
" Aku rela dia melupakan aku, untuk bahagianya. "
Aku mendengus, merasa lucu dengan perkataannya. " Mau tahu apa perbedaan kamu dan aku? "
" Apa? "
" Aku rela melupakan semua orang demi menyakitinya. Fadil sekalipun. " Aku memang benar - benar sudah kerasukan jin ifrit penghuni Pantai kemarin.
Kedua sudut bibir Marina tertarik membentuk sebuah senyum. Namun, aku semakin muak melihat senyum itu. Ingin sekali aku menggunting bibir itu. Dia menunduk dalam sebelum perkataannya yang lirih terdengar seperti merobek telingaku.
" Hampir sebelah tahun lamanya aku kira akulah wanita yang paling jahat di muka bumi ini. Aku telah memisahkan suami dengan istrinya, anak dengan ibunya. Merusakkan pernikahan seseorang. Berjuta-juta penyesalan menggumpal dalam dadaku." Wanita itu memegangi dadanya. Ada embun di matanya yang sendu. Tidak sampai terjatuh, namun aku yakin dia pasti sedang berjuang untuk menahan tangisnya.
" Ternyata, Asma. Kamu jauh lebih jahat dariku. Fadil kami tidak tahu apa pun tentang masa lalu kita bertiga. Teganya kamu menyeret putraku dalam peliknya dendammu yang tak berkesudahan. Andai saja kamu tahu penderitaan anak itu, aku yakin kamu tak akan tega berlaku seperti ini. Dia butuh kalian orang tuanya. Kamu dan Syafrie mungkin menjadi semangatnya bertahan. "
Beraninya Marina menatapku. Menghakimiku. Dia pikir karena siapa hatiku sekeras ini. Terpuruk sendiri dalam Lembah dendam. Andai saja ada kaca di sini, maka akan kusuruh dia untuk berkaca. Siapa tahu dengan begitu dia sadar diri.
" Kan, sudah ada kamu." Aku akhirnya membuang muka dan berlalu mencari sosok keberadaan Mas Haris.
" Dia menginginkan aku tapi tak seperti dia membutuhkan kamu, Asma. Tolong.. bisakah kamu dan Syafrie berdamai? Demi Fadil? " Aku menatap marah pada istri Syafrie itu. Berani sekali dia melewati batasannya. Mengaturku agar kembali menerima pria yang pernah dia rebut.
" Tidak, kami sudah selesai. "
Aku masih membuang pandang dari wanita itu. Pandanganku lebih teralihkan pada rumput di halaman samping puskesmas.
" Meskipun Fadil sakit? " tanyanya lirih.
" Fadil sakit? "
'Sakit apa? '
Mulutku memang terlaknat. Dari pada bertanya kepada Syafrie, bibirku lebih memilih menjawab " Hmm, tentu saja. "
Marina menatapku yang tak berniat untuk melihatnya. Dia lalu meraih tas selempangnya sambil berkata, " Aku berharap semoga Tuhan tetap mengeraskan hatimu sampai akhir. Aku juga berdoa semoga penyesalan tak pernah menghampirimu. Karena saat kamu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, maka kata maaf itu menjadi tak berguna lagi."
Aku menatap punggung Marina yang berjalan menjauhiku. Aku tahu, dendamku terhadap Syafrie dan Marina sudah terbalaskan. Aku bisa melihat jejak - jejak luka di mata mereka. Namun, apakah aku puas. Tentu saja tidak. Sekeping benda di dalam tubuhku masih saja merasa panas dan mendidih. Ya.. Tuhan, dendam itu masih saja membakarku.
Dari kejauhan, aku melihat seorang wanita mendekati Marina. " Kamu kemana saja, Rin? " itu saja yang kudengar dari mulut wanita itu. Perutku mendadak keram dan rasa sesak menikam ulu hati, setelah kedua bola mataku membulat lebar dengan mulut yang tertutup oleh kedua tangan.
Wanita itu belum lagi melihatku karena matanya masih tertuju ke ponsel yang berada dalam genggamannya.
