PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 53


__ADS_3

Hei, balik ke sini. Maafkan mamah, ya. Sebenarnya, mamah hanya butuh waktu. Kita lama terpisah. Jadi, mamah perlu waktu untuk membiasakan diri. Ayo balik sini. " Kutarik pelan tubuh anakku itu.


Tapi memang dasar darah dagingku, dia masih saja merajuk. Dia masih memunggungiku. Aku mengalah dan memilih diam seraya menunggu dia berbalik.


" Baiklah, kalau Fadil masih marah, ... boleh mamah baring di sini? Aku menunjuk ranjang penunggu pasien. Masalah adik Si Fadil sudah mulai protes. " Kakak, mamah baring disitu, ya. Soalnya dedek bayi di dalam perut mamah merasa nggak nyaman." Dia masih saja diam.


Merasa tak ada jawaban, aku memutuskan untuk berbaring dengan posisi menghadap ke arah Fadil. Fadil yang menyadari hal itu langsung merubah arah tidurnya. Dia kembali lagi memunggungiku. Aku menarik nafas panjang. Jujur, aku lelah. Semalam tak bisa tidur, dan sekarang meladeni anak kecil yang merajuk.


Aku merasa sekarang hari - hariku semakin melelahkan saja. Padahal, dulu walaupun seberat apa pun pekerjaanku, aku gak pernah merasa lelah.


Sekarang, aku bahkan tak melakukan pekerjaan apapun selain makan, tidur dan mengamuk. Tapi rasanya setiap bangun tidur, badanku rasanya remuk redam seperti dipukuli ratusan orang sekampung.


Pandangan mataku menatap lekat langit- langit ruangan. Anak kecil yang berada di sebelahku itu tak tahan berlama-lama mengacuhkanku, lalu akhirnya bersuara juga.


" Mamah akan tinggal di sini, kah? "


Aku tertawa dalam hati melihat tingkahnya. Kirain bakalan lama ngambeknya.


" Hm, sepertinya begitu. Mamah akan menjagamu sampai kamu sembuh." kataku sambil membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya.


" Maksud Fadil, bukan tinggal untuk merawat Fadil selama Fadil sakit. Tapi tinggal selamanya bersama ayah, Fadil dan adik. Mamah nggak akan pergi lagi kan? " ucanya pelan, namun masih bisa aku dengar.


Aku tidak mengiyakan pertanyaannya. Sebab jika aku menjawab iya, maka itu artinya sama saja dengan aku mengkhianati pelarianku selama sepuluh tahun.


" Mah, Fadil sering sakit. Makanya badan Fadil kecil seperti ini. Fadil sering merepotkan ayah. Fadil mau, nanti Fadil merepotkan mamah saja. Boleh nggak, Mah? "


" Kamu akan sembuh, kata dokter. Asal kamu rutin minum obat. Pasti nanti kamu akan sehat dan kuat." Aku memutuskan untuk tidak memberi terlalu banyak tanggapan.


Bagaimana ya? Aku menyayangi anakku, jelas. Malahan kalo dipikir - pikir aku sudah jatuh cinta dengan anak itu. Matanya yang bening mampu menghadirkan rasa cinta di kalbuku untuk anak itu.


Hanya saja, jika aku memilih hidup bersama Fadil, maka itu berarti aku juga memilih hidup bersama Syafrie? Mana aku mau.... Jelas - jelasnya sudah dia pernah mempermainkan cintaku.


Hidup bersama Syafrie rasanya tak mungkin. Setiap hari tentunya akan diisi oleh bayangan dendamku akan pengkhianatan yang dia lakukan? Aku rasa aku tak akan sanggup. Meski demi Fadil sekalipun.


" Jawaban mamah mengisyaratkan bahwa mamah akan pergi. Mamah akan pergi meninggalkan aku lagi, kan? " Amboi... pandai sekali Putranya Syafrie ini.


Aku terdiam, tak berani lagi bersuara Aku takut untuk memberinya harapan palsu. Yang nantinya akan melukai hati anakku.

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka. Syafrie masuk dengan menenteng beberapa bungkusan.


" Tidak ada yang akan kemana-mana, sayang. Mamah, ayah dan Fadil akan tinggal bersama. Kita semua akan menunggu kelahiran adikmu. Kita semua akan hidup bahagia. " Kata Syafrie. Matanya tajam menatap netraku. Matilah aku...! Aku faham tatapan mata itu. Seperti dia ingin memperingatkan bahwa jangan macam - macam dengan putraku.


Aku membalas tatapannya. Apaan sih, Syafrie. Kenapa mesti menyalahkan aku? Aku kan sudah berperilaku benar. Aku tak ingin memberikan harapan palsu kepada anakmu jika nanti ujung - ujungnya, aku akan pergi juga meninggalkan mereka.


