
Aku memilih duduk di kamar sambil memandang ke luar jendela kamar. Menikmati hamparan sawah yang di ujungnya di lapisi jejeran pohon kelapa dan mangrove. Di halaman depan rumah mama, ramai anak-anak bermain gala asin. Sempat terbersit keinginan untuk melangkahkan diri keluar kamar dan menyaksikan kegembiraan anak - anak kecil yang sedang bermain itu. Namun aku mengurungkan niatku. Rasa pening di kepalaku rupanya masih enggan beranjak, hingga aku memutuskan untuk berada di kamar saja.
Syafrie dan Fadil datang Dua jam kemudian. Riuh suara anak-anak yang bermain di teras memenuhi ruang hingga ke dalam rumah. Samar - samar aku mendengar suaranya yang menanyakan keberadaanku pada Kak Lela.
Sebelumnya, Kak Mansyah dan Kak Lela sudah menemuiku di kamar. Apalagi yang mereka lakukan selain memuji habis - habisan ipar mereka yang satu itu. Itulah yang Mansyah Basis lakukan padaku, hingga aku yang mendengarnya semakin merasa muak. Perutku rasanya semakin mual saja.
Lain halnya dengan Kak Lela, kakakku yang satu itu menceritakan tentang kekhawatiran Mas Haris yang begitu mencemaskan diriku saat aku terbaring lemah tak bisa membuka mata. Perasaan bahagia meletup - letup di dadaku. Aku rasa, aku makin menemukan alasan mengapa aku sangat mencintai pria bermata teduh itu.
Cukup lama mereka berdua berada di kamarku . Mereka bercerita bahwa aku menderita demam tinggi selama sehari semalam. Selama demam, mataku terpejam namun tak berhenti mengeluarkan air mata dengan mulut yang tak hentinya mengigau. Terjawab sudah mengapa tadi pagi aku sulit sekali membuka mata. Rupanya mataku bengkak hingga sulit sekali untuk dibuka.
" Mama.... " anak lelaki bertubuh kecil itu berlari dengan wajah riang menghambur memelukku. Di belakangnya berdiri Syafrie yang menatapku dalam. Terkejut aku sampai terhenyak, menghembuskan nafas dalam. Tidak.... aku belum siap untuk bertemu anakku.
" Mama sudah sembuh..? " matanya menatapku berbinar.
Aku menatap bocah sepuluh tahun yang menatapku dengan tatapan bahagia. Ada sebersit tanya dalam hatiku, mengapa bocah sepuluh tahun memiliki tubuh yang lebih kecil dari ukuran seharusnya. Saat pertama kali bertemu, aku malahan menyangka umur bocah itu hanya sekitar delapan tahunan. Apakah karena hal itu, Syafrie menyebut Fadil sebagai bocah yang istimewa?
" A.. ku baik saja." Rasa egoku yang tinggi membuatku enggan untuk menyebut diri dengan sebutan yang seharusnya. Andai tak ada ayahnya yang berdiri di sana, sudah ku rengkuh dia dalam dekapanku.
" Mama sudah minum obat? Aku sedih melihat mama terbaring sakit. Maafkan Fadil, ma. Fadil tak bisa menjaga mama karena Fadil harus sekolah. Sebenarnya Fadil tak mau pergi ke sekolah, tapi om Mansyah memaksa. Fadil takut saat pulang sekolah, ibu sudah pergi lagi." Ada embun di sudut matanya yang sialnya menular kepadaku.
Mungkin lantaran dia tidak tumbuh dalam asuhanku, maka ada rasa canggung saat menghadapinya. Mungkin memang sebaiknya aku tidak bertemu dulu dengannya. Karena nyatanya, aku belum siap untuk berhadapan langsung dengan anak ini. Seharusnya aku menyiapkan hati terlebih dahulu sebelum terbiasa dengan kehadiran anak itu.
" Mama, Fadil mau peluk. " Bocah itu bersiap untuk memelukku. Namun, cepat aku menggeleng. Jangan sekarang, jika hal itu kulakukan, maka dendamku akan hilang seketika. Padahal aku menjadikan Fadil sebagai alat balas dendamku.
Ada sesak dan perih yang menohok dada saat kulihat tatap kecewa dari kedua netranya. Maafkan mama, Fadil. Aku tak kuasa berlama-lama menatap mata bening itu yang kecewa Akibat penolakanku. " Badan mama masih lemas. " hiburku agar dia tidak terlalu merasa kecewa.
