia dapat memahami dengan benar. Tapi sialnya, pening di kepalaku tiba-tiba saja mendera. Padahal aku sudah siap untuk menumpahkan amarah yang bergelora di dalam dadaku karena Kak Mansyah pada Syafrie.
" Dimana, Asma. Aku harus mencari palu untuk memecahkan batu di hatimu. Dimana? " Aku bisa melihat kesal yang teramat sangat di wajahnya. Sekuat tenaga dia berusaha menahan emosinya.
"Sayangnya, untuk kamu, tak ada! "
Tangannya mengepal dan wajahnya mengeras. Meredam hati untuk tidak menghantam tiang rumah penyangga dapur. Laparku lenyap... tergantikan oleh riang sebab melihat emosinya di depan mata.
" Kenapa kamu begitu susah, Asma, melupakan kesalahanku dahulu?..... Aku benci hatimu yang keras seperti ini. Aku benci sifat keras kepalamu yang sekarang. "
" Dan asal kamu tahu saja. Aku lebih membencimu Syafrie Mahmud Alamsyah." Mataku terangkat menantang pandangannya.
Kepala pria yang berstatus suamiku itu menggeleng pelan, lalu tersenyum getir.
" Kalau saja rasa ini bisa aku hilangkan, Asma. Maka kamu tak perlu mengiba meminta aku untuk tidak melihatku di depan mata... " Mata pria itu memandangku dengan dalam dan aku lebih memilih membuang mukaku ke arah luar jendela yang berderit - derit karena tertiup angin.
" Tahukah kamu? Aku benar-benar membencimu. Kamu meninggalkan aku tanpa bersedia mendengar penjelasanku terlebih dahulu. Itu adalah hal yang sangat menyesakkan dada, Asma." kembali Syafrie merangkai kata.
" Hatiku serupa denganmu, Sama-sama berdarah jika terluka. Mendapati perlakuanmu padaku, pergi sekian lama dan tak berniat untuk kembali, terlampau sangat melukai harga diriku sebagai laki-laki dan juga sebagai suami. "
Apa? Itu tadi dia yang bicara? Ya Allah... Sekian tahun lamanya, dia tak pernah berkaca pada diri sendiri. Aku sungguh merasa heran dan takjub, sungguh.
" Hei, Bung. Kamu sadar mengatakan itu?" tanyaku bercampur tatapan heran.
" Aku belum selesai, Asma. Jangan potong dulu ucapanku.! " tatapannya memperingatkan aku. Kembali aku membuang wajah pada hamparan sawah yang membentang di luar sana. Tak lupa pula tarikan nafas panjangku mengiringi.
" Sendiri mengerjakan apa yang seharusnya menjadi tugas kita berdua, menyentil sesuatu dalam dadaku. Kemudian pertanyaan yang sama selalu berputar - putar di kepalaku. Kenapa istriku pergi? Kenapa dia begitu tega? Kenapa dia tidak mau mendengarkanku, untuk sabar dan menunggu penjelasanku? Apakah aku sanggup untuk memaafkannya? Sampai kapan aku menunggu? Sepuluh tahun, Asma. Sepuluh tahun pertanyaan itu selalu menghantui hidupku... " dia berhenti sejenak untuk menarik nafas. " Bayangkan sebentar saja, menjadi aku. Merawat Fadil seorang diri, aku memandikannya, menemaninya tidur, menghapus air matanya, menenangkannya saat terbangun di malam hari karena bermimpi buruk. Mengantar dan menjemputnya sekolah, mengobati cederanya, kedua tangan ini, Asma, kedua tangan ini yang melakukannya. " Dia menyodorkan kedua tangannya ke hadapanku. Aku bisa melihat getir di ujung kedua matanya.
" Tahukah kamu yang paling sedih dari semua itu, Asma? Aku tak bisa menjawab pertanyaannya tentang sosok ibu yang tidak pernah ada di sisinya." Aku menyesali mataku yang tidak berpihak padaku, berani sekali dia meneteskan air mata tanpa seizinku.
Syafrie melangkah satu langkah ke hadapanku ketika matanya menangkap lelehan bening yang mengalir di pipiku. Mungkin dia berniat ingin menghapusnya namun aku justru mundur menyeret lemah kakiku dan menjauh. Melihat itu, Syafrie urung mendekat. Kami hanya saling diam, terperangkap dalam hening.
