
Masih dengan foto yang sama, Mas Haris menuliskan status yang membuat aku seperti kehilangan nyawa.
Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Walaupun berat untuk melupakan cinta yang lama, aku harap cinta yang baru akan tumbuh dan bersemi dengan tak kalah indahnya.
Mas Haris ternyata benar-benar sudah melupakan diriku.
Cintamu palsu, seperti taik kucing.
Aku menuliskan komentar di kolom komentar setelah melihat beberapa komentar. Tak lupa juga disertai sumpah serapahku. Aku benar-benar patah hati.
Setelah puas memuntahkan amarahku pada Mas Haris melalui akun media sosialnya, aku pun lantas menutup akun media sosialku.
Aku tergelak mentertawakan nasib yang kembali terpuruk dalam nestapa yang tak berkesudahan. Aku tertawa lepas di tengah sawah dan di tengah malam pula. Mungkin orang akan mengira jika aku sudah tak waras lagi.
Setelah puas tertawa terbahak - bahak, aku pun menangis terisak - isak. Bahuku terguncang akibat menahan tangis. Seseorang memeluk tubuhku dengan erat.
" Hei, kamu kenapa lagi? " tanyanya sambil menenggelamkan aku ke dadanya yang bidang. Dia juga mengelus rambutku yang panjang terurai tak berhijab.
Aku makin menangis pilu. Seperti seseorang yang ditinggal mati saja layaknya. Ya Tuhan.... kenapa rasanya sakit sekali. Semakin sakit saat kembali bayangan Mas Haris hadir menari - nari di kepalaku. Tubuhku bergetar karena tak kuat lagi menahan sakit. Lelaki yang bergelar suami Asma Basrie itu makin mengeratkan pelukannya.
" Semua gara - gara kamu, Syafrie." kataku geram di sela - sela isakku. Dulu kamu menghancurkan hidupku dengan pengkhianatanmu. Sekarang, kembali kamu menghancurkannya dengan siasat licikmu. Mas Haris meninggalkan aku karena menganggap diriku wanita pengkhianat dan kotor. Dia tidak bisa menerima anak dalam perutku ini. Aku benci semua ini, Syafrie. Aku benci.... " kataku sambil memukul dada Syafrie berulang-ulang. Aku menumpahkan semua kesakitanku pada lelaki itu. Biar dia tahu, betapa aku tak sanggup lagi menahannya.
Ayah Fadil itu menarik nafas panjang. Ada guratan lelah dan sedih yang bercampur menjadi satu dalam sorot matanya. Aku tak sempat mencari tahu.
" Katakan, bagaimana aku menebusnya?" kata Ayah Fadil lagi sambil masih mengelus rambutku.
" Aku ingin... mem... membunuhmu." kataku dengan tersedu - sedu sambil menyeka air mataku yang tak mau berhenti mengalir.
" Baiklah, tenanglah dulu. Bagaimana kamu bisa menyakitiku jika kamu masih saja menangis." katanya sambil mengangkat wajahku yang masih bersembunyi di dadanya.
Wajahku mendongak menatap mata Syafrie. Saat mata kami beradu, aku melihat ada air mata yang menggenang di mata sendunya. Seperti ada magnet yang menggerakkan tubuhku, atau mungkin juga ada setan mesum yang merasuki dadaku. Mengapa juga mendadak aku memajukan bibirku dan menempelkannya di bibir Syafrie.
Astaga..... astaga.... aku mengutuki diriku yang tak tahu malu. Mungkin setan betina dalam diriku yang haus akan belain ini sedang mendambakan sentuhan seorang lelaki. Di tengah keputusasaanku akan nasib cintaku, aku menjatuhkan diriku ke dalam pelukan Syafrie dan menyerahkan dirinya pada Pria itu.
Tidak, bukan aku... yang menyerahkan diri, tapi Syafrie yang menyerahkan dirinya padaku.
Jangan salahkan Syafrie, tapi salahkan saja jin mesum yang bersemayam dalam diri wanita hamil ini. Aku seperti orang yang dahaga, meneguk habis semuanya hingga tandas tak bersisa.
" Asma,.... " Cicitnya saat aku membuka kancing kemejanya.
" Kenapa, kamu pasti akan menyukainya."
" Tapi, aku takut...nanti kamu akan menyesalinya."
" Aku.. akan membunuhmu dengan caraku, Syafrie... " kataku sambil mendorong tubuhnya hinggap jatuh ke lantai pondok.
Malam itu, di dalam gubuk di tengah sawah, di bawah siraman sinar bulan purnama. Aku menyerahkan tubuhku pada Syafrie. Tanpa paksaan, tanpa obat tidur, dengan sadar dan mata terbuka.
Tidak.... Syafrie yang menyerahkan tubuhnya padaku... ah.. entahlah...
...----...