" Giliranmu sebentar lagi, Rin. Aku mencarimu kemana-mana. Ternyata kamu berada di sini. Cepatlah masuk. Aku heran dengan Si Syafrie, dia mencemaskan keadaanmu, tapi kenapa bukan dia sendiri yang mengantar wanita dengan perut sebesar ini. "
Aku kira pengkhianatan yang kualami hanya berasal dari Suami, mamaku, saudaraku, dan anakku saja. Nyatanya aku salah. wanita yang kini sedang berdiri shock menatapku, yang mengaku sebagai sahabatku di dunia dan akhirat menambah deretan panjang daftar pengkhianat dalam cerita kelam hidupku.
__ADS_1
Kini, satu hal yang aku yakin sekali kebenarannya adalah tak ada di dunia ini yang benar-benar setia.
" Ya Tuhan, Asma.. "
" Hai, aku baru tahu kalau sekarang kalian sahabatan." sindirku sambil kemudian berdiri membenahi gamis dan jilbabku. Saniah diam tertegun.
" Astaghfirullah, Asma. Kamu ternyata masih hidup. "
" Yah, ini aku. Masih hidup dan segar bugar. Kenapa, kecewa? "
" Ya Allah, Asma. " Saniah berlari memeluk. Dia menangis terisak. " Aku kira kamu mati, Asma. Aku mencarimu ke setiap tempat di Samarinda. Karena kebodohanku, akhirnya aku kehilangan sahabatku. Karena kebodohanku juga akhirnya keluargamu kehilanganmu." katanya di sela isakannya.
Aku hanya diam saja mendengar dia bercerita. Aku sama sekali tak tersentuh sedikitpun. Yang ada dalam otakku saat ini adalah fakta bahwa sahabatku berteman dengan musuh besarku.
" Maaf, giliranku sudah tiba. Permisi. " aku melepaskan pelukan Saniah. Lalu melangkah pergi menuju ke tempat Mas Haris yang sudah berdiri menungguku.
" Asma... " teriaknya memanggilku, yang tak kugubris.
Aku terus saja berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Sempat kudengar suara Marina yang berbicara pada Saniah. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, namun yang ku tahu kemudian mantan sahabatku itu tak lagi berteriak memanggil - manggil namaku.
Setelah mengalami pemeriksaan dan mendapatkan obat dari dokter di puskesmas, kami kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke kota.
Entah karena efek dari cerita Marina atau isi pesan WA dari Kak Mansyah, tanpa sadar aku terisak sendiri hingga akhirnya aku tertidur karena lelah menangis.
...----...
Dua bulan berselang setelah kepergianku dari desa, aku menerima sebuah surel dari Syafrie. Aku tak tahu dari mana dia memperoleh alamat surelku, namun yang jelas isi surelnya mampu meruntuhkan seluruh isi duniaku setelah selesai aku membacanya.
( Assalamu'alaikum, Istriku dan ibu dari Fadil.
Hai, bagaiamana kabarmu? Kami di sini semuanya sehat. Semoga Allah selalu melimpahkan kasih sayang dan rahmatnya untukmu. kabar Fadil putra kita, sehat - sehat saja. Hanya saja dia sering menangis diam - diam karena merindukanmu.
Maafkan aku karena lancang meminta alamat emailmu pada kekasihmu, Haris. Dialah yang telah memberikan alamat emailmu kepadaku. Dan aku mohon kamu jangan marah kepadanya.
Aku tak tahu, apakah kamu sudi membuka surelku ini atau malah langsung membuangnya ke tempat sampah. Namun besar harapanku kamu mau membuka dan membacanya.
Aku mungkin terlihat begitu bodoh karena dari pada mengungkapkannya secara langsung kepadamu, aku lebih memilih mengungkapnya melalui email. Tapi kamu tak memberiku banyak pilihan.
Sejujurnya, setelah kepergianmu meninggalkan desa beberapa waktu yang lalu, aku selalu bertanya - tanya dalam hati. Apakah dia akan kembali? Apakah aku harus kembali menunggunya sepuluh tahun lagi seperti dulu? Apakah aku harus belajar merelakannya? semua pertanyaan itu yang memenuhi isi kepalaku.
