PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 88


__ADS_3

Dengan kesal Saniah keluar dari ruang sidang dan berjalan pulang tanpa berpamitan kepada Bapak dan ibunya dan juga mertuanya. Biar saja....... sudah kepalang basah. Baginya sudah terlanjur jelek ya sudah biarkan saja. Dia tak peduli lagi jika dicap sebagai menantu yang tak punya adab di mata mertua.Biar sekalian dia di benci. Dengan begitu dia akan mudah untuk lepas dari Jubair. Karena hatinya sudah terlanjur sakit.


" Niah,.... niah.. " pria itu mencengkram kuat lengan Saniah yang masih saja berontak ingin melepaskan diri.


" Lepaskan, kak. Aku mau pulang. Aku mau kerja." Saniah menyentak paksa cengkraman Jubair yang terasa kuat menahan dirinya agar tak bisa beranjak pergi.


" Tidak." Jubair menggelengkan kepalanya. " Kamu harus pulang ikut kami. Kamu itu masih istri kakak, dek. Apa nanti kata orang jika adek tinggal sendiri di rumah kontrakan. Bahaya dan banyak godaannya. Belum lagi gunjingan orang, dek. "


" Aku tak ingin kembali ke rumah itu, kak. Aku juga sudah bilang padamu, jika aku memilih mundur dari pernikahan ini. Percuma saja kita mempertahankan rumah tangga yang palsu ini, kak. Aku saja tak pernah kau anggap sebagai istri?" ucapku lirih dan sendu.


Wajah Jubair pucat pasi mendengar ucapanku. Pengangan tangannya mengendur dan dengan sekali sentak, pegangan tangannya terlepas dari tangan Saniah.


Saniah menatap Pria itu dengan kesal.


" Pulanglah kalian semua, kak. Aku tak bisa lagi kembali. Kakak sudah bahagia hidup bersama Meli dan anak-anak kalian. Sekarang giliran aku untuk mencari kebahagiaanku. Jalan hidupku. Jangan egois, kak. "


" Tapi, dek. Apa hal ini tidak bisa dibicarakan di rumah saja. Beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan mencoba untuk menjadi suamimu dan berperan sebagai imam bagimu dek. " dia memohon sambil menatap Saniah. Berharap jika Saniah akan luluh. Namun Saniah hanya menggeleng lemah, tetap. kukuh pada pendiriannya untuk berpisah dari Jubair.


" Dek, pikirkanlah kembali. Demi kedua orang tuamu dan juga adik - adikmu. "


Saniah terdiam. " Mereka sudah cukup bahagia tanpa aku, kak. Cukup sudah diriku yang harus ditumbalkan untuk kebahagiaan mereka. Sedikitpun mereka tak. pernah peduli akan perasaanku dan juga hatiku. "lirihnya dengan terluka.


" Jubair.... biarkan Saniah pergi. " Suara mertua laki-laki mengagetkan aku. Aku mundur mendekati motorku. Jubair berusaha untuk meraih tanganku namun aku menipisnya.


" Lepaskan, kak. Jangan buat malu diri kakak. Lihatlah.. itu ada Meli dan anak-anak kakak sudah datang. "


Dia menoleh ke arah telunjukku. Benar saja, pelakor itu sudah berada di parkiran mobil. Ketiganya kemudian berjalan ke arah Jubair. Jubair terlihat geram. Pria itu sampai mengepalkan tangannya. Demikian juga halnya dengan kedua orang tuanya.


" Jubair, ngapain perempuan itu kamu bawa kemari, hah? "


" Aku tak pernah menyuruh Meli menyusul kemari, pak. "


Meli sudah berdiri di hadapan kami. Dengan tidak tahu malu, dia bergayut manja di lengan Jubair. Dengan kesal Jubair menepis tangan istri keduanya itu.


" Meli... kamu ngapain sih pake acara nyusul segala. Bikin malu saja... "


" Tapi, kak. Anak-anak maunya minta bertemu sama bapaknya. " rengek perempuan gatal itu tak punya malu.