" Tapi mamah belum menjawab pertanyaan Fadil. " protesnya.


Kembali, mata tajam Syafrie menebas mataku. " Mamahmu itu terlalu bahagia hingga tak bisa ngomong lagi. Sudah, istirahatlah sekarang. Mamah juga butuh istirahat, karena semalaman ikut juga menjaga Fadil." kata Syafrie seraya membetulkan letak selimut Fadil.


Bocah kecil itu terdiam seraya menatap ke arahku. " Mamah, Fadil istirahat dulu ya." Aku mengangguk membiarkan bocah itu menarik selimutnya lalu berbaring memejamkan matanya. Aku berjalan ke arah Fadil dan memeluknya. Putra Syafrie itu terlihat senang. Ada binar bahagia di matanya. Dan Mata itu semakin berbinar setelah aku menciumi kedua pipi bocah itu dan sekali mencium pucuk kepalanya dengan sayang. Senyumnya terkembang lebar.


Syafrie berdiri dan menarik lenganku menjauh dari Fadil.


" Ayo, kita harus bicara! " ajaknya seraya menarik tanganku.


" Bicara saja sekarang." jawabku menepis kasar tangannya dari lenganku.


" Tidak, aku mau bicara empat mata sama kamu." Pria yang bergelar suamiku itu kembali menarik tanganku keluar menjauhi ruangan Fadil.


" Asma, aku mohon, hanya beberapa menit saja. " ucapnya seraya memegangi lenganku .


" Baiklah, baiklah... " jawabku malas.


" Ayah, Jangan marahin mamah aku. Nanti mamahku pergi lagi." Aku tersentuh oleh kata - kata-nya. Tadi yang berbicara itu benar, putraku?


"Tidak sayang, ayah tidak akan memarahi mamah. Ayah hanya mau bicara sebentar pada mamah. Ayah dan mamah tinggal sebentar, ya. " Syafrie menggandeng lenganku dan membawa aku keluar dari ruangan tempat Fadil dirawat.


" Bicaralah..... dan cepat. Aku lelah sekali dan ingin istirahat, Syafrie. " Aku menyentak tangan Syafrie dengan kasar. Enak sekali dia. Selama Fadil sakit dan harus dirawat di rumah sakit, pria itu seolah - oleh memanfaatkan kesempatan untuk pegang - pegang. Andai tak ada Fadil, sudah keluar sumpah serapahku pada pria yang selalu saja sukses membakar amarahku itu.


" Asma, aku senang kamu bisa bersikap sedikit lembut pada Fadil seperti yang tadi kamu lakukan. Dia terlihat sangat bahagia sekali." Aku memutar bola matanya jengah. " Jadi kami nyeret aku kemari cuma mau bilang itu? Basi, Syafrie." Aku berbalik ingin kembali masuk ke dalam tetapi, ....


Sebelah tangan Syafrie menarik lenganku hingga aku berbalik dan jatuh terhuyung ke arah Play boy Suka Rahmat itu. Namun dengan sigap dia menahan tubuhku dan aku yang sukses berada dalam pelukannya. " Maafkan, aku Asma" Apa ini? Benda kenyal dan basah menyentuh bibirku.. menyesapnya dalam...


Untuk sepersekian detik aku tersadar dan langsung berontak melepas pelukan dan ciuman Syafrie. Sialan... Syafrie, Sialan. Dia selalu saja mencari - cari kesempatan untuk menyentuhku.


Fadil di rawat selama tiga hari di rumah sakit. Selama tiga hari pula aku terpaksa menghabiskan waktu bersama Si Brengsek Syafrie dan Fadil. Sejak ciuman Syafrie dua hari yang lalu, aku selalu menjaga jarak dengannya. Aku takut dia kembali lagi mencari - cari alasan untuk berbuat mesum. Namun, berbeda halnya dengan Fadil, aku selalu berbagi waktu bersama dengan putra Syafrie itu. Kini, kami bagaikan ibu dan anak yang sebenarnya. Fadil semakin dekan saja denganku.

__ADS_1


...-----...


Sudah seminggu semenjak kepulangan Fadil dari rumah sakit. Ayah Fadil sudah beberapa hari yang lalu sudah kembali bekerja. Di rumah aku hanya menghabiskan waktu bersama Fadil. sekarang aku punya kesibukan baru yaitu mengurus Fadil, membantunya belajar atau membantunya mengerjakan tugas - tugas sekolahnya. Kadang-kadang kami menghabiskan waktu dengan makan bersama.