Apakah kamu tahu, meski aku melihat ribuan benci yang kau tumpahkan lewat pancaran matamu, namun jauh di sana, di tempat yang terdalam di hatimu, aku melihat masih ada cintaku yang bertahta di hatimu. Karena itulah aku tak menolak permintaan kakakmu yang meminta kita untuk kembali bersama.
Aku tahu kamu sangat terpaksa menerimaku kembali. Karena dendam, kamu menerima pernikahan itu dengan maksud ingin mempermainkan aku, meski akhirnya kamu sendiri yang terjebak di dalamnya.
__ADS_1
Sebenarnya, Asma. Semua ini adalah rencana Tuhan untuk kita berdua. Namamu kembali tertulis dalam kilasan takdir sebagai jodohku, istri dari Syafrie Mahmud Alamsyah. Dan kamu tak bisa mendebatnya.
Siapapun tahu, kesalahanku kepadamu di masa silam begitu besar. Aku telah mengkhianati, mencurangimu, dan membohongimu. Sungguh suatu tindakan yang sangat tidak terpuji. Aku ingin menebusnya, Asma. Aku pikir melalui pernikahan kita yang kedua ini, aku bisa memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu. Terlebih lagi saat sikapmu yang tidak menolak perhatianku walaupun saat itu kamu sedang sakit membuat aku menaruh harapan besar padamu.
Sampai pada sore itu, sore dimana kamu melihat aku dan Fadil bersama Marina di pantai itu. Aku tahu kamu cemburu saat melihat kami. Namun, sayangnya, kembali karena kesalahfahaman, kamu mengambil keputusan sendiri dengan pergi meninggalkan kami tanpa bertanya dulu kepadaku.
Tujuanku mengirim surel ini adalah untuk menjelaskan kepadamu tentang kejadian sepuluh tahun yang silam. kejadian yang membuatku kehilangan istriku dan Fadil kehilangan ibunya.
Asma...
Sore itu, sepuluh tahun yang silam, Bapakmu dan Bapaknya Marina mengunjungi rumah orangtuaku. Saat itu aku baru saja pulang kerja dan kamu sedang tidak ada di rumah waktu itu. Aku tentu saja terkejut. Bagaimana bisa Bapak dan Bapaknya Marina bisa ada di rumah Orang tuaku senja itu. Aku melihat rona keras penuh kemarahan dari raut wajah Bapaknya Marina dan rona mendung di wajah Bapak.
Asma, seperti kata orang, dosanya zina mengejarmu dunia dan akhirat. Aku memang telah melupakan Marina, tapi tidak dengan dosa kami saat kuliah bersama dulu. Tak peduli walaupun aku telah hidup bahagia bersamamu, tetapi tetap saja dosa itu terus mengikutiku.
Kedatangan ayah Marina sore itu tentu saja untuk menuntut pertanggung jawaban diriku yang telah merusak putrinya. Dia mau aku menikahi Marina, agar anak gadisnya tidak dicemooh oleh masyarakat. Tak masalah meski statusnya hanya istri kedua, yang penting Marina memiliki status dan aib bisa tertutupi.
Aku tentu saja menolak meskipun aku dianggap sebagai pria brengsek. Aku tak peduli, karena aku sangat mencintaimu, Asma.
Tapi tidak halnya dengan Bapak. Bapakmu itu Asma, pria yang aku hormati karena statusnya sebagai mertua dan ayah dari wanita yang amat kucintai, berlutut dan memohon padaku agar aku menikah dengan Marina.
Bapakmu tak ingin melihat aku dipenjara seperti ancaman ayah Marina yang akan melaporkan aku ke polisi dan memenjarakan aku walaupun aku adalah kerabat dekatnya. Dia akan tetap tega karena ini sudah menyangkut kehormatan dan martabatnya sebagai kepala desa.
Aku sebenarnya tak masalah jika aku harus di penjara. Dari pada Aku merusak kepercayaanmu. Aku rela karena aku tak ingin menduakanmu. Aku mencintaimu setulus hatiku. Hanya kamu perempuan satu - satunya yang bertahta di hatiku.