__ADS_1


Wajah Jubair terlihat memerah menahan geram dan malu.


" Aku sudah bilang, di rumah saja. Kamu nggak usah kemari karena ada bapak dan dan orang tuanya Saniah."


" Sudahlah, Kak. Tak usah membela diri. Wajar saja dia kemari. Kakak itu suaminya. " kata Saniah kemudian menyalakan motor dan pergi meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukan panggilan Jubair juga panggilan Bapak dan ibunya.


Sudah satu bulan, sejak sidang ke dua. Kini aku sudah menunggu sidang berikutnya. Aku juga mendengar kabar dari Syafrie bahwa kesehatan Asma sudah semakin membaik. Sahabatku itu sudah mulai bisa berjalan walau masih tertatih tatih..


Semalam dia menerima chat dari Asma. Untuk pertama kali sejak kecelakaan naas itu. Sahabatku itu meminta untuk bertemu denganku. Dia juga jika dia ingin mengatakan sesuatu tentang hubungannya dengan Syafrie. Sebenarnya aku sudah dapat menebak jika sahabatku itu akhirnya akan memilih untuk kembali pada mantan suaminya itu.


Aku berdoa semoga saja sahabatku itu masih waras otaknya. Mungkin saja kecelakaan itu membuat otaknya yang asalnya geser menjadi lurus kembali dan tidak gila lagi. Aku sebenarnya iba saja dengan Syafrie. Pria itu sudah cukup bersabar dengan segala tingkah laku Asma sahabatku itu.


Memang Syafrie bersalah sudah mengkhianati Asma. Namun itu semua bukanlah keinginan Syafrie, melainkan keinginan bapaknya Asma. Di sini, kedua insan itu sama-sama terluka oleh kesalahan bapaknya Saniah dan juga oleh keadaan. Aku harap semua bisa berakhir dengan Happy ending walaupun harus melalui jalan yang berliku-liku.


Aku menyambut gembira tawaran bertemu dari Asma. Memang aku sudah sangat merindukan sahabatku itu. Aku juga ingin melihat Afika, anak Asma yang cantik itu.


Aku dan Asma sedang duduk di sebuah kafe yang berada di Bontang. Cafe yang terletak di pinggir pesisir itu tampak sedikit Lenggang sehingga kami bisa leluasa untuk ngobrol.


Setelah memesan makanan dan minuman, aku dan Asma terlibat obrolan yang seru.


" Jadi bagaimana sudah hubunganmu dan Syafrie? Apakah akhirnya kamu memutuskan untuk berpisah dengannya?" tanyaku mengawali pembicaraan kami.


Tanpa malu - malu dia menceritakan padaku bagaimana prosesnya dia dan Syafrie akhirnya bisa kembali bersama lagi.


" Astaga... ,Asma.. " aku memekik menutup mulutnya setelah mendengar ceritanya.


" Kamu jahat.... kenapa kamu dan keluargamu tak ada satupun juga yang menceritakan jika kamu dan Syafrie sudah balikan lagi. "


" Yah.... bagaimana lagi. Akhirnya aku sadar, bahwa aku mungkin tak bisa menerima kesedihan lagi jika harus kembali berpisah dengannya. Maka aku memutuskan untuk menyembuhkan luka bersama Syafrie, bukan untuk merawat luka. Aku menyadari bahwa aku masih mencintainya. Dan betapa Syafrie juga sangat mencintai aku. "


" Nah, pang sudah ulun padahi kalo? Untung saja kamu belum terlambat.. Syafrie itu cinta mati sama kamu. Dia tak bisa melupakan dirimu. Maka dari itu dia tak bisa menerima pernikahannya bersama Marina dan memilih melepaskan Marina..... " ucapanku terhenti ketika melihat ekpresi mendung di wajahnya ketika mendengar aku yang tak sengaja menyebabkan nama mantan istri Syafrie itu.