Dia berbalik dan melangkah pergi dengan kepala menunduk dan kecewa. Aku menatap kepergiannya dengan nanar. Maafkan mama Fadil.... maafkan.... maafkan....
Hanya itu kata yang mampu aku ucapkan dalam hati.
" Apakah begitu caramu membalasku? " Aku tersentak dari lamunan. Kudapati Syafrie berdiri menjulang di hadapanku.
" Kalau iya, kamu mau apa? " jawabku sombong. Lihatlah, jika sudah berhadapan dengan Syafrie, sedihku tadi hilang lenyap laksana sebuah tertiup angin.
" Hm... baiklah. Aku tidak melakukan apa - apa. Paling hanya berbincang sedikit dengan tamu istimewa yang kamu sayangi itu. "
*Terkutuklah Syafrie
Bedebah*....
Si terkutuk Syafrie mencincang habis kesombonganku seketika.
" Sehatkan dirimu dan kuatkan hatimu. Besok sepulang kita mengantar Fadil ke sekolah lalu aku akan mengantarmu untuk menemui Marina. "
Astaghfirullah..... Syafrie memang selalu bisa membuat aku naik darah.
Wajahku pucat pasi. Sekuat tenaga aku mendorong tubuh manusia laknat itu keluar dari kamaku dan membanting pintu dengan keras.
*Terkutuklah kau Syafrie....
Aku sudah muak dengan semua ini.
Aku harus pergi secepatnya dari tempat ini*.
Aku harus mencari Mas Haris dan segera membawanya pergi dari rumah ini. Persetan dengan restu. Aku akan menikah dengan Mas Haris walau tanpa restu mama ataupun saudara - saudara ku.
Lebih baik aku mati daripada harus bertemu dengan medusa penghancur rumah tanggaku itu.
__ADS_1
......-----......
Bodoh.....! Tak habis - habis aku memaki dan mengutuki diri sendiri . Bagaimana bisa ada wanita yang berotak kecil dan dangkal selain aku! Yah... aku saja orangnya!
Susah payah rencana yang aku dan Mas Haris sudah susun akhirnya hancur berantakan. Rencananya aku datang ke desa ini untuk mencairkan kebekuan hubunganku dengan keluargaku. Setelahnya aku akan meminta restu kepada mama dan saudara - saudaraku untuk menikah dan menempuh hidup yang baru dengan Mas Haris.
Yah.... mestinya sesederhana itu saja. Tapi lihatlah apa yang diperbuat oleh wanita dungu ini... Semuanya menjadi berantakan dan tidak terkendali, jauh dari rencana semula.
Yang terjadi adalah... aku tak mendapat restu dan terpaksa kembali menjalani kehidupan rumah tangga dengan masa lalu lalu terjebak dalam lingkaran takdir yang aku tak tahu keberadaannya.
Aku ingin mengutuk takdir yang kembali menjerumuskan diriku dalam pernikahan paksa bersama Syafrie. Bukanlah kebahagiaan yang kuperoleh melainkan luka sayatan baru di atas sayatan lama yang nyatanya belum lagi kering.
Siang tadi, Syafrie mengatakan akan membawaku bertemu Marina. Demi Allah, di mana otak pria itu? Benar-benar tak punya hati nurani. Istrinya sebentar lagi berjuang antara hidup dan mati demi calon anak mereka yang sebentar lagi lahir ke dunia agar dapat lahir dengan selamat. Nah... dia, dengan teganya ingin mempertemukan kami. Betapa kejamnya pria itu.
Lagi pula, si Marina itu, apa dia tahu status diriku yang sekarang adalah istri kedua suaminya? Apa Syafrie tidak takut kalau istri pertamanya itu akan meregang nyawa sebelum melahirkan karena terlalu shock kalau mengetahui bahwa suami yang dia rebut dulu kini kembali lagi menikah denganku.
Wanita mana di dunia ini yang ikhlas suaminya kawin lagi? Terlebih saat diri sedang hamil. Mungkin, ada perempuan yang memiliki keluasan hati yang tak bertepi, tapi aku yakin perempuan itu bukan Marina. Saat melihatku hadir di pernikahannya dahulu saja dia pucat pasi termakan cemburu, apalagi jika dia tahu suami tercintanya itu menikah lagi denganku, pastilah dadanya berlobang karena luka.