Namun, mertuaku.. bapak dari wanita yang begitu ku cinta, merintih dan bersimpuh di kaki Bapaknya Marina memohon agar supaya aku tak dipenjara. Hati siapa, Asma yang tak akan hancur melihat semua itu..
Hari itu, untuk pertama kalinya sebagai menantu, aku menangis demi melihat mertuaku, bapakmu dengan gemetar menandatangani surat perjanjian hitam di atas putih bahwa dia tak keberatan jika aku menikah dengan Marina. Dan dia juga berjanji bahwa dia dan mamamu akan menghadiri upacara pernikahan aku dan Marina untuk membungkam mulut orang kampung. Jika sudah begini. Aku bisa apa, Asma?.
Semenjak saat itu, aku ibarat makan buah simalakama. Aku bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Setiap hari kepalaku seperti dipenuhi oleh ribuan ton batu - batu yang menghujani kepalaku. Aku takut untuk berterus-terang kepadamu menceritakan semua ini. Siapa yang bakal menjamin bahwa kamu bakal bisa menerima semua itu.
Kepalaku serasa mau pecah memikirkan semua yang terjadi. Ingin rasanya aku pergi dan membawamu lari menjauh sejauh - jauhnya dari desa ini. Tapi aku ingat nasib orang tuamu jika hal itu aku lakukan. Karena rupanya Bapaknya Marina sudah memperhitungkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Sehingga dalam surat perjanjian yang tertulis di sebutkan jika aku sampai melarikan diri, maka bapakmulah yang akan menjadi jaminannya. Akhirnya aku hanya bisa pasrah, Asma.
Akhirnya hari yang kutakutkan terjadi juga. Hari dimana aku menikah. Kamu mengamuk dan bapak kena serangan jantung. Kamu mengalami pendarahan karena terpaksa melahirkan dalam usia kandungan yang belum cukup umur.
Semua orang panik. Aku meninggalkan Marina di atas pelaminan itu. Ayahmu tak tertolong. Bapak menghembuskan nafas dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Mama dan Darre pingsan setelah mendengar berita itu.Kami semua terguncang.
Di saat orang lain sibuk mengurus pemakaman Bapak, kamu sedang berjuang melahirkan anak kita. Malam itu hanya ada aku dan ammak yang menemanimu. Kembali cobaan menghampiri kita. Kondisimu kritis. Kamu sekarat berjuang antara hidup dan mati. Dokter yang menemuiku memberiku dua pilihan. Aku disuruh memilih antara kamu dan bayi kita.
Aku hampir gila di saat harus memilih. Tak mungkin aku memilih diantara kalian berdua. Semuanya adalah pilihan yang sama sulitnya. Namun, tetap saja akhirnya aku harus menentukan pilihan. Aku memilih mempertahankan istriku.
Dokter itu kembali mengabarkan bahwa operasi berjalan lancar. Kamu dan bayi kita selamat. Hanya saja dia berkata bahwa salah satu bayi tak terselamatkan. Tentu saja aku gembira mendengar kabar ini. Serasa semua duri dalam daging tercabut semua. Ada lega dan bahagia yang tercampur dengan kesedihan. Aku terduduk dengan tubuh gemetar di kursi ruang tunggu kamar operasi. Aku tak terlalu mendengar penjelasan dokter itu. Karena otakku terlalu sibuk berpikir tentang semuanya. Anakku kembar. Ternyata mereka ada dua. Bagaimana mungkin selama ini dokter yang memeriksakan kehamilanmu tak mengetahui jika bayi yang kau kandung ternyata ada dua. Aku marah, serasa dipermainkan oleh takdir.
Aku marah pada diriku sendiri yang terlalu kotor dan penuh dengan lumpur dosa. Aku juga marah denganmu yang dengan cerobohnya tanpa bertanya dulu melakukan tindakan gegabah yang akhirnya menyebabkan hilangnya bayi kita. Aku marah dengan Marina dan Bapaknya. Dan aku juga marah dengan semuanya ini. Satu-satunya yang tak berani aku marah padanya adalah kepada sang Pemilik Takdir ini. Karena hanya kepadanya aku menggantungkan nasib anak dan istriku yang sampai kini masih belum sadarkan diri.
__ADS_1