Sudah beberapa menit yang lalu, Syafrie memarkirkan kendaraan di depan sebuah rumah panggung bercat biru muda dan putih. Cat rumah itu terlihat kusam karena termakan usia. Rumah yang sangat besar dengan halaman yang luas. Rumah mantan mertua Syafrie. Tampak beberapa pokok pohon kelapa yang berjajar di halaman rumah mantan maduku itu. Juga di samping rumah, hingga sampai ke jalan, semuanya di tanami pohon kelapa. Sedang di belakang rumah, terhampar empang yang luas yang tidak lagi terawat.


Yah, di sinilah kami berada. Syafrie menepati janjinya untuk membawa aku menemui ayah Marina yang ingin sekali bertemu denganku.


Mataku nanar menatap ke arah rumah besar itu. Rumah itu kembali mengingatkan aku akan pengkhianatan Syafrie. Memandangnya seperti mengingatkan kembali kenangan - kenangan pilu yang terjadi padaku sepuluh tahun yang silam.


Mendadak ada nyeri yang tiba-tiba menikam jantungku kalau mataku menatap ke suatu tempat. Di sana, di sisi kanan mobil Syafrie, tiba-tiba saja sudah berdiri tarup pelaminan ayah Fadil. Lengkap dengan suara nyanyian dari penyanyi dan riuh pengunjung pesta. Aku melihat wajah - wajah bahagia dan tersenyum dari keluarga mempelai wanita menyambut para tamu yang datang. Pemandangan berikutnya adalah wajah tersenyum bahagia dari mempelai wanita dan pria yang saat ini sedang duduk di sebelahku. Wajah mereka berbanding terbalik dengan wajah bapak yang berwajah murung dan mama yang berderai air mata. Detik berikutnya bayangan wanita berperut buncit yang menangis menghiba memohon agar suaminya yang menjadi mempelai agar ikut pulang bersamanya. Lalu... bayangan wanita hamil yang membuat ulah hingga berakhir dengan malapetaka itu. Teriakan histeris memanggil nama Bapak. Tangis mama, tetesan darah yang mengalir dari sela - sela paha wanita itu. Aku bisa merasakan rasa sakit yang di rasakan oleh wanita itu hingga aku menjadi kesulitan untuk bernafas.


Napasku tersengal - sengal. Keringat dingin bermunculan membasahi tangan dan tengkukku. Hampir putus akhirnya saat kulihat perempuan hamil itu terkapar di tanah bersimbah darah. Ya Tuhan..... aku tak sanggup lagi.


Dadaku serasa ingin pecah. Kepalaku berdenyut - denyut ingin meledak. Bang... bang.....aku menyerah. Aku perlu berteriak untuk menyalurkan semua emosi yang terasa meledak - ledak dalam dada. Jika tidak, penyakit gilaku akan kembali kumat. Tidak... aku tidak mau itu terjadi.


Tapi, apa yang terjadi, alih-alih berteriak untuk membuka suara, justru mulutku terkunci rapat. Gigiku gemeletuk menahan rasa rasa nyeri di dadaku. Tubuhku menggigil.


Syafrie masih tercenung menatap kemudi dengan tatapan kosong. Entah kemana pikiran pria itu. Sampai saat ini, dia belum menyadari apa yang tengah berlaku atas diriku.


Aku tak tahan lagi. Aku membutuhkan pertolongan jika tak ingin mati konyol di tempat musuhku. Aku butuh pertolongan Syafrie.


Dengan gemetar dan tangan menggigil aku meraih baju Syafrie.


" Syafrie, to.... tolong a.. aku. "


Wajah Syafrie panik dan pucat seketika.


"Asma, Asma.. kamu kenapa sayang? Sayang... "


Baiklah..... akan kuingat untuk membuat perhitungan nanti dengannya atas panggilan itu. Sekarang, biarkan saja dia melunjak. Saat ini, jangankan untuk menggerakkan tubuh, bernafas saja aku rasanya sulit sekali. Aku sekarat, hampir mati kehabisan nafas. Aku takut sekali.


Syafrie membuka mobil dan berlari bagai kesetanan memutari mobil, membuka pintu mobil di sebelahku dan tanpa tedeng aling menggendong tubuhku sambil berteriak meminta tolong.


Tubuhku didekap dan dipeluk erat oleh ayah Fadil. Aku bisa merasakan jantungnya yang berdegup sangat kencang dan tubuhnya yang gemetaran sama seperti diriku.


" Tidurkan dia di kamarku." Samar aku mendengar suara panik seorang wanita dari dalam rumah besar itu. Sialan Syafrie... dia membawa aku masuk ke dalam rumah terkutuk itu. Dan suara wanita yang tadi berteriak panik itu, pastilah itu suara musuhku. Sialan Syafrie...!! Tunggu perhitungan dariku saat aku sadar nanti.

__ADS_1


__ADS_2