PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 30


__ADS_3

Aku pias. Wajahku yang tadinya tertunduk, kini tegak menatap Bapak tuaku berharap minta penjelasan.


Hening,.... dia diam seperti mencoba mengumpulkan kembali seluruh ingatannya pada peristiwa yang terlampaui beberapa waktu silam.


" Pak, apa yang terjadi pada mama? " Aku bertanya karena tak sabar menunggu kediamannya yang bagiku terasa sangat menyiksa.


"Pak.... tolong ceritakan pada Asma. " aku tak mampu lagi menahan hasrat keingintahuanku. Apa yang sudah aku lewatkan selama sepuluh tahun ini??Mengapa kata Bapak tuaku, 'karena pria itulah sampai hari ini mama bisa berada diantara kami'.


Bapak tuaku menghela napas dalam dan menghembuskannya kembali. Dia seperti tak ingin mengingat lagi kejadian masa silam yang teramat pahit baginya. Dan aku yang degup jantungku tak lagi normal setelah mendengar ucapannya tadi masih setia menunggu dia bercerita.


"Setahun setelah kepergian suami, anak dan cucunya. Cobaan kembali hadir menimpa adikku Syariah." Sudut mata Bapak tua terlihat berair. " Suatu malam, Mansyah menelpon dengan meminjam telpon tetangga dan mengatakan bahwa adikku itu mengeluh sakit perut dan mereka kemudian membawanya ke rumah sakit. Dua hari dirawat, belum ada perubahan. Dan hari ke lima, kami semua seperti disambar petir. Mamamu itu divonis gagal ginjal oleh dokter. . "


Demi Allah yang menguasai takdir manusia, aku terpekik seraya membekap mulutku. Nyawaku serasa hilang. sesak meninju ulu hati. Tak percaya akan sebuah kenyataan yang baru saja terungkap tentang mama. Rasa bersalah kini mulai mendera hati.


" Waktu itu, usahaku belum semaju sekarang. Aku hanya bisa pasrah dan menangis, dan berdoa seseorang bisa membantu kami. " kembali Bapak tua menarik napas dalam dan aku hanya bisa menangis.


" Sawah warisan Bapak kalian baru saja gagal panen. Dan kebun kelapa sawit yang baru saja di tanam, tampaknya kurang menarik pembeli tanah waktu itu.


Kami mendengar bahwa harapan satu - satunya mamamu agar bisa selamat adalah dengan cangkok ginjal. Hanya sebelah memang. Tapi itu saja kami tak punya banyak uang." akhirnya bening di sudut mata Bapak tua mengalir juga. Aku,... jangan ditanya? Tangisku semakin keras terdengar. Aku meraung menyesali diri, mengapa aku sampai setega itu meninggalkan mama. Mengapa aku sampai tidak tahu betapa mama menderita sedemikian. Betapa egoisnya aku selama ini. Karena menurutkan ego hatiku yang terluka, aku melupakan wanita yang telah melahirkan aku ke dunia ini, yang juga merasakan kesedihan yang dalam karena kehilangan suami, anak sekaligus cucu dalam sekali waktu.


" Pak... ma.. af.. kan.. Asma... " aku hampir tak sanggup lagi berkata-kata oleh karena tangis yang mendera dan rasa sesak di dada.


" Aku belum selesai Asma.. " serak suara Bapak tuaku memotong ucapanku. " Di tengah kalutnya kami akan masalah yang sedang menimpa, seorang pria yang sedang ditinggal pergi oleh istrinya datang dan memberi kami harapan. Dia mendonorkan ginjalnya dan membayar sisa biaya operasi yang tidak sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Hati kami teriris, Asma. Seseorang pria yang tidak memiliki hubungan darah sedikitpun dengan kami, karena istrinya pergi tanpa memberi kabar, rela mengorbankan separuh hidupnya dan seluruh harta warisannya demi menyelamatkan mertua yang anaknya saja pergi meninggalkannya. "

__ADS_1


Baiklah, sepertinya Bapak tuaku ingin aku menumpahkan seluruh persediaan air mataku di tanah beradat ini.


Sebuah kenyataan kembali menamparku. Aku dan seluruh keluargaku rupanya telah berhutang nyawa pada Syafrie.


" Mamamu bahkan meminta untuk tidak usah diobati, saking malunya dia pada mantan menantunya itu. " Bapak tua kembali menarik nafas dalam. " Asma, ... aku, kamu, dan juga kita semua, telah berhutang budi dan nyawa pada suamimu. " Setelah berkata demikian, Bapak tua Lebih memilih membisu.