Bersiap bertemu dengan Medusa dari Tanah Kutai Timur. Tidak.... Terima kasih. Sedikitpun, tak pernah terpikirkan olehku. Aku tidak gila seperti si Syafrie. Dia tidak boleh melakukan hal ini padaku.
Aku saja sudah sangat membenci dirinya, apalagi dengan wanita yang berstatus istrinya itu. Wanita yang kutandai sebagian pelakor dalam kisah rumah tangga kehidupanku di masa lalu.
Walaupun sejujurnya, ada juga secuil keinginan di hatiku untuk membalas perlakuan Marina dulu. Sedikit saja, agar dia tahu sakitnya mengecap tuba pengkhianatan, saat cintamu, setiamu, jiwa dan ragamu telah kau berikan hanya untuk satu pria saja, kemudian terdapat kepercayaan itu telah ternoda oleh kelamnya pengkhianatan.
Namun, harga diriku mengecam nurani. Aku tak boleh setega itu. Aku tidak boleh membiarkan dirinya kehilangan buah hati seperti yang dulu pernah kualami di masa lampau. Tidak, meskipun dia pernah menjadi parasit yang menggerogoti kebahagianku.
Biar saja orang lain menganggap aku wanita yang lemah dan bodoh. Bagiku cukup sudah permainan ini. Aku menyerah, aku sudah lelah. Ternyata, membalas Syafrie bukan hal mudah seperti bayanganku. Aku ingin segera lepas darinya. Aku ingin kembali lagi ke kota tempat asalku dan melupakan semua hal yang terjadi di sini.
Soal Fadil anakku, aku berpikir, suatu saat, jika dia dewasa nanti, pastii dia akan mengerti, bahwa kedua orang tuanya tidak bisa bersama karena ada luka yang terlanjur menganga lebar.
" Melamun? " Aku menoleh dan mendapati priaku sedang tersenyum dengan tatapan teduhnya lalu kembali lagi fokus dengan setir mobil.
Sebenarnya, selama tiga hari ini, hatiku sedang diliputi oleh perasaan bersalah terhadap Mas Haris. Kehadiran dirinya di tempat ini sepertinya tidak diharapkan sama sekali. Hanya kak Lela saja yang terlihat memperlakukan dia layaknya seorang tamu. Sedang yang lainnya, terkesan acuh, terlebih lagi Kak Mansyah. Kakakku itu jelas - jelas sudah mengibarkan bendera permusuhan di matanya sejak hari pertama priaku menginjakkan kakinya di rumah mama.
" Mas, nyaman ?" Aku menoleh. Pipi putih bersih milik priaku terlihat sangat menggoda untuk dibelai.
Astaghfirullah, Asma. Nyebut.... Asma
Hari ini dia tampan sekali. Memakai kaos putih dipadu celana cargo coklat muda, sangat kontras dengan kulit putihnya. Berbanding terbalik dengan Syafrie yang berkulit coklat kehitaman karena terlalu sering terbakar panas matahari di tambang.
" Selagi ada, kamu. " Duh... senyumnya lembut sekali.
" Ayo kita pergi! " ajakku.
" Tidak, sebelum aku mengutarakan niatku di depan seluruh keluargamu. "
" Aku rasa itu bukan ide yang bagus. "
" Apakah ini tentang kakakmu? Kamu takut aku tersinggung? Astaga, Asma. Calon ayah anak-anakmu ini tak selemah itu, ckck. "
Aku mencibir, " Huh, lagian mama masih di rumah keluargaku yang sedang sakit. Aku tak tahu kapan pulangnya. Mas yakin, mau nunggu? Kelamaan, Mas. "
" Jadi, menurutmu, Mas harus bagaimana? Oh iya, ini ke kiri atau kanan?" Mas Haris bertanya saat kami tiba di depan gapura desa.
" Kiri' jawabku acuh.
" Masih jauh, pantainya.? "
__ADS_1
" Tidak, jalan kaki. "
" Kalau naik kendaraan? "
" Sepuluh menit, jika jago." Kipas angin wajah ragu - ragu meremehkan. Dia tertawa.... amboi gagahnya.