__ADS_1
Udara dingin menembus kulit pahaku yang tidak tertutup kain sehelaipun. Aku menurunkan jaket yang berada di pinggangku hingga menutupi paha dan kakiku.
Sebentar....
Serasa ada yang mengganjal punggungku. Lalu ada tangan yang memeluk pinggangku dengan posesif. Kemudian mencium kening dan pipiku dengan mesra. Aku mengingat - ingat, siapa yang berada di belakangku? Apakah Mas Haris? Apakah aku sedang bermimpi? Tapi jika ini hanya mimpi, mengapa aku seperti mendengar seseorang seperti sedang berbicara kepadaku?
" Sudah bangun..? " Astaga... suara Si Syafrie?? Bagaimana bisa?
Mimpi..... aku pasti bermimpi. Hari masih gelap, jadi wajar jika aku merasa bahwa aku pasti sedang bermimpi.
" Hmm, memeluk wanita keras kepala ini ternyata rasanya masih sama seperti dulu."
Tapi.... apa tadi. Siapa tadi yang berucap.... Itu Syafrie, kan. Jadi aku tidak sedang bermimpi. Yang berada di belakangku, sedang memelukku, menciumi diriku dan berbicara kepadaku adalah Syafrie.
Sontak saja mataku langsung terbuka sempurna. Berada di dalam pelukan Syafrie bukanlah hal yang kuinginkan pagi ini. Aku langsung bangun dari tidurku.... Astaga.... Astaga.... Aku mengedipkan mata untuk memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi dan tidak salah lihat.
" Kamu cantik sekali saat bangun tidur." katanya dengan senyum semanis gula aren. Sayang... aku enek melihatnya. Morning sickness aku kembali kambuh.
"Ueeakk... " Aku berlari dengan sempoyongan ke luar pondok dan memuntahkan seluruh isi perutku di dekat tiang pondok.
" Asma , kamu sakit? "
Sakit, ... sakit... aku enek lihat kamu.
Entah mengapa, morning sickness aku kambuh lagi. Pasti ini gara-gara melihat Syafrie.
Aku mencoba mengingat - ingat kembali kilas balik waktu empat sampai lima jam yang lalu, hingga pagi ini terbangun dalam pelukan orang yang paling kubenci. Sungguh itu bukanlah hal yang keren. Apalagi saat kuingat peristiwa yang terjadi semalam. Andai aku bisa, aku rasanya ingin dikubur hidup - hidup. saja saat ini. Betapa malunya aku pada Syafrie saat ini.
" Jangan seperti itu, kepalamu nanti sakit." kata ayah Fadil itu membelah hening pagi ini. Sebelah telapak tangannya berada di antara tiang dan kepalaku saat melihatku menghukum diriku yang punya otak tapi tak punya malu.
" Tak perlu malu, kita ini suami istri. Jadi sah - sah saja jika melakukan hal itu. Itu adalah hal yang wajar. " katanya.
Sah..? nafsumu. Kamu yang enak., aku yang enek. Bathinku kesal.
Dia bilang tak perlu malu.. katanya sah - sah saja jika kami melakukan hal itu. Karena itu adalah hal yang wajar. Hei... apa pria perusak kehidupanku itu lupa bahwa siapa tadi malam yang pertama menyerang?... Aku, apanya yang wajar? Aku yang telah meminta Syafrie untuk bercinta terlebih dahulu. Apa itu wajar?
Aku berharap pria itu berada jauh - jauh saja dariku. Aku rasanya tak punya muka lagi untuk bertemu dengannya. Aku serasa kehilangan harga diri dan martabat di hadapan Syafrie.
" Asma, untuk yang semalam, terima kasih, ya." Nah.... apa kubilang? Dia mulai lagi cari gara-gara.
Aku memejamkan mata. Kesal dan malu bercampur menjadi satu. " Bisa diam, tidak? " Aku kembali memejamkan mata.
" Asma, ada yang sakit? "
Astaga...... pria ini benar-benar membuat aku tak bisa lagi mengontrol diri.
" Sebaiknya kita pulang saja. Kamu masih bisa jalan, kan? " dia bertanya sambil mendekat. " Mau aku papah atau sekalian aku gendong saja. Mau, ya."
Aku mendongak semakin kesal. " Hei, apa kamu menikmatinya semalam, Syafrie? " tanyaku padanya. Syafrie mengerutkan alisnya, merasa heran dengan pertanyaanku.
Hmm, iya. Jujur aku sangat menikmatinya."
__ADS_1
" Asal kamu tahu, aku melakukan semua itu sambil membayangkan wajah kekasihku. " Luar biasa, lidah beracunku kembali lagi berfungsi dan menebas habis urat leher Syafrie tanpa belas kasih.
Ada raut terluka dan sendu di wajahnya. Namun anehnya, dia tidak marah atau memaki diriku. Dia tidak juga menampar atau mencekik diriku. Malahan dia memperbaiki jaket yang menempel di tubuhku agar aku tak kedinginan.