Sedang aku, aku menangis diliput penyesalan. Sesak dadaku makin menghimpit. Riuh suara pesta pernikahan Agus, sepupuku terdengar hingga ke dalam kamar ini. Aku tak tahu, apakah mereka semua mendengar tangisanku atau tidak. Aku tak peduli. Tubuhku terguncang dalam tangis tak berkesudahan. Ku kira ceritaku hidupku selesai sesaat setelah aku meninggalkan desa. Namun, secarik kisah yang lain, ternyata bersambung dan berjilid untuk kuurai lagi di lembar berikutnya.


Kedatangan Mamak Suha yang mengatakan pada Bapak tua bahwa ada pejabat desa yang datang untuk memberi ucapan kepada keluarga mempelai, membuat lelaki itu beranjak keluar dari kamar ini.


" Baik - baiklah kamu sama suamimu. Pengorbanan dia pada keluarga kita, lebih besar dari luka yang dia torehkan padamu di masa lalu." Bapak tua dan mamak berlaku meninggalkan aku yang terdiam membisu dengan air mata yang masih mengalir.


Sepeninggal Bapak tua dan mamak, aku masih saja berada di dalam kamar. Aku sudah tak lagi menangis. Air mataku sudah kering. Namun rasa nyeri di dadaku kian menyesak.


Banyak sekali kejadian yang tidak aku sangka - sangka terjadi pada semua orang yang ada di sekitarku. Dan semua masih berhubungan dengan kisahku dan Syafrie.


Tuhan ternyata belum selesai menuliskan semua garis takdir kedukaan pada jalan nasibku dan juga keluargaku.


Hingga beberapa waktu, aku masih betah berada di kamar ini, walaupun beberapa keluarga memintaku untuk keluar dan bergabung dengan sanak keluargaku yang lain. Dengan dalih perutku yang sedang sakit, aku berhasil membuat mereka kemudian tak lagi memaksaku dan malah mereka membiarkanku untuk beristirahat di kamar ini.


Aku memang tak bohong. Dari tadi malam hingga saat ini, tak ada secuilpun makanan yang masuk ke dalam perutku. Ditambah lagi rasa nyeri di bawah perutku membuat aku rasanya tak mampu untuk berdiri. Belum lagi rasa terguncang dalam jiwaku setelah mendengar cerita dari Bapak tuaku tadi, benar-benar membuat aku tak sanggup lagi untuk bangun.


Akhirnya aku memilih untuk berbaring saja di kamar ini hingga akhirnya tanpa sadar aku tertidur. Entah sudah berapa lama aku tertidur di kamar ini hingga sebuah tangan yang sedikit kasar membelai wajahku membuat aku akhirnya menggeliat dan terbangun.

__ADS_1


Sebuah wajah yang sebenarnya tak ingin ku jumpai, dialah yang pertama kali ku lihat saat membuka mata.


Aku tersentak bangun dan menepis tanganya dengan kasar. Ingin aku memakinya, namun urung kulakukan karena mengingat cerita Bapak tuaku tentang dirinya. Bagaimana pun juga aku tak ingin disebut sebagai orang yang tak tahu balas budi.


" Asma, bangun dan makanlah dulu. Dari tadi kemarin belum ada secuilpun makanan yang masuk ke perutmu. Aku takut nanti maagmu kambuh.. "


Aku mendengus kesal dengan sikapnya yang sok - sok perhatian kepadaku. Alih-alih menuruti perintahnya, aku memilih bertanya padanya.


" Katakan padaku! mengapa kau melakukan semua itu? "


Syafrie mengernyitkan alis. Tatapannya tak mengerti dengan apa yang ku maksud.


" Yang mana?" tanyanya kemudian


" Yang kamu lakukan pada mama? "


" Oh, itu. Tak ada. Hanya rasa kemanusiaan dan juga kasih sayang pada seorang ibu yang anaknya teramat sangat kucintai. " katanya sambil tersenyum menatapku


" Katakan, berapa banyak yang sudah kamu keluarkan untuk membayar semua biaya rumah sakit mama dan ambillah sebelah ginjalku sebagai ganti ginjalmu yang telah kau berikan pada mamaku" Ternyata cerita Bapak tuaku belum bisa menawar tajamnya racun yang keluar dari mulutku


Lelaki itu sejenak terkesima menatapku.


" Sombong ...... " desisnya lirih lalu keluar dari kamar itu tanpa berucap sepatah katapun.

__ADS_1


__ADS_2