__ADS_1
" Akan tetapi, demi nafas putraku, aku rela melakukannya." Kembali kalimatnya memecah kesunyian. Iramanya masih sama, getir.
" Beberapa menit mendapati kamu berdiri di depan pintu minggu lalu, hatiku masih menolak memaafkanmu. Dan semakin tak Terima kalau aku menyaksikan dengan kedua mataku, bahwa kamu terlihat sehat dan semakin cantik. Sementara aku....? Konyolnya, aku hampir mati didera rindu karena menunggu kamu kembali. " Dia tertawa namun terdengar pahit.
Sewajarnya seperti kebanyakan wanita di
dunia ini, aku tidak bisa tidak, pasti terenyuh mendapatkan kalimat manis penuh kekaguman dan pujaan yang Syafrie lontarkan padaku. Namun, di akhir kalimatnya, aku kembali berpikir, benarkah dia semerindu itu padaku?
Memangnya, kemana Marina, istrinya? Bukankah seharusnya dia tak perlu merasakan perasaan itu padaku. Bukankah seharusnya dia bisa menerimanya dan mendapatkannya dari istrinya yang lain yang dengar - dengar sedang mengandung anak ketiga?
Oh, astaga... jika Fadil adalah putraku. Lalu, maksudnya si Syafrie itu sekarang sudah memiliki dua anak dari Marina? Tidak, bukankah dia mengatakan bahwa wanita itu sedang mengandung saat ini?
Allahuakbar,..... sungguh aku ingin memberinya tepuk tangan. Sempurna sekali hidupnya. Di usianya yang tiga puluh lima tahun, sudah memiliki lima anak dari dua istri. Pada akhirnya, cita - citanya dulu yang ingin punya banyak anak, tercapai sudah, ckckck.
" Demi Tuhan, aku bahagia akhirnya kamu kembali pada kami. Aku paham, Asma, di kepalaku aku adalah pembohong yang paling berbakat di dunia. Namun, kamu harus tahu, Asma, aku menyimpan sedih saat mengetahui kepulanganmu ternyata bukan untuk aku dan Fadil, melainkan untuk memulai hidup baru bersama pria lain. Aku tak bisa lagi berpura-pura. Aku marah, aku kesal, aku kecewa. Dan sialnya matamu terlalu jujur mengatakan bahwa tak ada lagi aku di sana."
Baguslah, akhirnya dia sadar juga babwa aku sudah menendangnya jauh - jauh dari hatiku dan juga hidupku. Ingin sekali aku bertanya, bagaimana, rasanya? seperti luka diguyur limau, pedih kan?
Mungkin saja dia lupa bahwa dahulu dia pernah melakukan hal yang sama padaku. Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Aku tidak merasa heran.
" Tapi, Asma. Dari semua tumpukan benci yang menggunung, cintaku ternyata jauh lebih besar. Sakitku, piluku, nelangsaku, kalah oleh rindu. Aku... masih merindumu. "
Keningku berkerut. Maaf,.... dia bilang apa? aku menoleh cepat menatapnya dengan pandangan tak percaya. Bodohnya.
" Sudahlah, kamu pasti tak percaya. " Dia melangkah menuju tempat lemari makan. Aku tidak memperhatikan apa yang dia lakukan setelahnya karena aku sibuk mencerna setiap kata - katanya barusan. Tiba-tiba saja, Syafrie sudah berada di depanku dan menyodorkan makanan di depanku. Sebelah tangannya menarikku duduk di tikar lesehan.
" Makanlah pelan - pelan. Aku mau menjemput Fadil. Besok kita akan mengantarnya ke sekolah bersama - sama. Kamu mau kan? " Dia berjongkok di depanku. Sebelah telapak tangannya menempel di pipiku.
Mungkin jika yang melakukan ini adalah Mas Haris, aku langsung lumer layaknya coklat yang kepanasan. Tapi ini, Syafrie. Jadi.. apa lagi yang aku tampilkan selain mimik jengah dan acuh.
" Oh ya, temanmu sedang ke Bontang. Katanya mau membeli baju. Jadi tak usah bingung mencarinya. Makanlah, aku tinggal dulu.. " Dia berlalu tanpa menunggu jawabanku. Aku masih tercenung saat pria itu menghilang ditelan sekat pintu dapur dan ruang keluarga.
Astaga... apa yang terjadi dengan diriku. Dan apa pula yang telah terjadi dengan Syafrie???
__ADS_1