" Maaf, aku tak bermaksud mengungkit luka lamamu... " kataku dengan ekspresi bersalah yang terlihat jelas. Dia lantas tersenyum dan kemudian meneruskan makan makanan yang sudah di pesannya dengan semangat. Sepertinya kehamilan Asma kali ini membuat Sahabat itu jadi doyan sekali makan. Buktinya dia makan banyak dan lahap sekali.


" Sudah.... aku tak apa - apa. Terus.. bagaimana kabar kamu sama Kak Jubair? Apa ' burungnya' masih loyo juga tak bisa bangun. Potong saja, sekalian." geramnya kesal.


Aku menggelengkan kepala kemudian berkata.

__ADS_1


" Aku memutuskan untuk mundur dari pernikahan kami, Asma. "


Mulut Asma terbuka lebar. Sungguh dia tak menyangka jika aku akhirnya sadar juga akan kebodohanku yang pasrah ketika memilih telah mempertahankan pernikahan dengan seorang pria yang sedikitpun tak pernah menghargai aku sebagai istri.


" Alhamdulillah..... " ucapnya sambil mengatupkan kedua tangan dan mengusap wajah.


Aku melongo takjub. Gila....dia ternyata masih gila.


" Gila kamu, Asma. Teman mau cerai kamu syukurin... " sungutku.


Asma terkekeh mendengar omelanku.


" Ya, aku senang aja, pikiranmu sudah terbuka. Tapi aku penasaran, apa yang membuatmu berubah pikiran tak jadi mempertahankan Jubair? " keponya lagi.


" Aku memikirkan ucapanmu, Asma. Aku tak mau terlalu egois. Aku juga lelah berharap cinta Kak Jubair akan luluh padaku. Sejak peristiwa di pasar malam itu, aku menyadari satu hal, bahwa selamanya aku tak pernah ada di hatinya. Lalu untuk apa aku mengorbankan diri pada lelaki yang tidak pernah mengharapkan dan menghargai aku sama sekali. Sehingga aku pun memutuskan untuk membebaskan Kak Jubair dengan pernikahan ini. Mungkin saja dia merasa tersiksa dengan pernikahan kami, hingga dengan berpisah dariku, beban di hatinya akan berkurang, dan aku lagi tidak terlalu merasa berhutang budi padanya."


" Hmm, jadi intinya kamu Sudah lelah dengan semua hubungan omong kosong ini? " tanya Asma sambil menatapku tajam. Dia mencari - cari kesungguhan di mataku.


" Iya, dan aku juga memutuskan untuk pindah ke kota saja dan mencari bahagia aku sendiri, Asma. Seperti kamu, kamu bisa menjadi diri sendiri dan menemukan bahagiamu tanpa menjadi beban orang tuaku." aku berkata dengan isak yang masih tertahan.


Dia tersenyum mendengar ucapanku.


" Ok, aku mendukungmu. " sahutnya senang.


Aku memeluk sahabatku itu dengan hati yang bahagia. Aku bahagia karena akhirnya dia mendapatkan juga kebahagiaannya dan aku juga bahagia karena aku memiliki sahabat yang bisa mengerti dan selalu mendukungku. Hatiku benar-benar lega saat ini.


Keesokan harinya, aku pergi meninggalkan desa Suka Rahmat pagi - pagi sekali. Aku sudah menitipkan surat pengunduran diriku pada temanku dan membayar semua uang sewaktu untuk bulan ini.


Aku akhirnya memutuskan untuk pergi dan mencari kebahagiaanku sendiri. Walaupun sidang gugatan ceraiku belum lagi putus.


Aku sudah minta tolong kepada seorang teman untuk membantu mengurus semua permasalahan gugatan perceraian ku dengan kak Jubair.


Dertttt..... handphone aku berbunyi. Aku tersadar dari lamunan. Ternyata sebuah panggilan video masuk .


Deg.....


Aku membaca nama yang tertera di layar handphone.

__ADS_1


Pak Haris.....????


__ADS_2