" Masalahnya bukan itu, sayang. Mas mengkhawatirkan keadaanmu. Kamu masih lemah begitu, sudah minta diajak jalan. Seandainya kamu tidak memohon tadi, mas tak mau pergi. Tapi kalau jauh, kita putar balik saja. Mas tidak mau kamu kecapean dan bikin kamu tambah lemah saja. Angin pantai tak baik buat kesehatanmu. Kita pulang, ya? " sebelah tangan menggapai pipiku lembut.
" Asma minta maaf, mas. Mas Haris pasti cape, ya? "
Priaku menggeleng.
" Kalau capek, kita pulang saja."
" Emangnya, kamu mau kita pulang? "
" Hmm..."
Dia menoleh dengan kening berkerut saat mendengar jawabanku hanya deheman saja. " Ngambek..? "
Aku diam saja.
" Serius kamu, ngambek? "
Aku menatapnya beberapa saat, lantas menggeleng.
" Oke, kamu ngambek, fix.. " tawanya lepas.
Aku membuang pandang pada hamparan pasir di bibir pantai, malas menanggapi godaannya.
Kami melewati lintasan berkelok dengan petak - petak rambak udang dan bandeng di sisi kiri. Sedang d isisi kanan jalan yang kami lewati adalah hamparan sawah yang padinya sudah mulai berbunga. Beberapa burung bangau terlihat terbang mendatangi tempat itu.
Di sudut sisi yang lain, beberapa bocah kecil berlarian sambil menenteng tudung saji sambil berjalan mengendap - endapan. Beberapa kali terlihat mereka menangkap sesuatu dengan tudung saji itu. Entah, apa yang mereka tangkap.
" Itu lagi panen, ya? " tunjuk Mas Haris pada orang-orang yang terlihat sedang berkerumun disebuah tambak.
Aku tahu, pria tampan di sampingku ini sedang berusaha untuk membuka obrolan. Sedang aku, aku tak berniat untuk menjawab. Aku lebih memilih memandang jauh ke tebing sana. Di atas sana, pohon akasia tempat aku dan Syafrie sering memadu kasih masih berdiri angkuh. walaupun hanya tersisa ranting - ranting kering meranggas. Ada rasa iri di hatiku padanya. Pohon akasia itu masih bangga dan berdiri kokoh walaupun hempasan badai telah berulang kali menerpa. Sedangkan hidupku dan Syafrie, sekali oleh hempasan badai, perahu kami karam tak terselamatkan.
" Mas beli minum dulu, ya. "
Mas Haris menepikan kendaraan pada salah satu kios kecil yang berada di mulut gerbang menuju ke pantai. " Kamu mau, apa? "
" Air mineral saja."
" Ada, lagi? " Aku menggeleng kepala tanda tak ingin apapun lagi.
" Oke tunggu sebentar. "
Sambil menunggu Mas Haris, bola mataku menjelajahi hamparan pohon kelapa yang menjulang tinggi yang memayungi rumah - rumah penduduk di sekitarnya.
Aku ingat dulu, semasa SMP, aku dan Saniah pernah menghabiskan tiga malam berkemah di tempat itu.
Mengingat tentang Saniah Apa kabar tentang temanku itu. Hampir sebelas tahun kami tak bertemu. Saniah pasti sangat marah padaku kala itu. Aku pergi diam - diam meninggalkan tempat kost yang dia sewakan untuk diriku. Habis... mau bagaimana lagi. Aku takut keluargaku atau keluarga Syafrie atau bahkan mungkin juga Syafrie, akan menanyainya tentang keberadaanku.
Saat itu, aku kehilangan kepercayaan pada orang - orang di sekelilingku. Syafrie dan keluargaku saja mengkhianatiku, tak menutup kemungkinan sahabatku juga akan berlaku demikian. Tak ada yang bisa dipercaya kecuali Tuhan dan diriku sendiri. Jadi kuputuskan untuk pergi tanpa mengabari Saniah.
Aku mengarahkan kamera membidik tempat itu untuk kujadikan bahan kenangan bersama Saniah. Namun pada bidikan berikutnya, fokus kameraku menampiknya sebuah gambar yang langsung menghancurkan sebuah bagian dari anggota tubuhku yang bernama hati.
__ADS_1
Alih - alih menangis aku justru tertawa keras. Bahkan sangat nyaring hingga mungkin jika Mas Haris di sebelahku, dia pasti akan mengira aku kesurupan atau sudah gila.
" Brengsek kamu, Syafrie..! " kutukku di sela - sela tawaku yang mengandung lara.