" Aku tahu, Terima kasih sudah jujur padaku. Tapi lain kali aku mohon jangan pernah lagi melakukannya. Karena aku takut Allah dan malaikat akan menjadi murka dan melaknat dirimu, istriku sayang." kayanya alih - alih marah, Syafrie justru mencubit pipiku dengan mesra.
Aku melongo. Kesurupan apa si Syafrie. Sangkaku dia akan marah ketika mendengar aku berkata demikian. Tapi ternyata aku salah. Astaga.... belajar dari mana dia tentang ilmu sabar?
Jawaban Syafrie membuat aku kehabisan kata - kata untuk meneruskan perdebatan dengannya. Benarkah aku akan mendapat murka Allah. Apakah aku salah dan berdosa jika membayangkan laki-laki lain saat melayani suamiku. Aku jadi bergidik sendiri saat membayangkan seperti apa murka Allah padaku.
" Kamu berhasil membunuhku. Aku menyadari, dosa dan kesalahanku di masa lalu sangat besar. Aku tak pantas lagi mendapat hormat dan kasihmu padaku. Aku hanya ingin kamu selalu senang dan bahagia. Karena itulah tujuanku kali ini. Jadi sekali lagi, Terima kasih atas semalam." katanya sendu.
Syafrie memang pandai memutar balikkan suasana. Aku yang tadinya dengan bangga menyatakan bahwa aku membayangkan pria lain saat bersamanya, kini mendadak menjadi bungkam tak berkutik saat mendengar ucapan Syafrie.
Ada rasa malu, bersalah, dan jijik menjadi satu bercampur dalam dada. Aku ingin memaki kembali menantu mama itu, tetapi rasanya persediaan kata - kata makianku sepertinya hilang oleh tawarnya perkataan Syafrie barusan.
" Asma, ayo kita pulang." ajaknya.
Aku menatap ke arahnya dengan enggan.
Dia berjongkok mengambil sendal jepit milikiku dan mendekatkan yang di kakiku. Menempatkan tubuhnya sebagai sandaran dia memeluk tubuhku dan menurunkan kakiku tepat di atas sendal lalu kembali lagi berjongkok untuk memakaikan sendal di kakiku.
Setelah itu dia membimbing tubuhku menuruni tangga yang terdapat di depan pondok.
Kulihat Syafrie melangkah lebih dahulu menuruni tanjakan yang terdapat di bawah pondok. Tubuhnya berjongkok mengambil air yang mengalir lewat sungai kecil di depan pondok dan membasahi rambut dan membasuh wajahnya dengan air. Lalu berdiri sambil mengibas - ngibaskan rambutnya.
Aku melompat turun dari tempatku berpijak dan melewati tubuh pria itu.
" Jangan melakukan seperti itu, Asma. Kamu bisa terpeleset dan jatuh ke sungai." Aku tak peduli pada teguran yang dan meneruskan langkahku. Syafrie berjalan cepat menjejeri langkahku.
" Hati - hati, Asma. Jalannya licin." abai akan peringatan Syafrie aku tetap saja berjalan cepat untuk meninggalkan menantu mama itu, tapi..
Sebelah kakiku terpeleset karena licinnya jalan setapak yang kami lalui dan alhasil sebelah kakiku mendarat manis di sawah berlumpur yang terdapat di sisi jalan.
" Astaga, Asma. Aku bilang juga apa." Ayah Fadil dengan sigap mengangkat tubuhku dan menarik sendalku dari dalam Lumpur.
Dia lalu mencuci sendalku dan memasangkan kembali di kakiku.
Kembali aku melangkahkan kaki menyusuri pematang hingga sampai di depan jalan besar. Syafrie menyusul di belakanhku.
" Dari mana, Nak Syafrie? " seorang Bapak yang sedang membawa cangkul berhenti dan menyapa kami.
" Anu, daeng. Asma..mengajak jalan - jalan subuh. Katanya olahraga pagi." jawab Syafrie sambil menggaruk kepalanya salah tingkah.
"Oh.... jalan - jalan subuh, ya. Sudah lama nggak ketemu, bagus juga sekali - kali. olahraga pagi, hahaha. " dia tertawa sambil mengedipkan sebelah matanya.
Aku menyenggol Syafrie dengan sikut.
" Maksudnya apa? Mengapa dia tertawa saat mengucapkan olahraga pagi? " tanyaku pada Syafrie.
" Oh, itu bahasa laki-laki, sayang. Hanya sesama laki-laki saja yang faham akan maksudnya."
__ADS_1
Aku mengangkat bahu tak peduli. Lalu kembali meneruskan perjalanan menuju ke rumah. Tiba-tiba saja, Syafrie sudah berada di sebelahku dan sebelah tangannya menggamit jemariku saat sebelah kakiku sudah menapak di halaman rumah. Apa maksudnya...?